
...SIKLUS (TRAGIS) PACARAN...
...#Kepastian...
..."Kalau nasi didiamkan, pasti basi. Untuk kamu bukan nasi. Setidaknya kamu tidak akan jadi bubur."...
...•••...
Aul sudah menyiapkan masakannya sejak pukul tiga dini hari, ternyata menjadi seorang perempuan itu memang berat cobaannya. Aul pun jadi salut dengan mamanya yang mampu memasak dengan cekatan dan irit waktu, ah ... Aul jadi berjanji untuk mengikuti kelas memasak dengan Aura nantinya. Harum rempah-rempah yang Aul jadikan satu untuk membuat ayam geprek ini, ternyata susah-susah gampang.
Setelah fried chicken yang sudah digeprek dan diberi sambal di atasnya, serta dimasukan dalam kotak makan berwarna merah, senyum Aul tak pernah luntur seketika.
"Semoga dia suka!" pekiknya senang.
Sambil bersenandung ria, Aul menyiapkan dirinya untuk segera bersiap-siap ke sekolah. Setelah merasa barang bawaan sekolahnya sudah Aul simpan dengan apik pada ransel-beserta masakan buatannya tadi-Aul mematut dirinya di depan cermin.
"Duh, cantik banget. Untung aja gak jadi buto ijo!" ujarnya sambil meringis pelan, dilihatnya leher jenjang yang terlihat karena dirinya mengikat rambutnya dengan kain berwarna hijau, tak lupa pula, bandana berwarna serupa Aul tambahkan sebagai pemanis pada wajahnya.
Saat dirasa sudah selesai, Aul menghampiri rumah Mahesa. Sebelumnya, dia sudah memberitahukan pada Mahesa agar berangkat lebih pagi ke sekolahnya.
"ESAAA!" teriaknya.
Terlihat tante Rara dengan pakaian daster ibu-ibu, muncul di balik pintu. "Sini dulu, Aul. Duh ... Esa malah masih tidur tuh, kamu bangunin aja dulu."
Titahan dari tante Rara hanya dibalas oleh senyum culas dari Aul. Padahal aslinya, Aul sudah menggeram karena menahan amarahnya pada Mahesa yang sialnya menjadi sahabatnya!
Setibanya di depan kamar Mahesa, Aul yang masih diliputi oleh kedongkolan, bergeming. Dia terpaku di ambang pintu kamar Mahesa yang masih tertutup, tapi telinganya dapat mendengar jelas, suara Mahesa yang sedang memetik dawai gitar diiringi suara bariton yang membuat Aul termenung.
Ku rela kau dengannya,
Asalkan kau ... bahagia ...
Hanya sepenggal lirik lagu tersebut yang dapat Aul dengar. Matanya mengerjap lucu saat Mahesa sudah berdiri menjulang di depannya.
"Heh, ngapain Bocil ke sini? Nyasar lu?"
Suara tengil itu kembali menyadarkan Aul dari lamunannya. Aul tahu, Mahesa bukan tipe orang yang galau karena perasaan, terlebih lagi, laki-laki itu terlihat tidak berminat dengan dunia kebucinan. Tapi, apa yang Aul dengar tadi-walaupun sebentar-tapi Aul yakin, suara Mahesa terdengar begitu getir saat menyanyikannya. Seolah-olah Mahesa bernyanyi untuk menghilangkan kegalauan perasaannya.
Mahesa yang Aul kenal juga, bukan tipikal orang yang suka sesumbar orang-orang tentang kepiawaiannya dalam musik, bernyanyi ataupun memainkan alat musik seperti gitar. Bahkan Mahesa yang orang-orang kenal, terlihat tidak memiliki kepandaian dalam hal musik sama sekali. Itu karena, Mahesa sengaja menutupinya.
"Kenapa?" tanya Aul.
Dia mengabaikan tatapan aneh dari Mahesa. Bahkan Aul sempat melihat ekspresi terkejut dari Mahesa.
"Lo kenapa?" ulang Aul. Kali ini dengan wajah serius yang menilik Mahesa yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya.
Mahesa tersenyum simpul, dia mengacak-acak rambut Aul-tapi, tidak sampai membuat tatanan rambut Aul berantakan-sebelum akhirnya berujar lirih, "Lo gak perlu tahu."
Aul mengerucutkan bibirnya ketika Mahesa meninggalkan terdiam di depan kamar laki-laki yang sudah beranjak ke arah ruang makan keluarga Wiradinata.
