
#
Setahun sejak kepergian Aska, Fio dengan dibantu Reno mengambil alih bisnis supermarket yg sudah dikembangkan Aska bertahun-tahun lamanya. Meski sesekali Fio masih harus berkonsultasi dengan ibu dan bapak mertuanya, tapi kerja keras Fio setidaknya bisa mempertahankan perusahaan Aska agar tidak jatuh.
Fio memang bukan seorang pebisnis, tapi ilmu marketing dan jiwa pantang menyerahnya bisa menjadikannya setara dengan pebisnis muda lainnya.
Faraz dan Queen sudah duduk di kelas 10, mereka tidak lagi satu sekolah, tapi hubungan mereka masih berlanjut sampai sekarang. Mereka yg dulunya seperti tom and jerry, sekarang mereka seperti sahabat yg selalu ada untuk satu sama lain.
Queen yg tomboi sedikit-sedikit mulai berubah menjadi sedikit manja, rambut yg biasanya tak pernah panjang, kini panjang sepunggung, Queen bahkan menjadi salah satu idola disekolahnya.
Sementara Faraz yg mewarisi ketampanan Aska tak kalah dengan Queen, beberapa teman sekolahnya bahkan terang-terangan pernah menyatakan perasaan cintanya ke Faraz, tapi seperti Aska papanya dulu, tak satupun dari mereka yg mampu menaklukkan hati Faraz.
#
Setiap Week end, Fio dan Faraz menginap di rumah bu Aini, selain kondisi ibunya yg semakin tua, Bu Aini sekarang tinggal sendiri, Farel sudah bekerja di Jepang, sebenarnya Fio sudah menawarkan Farel untuk membantu perusahaannya, tapi Farel ingin mewujudkan mimpinya sejak di bangku SMA untuk bisa kuliah di Jepang. Beberapa tahun, dan setelahnya akan kembali ke Indonesia.
Fio yg usianya tak lagi muda, namun parasnya tak setua umurnya, banyak rekan bisnis almarhum suaminya yg tertarik dan ingin menikahi Fio. Tapi bagi Fio cinta bukan hanya sekedar nafsu untuk saling mengagumi fisik satu sama lain. Membalikkan hati untuk mencintai orang lain, tidak semudah membalikkan telapak tangan.
#
Fio membuka jendela kamarnya, membiarkan aroma hujan masuk menyentuh ruang sepi dalam dirinya, jendela kamar yg dibiarkan tetap dalam keadaan yg sama, meski rumah Bu Nurul sudah di renovasi beberapa tahun lalu.
Dan jendela yg sama juga di seberang sana, orang yg masih sama, orang yg begitu menjaga dan menghargai setiap perasaan yg pernah ia punya.
Reza...lelaki kecil itu sekarang tak lagi muda, bulu halus mengukir wajahnya, tangannya tidak rapuh karna usia, wajahnya yg manis dengan lesung pipit di sebelah pipinya, membuatnya tetap menarik meski tanpa penampilan nyentrik.
#
( Reza part )
"Kamu masih tetap cantik Fii, sayangnya senyummu yg dulu sudah jarang ku lihat lagi.
Apakah kamu juga merasa bahwa takdir berkali-kali mempermainkan kisah kita? Saat Aulia membuatku harus meninggalkanmu, saat Aska merebut hatimu dariku, saat Aulia pergi dengan meninggalkan Queen dan Aska melakukan hal yg sama dengan meninggalkan Faraz di sisimu".
"Kadang aku merasa lucu, kenapa kita harus menjadi sendiri sekarang, seandainya kita bersama sejak dulu, bukankah sampai detik ini kita masih bersama-sama? kamu tidak perlu sendirian merindukan Aska, dan aku tidak perlu sendirian merindukanmu.. Ya Fii...aku masih terus merindukanmu, tapi aku yakin, untuk menarik hatimu kembali kepadaku seperti dulu, tak akan mudah seperti dulu Fii, ada cinta Aska yg telah tumbuh dan hidup dalam hatimu, ada Faraz dan Queen yg semakin hari semakin dekat, seolah mengulang kisah kita dulu.
Apakah takdir akan sedemikian kejam, membiarkan aku sendiri sampai mati? karna aku tak mau orang lain, aku mau kamu Fii".
#
Hujan hanya meninggalkan gerimis.
"Heeiiii". Panggilan Fio membuyarkan lamunan Reza, Fio menunjuk gitar tua yg tergantung di dinding kamar Reza.
"Maukah kamu memainkan satu lagu untukku?". Teriak Fio dari jendela kamarnya.
Reza mengambil gitarnya, duduk kembali didepan jendela yg masih sama-sama terbuka.
Denting piano, kala jemari menari, nada merambat pelan, dikesunyian malam saat datang rintik hujan...bersama sebuah bayang..
yg pernah terlupakan....
