(Love And Dream)

(Love And Dream)
Bulan puasa



Pov Ara


Hari ini adalah ulang tahun kampus,


sesuai kesepakatan kami sekelompok memilih dance temanku terus mendesaku agar menyetujunya, aku pasrah. Lelah memberitahu mereka keras kepala terus menolak saran lainnya temanku memang hebat tak ingin pake gaun  mukanya milih dance.


"Dance apa dansa?," tanyaku pada temanku saat ini kami sedang rapat diruang guru, aku baru saja ingin pulang kerumah. Sekarang malah harus terjebak dikampus


"Dance," Bukan aku yang mengatakan itu temanku, Zahra kebiasaan dah menyarankan tapi gak mau ikut, kalau gak ingat dia temanku sudah aku tinggal.


"Tapi-," ucapku terpotong ketika ingin menjelaskan, seorang pemuda yang sempat berantem denganku. Menyela pembicaraan menerobos masuk ketempat yang kududuki.


Aku yakin sebentar lagi bakal ada perdebatan, mestinya seru tak perlu repot-repot mengeluarkan energi. Aku duduk santai mendengarkan menunggu siapa yang mengalah.


"Dance pokok,'


"No no nyanyi,"


"Dance,"


"Nyanyi,"


"Nyanyi, dance,"


Apa-apa ini mereka niat diskusi atau malah kompromi, ingin rasanya keluar dari ruangan 'iblis' tapi tak ada celah untuk keluar. Aku berada ditempat yang tidak tepat dikepung oleh para mahasiswa yang mengikuti perayaan.


Iya tap-," Lagi-lagi ucapanku terpotong tambah jengah saja, bolehkah kutendang mahluk ini ke planet angksa. Aku yang ingin mengutarakan niatju jadi tertunda.


"Dance,"


"Dance,"


"Dance,"


"Bentar-," Mereka terus memotong ucapanku buatku mengalah pasrah pikirku, sudahlah capek juga meladeni mereka. Yang bisa kulakukan hanya duduk dan memainkan ponselku


Heran aku sama anak cowok gak mau ngalah, dikit aja sama cewek kan baik gak berakhir adu mulut. Kadang timbul pertanyaan ini cowok apa cewek sih? kok cerewet kayak anak cewek cowoknya.


"Dance yah,".


"Dance Rin,"


Nyanyi,"


"Dance,"


"Nyanyi,"


"Nyanyi,"


"Dance,"


"Nyanyi,"


"Dance Rindi titik," ucap anak gadis penuh penekanan menatapku sangar, aku menatap mereka balik dengan senyuman


"Hm dance," Finalku menghembuskan nafas kasar menenangkan diri menghindari keluhan mereka, alhamdulillah tidak ada yang protes. Syukurlah kali ini aku selamat dari bencana.


"Beneran," Balas anak gadis penuh dengan harapan,  binar sorot matanya menastikan semua ucapanku. Kuanggukan kepala pertanda 'iya,


"Iya udah," Jawabku tetap singkat menjauhi mereka sebentar, saat mereka ingin membuka suara lagi. Bulan ramadhan tak baik berdebat.


"Horeee gitu dong," Ucap mereka barengan memeluku erat menyebalkan, sabar Ara ini bulan ramadhan. Lihat mereka hatiku tenang tersenyum bahagia.


"Sini loe," Tiba-tiba  seseorang datang entah, dari arah mana berniat ingin menarik tanganku. Kutatap rajamy orang itu, dia membawaku ke taman belakang.


"Pegang ini," Titahnya aku mengabaikan ucapannya memilih duduk, hah... mic buat apa coba.  Jangan bilang dia memintaku menyanyi oh not.


"Gak ikut nyanyi kenapa gue bawa?,'' Ucapku dengan lelaki di depanku menaruh dan mic, aku langsung menaruh benda itu ditangannya


"Loe ikut nyanyi," uapnya dingin membuatku tambah kesal, kalo tidak ingat puasa sudah kuhajar cowok didepanku ini. Beruntung dia masih selamat hari ini.


"Gue gak mau," Tolakku mentah-mentah mengembalikan mic, berdiri melangkah menjauhinya.


"Tunggu!," Aku melangkah pelan


, bersiap meninggalkan taman belakang "arus mau," Dia memaksaku menaruh mic tadi , menghalangi jalanku


"Loe siapa ngatur gue,"


Sarkasku mulai kesal. Menoleh kearahnya.


"Terima apa gue suruh teman loe buat disiksa," Ancamnya aku langsung berbalik, memberi pukulan padanya tidak salah. Dia harus dihukum berani mengancamku.


"Ngajak ribut loe," Menarik kerah bajunya, tak perduli jarak kami yang dekat. Yang ada diotaku  dia sudah kelewat batas


"Gue gak ngajak," Bantahnya kutarik kasar kerah seragamnya sampai kancing seragam terlepas 2


"Loe yah bener-bener," Tanganku mulai gatal ingin memukulnya sekarang juga, namun aku tahu ini dikampus


"Turutin atau," Kupotong ucapannya dipikir gue takut gitu, tidak ada dikamus Ara takut sama pria playboy.  Justru mereka yang takut dengan pukulanku.