Awalnya, Aul memang berniat sarapan di sekolah dan berangkat pagi-pagi, karena ada tugas yang sebenarnya lupa Aul kerjakan. Manusiawi. Tapi, atas desakan dari tante Rara, akhirnya Aul mengalah juga. Dia ikut sarapan bersama keluarga Wiradinata, kebetulan sekali ada om Wira yang ternyata sudah lama tidak Aul temui, sedang menatap ramah padanya.
"Pagi, Om," sapa Aul dengan canggung.
Om Wira terkekeh pelan, mungkin kentara sekali wajah Aul yang memerah karena malu.
"Gimana kabarmu, Aul? Orang tua kamu?" sapa balik om Wira dengan ramah.
Aul menendang kaki Mahesa yang duduk di sampingnya. Membuat Mahesa malah menatap bingung padanya. Aul mendengkus tertahan. Dia kembali tersenyum pada om Wira yang sedang sibuk dengan sarapannya.
"Hum ... baik, Om. Kalau Om sendiri?"
"Seperti yang kamu lihat, Aul."
Perkataan om Wira menjadi penutup untuk sarapannya. Setelah Aul dan Mahesa menyalimi kedua orang tua Mahesa, akhirnya Aul dengan leluasa dapat menyalurkan amarahnya yang sudah dia tahan pada Mahesa.
"Heh! Lo tuh gimana sih! Udah gue bilang bangun pagi, ihhh!!" Aul masih mengomel dengan suara nyaring. Mahesa bersyukur dalam hati, karena helm yang digunakannya dapat merendam suara Aul.
"Huaaa, belum lagi kata Om Wira yang bikin jantung gue jumpalitan ... lo sih gak mau bantuin jawab!" rengek Aul kembali.
Karena tidak ada respon sama sekali dari Mahesa, Aul memilih bungkam. Lihat saja, Aul akan mogok bicara pada Mahesa! Dan benar saja, ketika Aul sudah sampai di depan gerbang SMK Bratajaya, dia turun dari motor Mahesa tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Mahesa berdecap, memandangi punggung Aul yang menjauh. "Barbar banget jadi cewek!"
•••
Aul memilih melangkahkan kakinya menuju gedung jurusan teknik listrik yang berada di samping gedung broadcast. Pegangannya pada bekal yang sudah dia siapkan, Aul pererat. Dengan langkah yang mantap, dia tersenyum saat melihat objek yang dia maksud sedang berada di koridor kelas.
Nando menjadi laki-laki yang menghampirinya karena dia baru saja kembali dari kantor administrasi.
Aul menjulurkan lidahnya pada Nando, mengejek laki-laki di sampingnya yang penasaran dengan apa yang Aul bawa. "Yee, kepo!"
Nando memang akrab dengan Aul, sehingga saat laki-laki itu merangkul bahu Aul layaknya teman-yang malah terlihat seperti adik dan kakak-karena perbedaan tinggi badan mereka.
"Gak ada buat gue nih?"
Aul malah mencebikkan bibirnya. "Hilih, mini mi... i iki biitin li!"
"Ngomong yang bener!"
"Bodoamat!"
Aul melepaskan diri dari rangkulan Nando dan berlari kecil menghampiri Riziq.
"RIZ!!" pekiknya.
Bukannya berhenti, Aul merasa Riziq malah mempercepat langkahnya. Butuh waktu yang cukup lama bagi Aul agar menyeimbangkan langkahnya dengan Riziq. Dia langsung menyambar lengan Riziq, membuat laki-laki itu terkejut. Dia akhirnya menoleh pada Aul yang sudah memberikannya senyum di pagi hari.
"Pagi~" sapa Aul dengan riang.
Riziq hanya memandanginya dengan datar. "Apa?"
Aul menelan salivanya susah payah. Riziq terlihat berbeda dan itu bukan hanya terlihat dari sikapnya, tapi juga dari arah pandangan matanya pada Aul yang menyorot tajam.
"Hm ... ini, aku buatin sarapan." Aul memberikan kotak bekal merahnya pada Riziq. Tapi pada menit kelima pun, Riziq tidak menerimanya. Hanya menatap kosong pada netra sendu Aul.
"Gak perlu," sahutnya singkat.
"Tapi-"
"Morning, Sayaaang!" Suara lain mengintruksikan Aul agar dapat menoleh pada sumber suara.
Gaila, dengan segala tampilan khasnya. Berjalan ke arah Riziq dan mengapit salah satu tangan Riziq. Bahkan, Riziq tidak terlihat risih sama sekali dengan sentuhan fisik yang Gaila berikan. Mereka sejenak seperti melupakan kehadirannya. Hingga celetukan Gaila semakin membuatnya terlihat seperti parasit saja.
