"First"

"First"
part.7



#


Hoodie biru tua itu ditarik sampai pertengahan lengannya, celana jeans dengan warna yang hampir senada, kontras dengan wajahnya yang tirus dan kulit putih bersihnya ... perfect untuk cowok berusia 17 tahun


Dia tampak sedikit lebih dewasa dari umurnya, siapa yang menyangka dia selalu menyandang peringkat nomor satu di kelas. Penampilannya tidak layaknya seorang smart boy, bukan juga badboy ... entahlah! yang kutahu malam ini, dia tampak sempurna tanpa seragam putih abu-abu dan komik di tangannya.


"Kenapa diem, Fi?" Tangannya bergerak naik turun di depan mataku. โ€Hey ...!โ€ lanjutnya.


Seketika wajahku menghangat, mungkin jika kulitku seputih wajahnya maka akan tampak memerah karena menahan malu.


"Kaget aja tiba-tiba kamu ke sini," ucapku pelan.


"Nggak boleh?"


"Boleh"


"Cuma nyampein pesen dari nenek, makasih katanya. Kapan-kapan harus main ke rumah!"


"Iya, inget. Tadi nenek juga sudah bilang," sahutku agak ketus.


"Terus kapan main ke rumah?"


"Kan tadi baru ketemu?"


Aska tersenyum tanpa melepas tatapannya. Berkali-kali menyeka ujung dagu seolah-olah menutupi gugup diwajahnya. Aku pun demikian, mana berani aku berlama-lama beradu mata dengannya. Bukan hanya menusuk, mata itu seperti mengalirkan desiran hangat yang membuat seluruh tulang-tulangku lumpuh.


"Diminum, Nak Aska, tehnya! Maaf kalau ibu nggak bisa nemeni ngobrol, ibu mau ke rumah ibu RT sebentar." Bu Aini menyuguhkan dua gelas teh dan kue di meja.


"Ehm iya, Bu, maaf jadi merepotkan."


"Nggak repot, kok. Ibu malah seneng ada temennya Fio yang mau datang ke rumah. Ibu kira Fio cuma mau temenan sama Reza saja. Ya sudah dilanjutkan ngobrolnya." Ibu berlalu, ada mimik lain yang kutangkap dari tatapan mata Aska.


"Kamu punya pacar, Fi? tanya Aska kemudian.


"Temen, tapi temenannya sejak dari bayi," sahutku asal.


"Oya, cakep ?" Aska kembali bertanya dengan nada penasaran.


"Hm, manis!"


"Kamu suka?"


"Kamu mau main atau mau jadi wartawan?" Aska tersenyum, dia memegang cangkir teh di depannya, tapi hanya dipegang tanpa diminum.


"Aku mau main wartawan-wartawanan sama kamu, seru kayaknya." Lagi-lagi dia tersenyum, dan aku hanya bisa memasang muka cemberut.


"Dia sekolah di mana?" Belum sempat kujawab, wajah polos itu muncul di depan pintu.


"Tuh, orangnya datang, coba deh tanya sendiri! Masuk, Za ...!"


Reza yang sudah berdiri di depan pintu bergantian menatap Fio dan Aska.


"Maaf, nggak tahu kalau ada tamu. Aku pulang saja, Fi," kata Reza kemudian.


"Nggak papa masuk aja! Cuma temen sekolah, kok." Aku bergeser ke samping, memberikan tempat dudukku untuk Reza.


Aku melihat keduanya berjabat tangan, saling menatap. Mereka berdua terlihat canggung, apalagi denganku. Sampai beberapa menit semua diam. Aku juga tidak tahu bagaimana memecah keheningan, suasana terasa sesak, pengap.


"Mau keluar atau ngobrol di sini saja?" tanya Reza yang terlihat sedikit gugup.


"Kayunya ada, Za?"


"Banyak, Fi. Aku juga bawa ubi kesukaanmu, mumpung belum terlalu malam."


