
#
Drttt...drrttt...
Getar ponsel Fio menghentikan sejenak aktifitasnya.
"Ya Hallo Mas?".
"Ini Reno buk".
"Kenapa Hp Bapak ada sama kamu Ren?". Fio sedikit curiga.
"Bapak dibawa ke rumah sakit buk, saya kirim alamat rumah sakitnya".
"Apa yg terjadi Ren?".
"Sebaiknya ibu langsung kesana".
"tut..tut..tut.. suara panggilan telpon diputus.
Kepala Fio langsung berdenyut, Fio segera memanggil Pak Amin dan langsung menuju ke rumah sakit sesuai alamat yg Reno kirim.
Fio berlari disepanjang rumah sakit, sampai di UGD Fio tidak melihat keberadaan Reno, Fio menanyakan kepada perawat tentang suaminya, Aska sudah dipindahkan ke ICU.
Fio lemas, tubuhnya seolah tanpa penyangga. Dua kali sudah Fio harus melihat Aska terbaring di ICU. Reno menghampiri Fio.
"Maaf buk, tadi saya menemukan Bapak sudah tidak sadarkan diri di ruang kerjanya".
Fio masih membeku ditempatnya berdiri.
"Dokter bilang, Bapak kena serangan jantung, faktor utamanya mungkin karna kecapean, sekarang Bapak koma buk". Reno menunduk dia tidak akan mampu melihat wajah Fio yg mulai berurai air mata, Fio merosot jatuh ke lantai, wajahnya pucat, tapi Fio masih berusaha tetap bertahan dengan kesadarannya.
Tak berapa lama ibu Aini dan Farel datang, Fio menangis tersedu dalam dekapan ibunya, apalagi saat tadi dokter bilang untuk tidak meninggalkan Aska, firasaf buruk terus menghantui Fio.
Faraz yg masih mengenakan seragam sekolah masuk ke dalam ruangan itu, matanya berair, tubuhnya gemetar, Papa yg biasanya ceria kini tak bersuara, Papa yg biasanya usil dan suka menggoda kini bahkan tidak menyambut kedatangannya.
"Bangun Pa, Faraz udah datang, maaf Faraz telat pulang karna ada ulangan susulan". Kata-kata Faraz semakin membuat Fio tersedu, Fio merengkuh tubuh Faraz, diusapnya air mata putra semata wayangnya yg sudah beranjak remaja. Fio dan Faraz kini saling memeluk.
Tak lama kemudian muncul didepan pintu Reza dan Queen, Queen sudah lebih dulu menangis melihat kondisi Aska. Reza berjalan mendekat, memegang tangan Aska, dan saat itulah Aska membuka mata.
Semua terkejut, Farel segera memanggil dokter, tapi setelah dokter memeriksa kondisi Aska, tak ada jawaban yg menggembirakan.
Fio mengenggam tangan Aska, diusapnya rambut Aska sambil sesekali mencium keningnya, Aska tersenyum, menghapus air mata Fio yg tak berhenti mengalir sejak kedatangannya ke rumah sakit.
"Makasih sayang". ucap Aska sedikit terbata, sangat lirih.
Mata Aska melihat satu persatu orang yg ada di kamar itu, Faraz masih menidurkan kepalanya disamping tangan Aska yg satunya.
"Ibuk..". Aska tidak melihat orang tuanya.
"Bapak sama ibu sedang menuju kemari Mas, kamu harus kuat". Aska kembali tersenyum. Nafasnya terlihat semakin berat, satu tangannya menggengam tangan Fio, satunya lagi dalam genggaman Faraz.
Sekarang tatapannya beralih ke Reza, Aska tersenyum, mungkin ada banyak yg ingin ia ucapkan tapi bibirnya takkan mampu mengucapkan kata sebanyak itu.
Reza yg paham dengan tatapan Aska mendekat.
"Nitip mereka Za". sangat pelan dan hampir tak terdengar, mungkin suara Aska sudah diujung tenggorokan.
Fio menggeleng, dia semakin terisak mendengar ucapan Aska, Fio memeluk Aska.
"Mohon Pak Aska dibimbing doa buk". Dokter mengatakan hal itu ke Fio, dengan sisa kekuatan yg Fio miliki, Fio mendekat ke telinga Aska.
"Laa illahaa illa Allah". Fio mendengar Aska mengucapkannya, pelan sekali, lalu tersenyum melihat Fio dan Faraz bergantian, dan setelahnya Aska benar-benar menutup matanya.
"inna lillahi waa inna ilaihi rojiun, Pak Aska sudah meninggalkan kita, semoga semua keluarga yg disini bisa iklhas, semoga Pak Aska meninggal dengan husnul khotimah". Kata Dokter setelah memastikan Aska telah meninggal.
