
#1
Lelaki kecil bertelanjang dada itu berlari menghampiriku. Sudut bibirnya tertarik ke atas seolah memintaku untuk ikut tersenyum ramah. Ia lalu bercerita tentang gembalaannya yang baru saja beranak.
”Suatu saat aku akan memiliki sapi yang sangat banyak,” katanya. Pandangannya ke atas, menembus langit yang remang oleh cahaya bulan.
”Hm, benarkah?” jawabku singkat sambil membetulkan kursi kayu yang terletak di halaman rumahku juga rumahnya.
”Iya, dan aku akan merepotkanmu setiap hari, karena kamu yang akan bertugas membantu memberinya makan, membuatnya gemuk dan berkembang biak dengan cepat,” lanjutnya yang kini sudah melirikku sambil mengulas senyum manisnya.
”Oya, kenapa aku?”
”Tentu saja kamu, karena aku tidak mau yang lain.”
Aku hanya tersenyum, wajah polos itu berumur satu tahun lebih tua dariku. Kita satu sekolah saat masih duduk di sekolah dasar. Sayangnya setelah SMP dia enggan melanjutkan sekolah karena dia paling malas disuruh belajar.
Tak lama kemudian ia mematikkan api ke dalam tumpukan kayu bakar, menancapkan kayu di samping perapian. Dengan telaten membolak-balikkan sepatu sekolahku yang basah karena hujan sore tadi. Ya, dia suka sekali membantuku mengeringkan sepatu jika basah, karena dia tahu itu satu-satunya sepatu milikku.
”Gimana sekolahmu hari ini?” ucapnya sambil menata. Hanya sebentar lalu pandangannya kembali ke perapian.
”Ada guru tampan di kelasku. Kalau dinilai dari 1 sampai 10, bisa dapat 8, tuh, pak guru," sahutku, menyangga dagu dengan kedua tanganku.
”Oya ...?” Ia tampak cemberut. Sudut bibirnya meruncing seakan ingin mengumpat, tetapi justru terlihat lucu dan membuatku gemas wajahnya. Aku tersenyum.
”Apa kamu tidak membaca suratku?”
”Owh, itu. Kenapa harus kujawab? Bukankah setiap malam kamu kemari? Dan lihatlah! Jendela kamar kita berhadapan dan terlihat dari sini, bukankah aneh jika tiba-tiba kamu kirim surat ke aku?” sahutku cepat.
”Sudahlah, bawa kemari kalau kamu tidak mau membacanya biar ku bakar,” rajuknya dengan ekspresi wajah yang kembali lucu tapi tidak mengurangi ketampanannya.
Mungkin dia sedikit emosi, tetapi wajah polos itu tak pernah mau mengekspresikan kekesalannya di depanku, berkali-kali aku membuatnya kesal, tetapi dia tidak sekalipun absen menyapaku, apalagi mendiamkanku.
”Masuklah! Sepatumu sudah kering, kerjakan PRmu lalu tidur.
Jangan tidur malam malam! Aku tidak mau sakit kepalamu kambuh.” Ia berdiri, memakai kaos yang dari tadi ia biarkan menutupi sebagian pundak kecil itu, tanpa memakainya.
Ia mengusap atas rambutku lalu beranjak meninggalkanku, ”Aku pulang!” Ia berjalan masuk kedalam rumahnya yang hanya berjarak tidak lebih dari 20 meter dari halaman rumahku.
Aku pun beranjak meninggalkan tempat itu, tempat biasa aku dan ia berbagi cerita tentang hari-hari yang kita lewati. Entah sedih pun senang. Ia lebih dari teman, tetapi bukan pula kekasih hati.
”Maaf, sebenarnya aku menghilangkan surat itu sebelum sempat membacanya. Apa yang harus kujawab jika aku tak tahu apa isinya. Maaf ... lagi lagi aku mengecewakanmu,” gumamku lirih.