Reza masih terus menyanyi, sesekali mencuri pandang ke arah Fio yg tersenyum menyandarkan kepala di daun jendela.
Mereka, jiwa-jiwa kesepian yg merindu masa dimana hanya ada mereka di halaman rumah, berbagi sepi, berbagi tawa.
Reza yg tak pernah bisa mencintai orang lain selain Fio, dan Fio yg begitu kehilangan Aska dan takut untuk kembali jatuh cinta.
"Cieeee bunda". Faraz tiba-tiba memeluk Fio dari belakang, mencium pipi bundanya yg kemerahan. Reza yg menyadari kedatangan Faraz menghentikan petikan gitarnya.
"hai Ayah...kenapa berhenti? Ayah keren..!"
Faraz mengacungkan jempolnya, masih dengan memeluk bundanya.
Fio yg merasa melu hendak beranjak pergi, tapi Faraz menahannya.
"Queen ngambeg Ayah, Queen minta di beliin mie ayam, tapi abangnya yg jualan libur, sekarang palingan lagi ngamuk di kamar".
Mendengar ucapan Faraz, Reza dan Fio tertawa, tingkah mereka mengingatkan Reza dan Fio dimasa muda.
"Ya sudah, Ayah nyusul Queen dulu". Reza takut Faraz semakin membuat mereka canggung, dia memilih Queen sebagai alasan meninggalkan jendela kamarnya yg tetap terbuka.
Fio duduk di ranjang, Faraz berbaring disebelahnya.
"Kayaknya Ayah sayang banget deh sama Bunda". Faraz mulai menggoda Fio.
"Apaan sih Raz, Ayah Reza emang dari dulu kaya giyu". Jawab Fio sambil mengusap rambut putra semata wayangnya.
"Kamu sama Queen gimana?". Fio membalikkan topik.
"Ah Bunda nggak asik, Faraz kan lagi ngomongin Bunda sama Ayah, kenapa jadi Queen?". Faraz cemberut.
"Kenapa Bunda nggak nikah saja sama Ayah". Pertanyaan Faraz membuat Fio terkejut.
"Faraz kenapa ngomong gitu? kalau papa denger, papa bisa marah, bunda nggak mau papa marah".
"Faraz udah gede Bun, nggak usah ditakutin kaya anak kecil gitu, Bunda sama Ayah masih saling suka kan?". Fio menggeleng, menyentil ujung hidung Faraz.
"Tapi Ayah sayang banget sama Bunda". Faraz mengubah posisi tidurnya.
"Siapa yg bilang begitu?".
"Queen Bun...Bahkan Queen tahu kalau Queen bukan anak kandung Ayah, Ayah nggak pernah cinta sama ibunya Queen".
"Faraz nggak boleh bilang gitu, perasaan Ayah tentu hanya Ayah yg tahu..Queen pasti bicara sembarangan".
"Oyaaa? trus rumah mungil di ujung desa yg sampai sekarang masih dirawat dengan baik sama Ayah dan sertifikat tanahnya atas nama Bunda apa itu juga bohong?".
Fio melongo tak percaya, Faraz tahu sampai sejauh itu.
"Sudahlah Faraz, sekarang kamu tidur, sudah malam". Fio mencoba menghentikan pembicaraan Faraz.
"Faraz pernah di ajak Ayah kerumah itu Bun, tapi sudah lama sekali, Faraz tahu, Ayah baik, sangat baik, dan cinta Ayah buat Bunda nggak akan bisa diganti oleh siapapun, Bahkan sebelum Papa meninggal, Papa nitipin Bunda ke Ayah, berarti Papa juga tahu, orang yg paling mencintai Bunda selain Papa adalah Ayah. Kasihan Ayah Bun, Ayah sudah terlalu lama nunggu Bunda".
Faraz memeluk Bundanya yg berkaca-kaca, semua tentang Reza yg sudah lama dicoba untuk dikubur menjadi sia-sia.
Faraz meninggalkan Fio sendiri di kamar, Faraz tahu, Bundanya butuh sendiri untuk mengingat kembali arti seorang Reza disepanjang hidupnya.
#
(Fio part)
Benarkah yg dikatakan Faraz? selama itukah kamu menjaga perasaanmu untukku? Aku bahkan bisa mencintai Aska dengan sepenuh hatiku, tapi kenapa kamu tidak Za?
Maafkan aku Za, bahkan untuk kembali padamu saat ini aku tak mampu, aku bukan Fio kecilmu yg dulu, ada Faraz, Queen, dan almarhum Aska yg tidak mungkin ku duakan begitu saja.
Maafkan aku Za...setidaknya kita butuh waktu yg lama untuk kembali bisa merasakan hal yg sama..
#
(besambung)
mohon maaf agak lama up nya...semoga masih tetap setia disini ya..
πππ
πππ