
#
Sudah beberapa bulan aku mengambil paket kursus membuat cake & pastry, sorenya aku bekerja paruh waktu direstoran cepat saji milik pamannya Sarah, pernah satu kali ibu menawarkanku untuk kuliah tapi aku menolaknya, karna aku tidak ingin menambah beban ibu, sudah cukup selama ini ibu membanting tulang untuk mencukupi kebutuhanku dan farel, sudah waktunya ibu mulai menikmati waktunya, menabung untuk bekal di hari tua nanti.
Gajiku di resto cukup untuk membayar uang kursus dan biaya hidupku sehari-hari, bahkan sesekali aku bisa mengajak farel jalan-jalan, membelikannya mainan atau nonton berdua di bioskop. Itu semua sudah terasa sangat cukup buat aku, ibu dan Farel. Aku hanya ingin suatu hari nanti aku bisa punya toko kue hasil buatanku sendiri.
#
Petikan suara gitar yang Reza mainkan memecah heningnya malam, meski suaranya tidak semerdu Mahen, tapi lagu "pura-pura Lupa" yang dia mainkan bisa menyentil sedikit rasa rindu pada seseorang yang kini tak ada kabarnya. Aska...berkali-kali mencoba mencari namanya lewat instagram,facebook,twitter, tapi banyak nama Aska yg ternyata bukan dia. Mungkin dia tidak menggunakan media sosial, mungkin dia sibuk dengan kuliahnya, mungkin dia sibuk dengan bisnis keluarganya.
"Nglamunin apa Fii?" Reza, mengacak pucuk rambutku pelan.
"Nggak kok, cuma menikmati suara kamu". Aku tersenyum
"Besok pagi kamu libur kan?" Ikut yuk!".
"Kemana?"
"Kesawah"
"Ngapain?"
"Belanja" Reza terkekeh.
"Ada yang pengan aku liatin ke kamu".
"Apa?" Aku menatapnya penuh tanya.
"Ada deh, kasih tahunya besok saja, sekarang kamu masuk sana, sudah mulai dingin nih, takut tergoda pengen meluk kamu".
"Rezaaaaaa...No". Aku mencubit lengannya.
Dia tertawa, lagi-lagi mengacak rambutku,berlalu menghilang dibalik jendela kamarnya.
#
"Mbak Fio ditunggu mas Reza tuh di depan, biar Farel yang nutup pintu belakang, sekalian Farel ke rumah paman ya mbak, mau PS sama Bagas".
"Ya sudah sana, tapi nanti sebelum dhuhur pulang, maem di rumah, jangan ngrepoti paman, mbak Fio sudah masak tadi".
"Siaaaap mbak". Farel berlari lewat pintu belakang, karna memang rumah paman hanya berjarak 5 rumah dari halaman belakang.
Reza berjalan mendahuluiku melawati pematang sawah, punggungnya lebih kokoh, tidak seperti lelaki yang beberapa tahun lalu selalu mengajakku melalui jalan setapak ini. udara masih terasa sangat sejuk karna memang sekarang masih jam 8 pagi, sesekali dia berbalik melihatku, mungkin dia takut aku tercebur sawah karna memang jalan setapak ini sedikit licin karna hujan semalam.
Kita berhenti di sebuah tanah yang tidak begitu lapang, kalau berjalan 100 meter lagi maka akan sampai di desa sebelah desaku, dulu di tempat ini Reza sering mengajakku mencari rumput untuk ternaknya.
"Kamu ingin rumah ini nantinya mengahadap kemana?"
"Deg..deg..deg.." seperti tersambar petir di pagi hari saat aku mendengar Reza menanyakan hal itu sambil menatapku tajam. Rumah?
"Kok diem?"
"Ehmm...maksudnya apa Za?" Ku beranikan bertanya.
"Bukankah aku pernah bilang akan membuat rumah diujung desa? Kamu lupa Fii. Lihatlah, aku hampir mewujudkannya. Mimpiku ada di depan mata, sebentar lagi aku akan menjadikannya nyata, tentu saja jika kamu menemaniku tinggal disini nantinya". Reza terus menatapku
"Tapi Zaaa?" Suaraku melemah
"Usiamu hampir 20th, dan bulan depan aku genap 21th, rumah ini kuperkirakan tidak lebih dari 2th sudah selesai, aku ingin bersamamu setiap hari Fii, setiap waktu". Dia menggengam tanganku.
"Aku melamarmu hari ini Fii, aku selalu menunggu saat ini tiba, perasaan yang selama tak pernah aku ucapkan, aku ingin mengatakannya hari ini Fii".
"Aku menyayangimu Fii, dari kamu yang dulu suka memanjat pohon jambu dihalaman rumahku, sampai kamu yang sekarang, setiap hari perasaan itu tidak pernah berkurang, bahkan ketika ada lelaki lain yang mencoba memasuki kehidupanmu, aku tak pernah mundur, tapi aku juga tidak menyerang dengan cemburuku, aku hanya bertahan untuk terus membuatku layak mendampingimu Fii. Aku memang bodoh, aku tidak sekolah, aku bukan sarjana yg bekerja dengan dasi dan laptop dimejanya, tapi aku tulus Fii, setiap melihatmu menangis hatiku seperti teriris. Aku ingin memelukmu, menggantikan setiap rasa sakitmu. Maukah kamu bersamaku disisa umurku Fii?".
Mata yang sedari tadi berkaca-kaca akhirnya tak mampu menahan laju airnya,tumpah. Reza mengeratkan genggaman tangannya, sebelah tangannya menghapus air mataku, mata yang berkaca-kaca itu tetap dalam pertahannya agar tak ikut menumpahkan air mata. Sebesar itukah perasaannya, bahkan setelah tahu pernah ada Aska diantara kami berdua?
"Zaaa" kuberanikan menatap matanya.
"Aku masih ingin membantu ibu, menyekolahkan seperti apa yang Farel cita-citakan, aku ingin punya sebuah toko kue, biar ibu tidak perlu lagi menyewanya di pasar, aku masih ingin....."
Reza menutup bibirku dengan satu jarinya membuatku berhenti bicara.
"Lakukan apa yg ingin kamu lakukan Fii, kejar mimpimu, aku tidak akan menjadi penghalang, justru aku akan membantumu, aku bukan orang yang baru mengenalmu satu dua tahun, aku mengenalmu bahkan disaat dunia melupakanmu, aku hanya ingin kamu ada disisiku Fii".
Tangisku kembali tumpah,entah perasaan apa yang sedang menari-nari dalam pikiran, kubiarkan Reza memelukku, untuk pertama kali dalam pelukannya yg begitu menenangkan, tapi aku masih belum tahu apa yang harus kujawab saat ini.
"Ibukku sudah tahu masalah ini Fii, aku bahkan sudah sering membicarakannya, ibu jugalah yang mengajariku untuk berusaha menjadi layak untukmu, tapi bapak, aku akan pelan-pelan bicara sama bapak".
#
Malam terasa begitu lama, karna mata tak juga tenggelam dalam peraduannya, harusnya aku bahagia, harusnya hatiku berbunga-bunga, tapi ada segurat mata yang selalu saja datang menyela. Mata itu...apa kamu baik-baik saja???
( Bersambung )
Agak kebawa suasana jadi pengen mewek...yuuuk aaah dikomen biar bapernya lebih dapet.
πππ