
...PROSES MOVE ON...
...#Belajar menerima kenyataan dan jangan membenci mantan...
...“Membenci hanya akan membuatmu tersakiti. Belajarlah menerima, meskipun diri menolak lupa.”...
...•••...
Perubahan dashyat yang terjadi pada diri Aul, kadang-kadang membuatnya menjadi bingung dengan perasaannya sendiri. Berbagai artikel yang Aul baca, perihal 'Cara-cara Move on yang paling jitu' hingga pada akhirnya Aul menemukan artikel dengan judul yang cukup konyol, 'Membuat Move on menjadi segampang angkat Galon!'
“Dasar netizen,” komentar Aul dalam hati. Dia ikut tertawa geli membaca artikel tersebut.
Aul termenung sambil duduk di teras balkon dekat kamarnya. Hembusan angin dingin yang menerpa wajahnya, tidak membuat Aul beranjak sama sekali. Bahkan dengan berani, Aul hanya memakai kaos berlengan pendek dan celana setulut saja.
Tidak ada yang lebih mengerti diri, jika bukan kita sendiri.
Aul mendongak ke arah langit yang sepi. Biasanya, langit akan berhiaskan bintang-bintang, paling tidak, itu berhasil membuat langit tidak terlihat suram. Seperti Aul. Terdapat kabut yang tak kasat mata, menyelimuti hatinya yang berduka.
Ingatan tentang satu orang laki-laki yang berkesan dalam kehidupan remajanya, terekam ulang dalam memori. Semburat senyuman terpatri, terlihat tulus apa adanya. Namun, itu tidak berlangsung lama. Aul terisak pelan yang berakhir menjadi sebuah tangis sesenggukan.
“Kenapa gue harus lemah gini....” lirihnya seraya memeluk kedua lututnya dan menyembunyikan wajahnya di balik celah lututnya itu.
Aul merasa ada tepukan singkat pada bahunya. Kontan saja, Aul terkesiap. Dia terburu-buru menyeka air matanya, lalu menoleh sepenuhnya pada orang yang berdiri di belakangnya. Sebelum dapat mengenali seseorang itu, Aul kembali terkejut oleh tindakan mendadak yang dilakukan oleh orang tersebut, memeluknya sangat erat.
Napas Aul memburu, dia merasa hatinya dipukul oleh beton yang kuat. Beban berat di bahunya, semakin membuatnya seperti lemah tak berdaya. Aul membeku di tempat. Dia sangat mengenali parfum dan suara detakan jantung yang juga berirama sama dengan ritme jantungnya.
“Jangan nangis ... gue paling gak bisa lihat lo kayak gini,” ujar pria yang sangat Aul kenali.
Aul ingin memaki. Meneriakkan pada pria yang mendekapnya, semua perkataan makian paling hina. Aul ingin protes tentang semua perasaan yang berkecamuk. Tapi semua itu tertahan di ujung lidah. Bibirnya kelu, bahkan untuk sekedar mengatur napasnya pun Aul merasa kesulitan.
Awalnya tubuh Aul kaku karena mendapat pelukan mendadak dari Riziq, tapi seiring waktu, hatinya tidak dapat membohonginya. Hanya suara tangis yang Aul sampaikan pada Riziq dan langit malam yang menjadi saksi kebisuan Aul terhadap perasaan yang sulit terungkap.
“Pasti sakit, ya?” tanya Riziq hati-hati. Aul menjawabnya dengan anggukan.
Tangan Riziq tidak hentinya mengusap lembut surai rambut Aul yang tergerai indah.
“Kamu hanya harus percaya, bahwa tidak semua yang kamu lihat buruk, akan berakhir buruk pula. Kamu harus yakin, bahwa dalam kehidupan ini adalah tentang bagaimana kita memilih,” tutur Riziq.
Aul melepaskan pelukannya, dia menatap Riziq dengan sendu. Dia bingung dengan kehadiran serta sikap Riziq yang seolah-olah berbeda. Terlalu mendadak dan sulit untuk dapat Aul cerna.
“Karena hati itu dipilih, bukan memilih,” sambung Riziq.
Tatapan Riziq seolah menembus mata Aul. Dia tidak mengalihkan pandangannya barang sedikitpun, dan pada akhirnya, Aul memutuskan untuk tidak akan pernah membenci Riziq. Meskipun demikian, Riziq tetaplah menjadi orang yang akan berarti bagi Aul.
Dengan suara serak, Aul susah payah mengucapkan beberapa kata. “Apa menurutmu, perpisahan kita itu, adalah yang terbaik?”
Riziq tersenyum tipis, berat rasanya untuk mengiakan pertanyaan Aul. Ada kalanya, sesuatu itu tidak perlu terungkap, cukup dirasa saja. Dan cukup dia saja yang mengetahuinya.
