(Love And Dream)

(Love And Dream)
Masalalu Ara



"Aku akan menunggumu disini, kuharap kau selalu mengingatku. Bulaj Januari jadi saksi perpisahan antara kita"


*Arabella Rinduni*


_________


Pagi hari udara disini sangat sejuk tampak gunung yang indah dari sawahku, selesai sholat subuh. 


"Habis sholat bersih-bersih,"


"Nanana Rumah rapi wangi,"


"Jalan-jalan di Desa mampir ke Sawah,"


"Lihat gunung kaya kemarin," 


Kubersihkan Rumah yang penuh debu, dengan gembira menyanyi sambil mengeskpetasikan keadaan di Desa. Lihatlah !! Sekarang Rumah yang tadinya, tak enak dipandang menjadi Rumah yang bersih dan wangi


Rumahku terbuat dari bahan bambu berwarna coklat sedikit lapuk, ini sudah menjadi pilihanku hidup damai dari kebisingan Kota.


Penduduk mengira di Kota kaya raya hidupnya tenang, salah besar!! gak perlu kerja keras. Justru malah sebaliknya kami di Kota dituntut untuk berbisnis.


"Enak yah yang hidup dikota,"


"Iyah rumah gede, tiap hari wangi,"


"Cakep-cakep pula orangnya,"


"Apalagi artis banyak berasal dari sono,"


Aku mendengar bisik-bisik penduduk yang menanam bawang merah, kuhampiri mereka dan menjelaskan semua tentang pemikiran yang tadi salah!!.


"Tidak semua buk, pak," Kataku setelah tiba saat penduduk mulai diam. Mereka memandangku dengan tatapan bingung.


"Di Kota dituntut harus bersaing bisnis, baik cara haram maupun halal, Banyak juga membunuh saudaranya demi harta warisan,"


Lanjutku menjelaskan kepada penduduk agar tidak salah paham. Mengenai cerita yang barusan itu nyata.


"Serem juga neng,"


"Iyahhh.. ngeri,"


"Tega bener,"


"Gak punya hati!!,"


"Bener pak, mending sederhana asalkan bahagia," Lanjut seorang wanita paruh baya yang lebih mengerti dari lainnya


******


Aku meninggalkan orang-orang tadi berpamitan, terik matahari semakin panas dengan sabar.


Kuusap peluh keringat dipelipisku dengan tangan kosong, sepasang sapu tangan berwarna abu-abu berada di depanku.


"Buat loe," Kudongakan kepala menatap ke depan, terlihat pemuda tampan yang ku kenal. Menyodorkannya padaku


"Thanks," Aku menerima sapu tangan itu, mengusap peluh keringat


"Kenapa loe betah disini?," Tanya pemuda tadi duduk di sebelahku, kuhela nafas pelan. Sebelum menjawabnya menyimpan sapu tangan disaku


"In here beautiful, I like it Leo," Jawabku menoleh kearahnya, mebyadarkan kepala dibahunya


Yah namanya Leo Saputra Buana pemuda tampan keturunan Kota Padang, alisnya tebal hitam, bibir tipis, mata tajam. Fisiknya sempurna aku pun nyaman saat di dekatnya.


Hamparan Sawah berwarna hijau alami berpetak, berbentuk petak masyarakat disini sering menyebutnya. Teras sering keindahan yang tak kutemukan di Kota kelahiranku.


Aku kabur dari apartmentnya menyelinap lewat jendela ke apartementku, kurebahkan diri sejenak bergegas mandi. Selesai kuganti pakaian karena hari telah malam menuju alam mimpi. Pukul 05.30 aku masih tertidur dialam mimpi, semalam badanku remuk karena kutub, bersihin apartement seluas itu suara dering alarm membangunkanku.


Kringg


"Masih pagi gue gak boleh telat," Tekadku bulat


karena hari ini senin, segera ke kamar mandi


"Gue belum ngabari Leo," Pikirku dalam kamar mandi


Selesai kuganti seragam sekolah, hijab, topi, buku, alat tulis tak lupa telpon kukabari Leo lewat apk hijau, lalu kumasukan tas untuk jaga-jaga kubawa hijab 2 sepatu warna hitam, kacamata hitam, earphone juga kubawa.


Leo Nyebelin'💕 online


(Gue diapartement nginep disini semalam)✔️ 06.00


Ting


Leo Nyebelin'💕


(Yaudah gue jemput gak nolak!) 06.15


Aku hanya pasrah nolak percuma dia keras kepala banget 10 menit kemudian, terdengar suara klakson mobil aku segera keluar mengunci apartement masuk kedalam mobil


Kini kami sudah sampai diparkiran aku berlari cepat ke kelas sebentar lagi upacara dimulai.


