
Bugh ....
Tiba-tiba terasa sakit pada bagian belakang kepalaku, entah apa yang baru saja menghantamnya. Seingatku tadi bapak asal-asalan melempar semua barang yang ada di atas meja. Mulutnya terus memaki ibu yang mulai terisak, tetapi samar kudengar ibu masih menyahut makian bapak.
Entah sejak kapan mereka bertengkar, saat aku tiba di rumah petang tadi, keadaan sudah kacau seperti ini. Di balik gorden ruang tengah, Farel adikku yang baru duduk di kelas 3 SD tampak mengintip sambil terisak, aku tahu dia sangat ketakutan melihat bapak dan ibu bertengkar.
Sebenarnya bukan kali ini saja Farel melihat pertengkaran bapak dan ibu. Namun, beberapa bulan belakangan ini kami tidak melihatnya lagi. Ketika itu, bapak pergi membawa kardus sehabis memukul ibu. Yang aku tak tahu, kenapa hari ini bapak harus pulang dan membuat keadaan yang hampir mirip seperti saat dia pergi beberapa bulan lalu.
”Cepat urus perceraian kita! Aku sudah tidak tahan dengan semua ini, aku sangat muak denganmu,” ucap ibu sembari mengusap air matanya.
”Itu sudah pasti, tapi jual tanah itu dan berikan bagianku!” jawab bapak dengan nada yang sedikit menurun saat tahu aku menatapnya tajam. Bapak melihat aku meringis menahan sakit saat tadi ia mengamuk.
”Baik, kamu akan dapat bagianmu, tapi kamu tidak berhak atas Fio dan Farel. Mereka akan ikut aku.” Ibu berdiri meninggalkan ruangan itu, masuk ke dalam kamar sambil membanting pintu.
Perceraian? Sudah bisa kuduga, bahkan aku sudah sering membayangkan hal itu setiap kali mereka bertengkar. Karena tanpa perceraian itu pun, bapak sudah meninggalkan kewajibannya sebagai suami, sebagai seorang bapak dari aku dan Farel, bahkan aku sudah tidak peduli jika bapak tidak pernah muncul lagi dalam kehidupanku, aku membencinya--mungkin saja.
18 tahun pernikahan mereka berakhir dengan kata cerai. Seperti itukah orang dewasa? Jatuh cinta lalu memutuskan menikah? Berjanji menua bersama yang nyatanya hanya isapan jempol semata.18 tahun hanyalah waktu yang berlalu begitu saja tanpa mereka sadari ada orang lain yang mereka sakiti, aku dan Farel.
Kudengar suara motor bapak menjauh, lalu hilang ditelan senja yang kembali basah. Kali ini bukan karna gerimis ,tetapi karena isak tangis ibuku dari balik kamar tidurnya yang belum juga mereda.
Nyeri kepalaku sudah masih terasa, aku berulang mengusapnya untuk mengurangi rasa sakit. Namun, ada rasa sakit lain yang mulai membuat kelopak mataku basah, sakit itu melukai hati dan perasaanku, nyeri sekali saat mendengar ibu harus menangis karena semua ini, karena penghianatan bapakku.
☘️
Malam semakin pekat, tapi mata masih tetap terjaga. Lirih suara petikan gitar memecah sunyi, kubuka sedikit jendela dan kembali kulihat senyum dari wajah polos itu. Ia membiarkan jendela kamarnya yang menghadap ke jendela kamarku terbuka. Sesekali dia menggelengkan kepala sambil terus memetik gitarnya, menatapku--tersenyum. Entah isyarat apa yang ingin ia sampaikan untukku.
Satu lagu selesai, kulihat dia keluar rumah, berjalan mendekati jendela kamarku.
”Belum tidur?” sapanya.
”Kamu berisik, bagaimana aku bisa tidur.” sahutku singkat.
”Oya? Benarkah karna suaraku?” Ia kembali tersenyum, lesung pipit di sebelah pipinya membuat wajah itu terlihat lebih manis.
”Bisa membantuku? Aku butuh obat biar cepat mengantuk, tapi obat di rumah habis. Kamu tahu 'kan obat yang biasa aku minum?” lanjutku pelan.
”Kepalamu sakit?”
”Sedikit.” Aku membuang muka saat ia lekat menatapku.
"Benarkah? Atau mau kuantar ke rumah sakit?" Wajahnya tampak sedikit panik.
”Tidak perlu ke rumah sakit, hanya sedikit nyeri.”
Tanpa menjawab ia berlari pulang, dan dengan cepat ia kembali membawa obat pereda nyeri yang biasa aku minum.
”Minumlah! satu saja, jangan lebih! Besok aku akan mengantarmu periksa, libur saja sekolahnya, biar aku yang minta izin ke sekolah.”
”Besok aku ada ulangan. Aku harus ikut ulangan itu, karena kalau harus ikut ulangan susulan sangat merepotkan,” terangku kemudian.
