
#
Sore hari aku kembali ke rumah sakit untuk menemani nenek menjaga Aska, kali ini Reza bersikeras ingin mengantarku, padahal sudah 2 minggu ini aku bolak-balik sendiri ke rumah sakit, Reza seolah tidak mau peduli, bahkan kebiasaan kami membuat perapian sudah sangat jarang dilakukan, Reza berubah, sedikit, atau justru aku yg berubah? Entahlah.
Sesampainya di depan ruang ICU aku melihat Nenek setengah berlari masuk ke dalam ruang ICU tanpa menghiraukan kehadiranku, kemudian beberapa perawat ikut berjalan cepat dibelakanganya, aku ingin menyusul tapi Reza menahan tanganku.
"Tunggu disini saja Fii, sebentar lagi pasti tahu keadaannya" aku mengangguk, mataku mulai berkaca-kaca, aku takut sesuatu terjadi pada Aska. Reza menepuk pundakku, mengusapnya pelan, seolah-olah dia tahu yg aku rasakan, Reza seperti kembali ke Reza yg dulu, memberikan ketenangan batinku.
Kulihat nenek keluar sambil menelpon seseorang, dia menghampiriku setelah menutup ponselnya.
"Aska sadar Fio". Nenek memelukku, tangisnya pelan membuatku ikut terisak.
"Alhamdulillah Nek"
"Iya Fii, sekarang dokter sedang memeriksa kondisinya, barusan nenek menelpon Dina memberi tahu kalau Aska sudah sadar dan sudah melewati masa kritisnya, ayo masuk Fii, mungkin sebentar lagi Aska sudah bisa dipindah ke ruang rawat inap".
Nenek menggandeng tanganku, Reza mengikuti dibelakang.
"Askaaa sayang, liat siapa yg datang" Nenek mengusap rambut Aska.
"Deg...deg...deg"
"Fiiiiiiii..." Aska tersenyum, terlihat sangat sakit hanya untuk mengulas senyum
" Iya Ka...aku kesini sama Reza". Aku menyebutnya karna aku tidak mau Reza merasa diacuhkan.
" Hai Ka..." Reza menyapa, duduk disisi ranjang.
"Hai Za...haaaah harusnya aku pulang untuk mengalahkanmu, tapi kenapa jadi seperti ini" suara Aska melemah
"Untung kamu bangunnya sekarang, kalau kelamaan Fio sudah beneran jadi istriku". Reza tersenyum
"Sembuh dong, nggak seru nggak ada lawan, mana Fionya mewek terus lagi, untung kamunya bikin Fio nangis karna sakit, kalau enggak kamu beneran habis ditanganku". Kali ini Aska yg tersenyum. Nenek dan aku hanya saling melempar pandang, dua lelaki itu seperti sedang berlomba dalam kejuaraan, tapi ada rasa saling menguatkan, bukan untuk saling menjatuhkan.
Aku merasa sangat beruntung berada diantara keduanya, mereka menguatkan aku disaat aku benar-benar rapuh. Andai bapakku seperti mereka? Tiba-tiba segurat wajah yg mulai menua itu menyela.
"Apa kabarmu pak? setelah bertahun-tahun tanpa kabar, bahkan kau tidak pernah tahu, ada 2 lelaki yg ingin memilikiku, harusnya mereka memintanya darimu bukan?? Karna kaulah yg punya hak atas darah yg mengalir dalam tubuhku". Sesaat air mataku jatuh, aku sengaja membuang pandangan keluar takut mereka melihatnya.
Disepanjang perjalanan pulang, Reza diam, akupun takut bertanya tentang bagaimana perasaannya, tidak ada lelaki yg mendoakan rivalnya sembuh untuk merebut kekasihnya, tapi inilah Reza, dia selalu berbuat diluar apa yg aku pikirkan, hatinya baik, sangat baik. Aku menuliskan sesuatu dipunggungnya dengan ujung jariku. "Maaf".
"Apaan sih Fii, kalau pengen peluk, peluk aja". Katanya diantara suara bising kendaraan yg lain. Aku hanya mencubit pinggangnya, dan kudengar dia terkekeh. Ya dia tertawa, tapi aku sungguh tidak tahu hatinya.
"Makasih ya Za" aku menyerahkan helm, dia hanya tersenyum menyembulkan sebelah lesung pipitnya, tanpa berucap mengusap puncuk rambutku lalu masuk ke halaman rumahnya.
"Baru pulang Fii? Gimana kondisi Aska?" Ibu menghampiriku dikamar.
"Alhamdulillah sudah sadar buk".
"Ya sudah sekarang kamu makan dulu sana". Aku mengangguk melihat ibu meninggalkan kamarku. Belum sempat keluar dari kamar ponselku bergetar, satu pesan masuk.
