#Move On, Jomb!

#Move On, Jomb!
Bab 24 : Seriously, you want leave me alone?!!



...SIKLUS (TRAGIS) PACARAN...


...#Putus...


..."Ada awal, ada juga akhir. Begitupun dengan hubungan. Ada yang bertahan, juga ada yang menyerah."...


...•••...


Menjadi orang yang menerka-nerka, menjadi hal yang sulit bagi Aul. Apalagi Aul harus pintar-pintar membagi waktunya sekarang ini. Pelajaran tiba-tiba menumpuk, jadwal praktek Jurusan Broadcast mendadak bertambah banyak. Kepala Aul rasanya sangat pusing sekali memikirkan itu semua, belum lagi sidang dari PKL yang tempo lalu yang belum terlaksana, juga pergantian jabatan di ekskul, sungguh menguras habis energinya.


Ditengah kepelikan pemikirannya tentang hidup, Aul sedang duduk termenung di Kantin bu Sri yang ramai di jam-jam istirahat seperti sekarang. Kaila yang memperhatikannya, mencubit lengannya cukup keras. Aul meringis sakit karenanya.


"Duh, apaan sih, Kaila!" sewot Aul. Dia menyeruput minuman milkshake-nya dengan rakus.


"Lagian lo ngelamun mulu." Kaila menunjuk pada kening Aul yang berkerut. "Tuh kening udah kaya nini-nini aja. Mikirin apaan sih?" tanya Kaila.


Aul mendengkus, dia membuang napasnya sejenak. "Mumet deh pikiran gue, bercabang-cabang gitu," keluh Aul, nelangsa.


"Santai aja makanya. Hidup ini gak perlu dipikirin ribet gitu lah!" seloroh Kaila.


"Ah, lo mah!"


Kaila meminggirkan mangkok bakso yang sudah kosong. "Mikirin apaan gitu? Doi lo hilang? Ghosting gitu?"


Aul berdecak, karena Kaila menebaknya tepat sasaran. "Ah, tahu lah! Pikiran gue udah penuh. Mikirin dia tambah pikiran gue meledak aja rasanya."


"Doi kayaknya udah nunjukin tanda-tanda sih," gumam Kaila yang sibuk memilin sedotan minumannya.


Aul mengernyit bingung. "Tanda-tanda gimana?"


Ekspresi wajah Kaila berubah serius. Dia menatap Aul dengan ragu. "Lo yakin mau tahu?"


Walaupun Aul merasakan jantungnya berdetak cepat, dia tetap mengangguk. Sebenarnya, ini adalah bulan ketiga sejak Aul merasa ada yang berbeda dari hubungannya dengan Riziq. Aul juga tahu, hanya saja dia memilih mengelaknya.


Karena hatinya, belum sanggup untuk menerima kenyataan tersebut.


Kaila berdeham singkat, dia merasakan kegugupan menyelimuti dirinya. Dia tidak ingin menyakiti sahabatnya, tapi dia juga tidak mau membuat sahabatnya itu terus bingung oleh perasaannya sendiri.


"Hm ... doi kayaknya ...," Kaila berdecap acapkali, lidahnya terasa kelu sekali untuk sekedar melanjutkan kalimatnya barusan. "Memilih ngehindar dari lo sih," cicitnya yang semakin memperjelas kerenggangan hubungannya.


Aul mendesah berat, dia cukup kecewa dengan jawaban dari Kaila. Karena jawabannya benar-benar mengenai ulu hatinya. "Emang iya," sahutnya dengan mengerutkan hidungnya.


"Lo udah tanya dia face to face gitu? Dari hati ke hati misalkan?"


Aul menggeleng pelan. "Boro-boro ngomong, sekedar chatingan aja kita gak. Apalagi lo tahu kan, kondisi ponsel gue yang lagi rusak?"


Kaila mengangguk setuju, dia sangat tahu bahwa ponsel Aul sedang bermasalah. Apalagi katanya ponselnya sedang berada di konter service.


"Kapan selesainya, btw?"


Aul mengedikkan bahunya. "Mana gue tahu."


Kaila gemas sendiri pada Aul yang tampak tak acuh, padahal akhir-akhir ini, secara tidak langsung Kaila suka memergoki Aul yang uring-uringan karena Riziq.


Dasar cinta, gumam Kaila pelan. Dia jadi semakin ngeri saja, jika berurusan dengan perasaan yang rumit itu. Oleh karena itu, diam-diam, Kaila menanyakan perihal ini pada Akmal. Salah seorang yang Kaila kenal sejak SMP.


______________________________


Akmal Khoiri


Gue mau nanya.


#seriusnanya.


Nanya apaan Neng geulis?😎


Ck, buaya! Gue cuma


tanya, lo tahu Riziq kemana?


Oh, doi si Aul? Emang kenapa gitu?


Banyak bacot, tinggal


bilang aja!


Wkwkwk, santui Neng.


Lo tanyain aja sendiri, gue gak paham😌


Dah lah, kesel!


Lo marah?🙄


Tahu ah, Kadal!


______________________________


Ternyata berurusan dengan satu spesies dari lawan jenis saja sudah membuatnya pusing. Kaila tak habis pikir dengan Aul yang memiliki teman lawan jenis yang akrab dengannya.


