
...PENERIMAAN...
...#Perbanyak waktu bersama...
...“Kamu seperti ilusi, tapi terlalu nyata untuk sekadar fantasi.”...
...•...•...
Dokter Pandu memberikan banyak sekali petuah padanya; makan teratur, biasakan minum air hangat, hindari air teh, jangan mengkonsumsi makanan yang asam-asam dan istirahat yang cukup. Tak pula dengan kebaikan hatinya, dokter Pandu memberikan resep berupa lima baris nama tablet berukuran sedang, katanya.
Sungguh siksaan yang teramat besar bagi orang yang tidak bisa mengkonsumsi obat tablet seperti dirinya.
“Dok, apa bisa dikurangin jumlah obatnya? Paling gak, ganti aja deh sama sirop-sirop gitu, gak apa-apa banyak juga,” keluh Aul saat dokter Pandu memberikannya lima macam jenis obat yang ditulis dengan tulisan tangan yang sulit Aul baca.
Tapi setelah Aul bertanya pada dokter Pandu tentang bentuk obat tersebut, dokter Pandu bilang bahwa bentuknya beragam; bulat dan lonjong berukuran sedang.
“Ck, banyak maunya lo. Udah tinggal nurutin aja, apa susahnya sih,” gerutu Mahesa.
Dokter Pandu tertawa singkat, dia sudah sering mendapatkan keluhan seperti ini dari pasiennya, terutama dari Hana. “Hana, kamu emang gak malu sama anak kecil yang udah bisa minum obat tablet gitu?”
Aul menggeleng cepat. “Gak apa-apa, daripada harus minum obat tablet, Dok. Susah tahu, bahkan pahit.”
Mahesa mencibir, “ya ilah pahit, lo makan obat pake dibubukin segala, lemah!”
“Biarin, daripada gak dimakan sama sekali!”
“Sudah-sudah, Hana. Anggap aja ini training agar saat kamu sudah dewasa nanti, kamu sudah terbiasa makan obat tablet, ya?”
“Harus banget ya, Dok?”
“Kalau kamu emang kesulitan makan obat tablet, kamu bisa menyelipkannya di roti atau dimakan bareng pisang,” saran dokter Pandu.
Aul tersenyum kecut, dari dulu dia sudah mencoba banyak cara untuk dapat makan obat dengan air, dan juga cara lainnya, termasuk cara yang dokter Pandu katakan tadi. “Sudah, pernah, Dok. Selalu gagal.”
Mahesa terbahak, dokter Pandu tersenyum ramah. “Lo emang gak bakat minum obat ya?” Aul hanya mendelik tajam pada Mahesa, lalu pamit pada dokter Pandu untuk menebus obatnya di apotek.
Saat menyusuri koridor rumah sakit yang tidak pernah sepi, Aul iseng bertanya random pada Mahesa.
“Esa,” panggilnya.
Mahesa menoleh. “Apa?”
“Kalau obat tuh sebenernya diminum atau dimakan sih? Gue bingung.”
“Menurut lo?”
“Ish, malah balik nanya!” gerutu Aul.
Mahesa terkekeh pelan, dia mengusap kepala Aul. “Pertanyaan lo itu sama kaya lo ngajuin pertanyaan gini; es krim itu sebenarnya dimakan atau diminum, padahal kalau udah cair berarti jadi air, kan?”
“Kok jadi ke es krim sih!” sewotnya. Tapi Aul tetap memikirkan perkataan Mahesa. “Lo ada benernya juga, kenapa ya?”
“Itu karena tiap pandangan orang beda-beda. Apalagi terhadap permasalahan. Sama seperti lo, yang nganggap minum obat tablet itu susah.” Mahesa menunjukkan dengan dagunya, sebuah kertas yang sedang Aul pegang.
“Bagi sebagian orang, minum obat itu mudah. Ya beda-beda lah. Tapi intinya tetap itu-itu aja.”