"Siapapun itu, baik itu Aska ataupun Aulia, jangan pernah goyah Fii, aku akan terus berjuang untukmu, nggak usah dibales, karna aku nggak mau tahu jawabanmuโฅ๏ธ"
Reza...aku hanya menggumam.
#
Seperti kemarin aku mengunjungi Aska, kali ini tanpa Reza.
"Heeeiiii Ka" Aska masih berbaring sebelah tangannya memainkan ponsel.
"Heeiii, sini..!!" Aska menepuk samping ranjangnya, akupun segera duduk disana.
"Aku punya kabar untukmu, ada kabar baik dan ada kabar buruk" Lanjut Aska.
"Aku mau yg buruk dulu". Sahutku.
Aska menarik tubuhnya jadi agak duduk, aku membantu menaruh bantal di punggungnya
"Kabar buruknya, aku harus melewati operasi dan banyak terapi biar kakiku bisa jalan lagi, ada beberapa tulang yg patah dan ada beberapa saraf kaki yg rusak, aku takut nggak bisa jalan lagi Fii". Matanya mulai berkaca-kaca
"Aku yakin kamu pasti bisa melewati semua ini Ka".
"Kabar baiknya apa?" Tanyaku sesaat mengalihkan sedihnya
"Aku merelakanmu bersama Reza Fii, aku sudah tidak lagi sempurna, Reza lebih pantas mendampingimu"
Sekujur tubuhku terasa lemas, air mataku seketika menetes, Aska mengusapnya. Mengusap pundakku pelan. Ada banyak sekali yg ingin aku katakan, tapi semua tercekat ditenggorokan, ada sakit yg mengusik, ada rindu yg tak bisa mengadu.
"Tapi boleh aku minta sesuatu darimu?" Tanyaku pelan.
"Boleh aku temani kamu sampai kamu sembuh, setidaknya aku ingin menebus rasa bersalahku karna kejadian ini" lanjutku kemudian.
"Kejadian apa Fii?".
"Karna Kamu pulang ingin menemuiku, kecelakaan itu karna aku". Aq menunduk, ada air mata yg jatuh, ada perih yg hadir.
Aska tersenyum, menyentil dahiku dengan jari-jarinya yg pucat.
"Baiklah, tapi sebaiknya kamu menikah dengan Reza sebelum aku sembuh, karna kalau sampai aku sembuh nanti kamu belum menikah aku takut berubah pikiran dan merebutmu lagi dari Reza". Aska terkekeh dengan ancamannya sendiri.
Aku tahu akan ada banyak perasaan yg dikorbankan, tapi aku harus tetap melalui ini, karna tanpa melaluinya aku tidak akan pernah tahu kemana sesungguhnya hati menuju.
#
Tidak seperti biasanya, sepulang dari rumah sakit, rumah Reza terlihat ramai, sepertinya sedang ada banyak tamu. Kulihat ada paman dan beberapa sepupu Reza disana, mengenakan pakaian batik dan kemeja formal, mungkin sedang ada acara keluarga, tapi kenapa pak RT juga ada disana..jiwaku menyelidik, seperti ada yg tak beres.
Ibu sedang menata kue di oven, aku menghampirinya.
"Rumah Reza ramai buk, ada apa?" Tanyaku
Ibu mengusap rambutku, membawaku duduk ke sisi dapur.
"Kamu belum tahu Fii?"
Aku menggeleng
"Reza tidak memberitahumu?"
Aku kembali menggeleng, ibu menghela nafas panjang.
"Pak seno, bapaknya aulia sakit keras, beberapa waktu lalu kena serangan jantung, tapi kemarin sudah boleh pulang, aulia anak satu-satunya pak seno, dan kamu tahu sendiri kalau bapaknya Reza temenan dari kecil sama bapaknya aulia, niat perjodohan mereka mungkin sudah lama Fii, dan sekarang, mengingat kondisi pak seno yg sudah sakit-sakitan maka perjodohan itu dipercepat, malam ini mereka mau melakukan acara lamaran".
Kembali seperti kena hantaman tepat diulu hati, aku merasakan semua bagian tubuhku nyeri. Kepalaku sakit, terlalu banyak yg aku bayangkan.
Aska yg melepasku, Reza akan meninggalkanku, apakah aku terlalu serakah jika aku tidak mau kehilangan mereka berdua.
Bapak...akhirnya mereka meninggalkanku...sama sepertimu.
Langit-langit kamarku menjadi buram, dua butir obat pereda nyeri yg aku minum membawaku terpejam, berlalu ke alam mimpi dan berharap semua ini hanya mimpi.
#
( Bersambung )
Masih bingung fiona akan bersama siapa?
Reza atau Aska?
Atau tidak dua-duanya??
๐ญ๐ญ๐ญ
Jangan hanya jadi silent reader ya,,like dan komen kalian jadi semangat buat saya.
๐๐๐