
Pertemuan kita sangatlah aneh seolah yang terjadi, semua telah direncanakan takdir aku ingin mengelak nyatanya aku tak mampu hanya bisa menjalani peranku di dalamnya'
*Arabella Rinduni*
Pov Ara
Namaku Arabella Rinduni Aku berasal dari keluarga sederhana, umurku sekarang emasuki angka 20.
Pekerjaanku setiap hari berjualan susu kedelai di lampu merah, rasa malu sudah ku hilangkan sejak dulu, yang terpenting aku usaha serta berdoa jualanku laku.
Panas terik matahari kuterjang peluh keringat membasahi pelipisku, semua kulakukan agar bisa bersekolah kembali dan meraih impianku.
Menjadi sarjana bergelut dalam bisnis dunia usaha, membantu mereka yang tidak mendapatkan keadilan.
'Tuhan semoga yang ku usahakan hari ini, kelak membuahkan hasil ke depannya'
'Bismillah lancar amin'
'Allahhu akbar'
Seperti saat ini aku bekerja berjualan meski tahu badanku kurang fit, namanya usaha harus sabar juga konsisten dalam keadaan apapun.
"Aduh kepalaku sakit!," Rintihku menahan sakit yang mulai menyerang, sehingga mengalihkan perhatian seorang cowok tampan dia menoleh kearahku
'Kuatkan hamba ya Rab'
'Beri hamba kesabaran,'
"Loe kenapa?," Tanya seorang pembeli sepertinya seumuranku dia melihat wajahku yang pucat bibir putih seperti diberi bedak
"Gue gak papa," Jawabku sambil menahan rasa sakit yang semakin lama, semakin buatku tak bisa berdiri hampir saja aku terjatuh.
"Astoghfirllah," Teriaku kaget hampir ajah, aku terjatuh kepalaku berdenyut
"Loe kalo sakit, jangan jualan!," Larangnya menangkapku dengan tangannya memegang bahuku, aku menatapnya tak suka
'Ngomong apa sih'
'Ini pula malah diem..huft!
'Peka dong..'
"Sorry," Seolah tahu yang kumaksud dia mengucap maaf membantuku bangun, merapikan kemejanya yang berantakan
Pagi ini aku berangkat pagi-pagi tepat pukul 07.00 aku sudah sampai di lampu merah, dari hari yang lalu aku sudah memikirkannya, berharap daganganku laris.
"Harapan yang tak sesuai kenyataan,". Kataku semua yang ada dikepala, kukeluarkan mengungkap semua agar lebih lega
******
Saat semua sudah siapkan dan ditata dengan rapi tiba-tiba saja mendadak kepalaku pusing perutku terasa mual.
Aku mencoba mengabaikan semua rasa itu semakin lama semakin sakit kepala ini.
'Jika benar ujianmu hamba terima'
"Udah nanti dulu, pikirin kesehatan loe," Dia tanpa tahu malu mengatakan itu padaku, pada gadis yang baru ditemuinya saat ini
Dia menasehatiku agar aku tak terlalu membebani diriku sendiri, padahal kenal saja tidak!
Dia merasa kasihan terhadapku apalagi diumur yang masih muda.
'Nasibku masih bisa diubah'
Aku juga tak melanjutkan pendidikanku yang kuimpikan kukubur impian itu karena terhalang biaya yang mahal.
Dia juga anak kuliah di fakultas pertanian, aku bisa melihatnya juga dia ahli dalam bidang itu seolah tak perduli dengan cowok tadi. Aku meneruskan jualan lagi saat ini hari sudah mulai sore.
"Kenalin gue Azriel Arganata," Katanya memperkenalkan diri padaku, kubalas lirikan tangan yang menghantung
'Namanya bagus'
"Oke gue Arabella Rinduni," Aku membalas uluran tangannya, dia memperhatikanku lagi, kulirik dia mengacungkang jempol sudahlah apa pula faedahnya menurutku.
'Aneh nih cowok'
"Gak usah ngumpat,"Katanya aku refleks memandangnya
'Ha.. dia tahu'
"Dibilang ngomong langsung,"
Namanya Azriel Arganata berasal dari keluarga terpandang, memilih hidup dengan kesederhanaan juga matanya yang tajam terlihat tegas dimata siapapun, cowok tampan mampu memikat gadis di fakultasnya hanya saja dia terlalu cuek orangnya.
'Gue berharap ketemu cowok kaya loe lagi'
'Biar tuhan yang jadi saksinya'
Sejak pertemuan tadi kami berteman, Azriel sering membantuku menjual susu kedelai di online. Dia anak yang cerdas tak jarang banyak pelanggannya.
