
#
Aktivitas pagi ini tidak begitu sibuk seperti biasanya, aku menangguhkan beberapa orderan cake karna sakit kepalaku dari semalam masih sedikit terasa.
"Kalau masih pusing istirahat dulu saja Fii, biar ibuk yg lanjutin".
"Ibuk nggak ke pasar?".
"Ibuk libur saja jualannya, biar ibuk yg gantiin kamu bikin pesenan kuenya". Aku mengangguk, setelah menghabiskan sepotong roti aku kembali ke kamar.
Satu pesan masuk, Aska.
"Kamu kesini jam berapa Fii?"
"Belum tahu Ka, mungkin seperti kemarin"
" Hari ini aku ada operasi, kamu kesininya besok saja, takutnya pas kamu kesini aku belum selesai"
" Baiklah kalau begitu, semoga operasimu hari ini lancar, cepet sembuh ya Ka".
"πππ"
#
"Fii, dicari ibunya Reza tuh diluar". Aku hanya mengangguk, aku berjalan melewati ibu yg masih menatapku.
"Fio.." ibu Reza menghampiriku.
"Kamu tahu dimana Reza?"
"Memangnya nak Reza kemana mbak?" Ibuku menyahut dari belakangku sebelum aku sempat menjawab.
"Dari semalam Reza nggak pulang, ponselnya nggak bisa dihubungi, dikandang juga nggak ada, bapak dari tadi uring-uringan, takutnya Reza pergi karna perjodohan itu". Mata ibunya Reza mulai berkaca-kaca.
"Maafkan ibuk soal perjodohan Reza, fioo". Beliau mulai terisak.
Aku mendekatinya, kupeluk menenangkannya, padahal jauh dilubuk hatiku lebih ingin mendapat ketenangan.
"Fio akan coba bantu cari Reza buk".
"Trimakasih Fio, sekali lagi maafkan ibuk" ibunya Reza kembali memelukku, kali ini lebih erat, lalu pamit pulang dengan pipi yg masih basah oleh air mata.
Aku masuk ke kamar, ganti baju dan mengambil ponsel, ibu menghampiriku.
"Kamu yakin mau bantu cari Reza, kamu kan sedang tidak enak badan?" Ibu membelai rambutku yg ku ikat ke belakang.
"Fio nggak papa buk, ini barusan minum obat sudah lebih mendingan, fio perginya nggak jauh kok buk, kayae fio tahu Reza kemana".
"Ya sudah, hati-hati kamu nduk, kalau pusing pulang saja"
"Ya buk, Fio pergi dulu, assalamualaikum"
"Waalaikusalam".
#
2 tahun yg lalu Reza melamarku ditempat ini, diatas tanah lapang itu sekarang sudah berdiri rumah minimalis yg hampir jadi, temboknya masih bata yg belum halus, tapi semua pintu dan jendela sudah rapat menutup bagian rumah itu, separo bagian dilantai atas masih terbuka, mungkin itu akan dijadikan perpustakaan kecil seperti apa yg Reza rencakan. Selama ini Reza tak pernah menceritakan perkembangan pembuatan rumah ini, karna menurut Reza aku terlalu sibuk dengan dapur sampai-sampai nggak ada waktu buatnya.
Dan ketika saat ini aku melihat dengan mata kepalaku sendiri sebuah mimpi yg Reza perjuangkan sendiri, aku merasa sangat bersalah, Reza terlalu gigih memperjuangkannya.
Aku mengelilingi rumah itu, semua tertutup rapat, hanya jendela kecil dari sebagian lantai 2 yg dibiarkan terbuka, apakah perasaanku benar jika Reza ada disini?
Tok...tok...tok
"Zaaaaa" aku mencoba memanggilnya berulang kali, mungkin aku sudah seperti orang gila yg teriak-teriak dirumah kosong, sepuluh menit aku masih disana, sampai kuputuskan untuk berbalik meninggalkan rumah itu.
"Ceklek".
Seraut wajah sayu muncul dibalik pintu, rambutnya berantakan, matanya sembab, dia hanya berdiri menatapku. Aku berjalan mendekatinya.
Dia menarik tanganku masuk lalu kembali menutup pintu dan menguncinya. Deg... Aku mengedarkan pandangan ke seluruh ruang, dua kamar di bawah, dua kamar kecil diatas, dapur persis berada dibawah tangga, sudah ada satu set sofa dan meja makan, hanya kamar tidur kulihat masih kosong, sebuah buffet kaca menjadi pembatas antara ruang tamu dan ruang TV, tidak besar, tapi aku suka penataannya, padahal kalau dari luar aku tidak tahu kalau didalam sudah ada sebagian perabotan.
Reza menarikku menaiki tangga, sebagian masih terbuka, udara cukup kencang karna disekelilingnya adalah area persawahan. Disatu kamar kecil yg jendelanya terbuka ada sebuah single bed, ada almari pakaian yg tidak terlalu besar.
