
#
Aku terus saja berlari, melewati pematang sawah yg licin, aku tidak peduli jika harus jatuh dalam lumpur. Reza membutuhkanku, aku lebih peduli itu, siapa lagi kalau bukan aku.
"Ceklek" pintu rumah tidak terkunci, diruang bawah kosong, aku segera berlari ke atas, nampak dia berbaring ditempat tidur disatu ruangan disana, wajahnya menghadap ke tembok, tubuhnya sedikit meringkuk. Aku mendekat, kulihat matanya terpejam, bibirnya pucat, dahinya panas. Dia menangkap pergelangan tanganku yg memegang dahinya.
"Kamu demam Za, biar aku kompres sebentar, kamu sudah minum obat?" Reza menggeleng
"Sejak kapan sakitnya? Kenapa nggak pulang? Ini sudah hampir seminggu Za..!"
"Kenapa kamu jadi bawel sih Fii". Reza mengubah posisi tidurnya
"Harusnya kamu datang bilang Reza aku kangen kamu, bukannya ngomel-ngomel, sudah beneran kaya istri yg marahin suaminya". Reza terkekeh, aku mencubit lengannya.
"Sini pinjem kunci motormu biar aku cari obat, atau kamu mau aku antar ke dokter??"
"Nggak usah, kalau pake motor muternya jauh musti lewat desa sebelah, itu dilaci aku punya obat pereda nyeri, kalau boleh minta tolong, ambilin minum dibawah buat minum obat".
Aku bergegas ke bawah mengambil air mineral didapur, aku melirik kulkas yg ada disana, kubuka dan isinya ada beberapa sayuran, telur, bumbu, dan air mineral dingin. Sepertinya dia benar-benar tidak ingin kembali ke rumah.
"Mending kamu pulang deh Za, kepergianmu nggak akan membuat semua jadi baik, apalagi kamu sakit gini, siapa yg akan mengurusmu". Ocehku sambil membuka air mineral lalu memberikannya ke Reza.
"Kan ada kamu, atau kita kawin lari saja Fii"
"Kamu gila Za, itu malah akan menambah masalah".
"Atau kamu memang nggak mau nikah sama aku? Kamu memilih Aska daripada aku? Iya kan Fii? Benarkan?".
"Bukan begitu Za...."
"Ah sudahlah, kamu pulang saja, sebentar lagi hujan, sudah gerimis tuh?"
"Tapi maksudku bukan begitu Za...".
"Tok....tok...tok..."
Suara pintu bawah diketuk, aku dan Reza saling melempar pandang.
"Biar aku yg buka"
"Tidak, kamu tunggu sini, biar aku yg buka" sahut Reza berjalan menuruni tangga.
Aulia.. aku membekap mulut dengan kedua tanganku
"Mas Reza...?"
"Kenapa kamu kesini, bagaimana kamu tahu aku ada disini haaah?" Reza membentak
"Aku mengikuti mbak Fio, dimana perempuan itu, sepertinya kalian berselingkuh dibelakangku".
"Apa katamu haah, aku dan Fio memang sudah berencana menikah sejak dari dulu, tapi kamu dan bapakmu menghancurkanya".
Hujan turun, semakin deras, aku sudah tidak tahan mendengar pertengkaran mereka dan hanya bersembunyi disini, aku seperti orang yg ketahuan selingkuh dengan suami orang.
Aku berjalan menuruni tangga dan kulihat aulia mulai menatapku tajam.
"Oww jadi begini ya kelakuan kalian di belakangku, kalian selingkuh dibelakangku". Aulia membentakku
"Tidak seperti yg kamu bayangkan Aul". Jawabku coba menjelaskan
"Oya lalu apa? Kamu mau bilang kamu baru saja tidur dengan calon suamiku gitu hah?
"Plaaak" sebuah tamparan mendarat dipipi Aulia, Aulia memegang pipinya
"Ini semua gara-gara kamu perempuan ******"
"Plaaaak" lagi-lagi Reza menamparnya
"Cukup aulia, kalau aku dengar kamu menyakiti fio dengan kata-katamu maka aku tidak segan-segan untuk merobek mulutmu, pergi kamu sekarang....!!!"
"Tidak, dia yg harus pergi !" Aulia menunjukku.
Entah kenapa air mataku tumpah begitu saja, aku berlari menembus hujan, rasa sakit yg tidak pernah kubayangkan, sakit diatas segala sakit, untuk pertama kalinya aku disebut ****** oleh seseorang yg bahkan telah merebut Reza dariku.
Reza mengejarku, memanggilku, tapi aku tak peduli, aku terus saja berlari, sampai semua yg didepanku tampak gelap, semua hitam, dan aku seperti terbang. Entah kemana.
#
(alam bawah sadar Fio)
Lelaki bertelanjang dada itu tersenyum manis padaku, melingkarkan sebuah cincin berwarna putih dengan satu manik indah diatasnya, dia lalu menggengam tanganku, berjalan menuruni hamparan rumput hijau yg sangat luas, tampak rumah berwarna putih dan teriakan anak-anak kecil disana, mereka berlari menyambutku dengan meregangkan kedua tangannya, ada 3 anak kecil, satu perempuan kecil yg rambutnya dikepang memiliki lesung pipit dan garis wajah yg sama dengan lelaki disampingku, anak itu langsung berhambur memelukku, sementara 2 anak laki-laki dibelakangnya membawakanku seikat bunga dan langsung mencium kedua pipiku secara bersamaan. Kami tertawa bersama, rebah diatas rerumputan yg lebih mirip dengan permadani hijau. Dan lelaki disampingku menunjuk langit lalu berkata "kita akan bersama-sama sampai nanti kita berada diatas sana"
#
#
"Kamu sudah bangun Fii" Aku melihat Aska duduk dikursi roda, nenek dibelakangnya
"Kamu masih sakit sayang?" Nenek mendekat, mengusap rambutku, aku hanya menggeleng, lalu dengan begitu saja aku menangis, kata-kata itu masih terus saja terngiang di kepalaku, sakitnya masih terasa menusuk ulu hatiku.