"Baiklah, tapi jika masih sakit beri tahu aku. Sekarang tidur dan jangan banyak berpikir! Kamu harus percaya, sakitnya hari ini akan menjadi tawamu suatu hari nanti. Ingatlah, kamu nggak sendiri, aku akan selalu ada buat kamu.”
”he em, makasih,” gumamku pelan.
Ia beranjak setelah mengusap rambut atasku, tersenyum sangat manis lalu menutup jendela kamarku.
Reza Prastian, lelaki yang tidak pernah mengatakan menyukaiku, tetapi selalu memberikan apa yang aku butuhkan, ”terima kasih, Za,” gumamku lirih. Mencoba memejamkan mata, menghapus sejenak jejak rekam hari ini. Hari yang melelahkan.
☘️
”Kumpulkan kertas ulangan kalian ke depan! Waktunya habis,” seru pak Ramlan guru mata pelajaran matematika sekaligus wali kelasku. Guru yang lumayan ditakuti karna garis wajahnya yang terlihat kurang ramah.
Selesai sudah beban hari ini. Bel istirahat nyaring membuat anak-anak berhambur keluar, laluberebut jajanan di kantin sekolah.
Bruuk!
Tiba-tiba saja jalanku oleng sampai menabrak pintu kelas, denyut di kepala kembali terasa, sakit, pening, lalu semua tampak buram, sendi-sendi tulang rasanya tak mampu lagi menyangga tubuhku, lalu seketika semuanya menjadi gelap.
Aroma minyak kayu putih menusuk tajam hidung, kubuka mata perlahan, masih terasa berdenyut di ujung mata sebelah kiri.
”Alhamdulillah, Fio akhirnya kamu sadar.” Kulirik Sarah yang sudah duduk di sebelahku, memegang lenganku, sebelah tangannya memegang dahiku.
”Sudah sejam lebih kamu pingsan, tubuhmu hangat. Kalau kamu sakit, harusnya tadi nggak usah berangkat sekolah,” ucap Sarah pelan, teman terdekatku di sekolah.
”Hmm, makasih, Sarah,” jawabku tanpa panjang lebar karena memang enggan rasanya terlalu banyak bicara saat denyut di kepala belum reda.
”Kamu sudah baikan, Fio?" Lelaki yang tak pernah ramah itu tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu UKS.
”Aku akan mengantarmu pulang, Pak Ramlan sudah memberimu surat ijin dan memintaku mengantarmu," lanjutnya dengan ekspresi wajah yang masih sama, dingin dan tajam.
”Aku bisa pulang sendiri,” sahutku.
"Kutunggu di parkiran! merepotkan,” gumamnya berlalu tanpa menunggu jawaban.
"Ayo, Fio. Aku antar sampai parkiran, sebaiknya kamu diantar Aska, jangan pulang sendiri, paham! jangan membuat seisi sekolah khawatir.” Sarah menggandengku, membawakan tas sekolah dan mengantarku sampai ke parkiran motor.
Untuk pertama kalinya duduk sedekat ini denganya. Lebih tepatnya dibonceng motor, tanpa kata, tanpa suara, hanya aroma wangi yang menyeruak memisahkan jarak yang begitu dekat.
Aksa Narendra Putra, anak laki-laki yang selalu mengisikan namanya di peringkat kelas. Namun, sikap dinginnya membuat aku murid-murid perempuan harus berpikir dua kali untuk mendekatinya.
Hampir 2 tahun mengenal dan berada di satu kelas dengan Aska, jujur, diam-diam aku memperhatikannya. Ia suka membaca komik, menulis puisi, ia suka mendengarkan lagu-lagu klasik. Meski kita tak pernah saling bicara selain urusan organisasi dan tugas kelas, ia seperti kulkas, sangat dingin.
Motor Aska berhenti tepat di depan rumahku.
”Makasih,” kataku menyerahkan helm yang kupakai tadi kupakai.
”Iya,ada siapa dirumah?” Ia balik bertanya.
”Kosong. Ibu masih jualan di pasar nanti lepas ashar baru pulang, adikku ada ekstra di sekolah. Mungkin pulang sampai sore.”
"Owh. Masuklah! Aku harus kembali ke sekolah,” lanjutnya menghidupkan motor, berbalik meninggalkanku. Aku hanya mengangguk, melihatnya berlalu menjauh.
Sepasang mata menatapku nanar, dari balik jendela kamarnya yang terbuka lebar, senyumnya samar, tidak seperti biasanya. Sejak kapan dia berdiri di sana melihatku pulang? Lalu kenapa saat ini dia tidak berlari menghampiriku? Aku hanya melambaikan tangan, meninggalkannya dengan banyak pertanyaan.
”Kamu kenapa, Za?" gumamku sangat pelan.
Aku merebahkan tubuh, sakit kepala ini sangat menyiksa. Aku hanya ingin tertidur sebentar tanpa memikirkan dunia--sebentar saja.
☘️☘️