"First"

"First"
part.24



#


Sejak kejadian itu Aska melarang Fio pergi ke rumah ibu, kalau ibu atau Fio kangen, Pak Amin supir Aska akan menjemput ibu untuk berkunjung ke rumah Aska, bukan takut dengan Aulia, tapi Aska tidak mau lagi melihat istrinya menangis hanya karna masalah yg jelas bukan kesalahan Fio. Pernah Aska meminta ibu pindah rumah, Aska akan membelikan ibu Rumah yg letaknya jauh dari perempuan itu, tapi ibu menolak, rumah itu adalah rumah peninggalan orang tuanya, satu-satunya kenangan bu Aini dimasa kecilnya. Akhirnya Aska mengalah, tapi rumah itu tetap harus direnovasi karna suduh cukup tua dan juga usaha kue ibu yg semakin berkembang membutuhkan tempat yg lebih luas.


Hari ini ibu datang ke rumah Aska, ibu dan Nenek asyik ngobrol didepan tv, Fio sedang membuat makan siang di dapur, padahal baru jam 10 tapi Fio sudah mulai memasak karna bik inah hari ini minta ijin menghadiri wisuda salah satu anaknya. Hari ini Aska juga janji makan siang di rumah, jadi sebisa mungkin semua harus matang sebelum Aska pulang.


Fio merasakan sedikit mual saat mencium aroma bawang yg disangrainya, lama-lama semakin mual, keringat dingin mulai membasahi dahinya, Fio mematikan kompor lalu setengah lari menuju kamar mandi bawah.


"hoek...hoek...hoek" Fio memuntahkan semua isi perutnya.


"Kamu kenapa Nduk, wajahmu pucat keringetan gini". Ibu mengusap keringat Fio, Fio sudah menyandarkan dirinya ditembok kamar mandi.


"Nggak tahu buk, tadi juga nggak papa, ini tadi cuma mual gara-gara bau bawang". Fio mengatur nafasnya.


"Jangan-jangan kamu hamil Nduk". Fio mulai mengingat-ingat hari terakhir menstruasi.


"Baru telat satu minggu buk". jawab Fio


"Sudah periksa?". Fio mengeleng.


"Ya sudah ibuk ke apotik dulu beli tespek, kamu istirahat dikamar, masaknya nanti biar ibuk yg lanjutin".


"Biar diantar Pak Amin bu Aini" Nenek muncul dari ruang tengah membawa minyak angin.


ibu aini mengangguk lalu segera pergi.


"Ayo kekamar Fii, biar Nenek oles minyak angin".


"Makasih Nek, Fio bisa sendiri". Fio menerima minyak angin dari Nenek lalu masuk ke kamar atas, Fio mulai mengusap perutnya.


"Benarkah aku hamil? apa benar ada kamu di perutku Nak?" Fio merebahkan tubuhnya dipinggir ranjang, kepalanya mulai pusing, mualnya mulai datang lagi dan Fio berakhir duduk di kamar mandi karna lemas isi perutnya habis di closet.


Ibu datang membawa obat penghilang mual dan tespek.


"Obatnya diminum dulu nduk, setelah itu kamu tes pake ini, tahu caranya kan?". Fio mengangguk menelan sebutir tablet lalu pergi ke kamar mandi. Membaca cara pemakaian lalu memasukkan alat itu ke dalam wadah air seninya, muncul garis dua, Fio tersenyum bahagia sampai meneteskan air mata.


"Gimana nduk". Bu Aini menghampiri Fio yg baru keluar dari kamar mandi, Fio mengulurkan tespec ke ibunya.


"Alhamdulillah nduk, kamu akan menjadi ibu". Ibu memeluk Fio, saking senangnya akan menjadi Nenek.


"Sekarang kamu istirahat, biar ibuk yg lanjutin masaknya, sebentar lagi Aska pulang".


Ibu menuruni tangga, dan benar, Aska muncul didepan pintu, padahal baru jam sebelas, tapi entah kenapa dari tadi Aska sudah ingin cepat pulang.


"Fio mana buk".


"Dikamar Ka, kurang enak badan". Mendengar Fio kurang enak badan Aska segera berlari masuk ke kamar.


"Sayaaaaang". Aska mendekati Fio yg terbaring di ranjang.


"Heeeiiii kamu kenapa pucat gitu, periksa yuuk". Aska mencium kening istrinya.


"Nanti saja, Fio nggak papa".


"Kata ibuk kamu nggak enak badan".


"Iya karna kamu".


"Kok karna aku?".


"Kamu mintanya terus-terusan jadinya...." Fio berhenti ngomong.


"Jadinya apa sayaang, jadi kecapean gitu?, atau jadi keenakan?" Fio mencubit perut suaminya.


"Aaaoow...sakit". Aska merebahkan tubuh disamping Fio.


Fio menggeser tubuhnya, meraih tespec dimeja, menyerahkannya ke Aska.


