
Aku meminta kepada tuhan mengirim bidadari, untuku cintai dan sayangi. Tuhan mengabulkan doaku, mengirimkan bidadari cantik tak bersayap sepertimu. Kau berhasil memasuki kehidupanku, kembalilah aku janji akan menuruti keinginanmu'
*Reyhan Aditama*
POV
Perkenalkan namaku Reyhan Aditama, aku berteman dengan Ara sejak kecil.
Waktu itu umurku masih menginjak kepala 10 tahun, aku dan Ara satu sekolah. Kemana-mana selalu ada Ara. Ara 1 tahun lebih muda dariku.
Aku mengenal Ara dengan baik, ia sering memberi nasihat kepadaku. Untuk berhenti meminum minuman berakhohol, agar tidak merusak kesehatan. Aku sudah terbiasa meminum alkohol sejak berumur 17 tahun.
Tapi Ara tak menyerah, ia tetap berusaha menyadarkanku. Hingga akhirnya aku berhenti meminum minuman berakhohol
"Reyhan, berhenti... meminumnya. Kasihani dirimu,"
"Jangan ikut campur.. Ra, ini surga,"
"Stopp! ,Rey...,"
"Lo gila, ada masalah apa?, cerita sama gue,"
"Lo gak bakal ngerti!,"
"Kalo, Lo diem mana bisa gue ngerti,"
"Lo keras kepala DIAM!! GUE LAGI PUSING MENDING. LO PERGI JAUH,"
Kata-kata itu menyakitkan. Ara tak marah berusaha tegar, matanya menatapku tajam. Ia kecewa, aku tahu itu. Niat baiknya kutolak mentah-mentah.
Ara mengatakan suatu saat Lo, bakal punya keluarga. Kalo terus-menerus hidup lo akan hancur.
Damn! It
'Maafkan aku Ara'
Benar kata Ara
'Gue harus berubah'
Aku tak pernah berharap masuk dalam kehidupan siapapun, secuil harapan seakan hampir sirna.
Sudah 2 minggu lamanya, tak ada kabar tentang Ara, malah tadi aku mendengar kabar buruk.
Kata-kata dokter terus terngiang di kepalaku.
Gadis yang ceria kini tertidur dengan tenang bahkan, suara kami jeritan kencang, serta isakan seakan tak mengusik tidurnya.
Tuhan .... dia gadis kuat, cantik juga pengertian itulah sifat yang tidak dimiliki setiap orang.
Aku dan Ara pergi ke taman melihat bunga yang mulai mekar, senja berwarna jingga menambah keindahan taman.
Ara berlari kearah air mancur melihat kilau cahaya jingga dari air. Air bisa damai saat melihat wajahnya apalagi aku, ketika Ara tersenyum dunia terasa indah.
"Kalo suatu saat, gue pergi loe ikhlas gak?,' Tanya Ara memandang air pantulan cahaya matahari
"Loe ngacok deh!!," Jawabku tidak ingin menanggapi ucapannya
"Gue serius!!, 'Ikhlasin gue Rey!," Matanya mulai berkaca-kaca sambil tersenyum padaku
"Gak Ara!!," Ujarku keras menahan amarah dalam diri
"Lo jahatt!, kalo pergi,"
"Tetap disini, gue gak terima penolakan!,"
"Loe pergi gue ikut. Gue gak peduli!!!," Lanjutku sebelum dia protes
"Gue butuh ketenangan Rey," Ujar Ara menatap kearah langit
'Gue sayang loe Ra...!!'
Batinku memberontak memaksanya tetap disisiku, aku akan memperjuangkan gadis manis di sebelahku apapun resikonya.
Aku telah bertekad menerima apa adanya sama seperti Ara.
Bukan harta ... maupun materi saling melengkapi satu sama lain tanpa membedakan suku.
Dia telah tertidur pulas dengan riasan makeup tipis tidak luntur dari wajahnya, Siapapun pasti terpikat!...'
Gadis sejuta makna layaknya intan yang baru di temukan, bagikuia sangat berharga .
Kini aku tahu ucapannya kemarin lalu bukan kenyataan, dia pandai sekali memakai topeng semua kebahagiaan dibagi...'
Sementara kesedihan Ara pegang sendiri berusaha mencari jalan keluar.
Sifat manja, usil, riang sudah pasti dia memiliki kepribadian ganda, mudah senang, marah, sedih tanpa tahu sebabnya.
Ara sosok terkenal dingin di kampus hanya orang tertentu yang diajaknya bicara, pemuda tampan di kampus tak menggoyahkan hati yang telah lama jadi batu.
'Ara jangan pergi'
'Gue kangen sama loe'
'Pliss bangun Ra'
'Loe mau buat gue gila'
'Gue mohon.. Ra, hidup gue gak ada warna tanpa loe putri jutek'
'Loe seneng... Lihat gue menderita?'
'Janji loe mana?, Gue butuh ... Loe saat ini'
Menarik tidak semua cowok bisa berteman dengan Ara. Gadis pemilik mata tajam membuat para lelaki harus bersabar dengan sikapnya.
Suara hatiku memanggilnya air mata jatuh mengalir menyalahkan diri sendiri, tiada guna semua sudah terjadi melihat senyumnya hatiku jadi damai.
Tapi kini gadis di sebelahku terlihat pucat tubuhnya dingin bibir memutih.
Dia pernah bilang tetap disampingku melarangku menangis.
'Gue hancur Ra'
Hancur satu kata berjuta makna yang mewakili perasaanku tak kuasa menahan rasa gejolak dalam dada, bergerumuh memintanya bangun dan memintanya untuk selalu tersenyum bahagia.
Dimana Ara sekarang?
Bersambung....