"Kenapa Fii" Aska mendekat, mengusap buku jari tanganku lembut
"Apa yg terjadi? Aku tadi melihat Reza membawamu kemari dalam kondisi basah kuyup, tak lama kemudian ibuk datang juga kesini, saat itu aku baru saja selesai terapi jadi aku menyusulmu kesini. Kamu sudah pingsan hampir 5 jam, ibuk sekarang sedang jemput Farel, Reza pulang karna ada urusan penting yg harus diselesaikan, jadi aku minta nenek menemanimu disini".
Aku masih saja terisak, tak ada satu katapun yg bisa kuucapkan selain kata terimakasih, apa yg akan aku ceritakan jika semua itu akan menambah rasa sakitku.
"Ya sudah kalau nggak mau cerita, sekarang kamu makan dulu biar Nenek yg suapin ya sayang". Nenek mengambil bubur, pelan-pelan menaikkan posisi tidurku jadi duduk.
"Fio bisa sendiri Nek". Sahutku
"Atau mau aku yg suapin?" Aska tersenyum, menggeser kursi rodanya
"Nggak usah makasih".
Aska menatapku makan, mungkin ada banyak pertanyaan yg ingin dia ucapkan tapi tertahan dalam tatapannya. Kondisi Aska sudah mulai membaik, beberapa luka gores diwajahnya sudah menghilang. Bahkan tatapan matanya sudah setajam biasanya.
Ibu datang bersama Farel.
"Kamu sudah merasa lebih baik Fii? Tanya ibu
"Hmm"
"Barusan ibuk tanya dokter kalau kondisimu baik dan malam ini tidak demam besok sudah boleh pulang".
"Boleh Aska temeni Fio malam ini buk?" Aska langsung menyahut
"Nak Aska sendiri sakit, bagaimana mau temani Fio?"
"Aska bisa kok buk tidur di sofa".
"Ndak usah Nak Aska, sebaiknya kamu kembali ke kamar kamu, kamu pasti capek, sudah dari tadi temeni Fio".
"Iya sayang, ayo istirhat dulu, besok bisa kesini lagi". Nenek menambahi.
#
Sekeluarnya Aska dari kamar inapku, ibu duduk disamping ranjangku.
"Reza sudah cerita semua ke ibuk, Reza bilang akan menyelesaikan semua masalah itu dengan keluarga aulia dan bapaknya, tapi Fii, tadi ibuk dengar keributan dirumah reza, ibuk tahu itu pasti karna masalah ini". Ibu mengusap air mataku yg mulai jatuh.
"Ibuk tahu ini berat Fii, tapi kamu juga harus tahu perasaan orang tuanya Reza, apalagi selama ini hanya Reza yg melamarmu tapi tidak dengan keluarganya, mereka justru melamar ke rumah aulia, kalaupun akhirnya kamu dan Reza menikah maka orang-orang akan menganggap kamu yg merebut Reza". Aku kembali terisak
"Lalu apa yg harus Fio lakukan bu?"
"Kamu coba beri pengertian ke Reza, bahwa cinta itu tidak harus memiliki, tidak harus hidup bersama".
"Tapi buk, itu justru akan semakin menyakiti Reza, aku tidak bisa buk ngomong seperti itu ke Reza, aku tidak mau menyakiti Reza".
"Maaf"
"Aska...?"
"Aku tidak bermaksud menguping, aku hanya ingin mengambil ponselku yg tertinggal" Aku hanya mengangguk. Ibu membantu Aska mengambil ponselnya.
"Sebentar lagi aku sembuh Fii, jika kamu mau, aku akan menikahimu agar bisa lepas dari Reza, karna aku adalah satu-satunya orang yg Reza percaya untuk menjagamu selain dirinya sendiri". Aku dan ibu bertukar pandang, terkejut dengan apa yg Aska katakan.
"Aku melepasmu bersama Reza bukan untuk tersakiti, aku ingin kamu bahagia, tapi jika bersamanya kamu tidak bahagia, aku akan membawamu pergi jauh dari Reza".
Aku dan ibu hanya tertegun dengan apa yg Aska ucapkan.
"Kalau kamu setuju hubungi aku, bahkan aku bisa menikahimu sekarang juga". Aska pamit meninggalkan kamarku, ibu mengusap rambutku, merebahkan tubuhku, mengisyaratkan untuk beristirahat, setelah apa yg kulalui, ibu tahu itu sangat berat. Ibu menyusul Farel berbaring disofa tanpa lagi bicara sepatah katapun.
Sekelebat bayangan 3 anak kecil dan suasana di hamparan hijau itu kembali berputar-putar, tapi tiba-tiba makian aulia kembali menggema ditelinga, dan selalu membuatku gagal menahan lajunya airmata.
Terlalu rumit takdir memainkan perannya. Tolong aku Tuhan.
(Bersambung)
Ada yg sebel sama aulia?
Ada yg sebel sama penulis?
Yuuuk ah dikomenππππππ