
Aku tak mengerti mengapa di dunia yang kuanggap kejam masih ada orang sepertimu? Kau berhasil memasuki kehidupanku dalam sekejap'
* Arabella Rinduni*
Setelah berkenalan Azriel mengantarkan ku pulang, melarangku berjualan dahulu sebelum sembuh. Memberiku uang mengganti daganganku.
"Jangan jualan dulu," Peringat pemuda berada di sebelahku
"Mau makan apa gue ntar," Bantahku memikirkan nasibku
"Nih cukup buat ganti minuman kedelai tadi," Memberiku uang berwarna merah 5 lembar
"Terus minuman kedelainya?," Tanyaku tak mungkin kan kubawa lagi ke rumah
"Gue beli udah gue suruh ambil asisten gue," Jawabnya santai
"Nih," Mengeluarkan uang berwarna merah dari dompetnya
"Gak mau gue," Tolaku tak mungkin baru kenal langsung diberi uang
"Udah terima ajah," Katanya langsung pergi dari rumahku
"Makasih!!," Teriaku jengkel tetap memaksaku kuharap dia mendengar kataku
******
Hari ini aku sembuh kuputuskan kembali berjualan, cuaca saat ini sangatlah panas keringat mengucur di dahiku kacamata yang kupakai basah oleh keringat, aku mengistirahatkan diri sejenak setelah berlari-lari kesana kemari.
Alhamdulillah sebuah mobil dan sepeda motor menghampiri daganganku aku berlari kesana dari mobil kaca terbuka bapak, seorang pemuda remaja muncul bersamaan menghampiriku.
"Mau beli yang besar apa kecil buk?," Tanyaku sambil menyapa ramah pembeli menawari daganganku yang ada di meja dengan tersenyum ramah
"Mau yang mana kamu Alan?," Tanya bapak tadi kepada pemuda di depanku terlihat fokus saat bermain game posisi layar miring
"Kecil 2 dingin besar 1," Jawab pemuda tadi menyudahi game nya sejenak tanpa melihat kearahku, lalu kembali lagi ke game
"Saya kecil 3 mbak," Kata bapak pemuda tadi aku bisa melihat dalam mobil mampu menampung 8 orang menurutku mungkin tadi dibagikan kepada yang lainnya di dalam
"Oke baiklah pak," Balasku membungkus semua pesanan memberikannya kepada bapak dan pemuda tadi, pemuda tersebut mengangkat wajahnya membuatku hampir shock
"Dia cowok itu kan,"
"Cewek menyebalkan lagi,"
"Wow dia mandiri juga,"
"Sabar Ra masih di jalan,"
Kami saling membatin aku bisa mendengar batinnya begitupun dia 'sialan' yang selalu buat moodku rusak.
Dijahili dicuekin anak kampus yang ingin aku masuki tahun lalu. Mau gimana lagi sudah jalannya terhambat oleh biaya yang buatku harus berfikir dua kali until ikut kesana.
Kami bukan berteman hanya saja pernah bertemu di sebuah acara berkenalan lanjut betkomunikasi banyak yang bilang serasi tapi apa perduliku, cukup sadar diri dia siapa aku siapa selama harga diriku masih dihormati pikirku.
******
"Loe lama gak ketemu," Menyapaku melupakan game nya orang tuanya yang masih menatap kami berdua dengan tatapan bingung' kalian saling kenal' menatapku
"Lama perasaan baru setahun," Membalas ucapannya dia menyerahkan uang berwarna merah satu lembar kepadaku, kukembalikan uang berwarna hijau dan ungu padanya
"Lama coy," Dia tetap berusaha mencairkan keadaan yang tegang pintar kawan
"Dia temanku," Jawabnya seolah mengerti dengan tatapan orang tuanya sedari tadi
"Oh gitu temannya," Aku pun mengangguk sebagai jawaban bapak itu tersenyum padaku tatapan berbinar entah apa yang kutahu wajahnya bahagia dari sebelumnya
"Sudah siang yaudah nak kami permisi," Bapak tadi sebelum pergi menuju mobil aku membantu membawakan susu kedelai mengantarnya sampai mobil
Alan bersama keluarganya meninggalkan area tempatku berjualan sesudah itu aku melayani pembeli sepeda motor tadi.
Berbagai hambatan mulai dari cuaca yang tak sepadan kadang panas, mending, hujan mempengaruhi hasil penjualan.
Dari jam 08.00 sampai jam 02.00 hanya mendapat 20 botol lelah, haus, bosan semua bercampur jadi satu bisa membayangkannya kuncinya cuman 1 bersabar.
"Mbak beli botol besar dan kecil 5," Seorang wanita paruh baya berteriak di sebelah jalan, menunjuk susu kedelai yang kupegang.
Kuhampiri ibu yang ingin membeli, membawa susu kedelai ke ibu-ibu yang memanggilku.