Reza menarik sebuah bangku, mengajakku duduk disebagian area yg masih terbuka.
"Kamu tahu Fii, tempat yg kita duduki sekarang nantinya akan jadi perpustakaan kecil, aku akan menaruh sofa diujung sana biar anak-anak bisa membaca dengan nyaman, lalu kamar kecil itu akan kupakai saat tidur siang bareng anak-anak, kita tidak perlu kipas angin karna diatas sini udara sungguh segar".
"Zaaa" Aku memotong pembicaraannya, aku melihat matanya mulai berkaca-kaca, dia menggeleng tanpa menatapku, pandangannya jauh ke ujung persawahan yg dialiri sungai kecil.
"Kamu lihat kamar yg bawah tadi masih kosong?, Aku sengaja membiarkannya kosong karna aku ingin kamu yg memilih semua perabot dikamar kita, tapi aku menunggu kamu benar-benar siap aku bawa kesini Fii".
Reza menundukkan wajahnya, mendekap kedua lututnya, menyembunyikan isak tangisnya disana. Reza benar-benar menangis.
"Zaa" aku mengusap punggungnya, dia masih terisak.
"Sebaiknya kamu pulang, kasihan ibuk, ibuk nyari kamu kemana-mana, apa ibuk tidak tahu tempat ini?"
Reza menggeleng.
"Hanya kamu yg tahu tempat ini milikku, ibuk hanya tahu aku membeli tanah, tapi ibuk tidak pernah tahu kalau tempatnya bahkan tidak jauh dari desa kita".
Reza mulai menyeka sisa air diujung matanya.
"Harusnya aku malu Fii, aku seperti pecundang untukmu" Reza mengusap kasar wajahnya
"Tidak Za, bagiku kamu adalah orang pertama yg mau menerimaku, membuatku berani hidup setelah apa yg keluargaku alami, kamu pernah menjadi satu-satunya lelaki yg bisa aku percaya setelah perlakuan bapak kepada ibuk".
"Dan sekarang aku sungguh terlihat seperti pecundang"
Reza mengusap kasar wajahnya. Aku menghela nafas panjang.
"Jodoh, rejeki, maut, semua ditangan Alloh Zaa..kalau kamu seperti ini akan semakin banyak orang yg disakiti, ibuk, aul.."
"Jangan sebut nama itu" Reza sedikit membentak
"Aku tidak akan menikahinya Fii"
"Tapi bagaimana dengan bapak?"
"Biar bapak saja yg menikah sama dia, aku akan tinggal disini meskipun itu tanpa kamu Fii, dan kumohon jangan beri tahu ibuk".
"Nggak mungkin Zaa, sapi-sapimu siapa yg urus?"
"Itu biar jadi milik bapak, aku masih punya beberapa sapi ditempat lain yg aku percayakan ke orang tanpa sepengetahuan bapak".
Reza yg biasanya lembut, sekarang jadi keras kepala, bahkan aku tidak berhasil membujuknya pulang.
"Ya sudah kalau itu maumu, aku pulang" aku beranjak tetapi Reza menahanku.
"Aku mencintaimu Fii, melebihi diriku sendiri, melebihi semua yg aku miliki, kalau aku memang berarti untukmu Fii, beritahu apa yg harus kulakukan? Atau aku harus mati?"
Spontan aku menutup mulut Reza dengan tanganku, reza merengkuhku, mengecup keningku, lalu memelukku sangat erat".
"Biarkan seperti ini Fii, sebentar saja."
#
Setelah beberapa hari Reza belum juga pulang, setiap ditanya ibunya Reza aku hanya mampu menggeleng, aku berbohong, aku pembohong, tapi aku akan lebih tidak sanggup lagi melihat Reza menangis, biarlah saat ini Reza menangkan dirinya, karna dialah saat ini yg paling terluka.
Aku percaya ketika segalanya telah membaik, Reza akan kembali, Reza akan menjadi Reza kecilku yg dulu.
#
Satu pesan masuk, Aska
" Hei Fii, tidakkah merindukanku?"
"Hei Ka, gimana kabarmu?"
" Kukira kau melupakan janjimu menemaniku sampai sembuh"
"Maaf beberapa hari aku sibuk, nanti sore aku kesana"
"Oke...see you"
"See you too"
Satu pesan lagi masuk, Reza
"Aku butuh kamu Fii, aku hampir mati memikirkanmu"
"Kamu baik-baik saja kan Za?"
5 menit tidak ada jawaban, aku mencoba menelpon Reza
"Tut...tut...tut..." Disahut berkali-kali sahutan operator.
Rezaaaaa.
#
( Bersambung )
Trimakasih yg masih setia komen dan vote...semoga puasa hari ini lancar ya...πππ