"Gue salut sama Aul yang kepalanya beneran gak meledak gara-gara satu spesies ini," lirih Kaila sambil mengurut keningnya.


Berurusan dengan Akmal saja sudah membuat kepalanya terasa pusing. Ternyata laki-laki bisa jadi menyeramkan seperti itu.


•••


Aul memegangi ponselnya dengan gamang. Bukannya dia tidak bersyukur atas ponselnya yang sudah kembali, setelah dua minggu menjalani operasi di kantor service. Kadang kala, Aul merasa tidak ingin ponselnya sembuh saja, dia takut hal-hal yang selama ini dia takutkan terjadi begitu saja.


Sudah kali kesekian Aul menghela napasnya. Keinginan untuk menghubungi seseorang kian membesar juga mencemaskan saja. Aul ragu, tapi tetap saja melakukan tindakan yang Aul rasa, berasal dari hatinya.


Setelah mencari kontak panggilan Riziq sebagai orang yang sering dia hubungi, mendadak membuat hati Aul mencelos sakit.


Dia berusaha menahan tangisnya agar tidak keluar. Aul mengantisipasi dirinya sambil menunggu panggilannya terhubung dengan Riziq.


Hingga akhirnya, suara khas orang yang Aul nantikan, terdengar juga. Aul merasa jantungnya berdetak kencang. Dia jadi pusing karena detakan kencang tersebut.


"Kenapa?"


Aul menjerit membatin. Dari sekian banyak pembendaharaan kata yang cowok itu ketahui, hanya satu kata yang dapat dia ucapkan?! Ingin sekali Aul mengorek-ngorek isi kepala laki-laki yang sering kali membuat dunianya jungkir balik.


Aul menarik napasnya dalam. "Kemana aja, El?"


Riziq yang mendengar suara serak Aul yang memanggilnya dengan nama panggilan kesayangan, membuatnya sedikit kelimpungan dengan perasaannya sendiri. Riziq mengerutkan hidung. Dia mengacak-acak rambutnya sekejap, lalu menghembuskan napasnya dengan gusar.


"Sori kalau kamu gak nyaman," ungkap Riziq pada akhirnya.


Aul diam-diam mendesah kecewa. Dia memilin ujung bajunya. Menahan diri untuk tidak meluapkan emosinya. Permasalahan ini harus diselesaikan dengan baik-baik.


"Kemana aja? Kamu gak lupa sama aku, kan?" sindir Aul.


Dari seberang telepon, Aul dapat mendengar suara gaduh. Tapi dia malas untuk menanyakannya.


Keheningan yang terasa lama itu, sungguh menyiksa Aul. Bahkan Aul tidak perlu menyalakan AC di kamarnya agar dapat merasakan sensasi dingin, menunggu jawaban Riziq sama sekali membuatnya tegang dan tidak nyaman!


"Kamu gak lupa sama fungsi mulut kan, Riz?!" pekiknya. Menaikan satu oktaf suaranya.


Aul mendengkus keras, Riziq sama sekali belum meresponnya. Ketika hubungan mereka berangsur seperti baik-baik saja, tapi sebenarnya tidak baik-baik saja, itu sungguh membuat Aul kebingungan.


BIP!


Karena kesal, Aul memilih memutuskan sambungan telepon mereka. Percuma saja jika dia yang berbicara, jika nyatanya Riziq hanya mendiamkannya. Biarkan saja Riziq kebingungan dengan sikapnya, salahkan saja dia yang membuat Aul bertindak seperti ini.


Jika dulu, Aul sangat senang mendapati suara notifikasi yang berbeda-dari Riziq-yang sudah Aul hafal diluar kepala. Maka lain halnya saat ini. Aul memeluk bantalnya dengan erat. Dia menatap sebal pada gawai yang ramai oleh notifikasi yang membanjiri media sosial miliknya.


Aul tahu bahwa Riziq mengirimkannya spam chat, itu terbukti dari suara yang sama dari beberapa kali suara notifikasi yang silih bersahutan. Ada keengganan yang membuat Aul menggeram kesal. Karena selain tidak mau tahu atas jawaban Riziq, Aul juga sangat penasaran.


"Bodoamat lah!" Aul memilih mengalah pada egonya. Dia beringsut, mendekati ponsel yang membuatnya penasaran setengah mati.


Aul menelan salivanya susah payah. Dia terus membaca beberapa spam chat dari Riziq dengan seksama, mengulanginya hingga beberapa kali, membuat bulir-bulir air mata luluh seketika. Aul menahan napasnya, juga berupaya meraup oksigen sebanyak-banyaknya.


Dengan sisa tenaga yang Aul miliki, dia mengusap kasar air matanya. Mencoba tersenyum pedih atas kepura-puraan yang sebenarnya sudah dia ketahui. Aul sudah mempunyai feeling tentang ini, tapi dia berusaha menampik.


______________________________


Riziq (DL)


Kita break dulu ya. Lo gak usah minta maaf, udah gue maafin.


Kita tetep bisa jadi sahabatan.


Jangan marah, aku cuma gak mau nyakitin kamu lagi.


Thank's Hana Aulia 💚


______________________________