
Pov Reza
Gerimis turun malam ini, tak begitu deras, tetapi cukup membuat bumi menggigil. Resah belum juga pergi, resah yang datang dari sejak aku mendengar suara keributan dari rumah Fiona.
”Fi, kamu baik-baik saja, 'kan?” gumamku lirih.
Hingga detik ini aku masih bisa mendengar suara bapak Fiona meski samar, suara makian dan umpatan yang sering muncul setiap kali pak Dimas pulang.
Praaaanggg!
Aku mendengar dengan jelas suara seperti benda jatuh dan saling bertabrakan.
'Apa yang terjadi, Fi,' teriak batinku ingin lekas tahu apa yang terjadi, yang aku khawatirkan adalah Fiona dan Farel, tetapi apa yang bisa aku lakukan untuk mereka? aku hanya bisa berdoa mereka bertiga baik-baik saja.
Tak lama kemudian kudengar suara motor pak Dimas berlalu. Aku membuka jendela kamar, melihat jendela kamar di seberang yang tertutup rapat. Semburat cahaya kecil mengintai keluar, tanpa suara--sunyi.
Aku sedang mencoba menerka, 'sedang apa Fiona, apakah dia menangis?' Andai aku bisa berlari menyapa seperti biasanya, membuatnya tersenyum dan sesekali merajuk, mungkin saat ini semua akan terasa lebih baik. Namun, aku bisa apa? Selain hanya berharap semua bisa kamu lewati tanpa air mata.
”Sabar, Fi. Kuatkan hatimu, tunggulah! Aku akan membawamu keluar dari sana satu saat nanti,” gumamku lirih.
Aku mengambil gitar kesayanganku, gitar yang kubeli beberapa waktu lalu. Fiona yang memilihkannya untukku, ia sering memintaku untuk memainkan lagu-lagu kesukaannya. Dan aku selalu melihatnya tersenyum saat ia ikut bernyanyi diiringi petikan gitar itu.
”Dan bila esok, datang kembali, seperti sedia kala dimana kau bisa bercanda dan ... perlahan kau pun, lupakan aku ....”
Suara jendela kamarnya terbuka, aku melihat Fiona tak bisa menutupi sembab di wajahnya meski ia tersenyum tipis menatapku.
Ingin rasanya berlari memeluknya, mendekap erat sambil mengusap rambutnya lalu berkata, ”tenang, Fi. Ada aku, semua akan baik-baik saja.”
Namun, semua itu tak mungkin, karena itu hanya akan menambah pedih dalam hatinya. Dan aku tahu, ia benci orang lain tahu kalau ia menangis. Ia tidak suka dikasihani.
Aku hanya bisa untuk terus menyanyikan lagu itu tanpa kehilangan bola matanya. Aku ingin ia tahu bahwa aku bisa merasakan apa yang ia rasakan, aku ingin ia tahu aku selalu ada untuknya.
Selesai lagu itu, aku perlahan mendekat. Wajah Fiona masih sembab, bibirnya mengerucut, tatapannya membuatku sangat sakit. Kucoba tersenyum seperti sedang tidak terjadi apa-apa. Lalu ia kutanya kenapa belum tidur? ia hanya bilang kalau aku berisik dan membuatnya tidak bisa tidur.
ingin sekali menyentil ujung hidungnya, karena ia sangat lihai dalam menyembunyikan perasaan, sampai saat ia meminta obat pereda nyeri.
'Sial, apa yang aku takutkan benar-benar terjad,' batinku.
Aku segera berlari kembali ke kamar, mengambil obat yang Fio minta. Ya, sejak beberapa bulan lalu aku menyimpan obat pereda nyeri yang sama dengan obat yang sering ia minum. Aku sengaja menyimpannya, karena pernah satu saat ia tiba-tiba pingsan setelah sebelumnya mengeluh sakit kepala, dan yang menyedihkan lagi, aku belum bisa membuatnya 'mau' untuk periksa lengkap kesehatan di rumah sakit, ia terus saja menahannya sampai sekarang.
Aku mengusap atas rambutnya, memastikan obat yang diminumnya tidak melebihi dosis. Usai itu, kututup jendela kamarnya dan dengan berat hati kutinggalkan ia sendiri.