Aul manggut-manggut saja. Dia memicingkan matanya, lalu menempelkan punggung tangannya pada kening Mahesa. “Gak panas,” gumamnya.
“Tapi mendadak jadi bijak gini, dikasih makan apa, sama Tante Rara?”
“Makan ati!”
“Dih, sewot.”
“Ye, dibilangin makan ati, juga.”
“Iya, percayalah!”
•••
Mengikuti larangan Aura untuk mengurangi aktivitasnya di sekolah membuat semangat Aul melorot. Dia sering merasa jenuh saat berada di rumah, sehingga lebih sering menghabiskan waktunya di dalam kamar.
Pulang lebih awal, menjadi kebiasaan baru yang membuat Aul merasa terkurung dalam rumah, tapi sangat malas untuk keluar rumah.
Ini sudah genap tiga bulan sejak pengakuan Irlan, tapi tak ada komunikasi yang berarti di antaranya. Bahkan, jika dulu Aul sangat over stalking akun sosial media Irlan, untuk mengingat laki-laki saja, hanya sekelebat saja.
Seperti dalam otak berbicara seperti ini, saat bayangan tentang Irlan ataupun kejadian bersamanya terlintas. “Permisi, numpang lewat sebentar.” Persis seperti iklan, lalu hilang.
Tak ada rasa sakit yang berarti, keinginan untuk kembali atau bahkan bertemu. Tidak ada. Mungkin ini karena hatinya telah mengikhlaskannya atau ada faktor lainnya. Seperti sekarang, saat Aul mendapatkan sebuah pesan daring dari Riziq.
‘Ngamer mulu, sini muncak!’
‘Riziq mengirimkan foto dengan kalimat yang menyindir dirinya ‘Buat Hana Aulia, jangan ngamar mulu, sini ngecamp bareng’ dengan background pemandangan dari atas gunung saat pagi hari.’
Aul memekik senang, pasalnya dia terbayang banyaknya tumbuhan warna hijau yang mengelilinginya, udara segar dari gunung, panas matahari dari celah dedaunan, serta banyaknya warna hijau di mana-mana.
‘Lo kagak ngajak nge-camp sih!
Pokoknya kapan-kapan, wajib ajak gue.’ Balas Aul pada pesannya.
Balasan dari Riziq, masuk selang beberapa menit. ‘Emang yakin lo mau ikut? Diizinin?’
‘Hehe, belum sih. Kapan-kapan deh, pasti ikut.’
‘Iya nanti sama gue, bareng. Kalau udah dewasa, sekalian lamaran di sana, ya kan?’
‘Modus lo!😣’
‘Serius, Aul😏’
Pipi Aul bersemu merah saat melihat balasan selanjutnya dari Riziq, benar-benar lemah hati! Maki Aul pada dirinya sendiri karena telah ambyar atas sikap Riziq yang terlampau modus ataupun serius, entahlah.
Kadang Aul suka bingung dengan tindakan Riziq yang harus Aul artikan sebagai modus seorang laki-laki, atau tindakan gentle seorang pria.
Aul menyimpan ponselnya, dia hanya membaca pesan dari Riziq, sekilas. Itu tidak baik bagi kesehatan jantungnya yang terus berdetak tidak normal, lebih kencang.
“HUAAA, RIZIQ GILAAA!” teriaknya heboh.
Aul menyembunyikan wajahnya di atas bantal. Sambil terus berteriak dalam hati. Karena sikap manis dari Riziq dan juga warna hijau yang ada pada gambar yang diberikan dari orang yang sama.
Seperti hari-hari sebelumnya; berangkat dan pulang pasti bersama Mahesa. Kini Aul sudah menyebrangi zebra cross untuk sampai di gerbang SMK Bratajaya. Ada Pak Maman yang sedang bertugas menjadi satpam pada hari Jumat ini.