Faraz histeris, Fio memeluk jenazah Aska, matanya terpejam, bibirnya tercekat untuk tidak menjerit, sampai akhirnya semua menjadi gelap, Fio pingsan. Sementara Bu Aini tersedu dalam pelukan Farel, Queen bersimpuh di ujung kamar sambil sesegukan. Reza memeluk Faraz, Reza tahu bagaimana sakitnya perasaan Faraz. Dia terus saja histeris memanggil Papanya, sampai Reza berhasil menenangkannya, memapahnya duduk di sofa, membiarkannya menangis dalam pelukannya.
#
Pak Arif dan Bu Siska yg tak lain orang tua kandung dari Aska baru saja tiba dirumah duka, Bu Sinta tak kalah histerisnya dengan Faraz, putra satu-satunya telah meninggalkannya lebih dulu, Bu Sinta memeluk jenazah Aska yg sudah selesai dikafani, dia terus menciuminya, seakan-akan tak percaya dengan semua yg terjadi, diusianya yg baru 40 tahun Aska telah berpulang, bahkan tanpa sakit sebelumnya.
Fio duduk disamping jenazah suaminya, menunduk, menangis tanpa mengeluarkan suara, tapi dia terus saja diam, bahkan dia tak peduli dengan semua yg ada di sekitarnya saat ini, mulutnya masih terus merapalkan doa, hatinya masih saja terasa disayat-sayat, suaminya yg tadi pagi baru saja memberinya hadiah untuk ulang tahun pernikahannya, ternyata meninggalkannya di hari yg sama.
Terlalu cepat semua terjadi, kepala Fio tidak bisa mencerna setiap alasan yg terlalu dipaksakan untuk membuatnya iklhas. Aska suaminya, adalah bagian terindah dalam hidupnya, tapi takdir telah mengambilnya kembali. Allah lebih menyayangi Aska dari pada dirinya, meski Fio memohon sekuat tenaga, Aska takkan mungkin hidup kembali.
#
Seminggu sejak kepergian Aska, Fio masih sering mengurung diri di kamar, memandang foto pernikahan mereka yg hanya berumur 17 tahun, 17 tahun yg terasa begitu singkat buat Fio, dan 7 hari yg begitu lama sejak sepeninggal Aska.
Fio merebahkan dirinya di ranjang, mengusap tempat biasanya Aska berbaring, menggodanya, memeluknya, bahkan Fio masih bisa merasakan nafas Aska saat tidur di sisinya, dalam pelukannya.
"tok...tok...tok". Bu Siska langsung membuka pintu karna sudah berkali-kali diketuk tapi Fio tak menjawabnya.
"Makan dulu Fii, nanti kamu sakit". Bu Siska begitu iba melihat kondisi Fio saat ini, lingkaran hitam di bawah matanya yg berkantung, wajahnya begitu sembab, Fio begitu memprihatinkan.
Bu Siska membelai rambut Fio.
"Ibu merasakan hal yg sama Fii, tapi kamu nggak boleh seperti ini, Faraz butuh kamu, Kamu masih punya anak yg harus di beri perhatian Fii. Biarkan Aska tenang di sana, kalau Aska tahu kamu seperti ini, Aska pasti akan sedih, kasihan Aska Nak, biarkan Aska bahagia di sana". Fio mengangguk, tapi dia tersedu, Fio memeluk ibu mertuanya, yg ternyata bisa lebih dulu kuat menerima kepergian Aska.
#
( Fio part )
Aku mengunjungimu Mas...
apa kabarmu hari ini? apakah kamu merindukanku? Aku hampir gila karna merindukanmu, bahkan aroma tubuhmu saat terakhir memelukku masih sangat tercium, kenapa kamu tega meninggalkanku sendiri Mas? Bukankah kamu pernah berjanji akan bersamaku sampai tua nanti? aku masih ingin bersamamu membesarkan Faraz, punya cucu dan kembali ke Singapura...
Tunggu aku Mas, kita pasti akan bertemu lagi, rindukan aku Mas, karna akupun akan selalu merindukanmu.
#
Fio menaburkan bunga ke makam Aska yg masih basah, mengirimkan doa untuk suaminya yg telah jauh di sana.
Fio adalah cinta pertama dan terakhir untuk Aska, Cinta Aska untuk Fio dibawanya sampai kematian datang menjemputnya untuk kembali kepada Sang Pemilik cinta Sesungguhnya.
#
( bersambung )
part yg bikin nyesek banget nih,,semoga kalian suka, dan tetap setia dengan First.
Makasih yg masih tetap meninggalkan like dan komennya.
πππ
πππ