"Asik ...! seruku.


"Ayo, Ka, ikut." Kutarik ujung hoodie Aska untuk ikut keluar.


Hangat dari perapian dan ubi bakar menemani malam ini. Tempat aku dan Reza biasa berbagi mimpi dan cerita, malam ini ditemani Aska. Seorang laki-laki yang diam-diam selalu menarik perhatianku, senyumnya canggung, mata yang biasanya tajam menusukku itu kini hanya beradu di perapian. Aroma maskulin yang tidak begitu tajam masih tercium dihidungku.


Aska seoalah hanyut dengan pikirannya sendiri.


Reza kembali menyodorkan ubi bakar setelah lebih dulu membersihkan kulitnya untukku. Tanpa merasakan kalau ubi bakar itu masih panas aku langsung memasukkan ke dalam mulut.


"Huft panas!" seruku mengibas-ibas mulutku. Reza reflek menarik bahuku ke arahnya dan kini aku berhadap-hadapan dengannya, dia ikut mengibas-ibas mulutku dengan tangannya.


"Sudah!" Aku memalingkan wajah kembali ke perapian.


"Kebiasaan kamu, Fi, ditiup dulu harusnya!" Sejenak Reza mengusap atas rambutku lalu meniupkan sisa ubi bakar yang kutaruh tadi.


Aska memegang pundakku, lalu berdiri.


"Aku pulang dulu, Fi," ucapnya.


"Lho, kok? Ehm nggak dimakan ubinya?"


"Makasih, kapan-kapan aku mampir lag. Yuk, Za, pulang dulu." Aska melambaikan tangan ke arah Reza, Reza membalas lambaian tangannya.


Aku mengekor Aska, mengantarkannya sampai tempat parkir. Aku sedikit tahu alasan Aska tiba-tiba pamit, ah, mungkin itu hanya perasaanku saja!


Aska menghidupkan motornya, memandangku, dan sekejap tangannya mengusap atas rambutku.


Deg ...


Hal yang sama yang dilakukan Reza tadi, tetapi kali ini jantungku ini tiba-tiba ingin meloncat dari tempatnya.


"Begini ya Reza biasa mengusap rambutmu?" Aku tak sempat mengelak, entah kenapa. Tajam matanya membungkam semua gerakku.


"Makasih untuk malam ini, besok pulang dari pasar aku jemput kamu. Kita ke rumah nenek." Aska berlalu tanpa ingin tahu jawabanku.


Aku masih bergeming, sampai Reza menyerukan namaku. Aku berjalan kembali ke samping perapian, berjuta perasaan beterbangan seperti kunang-kunang yang menghujani malam.


"Sepertinya aku punya saingan," gumam Reza perlahan.


"Hah?" Aku menoleh ke arah Reza yang masih membolak-balikkan kayu bakar agar apinya tetap menyala dengan cukup.


"Gadis kecilku benar-benar sudah besar sekarang." Reza tersenyum tipis.


Aku masih meliriknya, dia sungguh masih sama. Dia tidak mau bertanya lebih tentang apa dan kenapa, Dia tidak mau membuatku mengulang tentang hal yang sedikit banyak sudah diketahuinya.


Entah itu rasa sakit atau rasa suka. Reza adalah makhluk sederhana. Dengan ketulusannya , dia mampu menjadi seseorang yang berdiri di sisiku selama ini, membuat mimpi bersamaku satu hari nanti.


Sementara aku tak pernah tahu perasaanku, yang aku tahu hanya aku nyaman, aku tenang, dan bahkan kadang-kadang aku merindukan kehadirannya.


Aska ... 2 tahun mengenalnya, hanya kekaguman semata atau ada perasaan lainnya?


Tuhan ... bolehkah aku serakah?


###


Bersambung


Bantu komen ya, biar authornya semangat nulis..


Terima kasih๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