
#
Fiona terbangun ketika adzan shubuh berkumandang, dia masih merasakan berat ditubuhnya, Aska masih pulas tertidur dengan tangan melingari perut Fiona. Fiona tertegun, melihat pahatan wajah suaminya yg cukup sempurna menurutnya, dia mulai menuntun jarinya menyentuh setiap bagian wajah Aska, hal yg tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Aska Narendra Putra yg selalu menorehkan nama dijajaran peringkat atas disekolah, memiliki mata setajam elang, sikapnya yg dingin bahkan jarang sekali bertegur sapa dengannya, sekarang tidur dalam satu ranjang dengannya, berstatus suami sahnya.
"kenapa sayang". Aska mengeratkan pelukan.
Tentu saja Fiona langsung membalikkan badan karna malu seperti ketauan habis mencuri sesuatu.
"Aku mau ke kamar mandi, sholat dulu yuk mas". Aku melepaskan pelukan tangan Aska, dia terkekeh melihatku berlari keluar, lalu bergegas menyusulku.
Awal hari yg sungguh indah, untuk pertama kali menjadi makmum dalam status yg sudah sah, aku mencium punggung jarinya, dan dia mencium keningku. Semoga selalu menjadi imamku sampai akhir nanti.
Seusai sarapan, ibu membantuku berbenah untuk acara resepsi dikediaman Aska, sementara Aska asyik ngobrol dengan Farel sambil nonton tv, tak lama kemudian tukang rias yg dikirim ibu mertua datang, aku mulai dipoles, tampak beda memang, tapi seperti bukan diriku, karna selama ini aku tidak begitu suka berdandan, tapi 2 hari ini mau tidak mau aku disulap menjadi seperti tuan putri dalam cerita dongeng, apalagi gaun yg aku kenakan kali ini berwarna peach dengan banyak aksesoris, bawahnya lebar dan sedikit panjang, pasti akan membuatku susah jalan.
"Cantiknya istriku". Aska duduk didepan meja rias menggodaku, sesekali mencubit hidungku, sementara si embak yg merias belum selesai memasang hiasan dirambutku.
"nggak usah genit ya, ribet banget ini". kataku sedikit merajuk.
"iya mas mbak Fio jangan di ganggu dulu, nanti malah nggak selesai-selesai"
Aska menggaruk kepalanya yg tidak gatal, senyumnya melebar.
"Ya sudah aku tunggu di luar, jangan dibawa kabur ya mbak Fionya".
"Maaaaassssss iiiihhh". Aska meringis karna cubitanku dan berhambur keluar dari kamarku.
Satu jam kemudian sebuah mobil pengantin terparkir dihalaman, beberapa mobil lainnya terpakir di sepanjang jalan masuk gang rumahku. Aska menuntunku masuk ke dalam mobil pengantin, sementara ibu, Farel, paman dan beberapa tetangga yg akan ikut mengantarku masuk ke dalam mobil-mobil lainnya.
Sesampainya dihalaman rumah Aska, di sepanjang jalan masuk menuju rumahnya dipasang banyak sekali foto-foto aku dan Aska ketika di Singapura, bahkan ada beberapa foto ketika kami wisata ke parangtritis saat lulusan sekolah dulu. Kapan Aska mengambilnya? Bahkan Aska tidak pernah menunjukan foto-foto itu sebelumnya.
"Surprize sayang, waktu itu kamu terlalu imut untuk dibiarkan saja, Fotomu bisa jadi obat rindu saat aku jauh di jakarta". Aska berbisik ditelingaku saat Aska sadar aku terheran melihat foto-foto jaman sekolah dulu.
"Kapan kamu mengambilnya?"
"Rahasia, sudahlah, yuuuk masuk, tamu-tamu sudah menunggu". Aska menggengam tanganku menuntunku masuk ke dalam.
Tamu undangan kebanyakan dari kolega Pak Aris dan Bu Siska, dan satu yg special.
"Saraaaaah".
"Fiooooo".
Sarah berhambur memelukku.
"Ya ampun Fio nggak nyangka banget kamu akhirnya sama Aska, aku sempet nggak percaya pas kemarin dapat undangan dari Aska, gimana ceritanya bisa-bisanya kalian nikah? kapan pacarannya Fi? Berarti selama ini kalian nggak lost contac dong?"
"Aduh Sarah, nanyanya satu-satu dong, jadi bingung mau mulai dari mana, ntar aku cerita deh, tapi aku mau tanya dulu, habis kuliah kamu kemana? Ngilang gitu aja tanpa kabar?"
"Aku kerja sama bapak di Bandung, ini aja kalau pamanku nggak bilang kamu nikah aku belum pasti pulang, Aska nitipin undangan ke resto paman 4 hari yg lalu, buru-buru deh aku pulang, buat kamu Fiooooo, Ya ampuuuun kamu cantik banget".
