
...BAGIAN I ...
...CIRI-CIRI ORANG YANG GAGAL MOVE ON...
...#Stalking (sosial media) Mantan...
...“Kamu seperti foto, abadi dan sulit terlupakan.” —Aul...
Matahari menyoroti ratusan deret siswa yang sedang berbaris rapih menghadap ke arah tiang bendera—di mana Bendera Merah-Putih berhasil dikibarkan oleh petugas upacara dengan baik—keluhan tiada hentinya terucap dari bibir siswa yang berdecap kesal karena panjangnya sebuah amanat yang disampaikan oleh Pak Halimin selaku Kepala Sekolah SMK Bratajaya.
Sebelah utara dari tempat Pak Halimin berdiri, ada beberapa siswa yang berbaris secara terpisah. Mereka adalah murid yang melanggar peraturan saat hari pertama sekolah. Ada sekiranya sembilan orang pentolan sekolah yang berdiri tegap di sana. Peluh pada kening mereka, dibiarkan mengalir membasahi kerah seragam hingga leher mereka.
Dua di antaranya menyorot tajam dan datar pada dua objek yang berbeda—satu memfokuskan perhatiannya pada Ketua OSIS yang memiliki kesamaan dengan masa lalunya, berdiri sebagai pembaca UUD 1945, dan satu lagi melirik gadis yang berdiri paling depan di barisan Tata Busana.
“PMR! PMR!!”
Riuh teriakan orang yang membuat sebagian perhatian orang-orang yang ada di sana tertuju pada empat orang yang bertugas sebagai pembawa tandu—satu di antara ketiga laki-laki yang membawa tandu adalah Ilham.
Lari kecil mengikuti Ilham dan teman-temannya yang membawa tandu, membuat Aul merasa risih jika harus jujur. Tapi ini adalah tugas. Setelah membaringkan tubuh lemas milik siswa ber-name tag ‘Farania’ Aul bersama Kaila berlari kecil lagi menuju UKS.
Hal sekecil itu justru membuat salah satu dari pentolan sekolah memusatkan atensinya pada gadis yang memiliki postur tubuh ramping tersebut, hingga gadis tersebut masuk ke ruang UKS tatapannya sama sekali tidak teralihkan darinya.
“Itu mata mau gue congkel?” Teguran dari samping membuatnya menoleh cepat.
Riziq memandang Faris dengan tajam, memberi peringatan untuk tidak mengucapkan sepatah kata pun.
“Diem!”
Bukannya diam, Faris menyenggol lengan laki-laki yang mengaku dirinya paling ganteng dengan muka pas-pasannya—Alki.
“Apa?!” tanyanya galak. Pasalnya dua sedang memerhatikan gadis pujaannya dari jauh.
“Heran gue, semuanya pada sensi amat,” cibirnya.
Gara dan Gibran yang berada di sisi kanan dan belakang Faris, menahan tawanya. “Kalau ganggu orang, jangan tanggung-tanggung, noh Bos depan lu aja.” Gara menunjuk Wildan dengan dagunya.
Karena badan besar Wildan yang menutupi badannya, Faris menoleh pada Gara dengan memberikan senyum misteriusnya. “Kalau dia, harus main cantik.”
Gibran tidak mau kalah, ikut menimpali, “Paling gak, coba aja ke Azriel,” ujarnya menyebutkan salah satu nama sahabat mereka.
“Gue masih mau hidup normal,” tolak Faris.
Sisanya adalah Aldo dan Bagas yang hanya diam menyaksikan perdebatan sahabatnya.
“Gue yakin kali ini Bu Tuti gak akan membuat kita tenang,” gumam Aldo pelan.
Bagas mengangguk dua kali atas pernyataan dari Aldo. “Bahkan gue udah lihat dari tadi Bu Tuti mandang kita, kaya mau menerkam kita hidup-hidup,” kelakarnya.
“Noh salahin aja si Faris, mabar mulu. Biang keladi dia, kita semua jadi yang kena,” sahut Alki dengan kesal.
“Diem lo semua!” desis Wildan tajam yang membuat semua sahabatnya langsung merapatkan bibir mereka.
Cari aman saja.
Sedangkan keadaan di UKS sedang riuh oleh anak PMR yang membantu teman sejawatnya agar bisa secepatnya sadar dari pingsannya.
Satu saja belum berhasil sadar, pasien lainnya menyusul membuat anak PMR lainnya kelimpungan.
“Beri ruang, cepat!”