"Duh, ada Aul, ya? Sori, tadi gak kelihatan." Gaila memang meminta maaf padanya, tapi yang Aul lihat adalah riak mengejek.
Aul masih mencerna baik-baik kejadian ini, dia hanya bisa mendumel dalam hati sambil menyaksikan pemandangan yang menyesakkan hatinya.
"Nih, aku buatkan bekal buat kamu. S-p-e-s-i-a-l pokoknya!" seru Gaila dengan semangat. Dia memberikan pada Riziq bekal yang ukurannya tidak jauh berbeda dari bekal yang sebelumnya Aul tawarkan.
Mata Aul terbelalak saat melihat Riziq yang menerima kotak bekal yang diberikan oleh Gaila. "Thank's."
Walaupun Riziq masih terlihat datar saat menerima kotak bekal dari Gaila, tetap saja, kotak bekalnya malah ditolak! Aul dongkol dalam hati. Ingin menangis pun rasanya tidak bisa. Hingga akhirnya Aul memilih menatap punggung Riziq dan Gaila yang menjauh darinya dengan pandangan nanar.
"Jadi maksudnya 'gak usah' itu, lo cuma mau nerima bekal makanan dari Gaila, gitu?" lirih Aul. Dia menatap kotak makanannya dengan kecewa. Ternyata usahanya tampak sia-sia saja rasanya.
Tiba-tiba saja, sebuah tangan yang berukuran lebih besar dari tangannya, mengambil alih kotak bekal makannya. Aul terperanjat saat melihat orang yang berdiri dengan santai di depannya. Dia bahkan terlihat tidak memperdulikan tatapan menyelidik dari murid SMK Bratajaya padanya.
"Jangan dipikirin. Otak doi lagi gesrek, nanti kapan hari gue benerin deh," ujarnya yang semakin membuat Aul panik, karena mengerti maksud dari sindiran tersebut.
"Duh, Esa ... udah lah, gak apa-apa. Lo juga ngapain di sini sih?!"
Mahesa mengedikkan bahunya, dia tidak memperdulikan tatapan penasaran dari sekitanya. Atensinya teralihkan sepenuhnya pada Aul yang tampak kelimpungan karena terlalu panik.
"Duh gimana sih ...," gumam Aul.
Di saat Aul sedang gelisah karena Mahesa dengan santai-padahal pakaiannya sangat mencolok-berbeda dari murid SMK Bratajaya, berdiri dengan kalem di depannya. Laki-laki itu malah menyodorkan satu kotak minuman teh hijau padanya.
"Minum dulu, lupain aja kejadian tadi. Bekalnya gue bawa, thank's ya." Mahesa mengulas senyum tipis sambil mengacungkan kotak bekalnya. "Sori, gue kira bekalnya bukan buat gue, ternyata rejeki emang gak kemana ya? Haha. Bye, Aul!"
Aul mengerjap beberapa kali. Matanya memandang heran pada Mahesa yang tiba-tiba saja sudah pergi sambil membawa kotak bekal makanannya.
"Tuh orang sarap atau gimana? Datang ke tempat musuh, gak takut kena akibatnya apa?" gumam Nando yang Aul tidak sangka sudah ada di sampingnya lagi.
"Maksud lo?" tanya Aul penasaran.
"Lah, bukannya lo juga tahu ya? Ada perjanjian tersirat kalau antara geng Basupati sama geng Devil's itu gak boleh memasuki sekolah musuh, kecuali ada urgent menyangkut sekolah."
Aul menyimaknya dengan serius. Tapi hatinya tidak tenang setelah mendengarkan penjelasan dari Nando. "Soal perlombaan sekolah, selain itu ... kemungkinan besar kalau ada yang melanggar, you know lah, apa yang sering mereka lakukan."
Jantung Aul semakin berdetak lebih cepat, perasaannya waswas pada Mahesa yang seingatnya sedang mengalami cidera pada bagian tulang rusuknya, akibat pertandingan karate-nya minggu lalu.
Tanpa mengindahkan seruan peringatan dari Nando, Aul memutar tumitnya untuk berlari menyusul ke arah Mahesa pergi. Banyak murid yang menatap ke arahnya, tapi Aul abaikan. Setidaknya, dia harus memastikan keadaan Mahesa agar baik-baik saja.
"ESAAA!"
Teriakan Aul ternyata tidak hanya membuat Mahesa yang baru saja berada di dekat kantor administrasi, menoleh padanya. Tapi laki-laki yang berdiri kakuk di dekat lapangan upacara, mengernyit bingung menatap Aul dari kejauhan.l