"Ini...ini beneran sayang? kamu hamil?" Fio mengangguk, Aska menarik Fio dalam pelukannya, semakin erat dan bertambah erat sampai Fio merasa sesak.


"sakiiiit Mas..".


"Trimakasih sayang, trimakasih sudah mengandung anakku".


"Anakku juga Mas".


"Oh iya, bikinnya kan berdua". Fio lagi-lagi mencubit perut Aska. Aska tertawa, mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.


"Reno tolong kamu cek laporan yg baru masuk tadi dari cabang di Semarang, aku nggak bisa kembali ke kantor, istriku nggak mau di tinggal". Aska mematikan ponselnya tanpa mendengar jawaban dari seberang.


"siapa yg nggak mau ditinggal Mas, aku buat alesan kamu bolos ya". Bibir Fio mengerucut


"Kan aku bosnya, boleh dong sekali-kali bolos, pengen temenin anakku dulu, kamu juga se..."


"Hoek...hoek....hoek.." Belum sampai Aska selesai bicara Fio sudah lebih dulu berlari ke kamar mandi. Aska mengikutinya, memijit pelan tengkuk Fio yg masih mencoba mengeluarkan isi perutnya.


"Mas Aska keluar saja, nanti jijik liat akunya muntah".


"Aku nggak jijik sayang". Dengan telaten Aska memijit dan menepuk pelan tengkuk Fio sampai Fio merasa lebih baik.


" Hari ini kita ke dokter ya".


"Besok aja Mas, Fio capek".


"Aku nggak tega liat kamu gini sayang, pokoknya harus ke dokter, kalau kamu capek biar aku gendong nanti". Aska merebahkan Fio, lalu diduduk disampingnya.


"Jangan nakal ya Anaknya Ayah, kasihan Bundanya sakit". Kata Aska mengusap perut Fiona yg masih datar.


Ayah, Bunda? Fio membayangkan panggilan itu akan segera tersemat dalam dirinya dan Aska, perasaan lain yg tak pernah dimiliki sebelumnya menyentil bagian terkecil hatinya.


#


Awal kehamilan Fio yg berat, morning sicness yg setiap hari didapatnya membuat Aska sedikit protectif pada Fio, bik inah tidak dapat jatah libur dengan konsekuensi Aska menaikkan gaji bi inah 2x lipat, ibu juga lebih sering berkunjung ke rumah Fio, hanya sekedar untuk membuatkan makanan yg Fio pengen, dan jangan ditanya perubahan sikap bu Siska ketika tahu menantunya hamil? dia mengirimkan berbagai model baju hamil yg banyak selali jumlahnya, menelpon Fio setiap hari untuk menanyakan kabar cucunya yg bahkan baru berusia 8 minggu dalam kandungan Fio. menurut Fio semua menjadi lebay sejak Fio hamil, tapi bagaimanapun itu bentuk perhatian dan kasih sayang mereka kepada Fio, Fio bersyukur dikelilingi orang-orang yg mencintainya dengan tulus.


#


Di lain tempat...


"Sakiiiit buuuuk". Aulia mengenggam tangan ibu Reza yg masih setia berdiri disampingnya, mengelap keringat di dahinya dan memberikan kekuatan pada Aulia yg sudah hampir 8 jam merasakan kontraksi. Sebenarnya dokter sudah menyarankan untuk operasi selain kondisi aulia yg kurang baik, kondisi janin didalam perut Aulia sungsang dengan kepala diatas, tapi Aulia menolak dengan alasan takut operasi.


Reza dan Bapak menunggu diluar, meski itu bukan darah dagingnya Reza tetaplah berstatus suami sah Aulia, ada rasa tanggung jawab yg harus diselesaikannya.


10 jam...


12 jam...


Air ketuban Aulia sudah pecah, tapi pembukaan tak juga bertambah, Dokter segera melarikan Aulia ke ruang operasi.


"Bapak Reza". seorang perawat memanggil Reza.


"Tolong tandatangan di sini, ibu Aulia harus segera dioperasi".


Reza segera tanda tangan, wajah panik tampak di wajah ibu, seorang dokter meminta Reza masuk ke dalam ruangannya.


"Saya akan segera mengoperasi istri anda Pak, kondisi istri anda tidak baik, berdoalah, kami akan berusaha semaksimal mungkin menyelamatkan keduanya". Reza mengangguk, dia sedikit mengerti maksud perkataan dokter tadi.


Reza bergabung dengan ibu dan bapak yg sudah menunggu didepan ruang operasi, Reza duduk di kursi panjang menyangga wajah dengan kedua tangannya. Pikirannya melayang, apakah ini akan menjadi awal atau sebuah akhir?


"Tuhan tolong segera beri jawaban".


#


#


#


Tinggalkan like dan komen ya, sebagai bentuk apresiasi kalian buat author...thanks


😘😘😘😘😘