
...CIRI-CIRI ORANG YANG GAGAL MOVE...
...#Menyimpan barang pemberian Mantan...
..."Kamu terlalu fokus pada bayangan, hingga sulit membedakan kenyataan." ...
...-Mahesa...
Aul memang sangat pandai untuk berlakon, hingga dapat memanipulasi Tante Aura yang menyebutkan mata sembabnya karena ulah Mahesa menakut-nakutinya dengan cerita horor. Jadi setelah mendapatkan omelan versi pendek dari Tante Aura, Mahesa akhirnya bisa bernapas lega.
Mahesa merangkul Aul yang tingginya hanya sebatas bahu, dia mengalungkan lengannya seolah-olah berniat mencekik Aul karena perempuan itu mengumpankan dirinya pada mamahnya sendiri.
"Satu sama," ejek Aul, menjulurkan lidahnya pada Mahesa.
Mahesa menjitak kepala Aul. "Dasar pendendam!"
"Biarin, daripada pembohong," balas Aul.
"Sialan, sini lo!"
Aul berlarian di sekitar rumahnya, membuat Aura menegurnya. Tentu saja hal itu tidak membuat Aul berhenti berlari, karena Mahesa pasti akan menggelitikinya jika berhasil menangkap Aul.
"Kalian jangan main lari-lari kaya anak kecil! Nanti ada barang pecah lagi!" teriak Aura lagi.
Sambil mengejar Aul yang terus menghindarinya, Mahesa menyahut, "Anak Tante yang mulai, nih. Nakal dia."
"Dih, ngapain nyalahin gue sih!" gerutu Aul sebal.
PRAAANG
Suara pecahan itu membuat Aura segera mendekati mereka.
"Tuh, kan, kata Mama juga apa." Aura berkacak pinggang menatap Aul dan Mahesa secara bergantian.
"Kalian tuh udah besar, masih aja kaya anak kecil," imbuhnya sambil menggelengkan kepala, heran dengan kelakuan Mahesa dan putrinya yang sudah remaja, tapi berkelakuan layaknya anak kecil.
Aura memandang Mahesa sangsi. "Kamu, nanti Tante bilang ke Mama Rara supaya kamu kena hukum juga," ancamnya.
"Aduuuh, Tante. Ampun, jangan sampai Bunda tahu, Tan. Bisa habis aku," mohon Mahesa sungguh-sungguh.
"Ya sudah, Esa, bantu Aul untuk membersihkan bekas pecahan kaca itu," titahnya kemudian.
"Rasain tuh," bisik Aul pelan.
Aura pergi meninggalkan mereka yang sibuk membersihkan salah satu vas bunga Aura yang pecah.
Setidaknya berkat keributannya dengan Mahesa, tidak membuat Aul terus memikirkan permasalahannya dengan Irlan siang tadi. Dia akhirnya bisa bergelung santai di atas kasur, tanpa sedikitpun rasa sesak.
Tiba-tiba sebuah pesan singkat dari Kalia membuat ponselnya berkedip dua kali. Aul segera membacanya.
'Aul, menurut lo kalau ada orang yang ngasih kitab, terima jangan?'
Aul mengernyit dahi, tumben sekali sahabatnya bertanya demikian.
'Emang dapat dari siapa?' balas Aul.
Ketika pesannya sudah terkirim dan tidak kunjung mendapatkan jawaban, Aul termenung. Dia memandang kosong langit-langit kamar.
Kitab, ya?
Senyumnya terukir sempurna saat kilasan ingatan masa lalunya timbul tanpa bisa dia cegah.
Aul segera beranjak dari kasurnya dan meraih sebuah kitab yang sudah lama dia simpan. Kitab itu masih sama dengan terakhir kali dia menyimpannya, masih apik.
"Gimana aku bisa membuang barang berharga seperti ini coba?" Aul mengusap lembut permukaan kitab tersebut.
Lagi-lagi, sebuah pop-up dari pesan daring itu membuat perhatian Aul teralihkan.
Aul meliriknya sekilas, ternyata sebuah pesan dari Mahesa.
'Jangan banyak mikirin dia, lo gak bisa selamanya fokus kalau terus lihat bayangan. Kali-kali lihat yang asli. Biar bisa waras dikit, gak lihat hantu terus.'
'Iya hantu itu mantan, haha.'
Aul tersenyum singkat menanggapi pesan Mahesa, laki-laki itu tidak akan tahu perasaannya. Mahesa terlalu batu, untuk mengerti.
Atensi Aul teralihkan pada kitab yang merupakan hadiah pertama sekaligus terakhir yang Aul terima darinya. Seulas senyum kecut terbit pada wajahnya saat Aul kembali mengingat Irlan Argara.
Wajahnya, kelakuannya, kegiatan yang dia alami bersama Irlan, hingga intensitas pertemuannya yang semakin minim. Aul tidak tahu jika mengingat Irlan harus menyesakan rongga dadanya.
Satu per satu air hangat yang meleleh dari matanya, membasahi kedua pipinya. Sama sekali tidak ada niatan untuk menyeka air mata yang terus merembes. Isak kecil yang dia tahan, kini menjadi tangisan yang memilukan.
Aul mengusap kasar air matanya, dia meletakkan kembali kitab tersebut ke tempatnya. "Aku harap, kamu bahagia sekarang. Walaupun sulit bagiku untuk lupain kamu sepenuhnya." Aul tersenyum sekilas. "Setidaknya, biarkan aku terus mengingatmu seperti ini dulu. Sebelum akhirnya aku dapat melupakan kamu sepenuhnya."
