(Love And Dream)

(Love And Dream)
Kesembuhan Ara



"Kebahagiaanku saat melihatmu tersenyum bahagia, tetaplah jadi bunga matahari yang cantik dengan bungan sederhananya"


*Reyhan Aditama*


"Beneran Ara sudah sembuh Zriel?" tanya Rendi papa Azriel melihat putranya memasuki rumah, tadi dia tak sengaja mendengar Azriel akan menjemput Ara sekarang.


"Iya pa, Azriel mau menjemput Ara dirumah sakit," Azriel menghampiri papanya, yang duduk di kursi ruang tamu. Ditemani buku bacaan serta perempuan paruh baya tertidur di sofa "Mama tidurnya pulas jangan-jangan papa suruh mama jalan kaki tadi pagi ditaman," Tebak Azriel menduga mamanya menghabiskan waktu bersama papanya, berjalan kaki menyusuri taman. Orang tua Azriel suka berolahraga saat pagi, tak heran mereka terlihat sehat dan kuat.


"Mama ketiduran, karena papa bawa motor. Kamu gak tahu kalo cewek naik motor, terasa nyaman apalagi meluk pinggang cowoknya. Sampai-sampai ketiduran makanya cari pasangan biar tahu, umur udah nambah juga Zriel entar keduluan sama Ara. Diakan manis imut pasti banyak yang mau," Ledek Rendi menatap putranya diam mematung, Rendi terbilang jahil harus banyak sabar menghadapinya. Rendi menduga putranya sedang mencerna katanya barusan, melambaikan tangan didepan Azriel.


"Ara cocok juga kok sama Reyhan, Kenzo mereka pasti bakal rebutin Ara. Kamu tahukan Ara sudah ingat kembali mereka bakal lebih dekat sama Ara setiap hari," Rendi meneruskan ucapannya yang sempat tertunda, dia sengaja menggoda Azriel.


"Astoghfirllah papa Azriel masih muda, kuliah belum lulus Ara juga masih kecil. Gak Azriel bolehin nikah usia muda itu bahaya buat Ara," Azriel yang sibuk melamun, kembali kealam sadar mendengus kasar. Papanya sengaja mengatakan itu agar Azriel cepat menikah.


Ayolah Azriel belum memikirkan hal itu, kuliahnya belum selesai ditambah harus mengurus Ara. Tidak ada gadis yang membuatnya tertarik cuma Ara yang dia sayang setelah mamanya, bagi Azriel Ara sangat penting dalam hidupnya.


"Sudah sore pa, kasihan Ara Azriel pergi dulu Assalamualaikum," Pamit Azriel mencium punggung tangan papanya, melihat papanya masih tersenyum misterius Azriel jadi ngeri. Sebenarnya papanya ini kesambet apa?.


Pulang-pulang malah menanyakan hal yang membuat Azriel memikirkan hal ini.


"Jangan lupa Aranya' harus dibawa ke rumahnya, nanti papa mau jenguk dia setekwh mama bangun," kata Rendi melihat putranya sudah mengambil kunci mobil, memasuki garasi mengeluarkan mobilnya bersiap melajukan mobilnya.


*


*


*


*


Semua senang dengan kemajuan Ara, perlahan-lahan Ara mengingat semuanya. Azriel tidak pernah meninggalkan Ara, dia selalu menjaga Ara hari ini konsultasi terakhir Ara dirumah sakit. infus yang ditangan Ara sudah Azriel lepas sejak 2 minggu yang lalu. Namun kondisi Ara belum stabil kemarin dia mengijinkan Ara keluar dengan syarat harus ditemani oleh Azriel.


Reyhan yang hendak masuk ruangan, seketika panik berlari keruangan Ara dia tidak ingin Ara hilang lagi. Memastikan penglihatannya cukup sekali dia kehilangan Ara, kali ini dia takan membiarkan itu terjadi.


Hosh... hosh...


Reyhan berlari terengah-engah, dia melihat Ara dan Azriel ingin pergi dari rumahnya apakah Ara sudah sembuh?. Sehingga Azriel ingin membawa Ara pergi dari rumahnya.


"Gimana Ra, udah sembuh?"


Tanya Reyhan menghampiri Ara, memasukkan pakaiannya kedalam koper. Reyhan senang Ara sudah mengingatnya kembali, kondisinya juga sudah membaik.


"Udah,"


Jawab Ara singkat inilah kebiasaan Ara, sekarang suara itu telah kembali. Suara yang selama ini dirindukan semua orang disekitarnya, sejak kecil Ara sudah bersifat dingin.


