
#
Besok adalah hari pernikahanku, Aska dan beberapa asistennya mempersiapkan dengan sangat cepat, tanpa merepotkan aku dan ibuk, kebaya pengantin putih yg bu Siska pesan dari salah satu butik ternama sudah terpajang dikamarku, halaman rumah sudah mulai didekor dengan banyak bunga bernuansa putih dan pink, beberapa kerabat sudah mulai datang membantu ibu membuat makanan dan menyiapkan semuanya.
Amplop coklat itu dalam dekapanku.
"Harus ku selesaikan sekarang". Gumamku
Setelah meminta ijin ibu aku keluar menuju area persawahan dimana rumah mungil itu dibangun, dan dugaanku benar. Reza disana, dia duduk disebuah bangku panjang memandang ke hulu sungai. Aku mendekatinya, sempat ada ragu, tapi ini harus diselesaikan. Aku duduk didekatnya, dia masih tidak melihatku meski tahu aku ada didekatnya sampai aku menyerahkan amplop itu.
"Aku nggak bisa nerima ini Zaa, ini mimpi kamu, Aulia lebih berhak mendapatkannya daripada aku". Reza berbalik menatapku, ada cekung dibawah matanya, sepertinya dia kurang istirahat akhir-akhir ini.
"Aku ingin membuat mimpi bersamamu bukan dengan Aulia maka kamu yg berhak mendapatkannya".
"Tapi Zaa..."
"Anggap itu kado pernikahanmu dariku, tinggallah disini bersama Aska, sungguh aku iklas Fii.."
"Aku nggak mungkin tinggal disini, dan disini bukan mimpi Aska".
"cukup Fii...aku mohon terimalah, setelah ini aku tidak akan mengganggu kehidupanmu lagi, berbahagialah dengan Aska".
Aku diam, apalagi yg harus kukatakan untuk menolak pemberian Reza, aku memutuskan menaruhnya di bangku panjang, aku berbalik meninggalkan Reza sendirian yg masih memandang ke hulu sungai.
Tidak semudah yg dibayangkan, Reza terlalu mencintai mimpinya, dan kini dia masih terus hidup dalam lingkaran masa lalunya tanpa bisa menerima Aulia yg selama ini sudah menjadi istrinya.
Malam hari sebelum tidur, ibu menghampiriku dikamar, seperti biasa ibu suka sekali mengusap rambutku yg panjang sebahu.
"Kamu sudah ketemu Reza Nduk?". Ibu mulai bertanya.
"Sudah buk, dia terlihat lebih kurus, dan sepertinya tidak terurus".
"Kamu benar Nduk, Reza yg sekarang bukan Reza yg dulu kamu kenal, bahkan Reza sudah jarang pulang kerumah Aulia, setiap pulang selalu larut malam, ibunya Reza sempat mengeluhkan kelakuan Reza pada ibuk, Reza suka mabuk-mabukan".
"Benarkah buk?".
"iya" jawab ibu singkat.
Ada yg mulai menggelitik dalam otakku, kenapa Reza seperti itu?
"Sudahlah Fii, sekarang kamu istirahat, besok subuh kamu sudah harus dirias, anak ibuk besok akan jadi pengantin". Aku mengangguk, ibu mencium keningku lalu berjalan keluar kamar.
"Harusnya kamu bahagia Za" batinku, membekap berjuta pertanyaan tentang apa dan kenapa sampai lelah membawaku terlelap dalam mimpi.
#
"Kamu sangat cantik Fii". ibu tak henti-hentinya memujiku, ada rona bahagia yg terpancar dari wajah ibu.
"Ibu keluar dulu, acara ijab qobul akan segera dilaksanakan, kamu nunggu disini dulu, nanti setelah selesai baru kamu keluar".
Aku hanya melihat dari balik jendela yg dibiarkan sedikit terbuka. Aska dengan jas putih senada dengan kebaya yg aku pakai sekarang sudah duduk dihadapan penghulu dan Bapak, dibelakangnya ada Pak Aris, Bu Siska Nenek dan beberapa kerabat Aska yg tidak begitu aku kenal, Reno, dan asisten keluarga Aska semua ikut hadir disana. Sementara di belakang bapak ada bulik Nanik, Mas Danu dan istrinya, lalu ibuk dan paman, Farel dengan kamera milik Aska mengambil foto untuk mengabadikan momen bersejarah ini.
