
"POV Ara"
Hari ini tepat di hari ulang tahunku saat menginjak usia 20 tahun penyakit yang aku tahan selama ini berusaha mencoba tegar akan semua cobaan perlahan mulai membuka kebenaran.
"Surprise," Teriakan orang-orang mengalihkan perhatianku semua berdandan rapi cantik dan tampan
"Kalian jahat!," Isaku menangis bercampur haru memukuli sahabatku yang merencanakan semua
"Udah dong sakit!, nih,"
"Aduh... Ara smile,"
"Ciee, yang tambah umur,"
"Ngambeknya ilangin, lagi hari bahagia juga,"
Aku terharu dengan kejutan mereka sampai tidak bisa berkata-kata, bibirku terkatup tersenyum disertai tangisan bahagia. Aku terlalu memikirkan bisnisku sampai lupa hari kelahiranku kami berfoto canda tawa juga saling melempar krim satu sama lain.
"Ihh Araaa krimnya,"
"Udah woi muka gue,"
"Kyaa Araaa,"
"Udah Ara jangan lari,"
Teriakan terdengar ditelinga aku tersenyum sambil terus mengoles krim di muka sahabatku.
Hingga sebuah teriakan dari gadis muda mengalihkan semua darah mengalir dari sudut hidungku, kepalaku tak kuat menanggung beban saat semua sudah sudah disini kenapa penyakit itu datang dalam hidupku?
******
"POV Prisil"
Aku berteriak kencang saat menyadari ada sesuatu yang mengganjal di diri Ara, setelah mengetahui aku yang kaget refleks meneriakinya.
"Araaaa," Teriakan Prisil mengagetkanku dengan yang lain, aku menoleh kearahnya
"Hidung loe," Katanya menunjuk hidungku yang sudah memerah, bajuku terkena darah itu.
"Pov Ara"
Perlahan pandanganku tiba-tiba agak memburam, menahan perih di tubuhku tak kuat menopang aku pun ambruk dalam pelukan seseorang.
Semua meneriaki namaku, aku masih bisa mendengarkan suara mereka sebelum akhirnya menutup mata.
"Araaa bangun!!,"
"Araa sadar sayang,"
"Araa loe jahat!!,'
"Araa cepat panggil ambulan!,"
"Araaa!!!,"
Semua sahabatku memandangku dengan air mata, aku benci melihatnya menangis biar aku saja yang menangis.
Mereka berkumpul memberi hal yang tak pernah terfikir dalam hidupku.
'Maafkan aku semua, hari ini menjadi kejutan ulang tahun paling indah bagiku'
******
POV Azriel
Niatku hari ini memberinya kejutan melihatnya tersenyum aku merasa bahagia, baru detik yang lalu dia tersenyum kini wajahnya terlihat damai.
Dia tampil berbeda riasan makeup tipis membuatnya tampak terlihat cantik natural aku lupa tak mengenalnya.
Gadis yang tidak pernah berhias kini dihiasi bando berwarna bu-abu di kepalanya terdapat mutiara kecil melekat sempurna sama seperti bajunya.
Cantik itu yang menggambarkan Ara saat ini sempurna senyuman bagai bidadari penjaga hati.
'Mata gue gak salah kan'
'Tomboy jadi Putri'
'Asekk'
'Gue halalin kalo dah banyak uang'
'Daebak perubahan sempurna, tanpa celah'
Aku memujinya dalam hati tak berani mengatakan secara langsung di depan Ara, aku menyadari gadis itu tak terpengaruh dengan pujian yang terlontar.
"Kondisi pasien kritis," Kata dokter bian menunduk
"Pasien koma," lanjut dokter bian meninggalkan kami yang menangis di lantai
"Harap tenang,".
Brugh
Brakk
Degh
Degh
Degh
Duarr
Duarr
Degh
Semua terkejut lihatlah sekarang dia terlihat begitu miris dengan selang infus ditangannya jauh tempo sebelum sekarang aku sudah menduhay.
Sekuat apapun dititupi akan tetap terbongkar keadaan Ara saat ini sangat memprihatikan tak kuasa aku melihat orang yang aku sayangi terbaring lemah tak berdaya.
*******
Sosok gadis disebelahnya tak kuasa menahan air mata perkataan Azriel begitu menyentuh hati.
.
Ingin menghapus air mata namun tidak bisa melihat itu yang dilakukan sang gadis saat tahu semua.
"ARA LOE KAPAN BANGUN,"
"GUE KANGEN,"
"JAHAT LOE JAHAT!!!!,"
"INI KEJUTAN LOE,"
"BANGUN GAK LOE,"
"ARaaaaa!!!!!!,"
Sang gadis yang menyaksikan kepahitan menoleh kearah gadis berwajah pucat, dengan mata tertutup dokter mengatakan dia akan koma semua menangis histeris tak kuat menahan beban.
Bugh
Bugh
Bugh
"Arghh....,"
Apa ini tuhan sakit melihat orang yang kita sayang terpuruk Azriel memukuli tembok rumah sakit, dia hancur berkeping-keping mendengar perkataan dokter.
Bersambung....