
•••
“Bersyukurlah kepada Ilahi
Atas nikmat dan ujian yang diberi
Berterimakasihlah pada diri
Atas perjuangannya hingga kini
Janganlah bersusah hati
Sebab masa kini, penentu masa nanti.”
•••
5 tahun setelah lulus dari SMK Bratajaya.
Jepang, 2025
Salah satu tempat wisata yang paling terkenal di Jepang ternyata terletak dekat dengan kota Okayama, sekitaran tempatku tinggal. Tempat wisata ini menawarkan penyegar mata berupa kombinasi pemandangan lautan dan karya seni. Tempat wisata Naoshima adalah sebuah pulau kecil yang terletak di Prefecture Kagawa (bersebelahan dengan Okayama). Karena selain menyajikan karya seni, seperti wisata kepulauan lainnya, tempat ini juga menyajikan vitamin sea.
Karena sudah lama ini aku tidak melakukan aktivitas Broadcast, setelah mengambil study kuliah Jurusan Linguistik, aku menyempatkan diri untuk mampir ke Naoshima. Aku memang suka dengan karya seni, terutama bentuk-bentuk seperti patung, objek geometri dan yang lainnya.
Tempat ini juga membuatku merasa seperti pulang ke Indonesia setelah hampir empat tahunan aku mengenyam pendidikan di sini. Semilir angin yang berhembus dan suara deburan ombak membuat melodi yang menenangkan jiwa. Sekilas bayangan perihal masa laluku, mulai bermunculan layaknya sebuah film yang tergambar dalam benak.
Setelah rasa nostalgia terpuaskan, aku beranjak ke arah Honmura Community Hall, tempat pertemuan untuk warga sekitar Naoshima menyelenggarakan acara kemasyarakatan ataupun acara kesenian. Karena tempatnya tidak bisa diakses oleh masyarakat umum, aku berkeliling di sekitarnya. Rasanya nyaman sekali, bentuknya khas Jepang banget dan indah.
Saking asiknya mengabadikan foto dari beberapa angle yang baru aku dapatkan, tidak sengaja tanganku yang gak biasa diam saking excited, aku menyenggol lengan seorang turis. Tubuhnya tinggi, aku takut dia marah. Karena kalau diukur, aku hanya setinggi dadanya saja. Buru-buru aku mengucapkan kata maaf padanya.
“Sumimasen ...” lirihku takut-takut. Meskipun lidahku masih sedikit kelu saat mengucapkan bahasa Jepang, tapi bukan kah waktu 4 tahun itu sudah membuatku terbiasa dengan percakapan orang-orang di Jepang, kan?
Karena tidak juga mendapatkan respon, padahal aku sudah sangat takut dan merasa tidak enak hati padanya, aku menyimpulkan dalam pikiranku bahwa turis itu mungkin belum fasih berbahasa Jepang, sehingga tidak mengerti perkataanku. Untuk itu, aku kembali mengucapkan maaf dalam versi bahasa internasional.
“Sorry, Mr ... ?”
Tak lama setelahnya, orang aku senggol tadi, berbalik badan padaku.
Aku merasa tercekat. Wajah yang masih sama dengan raut wajah yang terakhir kali aku lihat empat tahun silam, berdiri di depanku dengan garis wajah yang lebih tegas lagi.
Orang itu tersenyum tipis, bibirnya masih terlihat merah. Bukan berarti dia memakai lipstik, tapi itu karena dia bukanlah perokok seperti teman se-gengnya dulu.
“Koishiteru, Hana.”
Dan setelah mengucapkan kalimat itu, tubuhku membeku dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Dua patah kata yang melebur, membuatku hampir saja menangis tersedu-sedu jika saja dia tidak lebih dulu menarik tubuh mungilku dan memeluknya dengan erat. Deru napasnya yang aku rasakan ditengkuk, terasa hangat dan sensasinya menggelitik seluruh tubuh sarafku.
Hingga aku tersadar, bahwa selama ini, hanya namanya yang masih bertahta dalam hati. Walaupun banyak halangan rintangan yang menguji perasaanku terhadapnya. Tapi meskipun aku dekat dengan laki-laki lain, nyatanya namanya terlalu lama aku biarkan bersemayam dalam kalbu.