#Move On, Jomb!

#Move On, Jomb!
Bab 27 : Busywork



...PROSES MOVE ON...


...#Cari kesibukan lain...


...“Semakin sedikit waktu luang yang dimiliki, kecil kemungkinan teringat dia lagi.”...


...•••...


Mahesa memerhatikan Aul yang sedang sibuk mengetik pada layar laptop yang sudah menyala sejak tiga jam lalu. Mahesa berdecak kesal, Aul terlihat serius dengan pekerjaannya dan mengabaikan dirinya yang dari tadi mencoba memecahkan konsentrasi Aul.


“Jangan terlalu serius, tuh kening udah kaya nini-nini!” ejek Mahesa sambil mengambil cemilan yang berada di samping laptop Aul.


“Lo kuker banget perasaan, gak kumpul-kumpul sama temen lo itu?” Aul melirik sekilas pada Mahesa yang menggelengkan kepala.


“Waktu gue sekarang cuma buat lo,” kelakar Mahesa yang membuat Aul melemparkan bantal kecil bergambar Winnie the Pooh pada Mahesa yang menghindarinya dengan tangkas.


“Buaya!”


Mahesa tersedak, dia mencari-cari minuman untuk meredakan perasaan tidak nyaman pada tenggorokannya. Sementara Aul, dia tertawa terpingkal-pingkal karena Mahesa yang kesusahan mencari air minum. “Mampus tuh!” ejek Aul setelah merasa puas.


Sebuah notifikasi dari ponsel Mahesa membuat Aul penasaran untuk membuka ponsel keluaran tahun ini. Karena Mahesa terbiasa tidak memakai password pada ponselnya, memudahkan Aul untuk mengetahui nama pengirim pesan pada sosial media milik Mahesa.


Pemilik nama akun Instagram 'salsan_' membuat Aul merasa tidak asing. Namanya terasa familiar. Terlebih lagi, pesan beruntun yang dikirimkan kepada ponsel Mahesa ini, cukup membuat Aul menyimpulkan suatu hal : Mahesa sedang dekat dengan seseorang.


Senyum Aul terbit seketika. Dia ikut merasa bahagia. Mahesa itu adalah tipikal orang yang memang sulit dekat dengan perempuan, dan sekarang ... Aul seketika merasa bahagia membayangkan Mahesa yang akhirnya tidak akan mendapatkan gelar jomblo lagi.


“Esaaa, selamat ya!” teriak Aul.


Mahesa kembali tersedak air minumnya. Dia menoleh tajam pada Aul. “Gak usah teriak!”


Aul hanya menyeringai kecil. Dia turun dari kasur dan menghampiri Mahesa.


Gebukan kencang yang Mahesa rasakan di punggungnya, meninggalkan rasa perih yang membekas. Mahesa melotot tajam pada Aul. “Bocil gak sopan!” ledeknya.


Aul memamerkan deretan giginya yang rapi, dia mengacungkan ponsel Mahesa di depan laki-laki itu. “Salsa-Salsa mana nih?” seru Aul sambil menggoda Mahesa dengan banyak pernyataan yang membuat Mahesa merasa jengkel.


Mahesa membalikkan badan Aul, sehingga tubuh mungil Aul berputar dengan terpaksa. Aul sempat akan protes, tapi Mahesa lebih dulu mendorong-dorongnya untuk keluar dari kamarnya dan sampai lah mereka di taman belakang.


Di taman, sudah ada Aura yang sedang menyirami tanaman kesayangannya. Ada juga Aryan yang sedang membaca koran dan duduk santai di seberang, tempat Aura sedang menyiram tanaman.


Aul terkesiap saat mendapati pandangan milik Aryan yang memerhatikan Aura begitu dalam. Semakin Aul perhatikan, semakin kentara juga cinta yang Aul lihat dari cara ayahnya memandang ibunya. Aul mencoba mengerjap mata, karena matanya tiba-tiba merasa perih dan berair. Satu kedipan saja, dapat meluluhkan banyak air mata yang akan membasahi pipinya.


Aul menoleh pada Mahesa yang berdiri menjulang di sampingnya. Di lihatnya dengan seksama wajah serius Mahesa saat mengetik pada layar ponsel. Entah apa yang sedang Mahesa cari atau bahas dalam ponselnya itu, tapi keningnya yang berkerut samar, serta tidak adanya senyuman yang tertanggal, membuat Aul terjebak dalam menikmati wajah serius Mahesa yang sangat jarang bisa dia lihat.