"Saya terima nikah dan kawinnya Fiona Sekarsari binti Dimas Sukardi dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai"
"Bagaimana saksi? Sah?" penghulu bertanya
"Saaaaaaah"
"Alhamdulillah ya Alloh". Didalam kamar aku menitikkan air mata tak kuasa menahan haru, aku benar-benar menjadi istri seorang Aska Narendra Putra, teman satu kelas yg dulu diam-diam mencuri perhatianku, Aska yg sadis, Aska yg pintar.
Ibu membawaku keluar, Aska tersenyum tertegun lama menatapku. Aku duduk disamping Aska, mencium punggung tangannya, dan Aska mencium keningku. Semua mata memandangku, satu persatu memberikan ucapan selamat, kulihat bapak menangis diatas kursi rodanya, disampingnya Bulik Nanik menenangkan. Sampai satu persatu tamu pulang, hanya tinggal beberapa yg masih duduk mengobrol dengan kerabat.
"Kamu capek sayang". Aska mengenggam tanganku. Panggilan sayang untuk pertama kalinya terdengar aneh ditelingaku.
"Mau istirahat dulu? biar kuantar ke kamar".
"Nggak enak masih ada tamu".
"Trimakasih sayang sudah menungguku selama ini, trimakasih sudah mau menjadi bagian dalam hidupku".
Kami saling melempar senyum, sampai seseorang datang menghampiri kami.
"Selamat Ka, akhirnya kamu yg menangin Fio".
Reza menjabat tangan Aska dan memeluknya
"Tolong bahagiain dia, jangan buat dia menangis".
"pasti Za, aku sangat mencintai Fio sejak sekolah, Fio cinta pertamaku dan Fio juga yg akan jadi cinta terakhirku.
Aku tak sanggup menatap pemandangan itu, dua orang yg pernah sangat berarti dalam hidupku. Aku membuang pandangan, dan ternyata Aulia telah ikut berdiri didepanku.
"Akhirnya kamu nikah juga Fii, jadi nggak khawatir Reza bakalan balikan sama kamu". Ingin sekali menampar wajahnya, berkali-kali dia melukaiku dengan kata-kata kasarnya.
Reza langsung menarik Aulia menjauhiku, ada emosi yg tak bisa ia tutupi, bahkan ketika Aulia berteriak mengatakan bahwa Reza menjadi gila karna aku. Reza menamparnya, lalu menghilang ke dalam rumahnya.
Hampir saja aku menangis, tapi Aska memelukku, menenangkanku.
"Aku nggak pernah peduli kata orang Fii, bagiku kamu yg terbaik, dari jaman sekolah sampai sekarang, bahkan mungkin sampai nanti, hanya kamu yg terbaik, kalau dia berani macam-macam lagi sama kamu dia akan berurusan sama aku".
Hari sudah malam, Pak Arif dan Bu Siska pamit pulang, kerabat yg lain juga sudah pulang, ibu mengajakku masuk.
"Kalian istirahat dulu sana, besok masih ada acara resepsi dirumah Nak Aska, pasti akan sangat melelahkan".
Aku masuk ke kamar diikuti Aska, dia mengeluarkan kaos putih dari dalam tasnya, lalu melepas bajunya.
"Kok ganti bajunya disitu" Tanyaku sedikit membuang muka
"Kenapa? Malu ya?". Aska mendekatiku berbisik ditelingaku
"Atau kamu mau aku nggak pake baju"
"iiihhhh mesum mulai ya"
"kan sama istri,,nggak papa dong"
Dia menarikku dalam pelukannya
"Kamu tahu Fii, hari ini aku bahagiaaaaa pake banget, akhirnya aku bisa miliki kamu seutuhnya". Aska mengecup keningku, lalu pipiku, lalu bibirku. Ciuman pertamaku telah diambil suamiku, tubuhku sedikit gemetar, ada rasa hangat yg mengalir ke seluruh tubuhku.
"Boleh minta malam ini". Dia menatapku setelah ciuman itu berakhir.
"Jangan sekarang Ka".
"kok manggilnya masih Kaa?".
"ehm, iya mas, jangan sekarang ya, nggak enak, paman dan anak-anak tidur disini".
"Baiklah sayang, tapi kalau cuma begini boleh kan?"
Aska membaringkan tubuhku, menarik selimut lalu ikut masuk didalamnya, dia melingkarkan tangannya ditubuhku, membenamkan wajahku dalam dadanya yg bidang, aku bisa mencium aroma tubuh Aska, merasakan hembusan nafasnya, dia Aska suamiku yg sekarang harus kucintai sepenuh hati.
( bersambung )
author bingung membuat adegan malam pertama, biarpun sudah emak2 tapi bingung mau nulisnya..ππππππ