(Love And Dream)

(Love And Dream)
Langit anak mungil



“Hey, Ara! Gue balik dulu. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...,” teriak Kenzo seraya mengejar Ara dan berusaha menyamakan langkahnya dengan Ara.


“Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Ken. Hati-hati,” balas Ara melambaikan tangan ke Kenzo saat melihat Kenzo hendak berbicara lagi.


“Gue gak mau kehilangan lo, Ra,” raung Kenzo tidak dihiraukan Ara.


Mau dibilang egois dan kejam, Kenzo terima itu. Sejak pertama mengenal Ara, Kenzo menemukan sesuatu yang berbeda dalam diri Ara. Gadis mana pun akan tergila-gila dengan Kenzo untuk meminta barang mewah. Ara juga yang membuatnya masuk Islam dan membuatnya sadar akan perbuatannya. Kenzo tidak sanggup membayangkan jika gadis ini menjadi milik orang lain.


Andaikan ada gadis yang menjadi cinta terakhirnya, cinta terakhirnya adalah Ara. Gadis penuh misteri serta keunikannya. Mencintainya adalah hal terindah bagi Kenzo. Jika suatu saat dia dapat memilikinya, itu adalah masa yang tidak mungkin dia lupakan seumur hidup. Sampai dia bersatu dengan tanah, cintanya hanya untuk Arabella setelah mamanya.


Kenzo langsung mengambil air wudu dan melaksanakan salat untuk menenangkan hatinya yang tercabik. Ara tidak peka akan perasaannya. Hanya dia dan Tuhan saja yang tahu.


“Ya Allah... jika boleh aku meminta Ara, jadikan dia jodohku agar aku selalu ingat kepada-Mu. Dia yang telah menyadarkanku. Namun, jika dia bukan jodohku, kuharap dia bahagia dengan orang yang menjadi suaminya. Amin. Diri ini terlanjur mencintai makhluk ciptaan-Mu, Ya Allah. Satukanlah kami, amin.”


Kenzo tak lupa melaksanakan salat Isya. Ia berdoa agar Ara selalu bahagia dan terus tersenyum bahagia. Hati Kenzo sangat tulus mencintai Ara.


***


Ara menetralkan pikirannya dengan olahraga pagi, lebih tepatnya lari pagi. Setelah salat subuh, Ara langsung bersiap-siap. Sejak kemarin Ara selalu memikirkan ucapan Kenzo. Entah apa maksudnya? Tak habis pikir karena Kenzo mendadak berubah di hadapannya.


Apa masalahnya jika dirinya menemui Vino sahabatnya? Bukankah Kenzo juga bukan siapa-siapanya? Ara memang sangat bersyukur karena Kenzo mau merawatnya hingga sembuh. Tapi, bukan berarti Kenzo harus ikut campur dalam urusannya.


“Alea, gue pergi olahraga dulu. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” pamit Ara yang sudah siap dengan celana training dan kaos olahraganya.


“Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” balas Alea memandang punggung Ara yang akan keluar dari rumah. Dia senang melihat Ara yang sudah mulai mengalami perkembangan sejak bersamanya.


“Semangat olahraga biar sehat, biar bisa hadir di pernikahan gue.” Alea berteriak dari halaman rumah.


Ara menoleh ke belakang mengacungkan jempol.


“Insyaallah, doain aja.” Ara berteriak membalas Alea yang tersenyum kepadanya. Rembulan sabit terbit di bibirnya mendengar teriakkan Alea sahabatnya.


Alea masuk kembali ke rumahnya, sedangkan Ara melanjutkan perjalanannya mengelilingi jalanan. Tak sengaja Ara melihat penjual tahu takwa oleh-oleh khas Kediri. Ara berhenti untuk menghampiri penjual tahu takwa itu.


Tak jauh dari tempat Ara berdiri, seorang anak kecil berlari hendak menuju ke penjual. Namun, sebuah motor melintas di hadapannya. Ara berlari menghampiri anak kecil itu sebelum motor itu melintas.


" Alhamdulillah ... Ara berhasil menariknya dalam pelukannya meski mereka terjatuh di tepi jalan setelah motor tadi melintas.


“Mama, Papa....” Anak kecil itu menangis dalam pelukan Ara. Para pengunjung juga melihat adegan yang baru saja terjadi.


“Kasihan, Mbak. Dia sampai nangis.”


Ara mengangkat anak kecil itu dan berusaha berdiri. Punggungnya terasa sakit akibat terkena jalan beraspal. Ara melihat siapa anak kecil yang masih menangis dalam dekapannya. Namun,


tunggu...wajahnya seperti tidak asing bagi Ara. Ah... sudahlah, benar kata para ibu-ibu kalau itu tidak penting! Sekarang anak ini harus diberi minum. Dia masih sangat terkejut. Tanpa sadar, Ara meneteskan air matanya. Dia tidak bisa melihat anak kecil itu terluka.


Kalau dia gagal pasti Ara sudah menyalahkan dirinya sendiri karena gagal menyelamatkan anak kecil di dekapannya.


“Cup-cup... Adik ganteng jangan nangis, ya. Minum dulu, ya, Dek. Nanti Kakak belikan es krim atau gak cokelat,” bujuk Ara sambil menghapus air mata anak itu dan membawanya ke tempat duduk yang tak jauh dari tempat tahu takwa.


Anak laki-laki yang diperkirakan berusia 4 tahun itu melihat sisa air mata di sudut mata Ara. “Kakak cantik, jangan nangis,” panggil anak laki-laki kepada Ara sembari mengusap air mata Ara yang masih tersisa. Kemudian, memeluk Ara kembali.


“Makasih, Adik ganteng namanya siapa?”


tanya Ara mengelus kepala anak lelaki itu.


“Langit Aldlick Plhanata,” jawab anak itu sembari mendongakkan kepalanya lucu dan mengusap pipi Ara. Ia tersenyum lebar menampakkan giginya.


“Nama Kakak, Arabella. Panggil aja Ara.”


Langit turun dari bangku dan langsung berlari menggeret Ara menuju penjual tahu takwa. Ara mengerti apa yang anak itu mau. Ara segera mengeluarkan uang untuk membelikan Langit tahu takwa.


“Langit mau tahu takwa?”


Langit mengangguk sambil mengedipkan matanya lucu. Saking gemasnya dengan tingkah Langit, Ara mencubit pelan pipinya. Sangat menggemaskan.


Aduhh Ara kek ibu" aja penyayang banget sihh.


Cocok gak nih Ara, kira-kira siapa Langit?


Ada yang tahu readers, mungkin ada yang pernah ngikutin sebelumnya


Selamat membaca para readers tercinta


Author back, sudah lama tidak lanjut makasih yang masih setia menemani author 🥰🥰