"First"

"First"
part.29



#


Faraz mengejar Queen, bukan karna Queen menjahilinya atau Queen membuat masalah. Faraz masih penasaran, apa yg Queen tahu tentang orang tua mereka? Bagaimana Queen bisa tahu? Apa ayah Reza cerita ke Queen? kenapa dengannya tidak?


Faraz berhasil menarik tas Queen yg hendak melompati pagar pembatas lapangan sekolah, Queen yg tidak siap pun terhuyung, tertarik ke belakang dan akhirnya jatuh menimpa Faraz.


"Rese' banget sih kamu". Queen bangkit setelah memukul Faraz.


"Salah siapa lari". Faraz membela diri.


"Mau ngapain". Queen merapikan seragam sekolah, lalu duduk di pagar, menyandarkan punggungnya di pagar sekolah, mengambil botol air minum yg dibawanya dari rumah. meneguknya perlahan, lalu menyodorkannya ke Faraz.


"Ayo dong Queen cerita, soal ayah, bunda dan Papa, aku bisa mati penasaran nih".


"Emang kemarin sama Ayah nggak diceritain?" Queen balik tanya.


"Ayah cuma bilang temenan kaya aku sama kamu gitu".


"Ayah bohong". Queen memandang jauh ke luar lapangan, matanya seperti mengeluarkan semua isi kepalanya.


"Aku menemukan foto bunda waktu masih sekolah di laci meja kamar Ayah". Lanjut Queen.


"Kata Ayah, bunda sama Ayah kan memang satu sekolah". Faraz menurunkan duduknya, dia merebahkan diri di rumput.


"Bukan cuma fota Raz, aku membuka sebuah amplop coklat, yg isinya sebuah sertifikat tanah atas nama Bunda".


"Oyaaa?". Faraz bangkit menatap Queen.


"Aku sudah tahu lama sih, tapi pura-pura nggak tahu, aku pernah tanya ke nenek kakekku, tapi mereka nggak pernah mau jawab, aku tanya nenek kamu juga nggak mau cerita, akhirnya aku tanya Om Farel, awalnya juga nggak mau cerita, tapi akhirnya mau cerita". Terang Queen kemudian.


"Trus Om Farel bilang apa?".


"Dulu Ayah sama Bunda deket banget, tiap malam buat kaya api unggun gitu didepan rumah, kadang Ayah main gitar sambil nyanyi buat Bunda, tapi Om Farel nggak tahu persis perasaan mereka, waktu itu juga kan Om Farel masih SD, yg Om Farel tahu setiap hari Ayah Bunda selalu sama-sama". Queen menghela nafas, sekarang Queen yg merebahkan tubuhnya, menata tas punggungnya untuk bantal kepala. Faraz melakukan hal yg sama.


"Trus kok bisa Bunda nikahnya sama Papa?, padahal Papa bilang nggak ngrebut Bunda dari Ayah, Ayah juga kan nikah duluan sama ibu kamu".


"Setahu Om Farel, Ayah dijodohkan sama ibu, tapi ayah nggak pernah suka sama ibu, mereka berantem trus tiap hari daaan". Queen menghentikan ucapannya.


"Dan apa Queen?". Faraz semakin penasaran.


"Ada yg bilang, aku bukan anak kandungnya Ayah".


"What...? siapa yg bilang? Om Farel?". Queen menggeleng.


"Ayah kandungku".


"Haaaa". Faraz melongo. "Dan kamu percaya gitu aja?". Lanjut Faraz meninggi.


"Awalnya enggak, tapi dia mirip sama aku, tanpa sepengetahuan Ayah, aku menantang orang yg mengaku ayah kandungku untuk tes DNA, dan kamu tahu? aku benar-benar anaknya".


"Gila, bener kaya gitu Queen? Sejak kapan kamu tahu kalau kamu bukan anak kandungnya Ayah?" Faraz memiringkan tubuhnya menghadap Queen.


"Setahun lalu".


"Ayah Reza tahu?"


"Enggak, aku pura-pura nggak tahu kalau aku bukan anak kandungnya, Ayah sayang banget sama aku, marahin aku aja nggak pernah, ayah yg ngrawat aku dari bayi, bahkan ayah tetep sayang ke aku padahal ayah tahu, aku anak hasil perselingkuhan ibu sama ayah kandungku?"


Queen mulai berkaca-kaca.


"ini beneran Queen?" Faraz se olah nggak percaya, tapi Queen mengangguk.


"Ayah kandungku mengajak aku ikut dengannya, dia sudah menikah dan punya 2 anak, tapi aku nggak mau".


" Emang dia nggak maksa gitu?".