Sarah yg tak pernah berubah sikap bawelnya ini yg aku rindukan, hampir 5 tahun lamanya tak pernah bertatap muka, dia sekarang tambah cantik, gaya pakaiannya yg sama sekali jauh dari kata sexy tidak bisa menutupi bentuk tubuhnya yg indah.
"Oya Fii, jangan-jangan kalian menikah gara-gara jus alpukat yg dikasih Aska waktu itu, jangan-jangan beneran ada jampi-jampinya".
"Aduh Saraaaah, dijaman canggih kaya gini masih saja percaya jampi-jampi, aku tuh suka sama Aska jauuuh sebelum Aska ngasih jus ke aku, tapi cuma suka belum cinta". Jawabku mematahkan halusinasi Sarah tentang jampi-jampi sambil tersenyum lalu mencubit pipinya yg tetap cabi.
"eheem siapa yg suka". Aska tiba-tiba berdiri dibelakangku.
"cieee, ketauan malu ya". Sarah ikut menggodaku
"Ngapain malu, sekarang jadi suamiku kok". Aku menggandeng lengan Aska yg masih terkekeh melihat pipiku yg memerah, lalu Aska mencium puncuk rambutku.
"hahahahaha". Kami bertiga tertawa, kehadiran Sarah memberi kebahagian tersendiri, mengingatkan semua kenangan kita bertiga saat masih duduk dalam satu kelas.
#
Rangkaian acara resepsi telah dijalani, berat rasanya melepas keluarga dan orang-orang tersayang pamit pulang, aku memeluk ibu lama, kembali air mata tumpah saat ibu memintaku menjaga diri, menjadi istri yg berbakti pada suami, mencintai suami dan melupakan masa lalu. Aku hanya mengangguk lalu mengantar ibu sampai ke halaman rumah.
"Farel jaga ibuk, jangan kebanyakan main PS".
"Pasti mbak, mbak tenang saja, buatkan aku keponakan yg banyak yg lucu-lucu, biar rumah ibuk nggak sepi lagi".
Aku menjewer pelan kupingnya.
"Sudah sana kasihan ibuk nunggunya lama".
"Mas Aska, Farel pulang ya, nitip mbak Fio".
Aska menepuk pundak Farel. Melambaikan tangan saat mobil mulai menjauh meninggalkan halaman rumah.
#
Senja merayap, menggeliatkan gelap. Hari yg melelahkan, setelah makan malam aku membantu bik inah membereskan meja makan.
"Biar bik inah saja Mbak, Mbak Fionya pasti capek, istirahat saja, itu Nenek, nyonya dan Tuan juga sudah masuk ke kamar buat istirahat".
"Nggak papa bik, ini juga nggak akan lama kok".
"Jangan Mbak, nanti Mas Aska marah sama bibik".
"Nggak bakalan marah bik, Mas Aska baik, Nggak bakalan marah cuma karna hal sepele".
Bik Inah akhirnya mengalah, aku membantunya membereskan dapur sampai selesai. Setelah itu aku bergegas masuk ke kamar.
Di kamar Aska masih sibuk dengan laptopnya, sampai dia menyadari kehadiranku.
"Sini Sayang, kenapa lama dibawah?". Aska menepuk sebelah ranjangnya yg kosong.
"Bantuin bik inah beresin dapur, kasihan piring kotornya banyak". Aku naik ke ranjang disisi Aska yg kosong
"Istriku memang super baiknya, tapi aku nggak mau capek, kan ini malam pertama kita".
"Bukan malam pertama Mas, tapi malam kedua". Sahutku menggelayut manja dibahunya.
"iya deh malam kedua, tapi karna malam pertama gagal jadi malam kedua harus berhasil". Aska membalikkan tubuhku, tapi aku berhasil melepaskannya lalu berlari masuk ke kamar mandi, jantungku bergetar hebat. "Ya Allah, sebenarnya aku sangat takut". gumamku sangat lirih
"Sayaaaaang, ngapain didalam kamar mandi". Aska mengetuk pintu
"Mau wudhu dulu Mas".
Selesai wudhu aku dan Aska sholat 2 rokaat, lalu Aska menciumku, membawaku kedalam surga yg belum pernah aku tahu sebelumnya, sampai lelah menghujam seluruh raga. Masih dalam dekapan Aska lirih aku mendengar...
"Trimakasih sudah menjaganya untukku, trimakasih sudah menjadi istriku". Setitik air mata haru jatuh membasahi pipiku yg kemudian membawaku lelap dalam indahnya mimpi menjemput esok pagi.
#
( bersambung)
*jampi-jampi dalam bahasa jawa artinya semacam mantra untuk memikat seseorang.
masih ditunggu vote like dan komennya yaπππππππππ