"Atau apa ha," Memperkikis jarak diantara kami berdua,  menatap mata elangnya


"Teman loe celaka," ucapan yang ini buatku khawatir akan temanku terkebih dia sikapnya yang kasar tak belas kasihan pada mangsanya


"Makanya gak usah bantah," Menyeka sudut bibirnya, seringai tipis terlihat dikedua sudut bibir. Mau tak mau aku terpaksa menuruti keselamatan temanku lebih penting!.


"Oke jangan sakiti temen gue paham!," ucapku merebut mic yang dibawanya, meninggalkan orang itu ke kelas. Menyiapkan diri untuk pesta nanti malam semangat Ara kamu harus bisa.


*


*


*


*


*


*


Waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba, aku mengenakan gaun beserta kerudung panjang berwarna coklat. Sengaja berhubung inj ulang tahun kampusku, aku sedikit memerhatikan styleku.


prok...


prok...


prok...


"Ayokk Ara i love you,"


"Semangat Ara lo pasti bisa,"


"Ara Ara Ara Ara aku padamu,"


"Maju terus kawan,"


"Ara Ara Ara,"


"Ayok dek semangat, kakak selaku dukung kamu,"


Suara tepuk tangan menghiasi panggung dan indahnya malam saat berkumpul, pesta prom night sungguh menakjubkan. Aku dipanggil untuk naik keatas panggung, jantungku ini rasanya mau meledak berdetak tak karuan.


"Mari kita sambut penampilan dari Arabella, menyanyikan lagu Syaikhona,"


~Syaikhona' Nissa Sabyan~


Ma'as salaamah fii amaanih Syaikhona


Allahu Robbi-rham murobbii ruuhinaa (Ya Robbanaa)


Ma'as salaamah fii amaanih Syaikhonaa


Allahu Robbi-rham murobbii ruuhinaa (Ya Robbanaa)


Ya badrotim-min haza kulla kamali


Madza yu’abbiru ‘an ‘ulaka maqali


Ya badrotim-min haza kulla kamali


Madza yu’abbiru ‘an ‘ulaka maqali


Ma'as salaamah fii amaanih Syaikhonaa


Allahu Robbi-rham murobbii ruuhinaa (Ya Robbanaa)


Ma'as salaamah fii amaanih Syaikhonaa


Allahu Robbi-rham murobbii ruuhinaa (Ya Robbanaa)


Solla ‘alaikallahu robbi daa i man


Abada ma’al ibkari wal asoli


Ma'as salaamah fii amaanih Syaikhonaa


Allahu Robbi-rham murobbii ruuhinaa (Ya Robbanaa)


Ma'as salaamah fii amaanih Syaikhonaa


Allahu Robbi-rham murobbii ruuhinaa (Ya Robbanaa)


"Masyaallah suaranya mendamaikan hati, tak kalah sama penampilan yang sederhana terlihat menawan. Itulah penampilan dari Ara murid kelas yang pintar dan berbakat ada yang ingin disampaikan Ara kepada teman-temannya,"


tanya MC memberikan mic kepada Ara, dia tak menyangka Ara mempunyai suara emas. Dilihat dari penampilannya yang sederhana tak memungkinkan dia bisa menyanyi, namun Ara gadis yang berbeda tak memamerkan bakatnya seperti kebanyakan siswa.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabatokatu semua teman-teman ketahuilah hari ini bulan puasa, kita sebagai umat muslim wajib berpuasa. Jangan lupa tetap sholat lima waktu. Teman-teman ada suatu malam yang terbaik di bulan puasa ini yaitu malam 'Lailatul Qadar', malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapapun yang berdoa dan menjalankan sholat malam, maka dosanya akan diampuni oleh allah swt sholatlah engkau walaupun terpaksa, karena yang terpaksa akan menjadi terbiasa sekian dari saya Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabatokatu,"


Ara mengajak semua temannya menjalankan puasa, semua terharu mendengar ajakan Ara. Tidak ada kesombongan maupun rasa tidak suka, justru yang ada kebaikan serta kesederhanaan-nya.


"Masyaallah Ara kami janji akan puasa, terima kasih sudah mengingatkan kami semua," ucap seluruh tamu undangan mereka tersentuh, air mata menetes menyadari kesalahannya. Sekarang mereka telah mengingat ingin memperbaiki dibulan suci penuh berkah ini.


"Syukurlah alhamdulillah,"


Tiada yang bisa diucapkan oleh Ara, selain bersyukur atas nikmat yang telah diberikan allah untuknya. Ajakannya ditanggapi dengan ketulusan dan keikhlasan.


Hal ini sesuai dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang artinya: "Barangsiapa yang berpuasa Ramadan karena penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah SWT, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhari dan Muslim).