"Maksa sih, tapi aku bilang kalau dipaksa, atau dia minta secara langsung dari ayah, aku mau bunuh diri".


"Gila kamu Queen". Faraz masih terheran.


"Biarin, salah siapa dulu pas bayi aku nggak diminta, mana pake acara selingkuh lagi, nyebelin banget kan, setelah tahu yg sebenarnya, aku justru makin kasihan sama ayah".


"Ayah cintanya cuma sama bunda, ayah nggak bakalan nikah sama orang selain bunda".


"Orang Ayah nikah sama ibu kamu".


"Faraaaazzz, ibu sama Ayah itu dijodohin tahu? kakekku sakit keras, jadi maksa nitipin ibuku ke ayahnya Ayah buat dinikahkan sama Ayah Reza".


"Berarti Papa nggak ngrebut bunda dong?".


"Pas nikahnya sih enggak, tapi sebelum ayah nikah, papa kamu datang dalam hidup bunda, bikin bunda dilema gitu".


"Wuuuu....anak kecil sok tahu". Faraz mengacak rambut Queen.


"Emang gitu, tapi bunda beruntung banget dapat Papa kamu, udah ganteng, baik, tajir lagi". Queen mulai menghayal.


"Iya dong, ganteng kaya anaknya gini". Faraz mulai kepedean.


"Yeee gantengan Papa lagi, coba aku sama Papa seumuran, papa bakal aku jadiin pacar". Queen tertawa lalu berdiri.


"Queeeeeeen". Faraz bangun, hendak menjitak kepala Queen, tapi Queen lebih dulu berlari meninggalkan Faraz.


Gadis itu Queena Fayara, hidupnya yg luar biasa, bahkan setelah mengetahui Reza bukan ayah biologisnya, dia tidak jatuh terpuruk, tidak sedih, tidak menyesal, bahkan semakin menyayangi Reza. Queen mendapatkan semuanya dari Reza, kasih sayang yg mungkin melebihi ayah kandungnya.


#


Aska memeluk Fio yg masih duduk di meja rias, mencium pipi kanannya, lalu memperhatikan wajah istrinya dari kaca.


"Kamu makin cantik Sayang". Puji Aska.


"Makasih Mas, kamu nggak bosen-bosennya muji aku". Fio mengusap lembut pipi Aska yg masih menempel disebelah pipinya.


"Besok Anniversary kita yg ke 17 sayang, usia yg sama seperti saat pertama aku jatuh cinta sama kamu, kamu mau hadiah apa?". Fio membalikkan badan, menangkup wajah Aska dengan kedua tangannya.


"Aku sudah sangat bahagia Mas, Allah memberikan aku hadiah kamu dan Faraz dalam hidupku, semua sudah cukup, bahkan terlalu berlebih buatku Mas". Fio mengecup sekilas bibir suaminya.


"Jangan menggodaku Sayang". Aska mendekatkan lagi wajahnya.


"Kalau nggak bolah godain suami, berarti boleh godain orang lain dong". Wajah Aska cemberut, mengangkat Fio dari duduknya, membawanya ke ranjang.


"Kamu berani menggoda orang lain?". Aska menindih sebagian tubuh Fio, matanya masih terus menatap tajam Fio.


Fio tersenyum, makin lebar, sampai Aska menghentikannya dengan ciuman, ciuman yg semakin menuntut yg lainnya, sampai akhirnya kedua orang yg saling mencintai itu jatuh dalam kelelahan.


Aska mengeratkan pelukan ke tubuh istrinya.


"Makasiih sayang". Aska mengecup puncuk kepala Fio berkali-kali, lalu terlelap dengan saling memeluk.


Fio mengerjap, meraba sampingnya yg kosong.


"Mas....". Tidak biasanya Aska bangun lebih dulu, Fio duduk disamping ranjang, menemukan sebuah kotak kecil dan secarik kertas.


"happy aniv sayang, semoga menua bersama"


Fio tersenyum, lalu membuka kotak kecil itu, sebuah cincin, belum sempat Fio mencobanya, terdengar pintu kamar dibuka.


"Sudah bangun sayang". Aska menghampiri Fio.


"Makasiiih Mas". Fio memeluk Aska, suaminya yg dulu super dingin, sekarang super romantis.


Aska meraih tangan Fio, memasangkan cincin itu, lalu merengkuh Fio dalam pelukannya, mereka larut dalam kebahagian yg seperti tidak pernah ada habisnya.


#


Semoga suka dengan part ini ya..


Mohon terus dukung lewat like dan komennya..


makasihπŸ™πŸ™πŸ’–πŸ’–