"Pulang sekolah sama gue," Kata Leo memecah kesunyian mengacak rambutku


"Ok ketos sayang," Balasku langsung turun dari mobil diikuti olehnya


"Anak-anak upacara segera dimulai, harap sudah berkumpul di lapangan," Suara tegas guru meminta semua siswa berkumpul


Aku terus berlari tanpa perduli cemohan orang sampai dikelas kutaruh tas mengambil topi, ada suara mengagetkanku.


Duarrr


"Aaaa," Teriaku kencang karena terkejut diiringi tawa gadis akupun menoleh


"Haaahhhaaa," 2 sahabatku menertawakanku, aku kesal langsung pergi


"Eh stop," Alea menghadang jalanku aku menaikan alis


"Kemarin loe ngapain sama Leo?," Tanyanya penuh selidik


"Gak ngapain," Jawabku dingin bosen panas telingaku


"Ini apa," Memperlihatkan fotoku dan Leo di depan apartemen Leo


"Jangan salah paham!" Kataku dingin amarahku hampir meledak


"Ok ayok keluar," Ajak Priscilla mencairkan suasana kami berenam langsung ke lapangan


Upacara telah selesai 2 jam kami bepanasan saatnya mengerjakan tugas dari guru sebelum istirahat, pelajaran berlangsung cukup lama suara bel membuat senang. Semua siswa berhamburan keluar kelas.


"Putri kecil loe gak papa?," Tanya Leo menatapku penuh curiga kubalas gelengan


"Rin loe diapain?,"


"Dibawa kemana sama pucet?,


"Ada yang luka gak?,"


"Gue kemarin kehilangan jejak,"


"Kemarin salah paham," Tekanku


****


Tak terasa 3 tahun lamanya aku bersekolah di SMA Keadilan disini melewati canda dan tawa selama disekolah, saat asik-asik bercanda dengan Leo terdengar dobrakan pintu kasar aku terlonjak kaget, melihat siapa yang datang.


Brakk


"Pangeran ngapain dikelas nemuin aku yah," Ucap siswa salah satu fans Leo


"Pangeran jangan galak dong," Rayunya membuat Leo maju kearahnya


"Lepas," Katanya dingin menusuk


"Gak mau," Kekeh siswa tadi tetap memegang tangan Leo


Brukk


"Leo lo kenapa sih," Bentaku tak terima membantunya berdiri, dia menatapku sekilas


"Lepasin gue," Leo mulai bahaya amarahnya membuat siapa saja takut melihatnya berbeda denganku


"GAK AKAN!," Tolaku menyeretnya keluar dari kelas ke taman belakang


Sampai di taman belakang kulepaskan tangannya aku berniat pergi, namun tanganku dicekal kuat aku kesulitan tak biasanya dia mencengkramku meskipun berontak semakin kuat.


"Lepasin gue Leo," Makiku tepat di depan wajahnya


"Yah masa mangsa dilepas," Katanya dingin juga bersikap santai


"Gue bukan mangsa loe, Leo sadar," Kataku menginjak kakinya kuat agar terlepas


"Loe mangsa gue sekarang," Menyeretku ke belakang sekolah


"Loe pikir loe siapa hah," Terlanjur emosi kulepas paksa cekalannya


"Loe tahu kan gue siapa," Leo sikapnya tempramental, aku sudah biasa menghadapi kepribadian Leo


"Mau ngapain loe," Waspadaku ketika jarak kami 5 cm


Dugh


Byurr


"LEO SAPUTRA BUANA," Teriaku tepat ditelinga Leo


Aku kesal sudah terpentok di dinding, sakit semua seenaknya dia menyiram bajuku


"Apa Ara kecil imut, makanya diam!," Leo menatapku dingin menusuk


"Sialan lo" Hendak menyiramnya balik namun dia mencekalku kembali


"Loe tau siswa tadi penjahat, gue benci masa lalu, gue benci ,"Memukul dinding aku bisa merasakan hembusan nafasnya


"Gue gak peduli," Ucapku lantang hendak menyiramnya


"Awss," Ringisku pergerakanku dikunci aku tak bisa gerak


"Leo lo gilak!, ini sekolah" ucapku dingin memikirkan cara untuk keluar


"Seragam gue tanggung jawab," Kataku melihat bajuku basah hampir semua


"Ok gue tanggung jawab tapi-," Ucapnya datar sambil menjeda aku gugup


"Ikut gue," Menariku keluar dari toilet aku berontak takut dilihat murid lain


"Gak gue disini," ucapku mendorongnya keluar segera mengganti seragam baru yang tersedia


"Buka atau dobrak," Teriaknya disertai ancaman setelah selesai berganti baju


"Bacot," Teriaku dari dalam cepat memperbaiki rambutku


"Leo jangan kasar dia cewek!, Lo jangan gitu," Sarkasku menasehati Leo


"Lo tahu gue gak suka diganggu Ara," Leo menatapku tajam, iblisnya mulai keluar guys


****


Aku tahu bukan salah Leo, tapi bagaimanapun dia tidak boleh sama gadis yang merupakan fans nya. Leo itu cowok gak suka diganggu. Aku juga bersikap biasa saja saat bersamanya.