Perutnya yang condong ke depan dengan kumis panjang yang dia lentikkan, menambah kesan garang pada diri Pak Maman yang sedang memakai seragam khas seorang satpam. Tapi meskipun begitu, Pak Maman adalah orang yang ramah bagi orang yang tidak membuat onar ataupun tidak terlambat ke sekolah.
Jam pada pergelangan tangannya menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, Aul berdiri di depan gerbang sekolah dengan senyuman yang tersungging pada wajahnya.
“Pagi, Pak Maman!” sapanya riang.
Pak Maman membalas senyumnya ala kadarnya. “Pagi juga, Nak Aul,” balasnya.
Saking seringnya beraktivitas di sekolah dan berinteraksi dengan para satpam, banyak orang yang mengenal Hana Aulia. Bahkan memanggil namanya dengan nama panggilan Aul.
Aul menenteng beberapa berkas PMR yang harus dia berikan pada Anzella yang sudah berada di sekolah sejak pagi-pagi sekali.
Benar-benar tauladan, batinnya.
Di dekat taman utama SMK Bratajaya, terdapat empat jurusan yang saling menghadap ke arah taman, dua jurusan lainnya membelakangi taman dengan empat jurusan lainnya menghadap ke arah lapangan upacara.
Saat datang ke kelas Tata Rias—kelas Anzella yang berada di lantai bawah—lantai keduanya dipakai untuk jurusan Kecantikan. Aul melihat ada Grace dan Gisel di undakan tangga, sedang berbincang serius.
“Semoga mereka gak lihat gue. Males banget pagi-pagi ribut sama geng onar kaya mereka,” harap Aul. Dia merapalkan banyak doa agar kedua orang dari geng 4G itu tidak melirik ke arahnya, atau bahkan sampai menganggapnya tidak terlihat saja.
Aul akhirnya bernapas lega, karena kelas Anzella berada di dekat jurusan Tata Busana—berada jauh dari tangga—tempat Gisel dan Grace sedang bercakap-cakap.
“Hufttt... hampir saja!”
Mulut Aul terbuka, hendak menyerukan nama Anzella, tapi terkalahkan oleh suara ceriwis milik Akmal. Aul bersumpah dalam hati untuk memberikan pelajaran pada Akmal saat laki-laki itu sudah berada di dekatnya.
“Woi, Aul!”
Dengan sangat terpaksa, Aul tersenyum sekilas. Dia melihat dengan ekspresi datar pada Akmal yang terasa begitu mengesalkan di depannya. Karena panggilan dari Akmal, hampir membuat seluruh murid yang ada di sekitar taman, menoleh padanya. Risih.
Rupanya Akmal tidak datang sendirian, dia bersama Riziq yang berjalan dengan menyimpan tangannya di balik saku celana. Riziq menatap lekat pada Aul, membuatnya kikuk.
Aul bahkan beberapa kali membuang muka, saking malunya bertatapan lama dengan Riziq.
“Ngapain di sini? Bocil ke sesat jurusan juga?” Pertanyaan menyebalkan dari Akmal yang memaki tinggi badannya yang berukuran 130 cm.
Aul mendelik, dia menatap Akmal tak suka. “Bukan urusan lo!”
Akmal dengan seenak jidatnya merangkul bahunya. Aul melirik tajam lengan Akmal yang bertengger pada bahunya. “Awasin tangan lo,” desisnya.
Akmal menurutinya. “Oke, keep calm, Sist.” Tatapannya teralihkan pada berkas yang berada di pelukan Aul. “Mau nyari Anzella?” tebaknya.
Aul hanya mengangguk malas. “Tuh, tadi dia dibawa kabur sama Azriel,” terang Akmal.
“Hah?”
“Huh-hah, huh-hah, kalau gak percaya, tanyain si Riziq noh.” Akmal menyenggol lengan Riziq, secara tersirat meminta laki-laki itu untuk membenarkan ucapannya.