•••
Di tengah waktu luang ketidakhadiran Pak Willy di kelas Broadcast-1, membuat Aul meraih pensil dan dibukanya buku catatannya. Tangannya dengan mahir, menggoreskan beberapa kata menjadi kalimat bermakna. Suara hatinya tidak henti meneriakkan satu nama kala Aul menulis.
Bersyukurlah kepada Ilahi
Atas nikmat dan ujian yang diberi
Berterimakasihlah pada diri
Janganlah bersusah hati
Sebab masa kini, penentu masa nanti.
~Hana Aulia
Sesudah menulis uraian kata itu, Aul kembali menyimpan bukunya dalam ransel. Apalagi Kaila sudah memerhatikannya sejak Aul mulai menulis dengan tatapan penasaran.
“Kenapa lihat-lihat, ada yang aneh?” tanya Aul, ikut terheran.
Kaila menempelkan punggung tangannya pada kening Aul. “Gak panas,” gumamnya. “Beneran lo ... sehat, Aul?” sambungnya meragu.
Aul mengangguk pelan. “Lah, emangnya gue kenapa?”
“Lo putus cinta, kemarin kaya orang yang gak waras, tapi kenapa sekarang, keliatan oke-oke banget?” desak Kaila lagi.
Aul terkekeh pelan. Dia menopang dagunya dan menatap Kaila dengan lembut. “Gue emang sedih,” jujur Aul. Dia menghela napasnya sejenak. “Tapi ... gue juga lega,” tutur Aul kemudian.
Kaila memandang Aul dengan sangsi. “Yakin?”
“Yakin!” sahut Aul dengan pasti.
Tak selang berapa lama setelah Aul berucap demikian, dari arah jendela, Aul dan Kaila serempak menolehkan kepalanya pada satu objek yang membuat mereka sama-sama menahan napasnya, terutama Aul. Dadanya terasa terhimpit dan membuatnya sesak. Kaila yang menyadari perubahan wajah Aul menepuk pundaknya, untuk menyadarkan.
“Napas, Aul!” tegur Kaila.
Aul mengerjap pelan, dia memandang linglung pada Kaila. Layaknya seperti orang yang amnesia, pandangan Aul terlihat kosong dan Kaila bisa melihat itu semua. Hanya satu orang yang menjadi penyebab Aul demikian, melihat Riziq yang berjalan dari koridor Jurusan Otomotif ke Jurusan Broadcast, bersama Gaila.
Telebih lagi, mereka tampak menikmati senda gurau yang entah apa sedang mereka bahas. Kaila dongkol setengah mati, dia hendak memberikan pelajaran pada Riziq agar tidak berlaku semena-mena pada perasaan sahabatnya. Tapi tangan Aul lebih dulu mencegahnya.
“Jangan, La! Udah biarin aja, gak apa-apa,” tutur Aul dengan suara rendah.
Kaila melengos. “Aul, tapi lo gak bisa gini terus tahu! Riziq itu udah mempermainkan lo!” balas Kaila.
“Tapi—”
Kaila memotong pembicaraan Aul dengan perkataan yang memang sudah Aul ketahui sebagai sebuah pernyataan yang harus dia hadapi.
“Dia laki-laki brengsek yang udah bilang gak mau nyakitin lo, tapi dengan kenyataan yang sebaliknya.”
Aul mencoba tetap tersenyum tegar, walaupun hatinya menjerit pilu. “Gak apa, La. Lagian percuma kalau lo marah-marah sekarang, gak akan ngefek ke dia,” sahutnya.
Kaila tidak mau kalah, dia tetap berasumsi dengan tegas. “Lo emang orang bego yang gue kenal, Aul,” ejeknya sekaligus banggga.
“Dan beruntungnya gue, punya sahabat super hebat kaya lo,” ucap Aul sembari merangkul bahu Kaila.
Kaila mencebikkan bibirnya, tapi tetap tersenyum pada Aul. “Bisa aja lo!”
Aul dan Kaila tertawa bersama, melupakan sejenak permasalahan yang menimpa mereka. Terlebih lagi, Kaila belum siap untuk menceritakan permasalahannya pada Aul. Bukannya tidak mau, tapi Kaila berpikir, dia tidak seharusnya membebani Aul dengan permasalahannya yang pelik juga.
“Mungkin di waktu lain aja,” gumam Kaila, pelan.
Kaila memandangi lapangan upacara yang sedang digunakan oleh anak-anak Jurusan Multimedia. Senyuman dari seseorang yang Kaila lihat melalui jendela kelasnya, membuat Kaila ikut tersenyum hanya karena melihatnya saja, sudah lebih dari cukup.