Setelah selesai, Aul akhirnya bisa bernapas lega. Dia menyandarkan tubuhnya pada tembok UKS yang berwarna cream.
Kaila datang dengan menyodorkan segelas air hangat pada Aul. “Nih minum!” Aul menerimanya dengan senang hati.
“Muka lo kusut amat, pucat lagi. Habis gadang lo?” tanya Kaila selidik.
Aul menyimpan gelas berisi air hangat yang tadi Kaila berikan di atas meja—di sampingnya. “Biasa, insomnia gue kambuh.”
Suara decakan dari Kaila membuat Aul mematut senyum kecut. Sahabatnya itu pasti tahu jika saat ini dia sedang berbohong, karena saat menjawab pertanyaannya, Aul menghindari tatapan Kaila.
“Lama-lama gue gemas sendiri sama lo, Aul,” jujur Kaila yang selalu kesal setiap kali Aul berusaha untuk tidak jujur dengan perasaannya sendiri.
“Dia udah bahagia aja, lo masih stuk di sini. Hidup ini terus berjalan meskipun dia gak pernah tahu perasaan lo, Aul.”
Gemas, Kaila mengajak Aul untuk duduk di salah satu kursi yang di sediakan di UKS. Untung saja tidak ada pasien siswa yang berdatangan lagi. Mereka bisa sedikit santai.
Aul menghembuskan napasnya dengan kasar. Dia memandang Kaila dengan sendu dan Kaila benci saat Aul menampilkan wajah seperti itu.
“Dia terlalu berharga untuk gue lupain, La,” lirih Aul.
“Tapi lo gak usah terpaku sama dia! Cowok di dunia ini bukan hanya dia!” tegas Kaila.
“Alasan klasik,” cibir Aul.
Kaila geleng-geleng kepala. Aul ini memang suka keras kepala, apalagi kalau perihal MASA LALU.
Kaila menyunggingkan senyum mengejek pada Aul. “Segitu bucin-nya lo sama dia sampai gak bisa tidur karena stalking dia?”
Mata Aul membulat sempurna, dia tidak tahu jika sahabatnya akan menebaknya dengan tepat sasaran. Aul kembali berusaha menutupi kebohongannya dengan tertawa pelan.
“Dih, ada-ada lo! Gue gak segitunya kali,” sangkal Aul.
“Oh, ya?”
Aul menganggut mantap. “Tentu, meskipun belum lupain dia, gue gak mungkin relain waktu istirahat gue buat hal yang gak berfaedah gitu, haha.” Tawa yang Aul dengar benar-benar garing, tidak lucu sama sekali tapi berhasil membuat Kalia tertawa sinis padanya.
Aul mulai berprasangka yang tidak-tidak jika Kalia sudah tertawa seperti itu. “Kenapa?”
Kaila merogoh ponsel yang berada di saku rok-nya dan mengetikan sesuatu pada gawai yang memiliki corak putih tersebut. Setelahnya, dia menunjukkan sebuah aktivitas dari akun sosial media yang di lakukan oleh Aul semalam suntuk.
“See? Kronologi aktivitas ini gak mungkin bohong, Aul.” Kaila kembali menyimpan ponselnya, dia menatap Aul dengan rasa simpati.
“Ikhlasin dia...”
Aul berdecak tidak suka jika ada yang berkata seperti itu padanya. Mereka tidak tahu seberapa sulit dan besarnya keinginan Aul untuk melakukan itu, hanya saja ...
“Gue terlalu penasaran sama kehidupannya setelah dia pergi dengan orang lain, padahal cerita kita aja belum tuntas.” Aul menyerah, percuma saja dia berbohong pada Kaila. Ujungnya pasti Aul harus berbicara jujur.
“Andai aja mengikhlaskan dia itu mudah ... pasti udah gue lakukan, Kaila.” Aul sendiri bingung dengan dirinya sendiri—dengan perasaannya yang tidak bisa diajak kompromi.
“Move on itu kaya kita membuka permen. Kadang gampang, kadang juga sulit. Tergantung keadaan tangan dan permen itu sendiri. Sama seperti gue, ini hanya masalah hati, La. Lo ... mana tahu,” cicit Aul.
Kaila memandang Aul dengan datar. “Lebih baik juga jomblo selama ini daripada akhirnya lo harus berakhir semenyedihkan ini seperti lo saat pisah sama dia.” Kaila beranjak dari duduknya.
Sebelum dia benar-benar pergi, dia menatap Aul sekilas. “Kalau lo mau move on beneran, kasih tahu gue lagi. Gue tahu orang yang cocok untuk membantu lo.”