(Love And Dream)

(Love And Dream)
Bersama Angkasa



Dua puluh Desember 2020. Tiga tahun lamanya Ara berada di kampus, kali ini dia harus berhadapan dengan dosen galak di kampusnya. Ara berangkat pagi sekali bersama sahabat-sahabatnya. Reyhan sudah mengatur semuanya, dia sudah sepakat jika Ara berangkat bersama Azriel, disusul Kenzo dan Alea, juga oleh Vino, Garin bersama Nia dan adiknya Laura.


Daniel dan mereka sudah merencanakan banyak hal mengingat sudah bulan Januari dan sebentar lagi akan ada UTBK. Mereka harus bekerja keras demi mendapatkan nilai yang terbaik, terutama Ara yang mengambil Fakultas Pendidikan Bahasa Inggris. Ara harus belajar giat, apalagi Bahasa Inggris yang tidak terlalu mudah bagi pemula. Ara masih belum menguasai kosa-kata dalam Bahasa Inggris.


“Kak Azriel, Ara duluan, ya. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Ara berpamitan kepada Azriel yang sudah dianggap sebagai kakaknya.


“Belajar yang pintar, fighting adiknya Kakak.” Azriel gemas sambil mengacak hijab Ara sekaligus memberi semangat kepada Ara.


“Ok, My Handsome Brother,” canda Ara memuji Azriel yang tersipu malu mendengarnya. Azriel menatapnya tajam, wajahnya bersemu merah. Dia memberi kode agar Ara cepat pergi ke kelasnya.


“Guys, gue belajar dulu, ya. Bulan depan kita, kan, UTBK.” Ara segera berlari menuju kelasnya. Ara memikirkan bagaimana nasibnya saat berhadapan dengan dosen galak di kampus. Dia menjauh sambil sesekali membalikkan tubuhnya dan melambaikan tangan kepada sahabatnya.


“Daniel... lo sama Alea di kelas kedokteran.”


“Laura... ayo, sama Kakak.”


“Oke, Kakak.”


“Reyhan... kelas bisnis lo, ya.”


“Iya, gue tahu.”


“Nia juga cepetan ke kelas... belajar!”


“Oke. Sukses selalu kawan.”


Tanpa sengaja seorang pemuda yang kebetulan berangkat pagi sedang memarkirkan mobil sport yang ditumpanginya. Angkasa datang bersama Zahra dan melihat gadis yang sering membantah ucapannya sedang membawa setumpuk buku menuju kelas. Tidak biasanya Ara berangkat pagi. Ara sudah memisahkan diri dari sahabatnya.


Zahra sudah menjelaskan tentang kehidupan Ara. Angkasa merasa bersalah karena telah menghina gadis itu. Dia harus meminta maaf kepada Ara. Hidupnya lebih baik dari Ara yang harus berjuang keras melawan penyakitnya setiap waktu, bahkan kemarin dia menyebabkan penyakit Ara kembuh. Hidup gadis itu sudah berantakan sebelum memasuki kampus impiannya. Apa yang dia lakukan membuat gadis itu semakin menderita.


*****


“Itu, kan, Ara... ngapain dia di kelas sendirian?” Angkasa berpikir sejenak sebelum melanjutkan langkahnya. Meskipun gue sering hina Ara, tapi dia masih baik sama adik gue. Gadis hebat, sakit aja masih bertahan.


'Kalau dilihat-lihat, Ara manis dan lucu. Pantas saja Kenzo sama Vino marah kalau gue nge-bully dia. Azriel juga bilang kalau Ara adalah adik kesayangannya. Gue harus minta maaf sama Ara. Iya, gue kagum meskipun tidak bisa Bahasa Inggris dan masih tetap belajar. Gue salut sama lo, Ra. Sepertinya, gue sudah menyukai Arabella. Ah, apaan sih! Dia itu gadis galak, bukan gadis kesayangan lo, batin Angkasa melihat Ara salah tingkah. Angkasa terus mengelak tentang perasaannya terhadap Ara.


Because of you:


I'm gonna be fine you left me alone


Can I heal the wounds myself


So what can I do? and why did you come


To make heart beat for you


Don't don't lose my mind Drem of you again


And I looked to you as if fell


I want to make a wish on the well


Holmes tight show your love


Everytime I trade my soul Because of you


If you wanna be in my way cuz of me


The stars were shining to me away


Whispering I want you to know you're my world


Everytime I'm crazy is because of you


To me it's a pretty wonderland


Do not make me make merry again I need you right now


Hey boy do not be shy why not we have a try


Stay next to me push the bad memories aside


Put me in the palm of you


All my life time i will be thinking of you


Angkasa yang mendengar nyanyian Ara merasa tersentuh oleh lagu yang barusan Ara nyanyikan. Lagu yang berjudul Because of You, semua karenamu, untuk siapa lagu itu? Ara membuatnya kagum. Gadis cupu berkacamata dan suka membawa masalah dalam kehidupan Angkasa, hari ini menjelma menjadi gadis pembawa kebahagiaan bagi Angkasa—ketua BEM kampus.


“Suara lo oke juga. Tahu artinya gak?” tanya Angkasa dibalas gelengan oleh Ara.