Susu kedelai tadi di ekspor di pabrik tempatnya magang, aku belajar banyak hal darinya mulai dari pengemasan lebih menarik sampai pemasaran yang baik. Azriel sering memberi diskon kepada pembeli, 5% 200 botol susu kedelai.
Keuntungan itu semakin bertambah banyak, aku tidak menyangka bisnisku berkembang pesat, toko di daerah sudah mengenal produku setiap hari mereka membeli lebih 200 botol susu kedelai.
Hari ini aku ulang tahun umurku genap berusia 21 tahun, aku berharap dapat kebahagiaan di hari spesial yang kutunggu-tunggu. Semua cuman mimpi semata, aku mendapat penghinaan, kekerasan juga tangisan hatiku.
********
Aku berharap dapat kebahagiaan di hari spesial yang kutunggu-tunggu. Semua cuman mimpi semata, aku mendapat penghinaan, kekerasan juga tangisan hatiku
Hari ini tepat di hari ulang tahunku saat menginjak usia 21 tahun, penyakit yang aku tahan selama ini berusaha mencoba tegar akan semua cobaan perlahan mulai membuka kebenaran.
Hinaan tetangga cacian dari teman yang iri, sudah biasa menjadi makananku. Setiap hari aku disuguhi kata pedas yang membuat mood orang hancur!, aku menulikan telingaku menganggap omongan mereka sampah!, tapi ada juga yang kujadikan motivasi untuk aku berubah.
"Jualan kok susu kedelai, berapa penghasilannya?,"
"Paling cuman Rp. 10.000 haha,"
"Percuma aja sih loe, dapet kerja gak guna!,"
"Gak capek apa jualan kek gitu,"
"Biarin lah orang begoq, kaya dia mana bisa kaya,"
"Udah muka item, jelek, buruk lagi,"
"Sok-sokan muka dua,"
"Penyakitan ciih,"
"Mending mati aje sono," Ucap cowok berambut merah , Ara loe tuh bawa sial bagi gue,"Lanjutnya mencengkam tangan gadis di sebelahnya
"Aws lepas," Rintih gadis tadi kesakitan , Loe cowok gak punya hati!," Cela Ara masih berusaha melepas cengkraman tersebut dengan kasar
"Gadis miskin kayak loe, gak usah munafik!," Pemuda tadi menatap gadis di depannya
"Oh ya loe apa Bangsat!," Kata Ara mengeluarkan isi hatinya, cowok itu berjalan mendekat kearah Ara
"Loe cowok brengsek, yang terbuat dari batu," Kata gadis di depannya menghentikan langkah, menatap tajam pemuda itu. Ingin pergi dari tempat tersebut
"Loe -" Sebuah suara menghentikannya, Belum sempat pemuda itu berbicara, gadis yang dihina malah memotong ucapannya
"Kenapa mau tampar, Sini tampar ayok pengecut!," Makian terlontar dari Ara berteriak lantang di depan pemuda, membuat pemuda tadi terdiam mati kutu
******
Bagaimana tidak!, Gadis yang dulu lembut kini berkata kasar, telah berani memakinya dengan suara lantang sampai dia tak bisa menjawab perkataan sang gadis.
Menguatkan hati yang hampir rapuh!, berserah diri kepada Rabku meminta petunjuknya adalah salah satu caraku until bertahan.
Terkadang godaan datang ingin menggoyahkan tembok yang kubangun, perlahan demi perlahan mencoba mempengaruhi.
Ya Rab ujian yang kau berikan begitu berat saat ini, kuatkan hamba dalam menghadapi semua yang terjadi. Hamba tidak ingin sia-sia berhenti begitu saja.
Aku tahu bukan gadis yang kuat, cuman pembawa masalah dalam hidup teman-teman.
Hatiku sakit batin tersiksa, tidakah kalian mendukungku saat kurapuh bukan menghinaku!, Aku tau gadis penyakitan yang manja.
Ara gak tahu umur Ara sampai berapa?, Aku hanya minta waktu sebentar untuk dingertiin apa Ara gak pantas untuk bahagia sebelum pergi jauh.
Setiap hari ucapan itu tergiang di kepalaku, saat jualan pun teringat! Lelah berdebat dengan kalian yang hanya bisa mencaci tanpa intropeksi diri! .
Setidaknya tolong bukalah mata hati kalian walau sedikit untuku apa sudah tertutup sehingga tanpa berpikir mengatakan semua lontaran pedas dan kasar?.
Alasan apa lagi yang dibuat kamu pikir aku bodoh tentu tidak! Berulang kali kamu tipu aku masih bersabar, sakit menang kurasa tidak dipedulikan dengan orang yang dianggap berharga dalam hidup.
"Alea," Satu nama terlintas di fikiranku kucari dimana dia berada
"Mengapa Ara menyebut nama Alea?
siapakah Alea ada yang tahu? "