
POV Ara
'Cepatlah kembali sahabatku, baik-baik di sana tuntaskan tugasmu. Percayalah di sini aku merindukan canda tawamu'
Ara ," Seorang gadis memanggilku melambaikan tangan, aku menghampirinya membawa buku novel yang kubaca tadi
"Lihat deh, sebelah sana," Dia menunjuk sesuatu ,dahiku mengkerut mengikuti arah jari telunjuknya di kursi perpustakaan dekat rak buku
'Cowok batu'
'Dia pikir gue takut'
"Vano ganteng yah," Celutuk prisil memuji remaja yang tempatnya tak jauh di sebelah meja kami, masih asik memakai earphone dan buku digenggaman tangannya
'Ganteng dari mana, dari Hongkong'
'Muka batu ganteng haduh ...'
'Malah cemberut'
'Ngambek Mulu bisane'
"Tidak!" Kataku santai membaca kembali bukuku kulihat bibirnya mengerucut, aku diam memperhatikan wajahnya yang cemberut saat ini
'Emang bener kan'
'Oppaku lebih good'
'Manis sih iya'
'Hah.. apa Ara ingat'
'Mulut nih gak bisa ngetem'
'Udah Ara fokus buku loe'
'Gantengan Cha Eun woo'
"Ihh ganteng tauk," Dia tidak rela aku menjelekan pangerannya, walau kenyataannya begitu
******
Seorang gadis dengan sabar mendengarkan setiap perkataan gadis mungil di hadapannya, lawannya tak mendengar sang gadis. Janhany lagi memujinya, aku yakin Vino sudah memberikan dia sesuatu sampai dia memuji Vino tiada hentinya.
'Sabarkan aku tuhan..'
'Punya teman gini amat'
'Ngantuk kali ni anak'
"Gue pingen jadi pacarnya," Dia lagi gesrek otaknya, atau kena pelet cowok model fuckboy kayak Vano mau dipacarin
'What gue gak salah denger nih'
'Prisil bangun dong'
'Pake pelet paan sih dia'
"Bodmad," Balasku ketus asik membaca novel, Prisil berceloteh dari tadi menganggu kosentrasiku saja
'Apa untungnya buat gue'
'Baca buku lebih untung'
"Berisik!," Pemuda yang bernama Vano menatap tajam kearahku, aku hanya melihatnya sekilas kubiarkan tak ingin berdebat dalam perpus
'Kok gue, yang rame sapa sih'
'Minta dijitak nih cowok'
Tak lama bel masuk berbunyi, aku langsung menarik tangan Prisil membawanya keluar perpus, berjalan cepat menuju kelas jarak perjalanan butuh waktu 10 menit.
"Pelan-pelan,"
"DIAM!,"
Prisil tidak memahami suasana lagi genting, karena kesal ku bentak dia
Lantai kelas kami berada diatas butuh extra sabar aku dan Prisil menaiki tangga dengan cepat sebelum guru masuk.
Mengingat masa sekolahku yang dulu, menyisakan luka dihati bayang-bayang itu selalu menghantui.
Kini dia kembali menciptakan luka, orang yang pernah kuanggap sebagai sahabat memutuskan untuk pergi menjauh melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
"Kapan loe balik Sil?,"
"Cewek cerewet tapi sayang,"
Sikap manjanya selalu membuatku rindu gadis yang tak pernah menuntut apapun padaku, menerima kekuranganku.
Kadang kami menghabiskan waktu di di cafe membaca buku berdua ditemani secangkir teh dan roti sebagai camilan.
"Balik gue rindu," meneteskan air mata, menatap kosong
Bersambung.....