Lagu Fight Song mengalun merdu, Aul segera meraih ponsel yang menampilkan panggilan masuk dari Kalia. Aul berdehem sebelum menjawab panggilan tersebut, dia tidak mau membuat sahabatnya cemas.
...•••...
Sejak pagi tadi, Aul terlihat lebih pendiam dari biasanya. Bahkan saat Kalia mengajaknya makan di Kantin Bu Sri pun, Aul masih mengunci rapat mulutnya. Banyak praduga yang terlintas dipikiran Kalia tentang keadaan sahabatnya ini.
Apa lagi jika bukan tentang Irlan dan masa lalunya itu?
Kalia mendesah berat, atensinya teralihkan pada Mella-anak Teknik Rias, yang selalu jutek-terlebih sekarang dia sedang digoda oleh Alki dan teman Basupati lainnya.
Kalia tidak mendengar jelas apa yang mereka ucapkan, karena letak meja Basupati yang berada di ujung-hampir dekat dengan gudang-berbanding terbalik dengan mejanya yang dekat dengan belakang Teknik Broadcasting.
"Aul, lo bengong mulu! Kenapa sih?" Kalia mengguncangkan lengan Aul, membuat Aul mengerjap pelan.
"Ah, ya?"
Kalia berdecak kesal, selama pelajaran Bu Nesa, Aul pun kehilangan fokusnya. Padahal biasanya, sebenci apapun Aul terhadap jurusannya sendiri, Aul pasti sangat menyukai pelajaran non-jurusan itu.
"Irlan buat lo kenapa lagi sekarang?" tebaknya tepat sasaran.
"Gak, dia gak buat apa-apa," kilah Aul. Padahal jelas-jelas kemarin Aul melihatnya menggandeng perempuan lain.
Irlan ternyata sudah bahagia dengan kehidupan barunya, lalu kenapa dia masih bergelung dengan masa lalunya!
Aul menggeram frustasi, ternyata benar bahwa 'gagal move on itu sama dengan bencana!' lihat saja betapa menyedihkan dirinya, sedangkan orang yang dia membuat dia sedih, sudah melupakannya.
"AULIA!" sentak Kalia tiba-tiba, sebagian murid langsung menoleh pada mereka.
Aul spontan menginjak kaki Kalia, saking kaget dan malunya. Kalia berjerit keras.
"Sakit Aul!" desisnya tajam.
Aul meringih pelan. "Maaf, La... habisnya lo teriak kaya gitu sih, malu tuh dilihatin banyak orang," cicitnya.
Kalia mengusap kakinya yang ada di bawah meja, dia mendelik kesal pada Aul. Tapi tak urung, akhirnya Kalia tersenyum masam padanya. "Makanya jangan melamun terus, nanti kesambet baru tahu rasa!"
Aul mendepak tangan Kalia. "Jangan ngaco lo! Kasian Pak Anwar yang harus ruqyah gue!" semprot Aul, menyebutkan nama guru PAI yang kebetulan merangkap menjadi Pembina OSIS.
"Lah kenapa harus kasian? Kan tugas dia kali," sahut Kalia ketus.
Aul melebarkan senyumnya. "Nanti dia yang bakal istighfar terus, karena gue kebanyakan dosa gak move on-move on mulu."
Kalia menahan kesabarannya, dia memandang Aul datar. "Aul, tahu guk-guk gak?"
Dengan cepat Aul menganggut. "Tahu, kembaran lo, kan?"
"Astagfirullah!" pekik Kalia membahana.
Aul tertawa melihat wajah masam Kalia.
"Ini nih kebanyakan gaul sama si Esa, micin terus! Gak baik tuh orang," sungut Kalia penuh emosi.
"Hushh, gak baik bilang gitu... Esa gitu-gitu juga soft boy kok," sargah Aul dengan sisa tawanya.
Kalia mencibir pelan. "Hilih, tetep aja jatuhnya mah-"
Perkataan Kalia terpotong oleh suara dari Gaila-perempuan bermolek make up yang termasuk dalam deretan primadona sekolah-bersama tiga orang sahabatnya, kini sedang membuat kericuhan.
Kalia dan Aul saling pandang. "Kenapa mereka?" tanya Aul pada Kalia, saat melihat depan mejanya, sudah dikerumuni oleh banyak orang.
Kalia menggelengkan kepala, tidak tahu. "Mau ikut ke sana?"
Aul mengiyakan ajakan Kalia dan ikut mengerumuni meja di dekatnya.
Napas Aul tercekat begitu melihat keadaan mengenaskan dari Genaya-kenalan Aul. Kondisi seragam yang dipakainya sudah lusuh, terkena tumpahan air mie yang sengaja ditumpahkan dari atas kepalanya.
Tawa sinis dari Gisel serta makian dari perempuan tersebut membuat salah satu orang yang cukup berpengaruh di sekolah mengeluarkan taringnya-melampiaskan amarahnya.
"Siapa yang berani merisak Naya?!" Suara dingin itu membuat sebagian orang memberikan akses untuk orang tersebut agar dapat memberikan celah untuk masuk ke dalam kerumunan dan berada paling depan-melindungi Genaya yang sudah tersedu di balik punggung tegapnya.
"JAWAB!" bentaknya, lebih tepatnya pada empat orang yang dia duga sebagai perisak Genaya.
Aul yang melihat kejadian itu langsung menciut, nyalinya untuk menolong Genaya meluap begitu saja.
Dia sudah menemukan pahlawannya, gumam Aul.