"Oke gue paham, maafin gue," balasku bajuku sudah basah karena air tadi. Kami yang sama-sama emosi tak bisa mengendalikan diri kami.


"Lo gak salah, gue juga gak bisa ngendaliin emosi gue, gak usah minta maaf. Sekarang lo ganti baju yang udah basah," Pinta Leo memberiku baju seragam baru


Aku yang selesai berganti langsung kubuka pintu menatap tajam, berlari menuju roootop, menjauh kalau tidak tamatlah riwayatku saat ini apalagi ada teman absurdku.


Leo cowok menyebalkan hobby sekali memaksaku, aku dan Leo memang seperti saudaraku dia pemuda pertama yang sabar menghadapiku. Sikapnya sangat posesif terhadap orang yang disayanginya.


Saat ini aku sedang berada di dalam mobil bersama Leo, dia memang dingin sekaligus menyebalkan tapi ... entahlah aku merasa nyaman didekatnya.


Apa aku menyukainya?


Tidak mungkin!


"Ara nanti datang yah, gak datang nyesel," ucap Leo dingin


"Males," Jawabku singkat


"Entar nyesel looh, Ara ini hari terakhir gue ketemu lo,"Bantahku mungkin Leo sengaja, ingin membuatku menangis


"Gue gak bohong!, Gue tunggu!," Leo langsung menjalankan mobilnya


"Gak usah bercanda deh, kaya mau pergi jauh aja Lo,"


Deg


"oke jam berapa," Tanyaku memastikan bahwa semua itu cuma prank


"Jam 19.00 malam," Jawab Leo melajukan mobilnya kembali


****


Tepat pukul 19.00 aku berlari keluar rumah, mencari keberadaan Leo, mataku menelisik keseliling arah. Dimana Leo katanya dia janji menemuiku.


"Leo lo dimana,"


"Es batu ihh ... yaudah gue balik," teriaku kencang


Hap


Tiba-tiba saja mataku ada yang menutup, bau parfum menyeruak di Indra penciumanku.


"eh...eh... apa sih ini, mata gue gak bisa liat woy," Aku meraba tangan yang menutup mataku


Leo yah itu Leo


"Coba tebak," ucapnya hmm ... sepertinya aku mengenal suaranya


"Leo kan," Celutuku mencium bau tangan khas Leo


"Lah kok tahu sih, padahal kan mau bikin surprise," Leo melepaskan tangannya dari mataku


Aku berbalik menghadap ke arah Leo, ini beneran Leo. Dia terlihat sangat tampan dengan kaos oblong putih dan jaket hitam menyala.


"Ara gue sekekiuaro mau pindah, besok kita keluar negeri. Gue janji bakal temuin lo lagi,"


Duarr


"Bohong kan lo," Aku menatap Leo tak percaya, ini pasti alasan Leo


"Terimakasih buat semuanya, gue sayang lo," Leo menariku dalam pelukannya


Aku diam mematung ini semua seperti mimpi, kutepuk pipiku lagi.


Plak


Bukan mimpi


Aku diam ingin berontak, tak ada tenaga yang tersisa. Bulan Januari tepat di hari kelulusan kami, aku harus berpisah dengan sahabatku.


"Jaga diri baik-baik yah Ara kecil," Kata Leo


"Gue juga sayang lo Leo," balasku memeluknya erat seakan takut kehilangannya


"Tunggu gue Ra," ucap Leo mengeratkan pelukannya


"Ara akan tunggu Leo," Aku melepas pelukan Leo


"Jangan nangis yah, sampai jumpa," Leo mengecup keningku, sebelum pergi meninggalkanku


Serr


Aliran darahku terasa hangat, aku tak tahu apa ini cinta?


Leo telah pergi aku tersenyum saat melihat punggungnya, dia meninggalkanku untuk mencapai keinginannya. Dia akan berkuliah di luar negeri setelah lulus sekolah, berjanji akan kembali secepat mungkin.