Riziq mengangguk dua kali. “Iya, tadi Azriel lagi jalan bareng sama Anzella, ke dekat kantin.”
Penjelasan dari Riziq membuat bahunya terasa lesu. Padahal berkas ini harus selesai disetujui dan ditandatangani oleh Ketua OSIS dan diberikan pada saat jam istirahat pertama pada pembina PMR, hari ini.
Aul mendesah kecewa. “Yah ... ya udah deh, thank's ya, Mal, Riz,” ujarnya tulus. “Gue duluan kalau gitu, bye!”
“Eh, tunggu!” Riziq menahan kepergiannya dengan memegang bahu Aul.
Aul memandang Riziq bingung. “Ehm ... kenapa?”
“Lo masih punya kaki, kan?”
“Punya lah! Enak aja ngomong sembarangan,” semprot Aul.
“Maksud gue, weekend lo free gak?”
Dahinya semakin mengerut karena gagal fokus. “Di mana-mana gue gak di jual kali!”
Akmal menepuk keningnya sendiri, Riziq berdecak kesal. Ternyata mengajak perempuan untuk sekedar jalan-jalan harus gamblang.
“Itu kode, Aul,” kompor Akmal, memanas-manasi.
“Kode buat?”
Karena dirinya badmood, kedatangannya terasa sia-sia ke jurusan Tata Rias, mood Aul hancur bersama dengan perasaan peka lainnya.
“Lo mau ikut wisata ke air terjun gak?”
Otak Aul mendadak kosong. Dia memang belum pernah pergi main sejauh itu. Aktivitas di sekolah, menguras segala waktunya.
“Sama siapa aja?”
“Orang tua gue.”
“HAH?!! APAAA!” Aul terbelalak, dia tidak tahu akan secepat ini. Sejak kedekatannya selama empat bulan ini, sesekali Riziq memang mengajaknya ke rumahnya. Entah sekedar mengerjakan tugas ataupun membantu Tante Julia membuatkan orderan kuenya.
Mama Riziq memang baik, Aul bahkan jatuh hati padanya. Tapi Aul masih normal, dia hanya suka dengan kepribadian Tante Julia; baik, ramah, sabar, segala bisa.
Dan untuk urusan dengan Papanya Riziq, Aul merasa canggung. Dia jarang bertemu dengannya, hanya sekedar bertemu saat Aul hendak pulang saja.
Masih diliputi oleh kegugupan, Aul berkata dengan suara yang serak. “Emang kenapa ngajak aku?”
Aul memaki dirinya, dia keceplosan berkata dalam ragam akrab. Apalagi Akmal sudah tersenyum menyeringai ke arahnya, telinga Riziq pun sudah berwarna semu kemerahan.
“Mampus! Gue salah bicara lagi!” teriaknya dalam hati.
Setelah warna telinganya sedikit memudar, Riziq berdehem pelan. “Sebenarnya Mama gue yang ngajak lo, gue hanya menyampaikan.”
Kaki Aul merasa lemas, padahal dia tidak sedekat itu dengan Tante Julia, tapi Aul bingung, mengapa harus dirinya pula yang diajak olehnya. Banyak praduga yang bermunculan dalam kepalanya, apalagi topik pembicaraan pada pesan daring yang sempat Riziq bahas saat kemarin.
Aul belum siap, dia masih ingin bersekolah, mengejar cita-cita dan menjadi perempuan sukses.
“Gue ... belum siap,” cicitnya dengan suara pelan. Kepalanya tertunduk dengan rasa sakit nyut-nyut yang menyerang bagian kanan belakang kepalanya.
Keringat dingin sebesar biji jagung membasahi telapak tangannya, membuatnya kedinginan karena kaki serta tangannya yang mendadak dingin. Padahal Aul merasa bahwa suhu tubuh dirinya sedang panas, alias normal.
“Menolak laki-laki yang hendak melamarnya, apakah harus segugup ini?” tanya membatin.