"First"

"First"
part.5



#


Bel panjang berbunyi..


"Kumpulkan lembar ujian kalian". Seru pengawas ujian lantang


Legaaaa,seminggu lebih menghadapi UKK,kini saatnya melepaskan beban berat itu,beberapa hari lagi aku akan naik kelas 12,optimis pasti naik mengingat nilai-nilai yg selama ini kudapat sudah lebih dari cukup untuk menjadi acuan standart nilai rata-rata kenaikan kelas. Sarah memelukku erat,luapan rasa lega yg tidak bisa diekspresikan lewat kata.


"Fii,ke kantin yuk".


"Males ah Sar,tadi dibawain bekal ibuk".


"Ayolaaaah,aku traktir". Rengek Sarah.


"Trimakasih cantik,tapi beneran akunya bawa bekal,sayang kalau nggak dimakan".


"Ya udah,aku ke kantin bentar ya,awas lho sendirian di kelas takut ada setan". Sarah mencubit pipiku lalu berlari meninggalkanku sendiri. Sarah salah satu orang baik yg selama ini disampingku,sikapnya yg ceplas ceplos,tingkahnya yg lucu cukup menghiburku.


"Sendiri Fii..? Tumben nggak barengan Sarah?".


Deg..seperti mimpi dia tiba-tiba duduk di depanku,tajam matanya seolah mengintimidasiku,setelah membelikanku jus saat itu dia tidak pernah lagi menyapaku,dia kembali ke sosoknya yg dingin dan angkuh.


"Aku punya buku nih,kamu suka novel kan? Lumayan bisa ngisi waktu habis ujian". Dia menyodorkan sebuah buku novel,matanya masih lekat menatapku.


"Hmm". Gumamku,membaca judul novel itu.


"Kok cuma gitu jawabnya?"


Aku menatap matanya,mencoba beradu pandang,dan sungguh,aku sungguh tidak bisa menatapnya lama. Dia menyentuh lenganku,beranjak dari duduknya pindah ke bangku paling belakang. Sepertinya dia tahu,sepertinya dia bisa membaca apa yg terjadi saat mata kami beradu tadi. Reza...tiba-tiba wajah itu menyela,mengisyaratkan bahwa dia tak ingin ada perasaan yg sama selain untuknya,seperti aku meminta senyumnya hanya untukku.


"Besok kalau sudah selesai ku kembalikan,terimakasih novelnya". Kuberanikan menyapa,untuk meyakinkan bahwa perasaan itu hanya biasa..


"Hhmm" jawabnya singkat tanpa menoleh kearahku.


"Dasar". Gumamku lirih.


#


Hujan menyapa,tanpa jeda,tanpa rasa. Malangnya,payung yg biasa ada ditas tadi pagi lupa kubawa. 20 menit menunggu,tak juga reda,suasana sekolah mulai sepi,hanya tinggal beberapa anak yg mungkin sama denganku,melupakan payungnya..


"Huufffh..". Kuhela nafas panjang,menadahkan tangan,membiarkannya sedikit basah oleh hujan yg masih menghujam bumi.


"Belum pulang?". Aska berdiri disampingku.


"Hujan". Sahutku spontan.


"Sudah tahu".


Aku menoleh,dia segera membuang muka,menyebalkan sekali,kenapa harus tanya kalau dia sendiri tahu jawabannya.


Dia ikut menadahkan tangan,melentikkan jari2 tangannya yg panjang.


"Mau pulang bareng?"


"Nggak usah,aku nunggu hujan reda,takut ngrepoti kamu lagi".


"Yakin..?"


"Hmmm".


"Kenapa?" Tanyaku penasaran


"Pengen main hujan-hujanan sama kamu".


"Deg..deg.." jantungku bergetar,sedikit lebih cepat dari biasanya. Belum sempat menjawab dia sudah menarik tanganku,menarikku kuat mengajakku berlari menembus hujan sampai ke parkiran motor di belakang sekolah.


"Kamu gilaaaa". Kupukul lengannya dengan tas sekolahku yg sudah hampir basah semua. Dia hanya tersenyum,mengeluarkan jas hujan dari dalam jok motornya.


"Pakailah,kuantar pulang".


"Nggak mau". Jawabku singkat


"Sudahlah,sebentar lagi petang,sudah tidak ada angkot yg jalan,kamu mau jalan kaki sampai rumah".


Aku diam,pulang bareng aska,atau pulang jalan kaki...aaaahhhh...pilihan yg sulit.


"Pakailah,atau mau beneran main hujan-hujanan?".


Tak ada pilihan yg lebih baik selain pulang bersamanya. Hujan semakin lebat,jas hujan tak bisa sepenuhnya menutupi derasnya hujan yg menusuk kulit,gaduhnya ikut berlarian,menghangat dalam raga yg basah,dalam jiwa yg dilema rasa..apakah ini..?


Motor berhenti tepat di depan rumah,ia ikut menepi ke teras,menungguku melepas jas hujan sambil terus menatapku.


"Kamu manis Fii". Ucapnya nyaris tak terdengar,karna suara hujan lebih keras dari ucapannya.


"Apaaaaa...nggak denger?". Jawabku pura-pura


Dia tertawa,melipat rapi jas hujan yg kuulurkan kearahnya.


"Siapa Fii..?". Ibu membuka pintu menghampiriku.


"Ehm..saya Aska Buk,teman sekelas Fio". Jawabnya sambil mengulurkan tangan menyalami ibuku dan mencium punggung tangannya.


"Oh..masuk dulu yuk Nak Aska". Ajak ibu


"Makasih Buk,sebentar lagi gelap,Aska mau pamit sekalian,takut ibu kuatir di rumah".


"Kalau gitu,makasih ya Nak Aska sudah mengantar Fio pulang".


"Iya bu..Aska pulang dulu..Assalamualaikum". Aska bergegas menghidupkan motornya,berlalu membawa sejuta tanya tentang kenapa dan ada apa dengannya yg berubah tiba-tiba.


Sementara diseberang sana,sekali lagi aku harus melihat senyumnya nanar,lembut mata yg biasa mendamaikan seperti terusik oleh kekecewaan.


Aku mencoba melambaikan tangan menyapa,tapi deras hujan memburamkan ketulusan yg selalu kulihat diwajahnya. Sekilas nampak dia kembali tersenyum,lalu berlari menembus hujan menghampiriku..


"Ya ampun Za,kok malah hujan-hujanan".


"Aku merindukanmu gadis kecilku". Ucapnya lalu mengusap atas rambutku,lalu kembali berlari menembus hujan.


"Masuklah,bajumu basah". Setengah berteriak dia berlalu pulang..


Dua orang yg berbeda,dua orang yg saat ini mencuri sedikit dari hariku..sungguhkah aq bisa mengerti arti dari semua ini?


Reza,Aska, apakah mereka akan sama seperti bapakku nantinya?? Kembali bulir bening mengalir,ada sedikit nyeri yg datang begitu saja,wajah paruh baya itu seolah tak henti-hentinya menoreh luka,bahkan disaat ini,saat raganya tak ada disini,dia dengan segala haknya atas darah yg mengalir ditubuhku membuatku terus ragu,bukan hanya ragu,aku takut atas setiap harapan yg coba mereka tawarkan,aku takut atas perasaan yg coba mereka hidupkan..seandainya kamu bisa memberikan aku jawaban untuk semua ini "Pak".


Malam semakin dingin,mengatupkan letih jiwa yg masih saja terus mencari arti tentang sebuah rasa..


(Bersambung)