☘️
Sudah dari subuh aku harus pergi ke kandang, melewatkan waktu berangkat sekolah Fiona pagi ini. Hanya dengan melihatnya berlalu sudah membuatku sedikit meredamkan rindu. Entahlah, aku tak bisa melewatkan sedikit pun waktu untuk tidak memikirkannya. Namun, aku tak mampu mengatakan semua itu padanya. Pengecut, bukan?
Hingga siang itu, sebelum zuhur. Aku melihat Fio pulang diantar seorang lelaki, sepertinya teman satu sekolah, dan ia lelaki pertama yang kulihat berani ke rumah Fiona.
Ingin rasanya bertanya, siapa dan kenapa. Namun, tatapan mata Fiona saat melihat lelaki itu jelas tak sama seperti saat Fiona menatapku.
Fiona melirikku setelah lelaki itu berlalu. Ada rasa perih yang tiba-tiba hadir. Apakah karena laki-laki itu? Atau karena aku sendiri yang tidak bisa berjalan mendekati Fio seperti biasanya. Fiona melambaikan tangannya, mengulas senyum tipis di wajahnya yang pucat. Ia menghilang di balik pintu rumahnya.
☘️
Tiga hari ini seperti memegang bom waktu yang siap meledak setiap saat. Aku tahu Fiona sakit, tetapi kenapa kaki ini masih berat untuk melangkah, kenapa bayangan mereka berdua selalu saja membuat gelisah, ”siapa dia? Aku merindukanmu, Fi. Sangat merindukanmu.”
Sampai di satu senja yang merona tanpa gerimis. Aku mendengar pak Dimas bicara dengan Fiona, sangat jelas terdengar dari kamarku. Tak berapa lama kemudian, pak Dimas pergi begitu saja membiarkan Fiona menahan isak sendiri, ya, Fiona yang kembali terluka saat bapaknya memutuskan untuk pergi dari rumah dan melarang Fio untuk mencarinya.
Aku membuka jendela kamar, Fiona masih terisak, kupaksakan diri untuk tersenyum dan berjalan menghampirinya.
”Hei, kamu tidak merindukanku?” sapaku pelan.
Kantung mata Fiona sedikit bengkak, masih ada sisa air mata di sana, ingin rasanya segera mendekap erat, karena aku tak sanggup melihatnya sedih sendiri. Namun, bagaimana bisa? ’Aku belum layak untukmu, Fi. Aku tengah berusaha memantaskan diri untuk memelukmu, memilikimu, mengambil semua bagian rasa sakit itu.’
Aku hanya bisa di sisi Fiona dengan cara seperti ini. Membuatnya kembali tersenyum dengan caraku, menjaga agar air matanya tidak banyak tertumpah. Aku berharap satu hari nanti air mata itu jatuh untuk menangisi kebahagian hidup.
”Senyumnya buat aku saja,” teriaknya, mempercepat ritme jantungku berdetak sampai hampir meledak.
’Pasti, Fi. Aku sudah terlalu lama ingin mendengar kamu mengatakan itu,’ jawabku dalan hati, berharap dia tak mendengarnya. Ada hangat yang tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuh. Entah karena apa.
Gadis kecilku sudah besar. Fiona bukan lagi anak kecil yang hobi memanjat pohon jambu di belakang rumahku, ia bukan lagi gadis kecil yang mengekorku, melewati petak-petak sawah, menemaniku bermain dengan sapi-sapi kecilku.
Kubuka nakas di samping lemari bajuku. Ada foto berukuran 3x4 yang kuminta saat acara lulusan SD 5 tahun lalu. Masih wajah yang sama, wajah yang membuatku bermimpi memberinya kehidupan yang berbeda dengan apa yang dia rasakan dalam hidupnya selama ini.
Sebuah buku tabungan biru itu kubuka. Aku tersenyum melihat angka yang tertera di sana. Angka yang kuharap terus bertambah untuk bisa secepatnya membuat Fiona berhenti mengeluarkan air mata sedihnya. aku hanya ingin Fiona bahagia, itu saja.
”Tunggu aku, Fi. Bertahanlah untukku!”
☘️☘️