"Sama-sama buk sudah tugas saya," Balas sang gadis membantu Ibu tadi memasukan susu kedelai kedalam mobil satu-persatu
"Duluan mbak," Ibu tadi berpamitan dengan gadis setelah semua dimasukan dalam mobil disertai senyuman manis di wajajnya
Mobil melaju meninggalkan tempat
"Terimakasih ya allah atas rejeki hari ini," Gadis tadi mengucap syukur kepada allah dagangannya laku tinggal sedikit.
Banyak yang bilang jualan kayak gitu untungnya berapa paling recehan aku hanya diam dan mendengar cacian orang yang menganggapku rendah, baiklah pemikirannya terlalu rendah justru itu peluang untuku lebih mengembangkan usaha
"Susu kedelai pak buk, yang dingin anget," Kataku sambil berteriak di lampu merah guna mempromosikan daganganku kepada semua orang yang melintas
"Gue beli semua, tapi loe ikut gue," Suara seseorang dari samping mengagetkanku, aku belum melihatnya masih menerka suara tadi
Siapa yang bicara sama Ara?
*******
Aku tahu perkataanku menyakiti hati Ara tapi semua kulakukan agar rencana yang kubuat semakin matang, beberapa minggu lagi Ara ulang tahun aku sengaja tidak memberitahunya
Sakit rasanya melihat Ara nangis ingin kupeluk kutenangkan dia saat ini, air matanya jatuh setelah mendengar kata kasar yang keluar dari mulutku.
Aku berniat memberi kejutan pada Ara sengaja aku ingin tahu reaksinya di hari ulang tahun saat ini.
Diisinya yang sudah menginjak dewasa aku berharap dia bisa melanjutkan study nya Ara termasuk gadis cerdas dan sederha,
Wajar saja banyak yang menyukainya akupun juga senang berteman dengan gadis itu, terlebih dia gadis kuat yang pernah aku kenal di dunia ini .
Saat ini aku bersama teman-teman sedang berkumpul merencanakan ulang tahun Ara.
Kami membagi tugas masing-masing, ada yang menjemput Ara mendandani Ara ada juga memarahi Ara serta pesta kecil-kecilan untuknya.
Semua dilakukan dengan baik menurut rencana aku tahu ini menyakitkan, hinaan terus terlontar saat aku dan pacarku menggandeng Ara.
Seorang gadis bersama kekasihnya tengah menarik tangan mungil, yang terus meneriakinya yah benar. Gadis itu bernama Fani dan kekasihnya Daniel.
"Lho Al-," Belum sempat menjawab aku menariknya menjauh dari jalan
Aku membawanya ke mobil membereskan dagangan yang tinggal sedikit, aku harus mempercepat waktu kasihan yang sudah menunggu.
"Aws sakit Al," Rintihan saat aku menekan tangan mungilnya
Rasanya ingin menangis melihat gadis yang ceria kini menatapku sendu, mau bagaimana lagi semua kulakukan untuk gadis manis itu.
"Diem bisa gak!!," Bentaku mempercepat waktu yang singkat
Dia belum mandi pakaian masih kotor nafasnya terengah-engah saat ini kami sudah berada di halaman rumahnya.
Ara terus memberontak kesabaran ku benar-benar diuji olehnya, kupaksa masuk kuhina walau aku tak tega, gadis keras kepala kesayanganku teman terbaikku.
"Ini rumah Ara ngapain?," Tanyanya padaku saat sudah di depan pintu rumah
Ceklek
Pintu kubuka dengan kunci cadangan gadis itu menatapku bingung sambil merintih.
"Masuk," Titahku dia menggeleng kepala kearahku
"Masuk Ara," Kataku sudah geram dengan sikapnya sebentar lagi acara dimulai
"Enggak mau," Tolaknya memberontak terus-menerus
"Loe itu kucel jelek,"
"Sadar diri dong,"
"Sampek kapan dandan kek gini,"
Bentaku geram dengan kera kepalanya aku masih mencoba sabar menghadapi, gadis ini lucu cantik juga tinggal dipoles make up sedikit riasan akan terlihat feminim.
"Gen bantuin," Kataku memakai speaker kencang pada kekasihku yang menonton asik bermain handphone.
Banyak yang bilang jualan kayak gitu untungnya berapa paling recehan aku hanya diam dan mendengar cacian orang yang menganggapku rendah, baiklah pemikirannya terlalu rendah justru itu peluang untuku lebih mengembangkan usaha
"Susu kedelai pak buk, yang dingin anget," Kataku sambil berteriak di lampu merah guna mempromosikan daganganku kepada semua orang yang melintas
"Gue beli semua, tapi loe ikut gue," Suara seseorang dari samping mengagetkanku, aku belum melihatnya masih menerka suara tadi
Siapa yang bicara sama Ara?