"Ekhmm... banyak yah dek,"


Kata Azriel menyindir Reyhan, diabaikan oleh Ara. Muka Reyhan masam seperti asem, menurut Azriel Reyhan orangnya lucu tapi menyebalkan.


"Ehh... , ada Azriel toh, gue kok gak lihat yah,"


Reyhan baru menyadari tatapan Azriel, dia hanya melihat gadis yang dicintainya


"Mata untuk apa Rey," ucap Azriel ketus, dia masih jengkel dengan Reyhan.


"Melihat lah," Balas Reyhan ketus balik, Azriel tidak mengerti dia sedang mencari perhatian pada gadis dingin yang masih berberes.


"Diam atau keluar," Ancam Ara terlanjur kesal Ara melihat dua pemuda berdebat seperti anak tk, tidak mau mengalah satu sama lain. Ini rumah sakit bukan tempat beradu mulut.


Reyhan tidak memperhatikan Azriel yang bersama dengan Ara, dia hanya fokus melihat Ara. Dasar cowok gak ada akhlak belum direstui langsung gercep aja.


Reyhan membawa tas Ara mengikuti Azriel, berhubung Ara sudah sembuh sebaiknya Ara berkumpul bersama keluarganya. Mereka pasti sudah merindukan Aranya, bagaimana bisa Reyhan mengganggap Aranya' belum tentu Ara mencintainya.


Reyhan juga mengutarakan niatnya mengajak Ara berbisnis, Reyhan sempat meminta pendapat Alea beberapa waktu lalu. Alea setuju dia sangat ingin Ara berbisnis lagi seperti dulu.


*


*


3 jam sebelumnya dirumah Reyhan, saat Alea datang menjenguk Ara. Dia meminta pendapat Alea.


"Alea gue ada ide nih,"


Kata Reyhan menghampiri Alea yang baru keluar dari kamar Ara, membawa Alea duduk di kursi ruang tamu


"Hmm.. ide buat deketin Ara yah...,"


Balas Alea menggoda Reyhan mengedipkan mata.


"Bukan Lea, kerjasama," Reyhan yang belum menyelesaikan ucapannya membuat Alea bingung, dia menatap Reyhan meminta kejelasan.


"Kerjasama?" Kening Alea mengkerut maksud pemuda disebelahnya ini apa?. Kalau tidak mengingat bahwa Reyhan sahabat Ara sudah pasti dia tendang kelaut


"Gini loh kerjasama, buat toko susu kedelai,"


Dalam sekali tarikan nafas, Reyhan menjelaskan maksudnya. lega itu yang Reyhan rasa sekarang.


"Bagus dong, bilang ke Ara panggil dia," Alea senang Ara pasti akan bahagia, bila mempunyai toko susu kedelai sendiri. Ternyata Reyhan tidak buruk hanya saja memang menyebalkan.


"oke gue cari Ara dulu, makasih yah Lea," Reyhan senang dia sempat berfikir Alea akan menolaknya, siapa sangka Alea malah mendukung Reyhan.


*


*


*


*


Sore hari Reyhan datang kerumah Ara, sesuai ucapannya waktu lalu. Dia datang dengan motornya menuju rumah Ara, sesampainya di sana Reyhan mencari Ara disudut rumah tidak ada batang hidung Ara, lalu kemana Ara sekarang?


Dijendela belakang netranya tertuju pada gadis yanh sedang menyiram bunga, dia yakin itu pasti Ara. Menghampiri Ara berjalan pelan agar tidak ketahuan, tujuan Reyhan mengagetkan Ara.


Reyhan memperhatikan wajah cantik Ara terkena pantulan senja, bunga yang disiram Ara juga termasuk bunga matahari. Reyhan ingat dulu Ara pernah mengatakan padanya simbol bunga matahari.


"Bunga matahari itu simbol bahwa kecantikan seorang perempuan terletak dari kesederhanaanya. Gue mau seperti bunga matahari yang tak iri terhadap bunga mawar, meskipun banyak yang menyukai bunga mawar nyatanya bunga matahari bisa memikat hati dengan warnanya yang cerah dan bunganya yang sederhana,"


Bunga matahari itu sama seperti Ara meskipun banyak gadis cantik kainnya, tapi dia mempunyai daya tarik sehingga orang menyukainya.


Berjalan mengendap-endap kayaknya maling yang takut ketahuan.


1 menit


2 menit


3 menit


4 menit


5 menit


Dorr


"Astoghfirllah haladzim Reyhan!!,"


bersambung...


next?