Aul salah tingkah, dia membuang pandangannya. “Percaya diri amat!” cibirnya pelan.


Terdengar suara kekehan yang Aul dengar dari Mahesa. Tapi kemudian tubuhnya memberontak saat Mahesa kembali menyeretnya untuk ke halaman depan. Tapi sebelum pergi, teriakan Mahesa yang benar-benar membuat Aul kesal terhadapnya.


“Om, Tante, anak gadisnya aku culik dulu ya!”


Dan yang lebih menyebalkan lagi, ayahnya membalasnya dengan teriakan yang tak kalah menyesalkan yang pernah Aul terima. “Iya bawa aja, asalkan jangan sampai lecet waktu dikembaliinnya!”


Aul mendengkus keras. Dia tidak bisa berontak dan ayahnya pun sudah memberikan izin. Padahal Aul berniat menghabiskan sisa waktu liburannya untuk belajar mempersiapkan UN nanti. Tapi, habislah sudah. Mahesa pasti tidak akan membiarkan Aul belajar dengan tenang.


“Refeshing, Aul. Lama-lama kepala lo bisa botak kalo terus-terusan belajar," omel Mahesa saat Aul menyatakan ketidaksetujuannya untuk ikut Mahesa weekend ini.


Aul malas membantah, tapi tidak juga tahan, jika terus berdiam saja. Akhirnya yang keluar dari mulutnya hanyalah sumpah serapah yang Aul sematkan untuk Mahesa, saking kesalnya. “Serah pala lo, Bambang!”


“Nama gue Mahesa, bukan Bambang!" protes Mahesa.


Aul mencebikkan bibirnya, mengejek Mahesa yang masih berusaha menarik-narik Aul untuk ikut bersamanya.


“Lo harus piknik. Bodi lo udah kaya sapu lidi aja, rata dan gampang dipotekin,” hina Mahesa.


Aul membeliak. Dia menggebuk bahu Mahesa cukup keras. “Body shamming lo!” sungut Aul sungguh-sungguh. Dia melipat kedua tangannya di depan dada. Berdiri angkuh saat Mahesa sudah berada di depannya sambil menderu-derukan mesin motornya yang bising.


Suaranya sangat memekakkan telinga. Aul sampai menutup kedua telinganya dan mendelik pada Mahesa yang menampakkan wajah tak berdosanya.


“Karpet, Esaaa!” pekik Aul.


Ketika Aul dengan beringas menjewer telinga Mahesa dan Mahesa yang gagal menghindarinya, dalam hati, Mahesa bersyukur karena tidak melihat Aul yang gila-gilaan menyibukkan diri dan layaknya seperti orang yang gila kerja saja.


Mahesa membawanya sekedar berkeliling perumahan dan menikmati sejuknya kota metropolitan saat sedang sejuk-sejuk seperti saat ini. Cuaca yang berawan, tidak mendung dan juga tidak adanya sinar matahari yang menyengat pada saat jam menunjukkan pukul satu siang, sungguh Aul syukuri.


Hatinya teras tentram saat melihat beberapa objek persawahan yang mereka lintasi. Aul sendiri sudah tidak tahu ke daerah mana Mahesa membawanya pergi. Sepertinya definisi ‘diculik’ sudah sukses Mahesa perbuat kepadanya.


Diam-diam, ingatan tentang Riziq menyelinap dalam damainya hati Aul saat ini. Sepoi-sepoi angin, seolah membisikkan padanya, kenangan Riziq yang muncul ke permukaan.


“Cukup simpan rindu itu dalam diam. Karena dia adalah kesia-siaan yang terlalu aku sempurnakan,” gumam Aul.


Aul tidak akan membiarkan suasana hatinya menjadi keruh dan berantakan lagi hanya karena mengingat Riziq. Dia mengsugestikan diri, untuk tidak terbelenggu lagi oleh bayangan masa lalunya. “Saatnya melihat ke depan dan jangan berharap lupakan masa lampau!” yakinnya dalam hati.


Setelah memantapkan dirinya berkali-kali, akhirnya sedikit demi sedikit, ingatannya tentang Riziq, sedikit memudar. Tergantikan oleh senyum yang terpatri pada wajah Aul yang diterpa oleh angin.