“Percuma nyanyi kalau gak tahu artinya. Sini gue bantu terjemahin.” Angkasa tidak tahu mengapa dia tidak suka Ara dekat dengan pemuda mana pun.


“Tumben baik.” Ara menatap Angkasa dengan selidik.


“Lo pikir gue jahat gitu? Gue... em... minta maaf udah hina lo dan maksa lo lakuin kemauan gue. Lo gak kesakitan, ‘kan?” Perkataan Angkasa hanya dibalas anggukan lagi oleh Ara. Angkasa menjadi gemas dengan gadis yang selalu saja membuat merasa kesal.


“Gak jadi gue bantu belajar bahasa Inggris kalau gitu,” ancam Angkasa sambil menekuk wajahnya.


“Udah gue maafin, asal jangan diulangi lagi. Jangan beritahu sahabat gue kalau gue sakit. Gitu aja ngambek. Woy... di sini ada ketua BEM kampus UI ngambek nih minta rujak katanya.” Ara berteriak sambil tertawa melihat tingkah Angkasa cemberut seperti anak kecil.


“Arabella... lo tuh, ya. Sakit kok masih dipaksain, terus dikira gue anak kecil. Udah jangan teriak-teriak ngapa,” protes Angkasa yang geram mendengar teriakan Ara.


“Emang lo, kan, masih kecil. Woy, Guys... ada—”


Mulut Ara ditutup oleh tangan Angkasa. Ara menatap Angkasa tak berkedip saat tatapan mereka beradu sejenak. Angkasa terdiam, baru pertama kali dia menatap wajah Ara dari dekat. Ara mengedipkan matanya lucu. Angkasa yang sudah sadar pun melepaskan tangannya dari mulut Ara.


Ara segera mengalihkan pandangannya. Angkasa merasa malu dengan kejadian barusan, mau ditaruh di mana wajahnya bila ada gadis yang mengetahui sifat kekanak-kanakannya. Cukup Zahra adiknya saja yang mengetahuinya.


“Diam!” Angkasa kesal dengan gadis di sebelahnya. Angkasa mulai menjelaskan artinya.


Ara diam dan menunggu Angkasa membuka suaranya untuk menjelaskan. Asyik juga ngerjain ketua BEM yang sombong ini, batin Ara.


“Dengerin, ya... aku akan baik-baik saja saat kamu meninggalkanku sendiri. Bisakah aku menyembuhkan lukaku sendiri? Jadi, apa yang bisa kulakukan? Dan mengapa kamu datang untuk membuat jantungku berdetak untukmu. Jangan, jangan sampai lupa bermimpi lagi dan aku melihatmu ketika jauh. Aku ingin membuat harapan di dalam sumur. Pegang aku erat-erat tunjukan cintamu. Bagian reff-nya, ya.... Setiap saat aku menukar jiwaku karenamu. Jika kamu ingin menghalangiku karena aku. Bintang-bintang bersinar bagiku. Berbisik aku ingin kau tahu bahwa kau adalah duniaku. Setiap saat aku gila adalah karenamu. Jika kamu melihatku karena cinta. Bagiku itu adalah negeri yang sangat indah. Jangan membuatku, membuatku menangis lagi. Aku membutuhkanmu sekarang.”


Suaranya bagus juga, pasti Zahra senang karena bisa melihat kakaknya yang udah berubah, batin Ara dia menatap Angkasa yang masih menyanyi


“Suara lo terlalu merdu, gue jadi ngantuk.” Ara terhanyut dalam lagu yang dinyanyikan Angkasa.


“Every time I’m crazy is because of you. If you’re looking right me because of love. To me it’s a pretty wonderland. Do not make me make merry agam. I need you right now.”


Angkasa juga menyanyikan lagu yang ada di ponsel Ara. Suara Angkasa sangat merdu, dia tidak pernah menunjukan suaranya kepada gadis lain, kecuali Zahra adiknya. Angkasa mengakhiri lagunya. Dia melihat Ara tertidur di meja, senyum merekah terbit di bibirnya yang semakin menambah aura ketampanannya. Angkasa membiarkan Ara tidur di sebelahnya, melepas kacamata bulat Ara agar tidak mengganggu tidur Ara. Sejenak dia terpaku, terpesona memandang Ara yang tertidur. “Gadis yang unik. Lo gadis pertama yang buat gue deg-degan saat lo ada sama gue.”


Terlalu asyik memandangi Ara, lama-kelamaan membuat Angkasa tertidur di sebelah Ara. Saat ini dua lawan jenis berbeda terlihat tenang dan damai wajahnya dalam tidur. Lima belas menit kemudian bel masuk berbunyi. Angkasa yang mendengarnya pun segera bangun, lalu mengacak jilbab Ara gemas.


“Bangun, Ra. Udah bel.” Angkasa memasang kembali kacamata Ara yang ia lepas tadi.


“Oh... udah bel, ya?” Ara bangun dari tidurnya dengan mata yang masih mengantuk. Tiba-tiba, terbuka lebar saat Angkasa memasang kacamatanya. Ara segera berlari ke kelas menahan malu.


“Mukanya lucu juga kalau malu. Ara... Ara....”


Cieee yang es batu dah meleleh nih


Kapal siapa yang berlayar  yah😂😂