☘️
Sekolah kejuruan tempatku melanjutkan belajar mayoritas siswanya perempuan. Terkadang kelasku disulap menjadi salon dadakan saat jam pelajaran kosong, berbagai alat make up lengkap jadi alat praktek menunggu jam pelajaran berikutnya.
Namun, tidak denganku. Aku lebih suka membaca novelku, pindah duduk ke pojok belakang menikmati hobi yang tidak bisa di nomor duakan. Mungkin sama dengan murid laki-laki yang duduk di pojok seberang sana, ia juga selalu asik dengan komiknya, dan diam-diam aku memperhatikannya, ya, hanya diam-diam.
Entah sejak kapan aku memperhatikannya, ia selalu lebih unggul dariku dalam pelajaran. Pintar, pendiam, anak baik, sejak kapan aku memperhatikan anak baik? Di usiaku yang baru belasan aku lebih tertarik melihat badboy dengan anting di kupingnya atau dengan banyak gelang hitam ditl tangannya. Bukan anak laki2 dengan buku komik dan buku pelajaran di tangan.
Namun entahlah, kenapa ia begitu menarik perhatianku. Mungkin karena aku dan dia satu kelas dan satu organisasi. Ia juga ketua organisasiku, tetapi jangan salah, iaa tidak akan pernah menang ketika berdebat denganku dalam kegiatan organisasi.
Aku tidak tahu bentuk perasaanku untuknya. Kami bahkan jarang bertegur sapa, bukan karena kami tidak akur, bukan pula karena aku membencinya. Aku hanya mencoba membatasi diri. Karena ada rasa takut saat aku berada dekat dengannya, entah takut karena apa.
☘️☘️
Malam masih seperti kemarin. Wajah polos itu datang seperti biasanya, menawarkan kehangatan dalam cerita remaja. Memberikan kisah yang mungkin akan aku kenang satu hari nanti.
Senja beranjak menjemput malam. Senyumnya samar, tatapannya tulus, dan ada getar perasaan yang mulai tidak bisa kututupi. Perhatian yang tak sepenuhnya kudapat dari orang tua. Ibu yang sibuk bekerja, dan bapak yang pergi mendua.
Saat dunia seakan hancur di usiaku yang masih belasan. Ia datang menyapa, selalu menyapa tanpa bertanya apakah aku terluka. Ia hanya ingin memastikan aku baik-baik saja, tanpa tangis, tanpa sakit kepala. Wajah polos itu seakan-akan membungkam amarah dan kecewaku pada dunia.
Malam ini tanpa perapian, karena gerimis tak juga mereda. Di teras rumah seperti biasanya dia bercerita tentang impiannya, rumah kecil di ujung desa, dengan kolam kecil di belakangnya, sedikit tanaman bunga dan sayuran lalu sepetak tanah untuk kandang ternaknya. Serasa sempurna, arsitek sederhana dalam pikiran anak remaja yang bahkan tidak mau bercengkrama dengan dunia pendidikan tapi bisa membuatku ikut membayangkannya.
”Satu hari nanti kamu mau menemaniku tinggal di sana, bukan?” Ia menatap sedikit lebih lama dari biasanya.
deg ....
Suara jantungku tiba-tiba berdetak lebih cepat, aku takut ia ikut mendengarnya.
”Maksudmu? Bukankah umur kita sekarang masih belasan? Masih terlalu jauh untuk berpikir ke sana. Kamu membuatku tertawa,” sahutku sembari melemparkan senyum
"Aku tidak sedang bercanda. Kamu belajar saja, sekolah yang pintar, sekolah selama kamu ingin. Karena aku bodoh, aku hanya akan menabung, membuat mimpiku pelan-pelan menjadi nyata. Tunggulah aku! Aku juga akan menunggumu selama apa pun itu.” Kembali ia mengusap atas rambutku, hanya sebatas itu, dan itu membuatku merasa memiliki seseorang di dunia ini--yang sangat menyayangiku, di saat rumah tangga orang tuaku di ujung perpisahan.
Benarkan aku akan menunggunya? Sanggupkah aku menunggunya?
☘️☘️