
#
Suara tangis bayi memecah keheningan didepan ruang operasi, ibu langsung mengintip dari kaca kecil dipintu ruang operasi, tak lama kemudian seorang perawat menggendong bayi Aulia keluar.
"Selamat Pak, ini putri bapak, sangat cantik, mirip dengan ibunya, monggo kalau mau di adzani dulu sebelum saya bawa ke kamar bayi".
Reza gugup menerima bayi itu, ada rasa iba, ada rasa tertarik yg membuat dadanya bergetar. "Harusnya kamu bahagia dengan ayah kandungmu Nak". Batin Reza seolah teriris, menatap wajah mungil bayi tak berdosa itu, jika dia menceraikan Aulia, apakah bayi ini tersakiti juga?
Reza tersadar saat perawat kembali mengambil bayinya lalu membawa ke kamar bayi yg ada dilorong depan.
Beberapa menit kemudian pintu ruang operasi terbuka, beberapa orang yg memakai baju operasi mengampiri Reza.
"Nyonya Aulia masih kritis Pak, kami memindahkan beliau ke icu, selalu doakan yg terbaik buat istri bapak, kami sudah lakukan yg terbaik". Dokter itu pergi, bapak menenangkan ibu yg mulai terisak. Reza duduk, menyandarkan kepala ke tembok, dia tidak tahu apa yg akan dilakukannya setelah ini, mungkinkah melihat tubuh lemah aulia kebenciannya bisa Luruh?.
#
Dua hari Aulia belum juga melewati masa kritisnya, denyut nadinya melemah, sebentar Aulia membuka mata, Dokter segera memeriksa kondisi Aulia yg justru semakin memburuk.
"Dok, tolong suami saya". kata Aulia sangat lemah.
Dokter itu segera menyuruh perawat memanggil Reza diluar, Reza masuk bersama ibu dan bapak.
"Maaasss". Tangan Aulia menggapai Reza, Reza mendekat tanpa suara.
"Ma....af". Bicaranya mulai terputus
"Aku memaafkanmu Aul". Reza mengusap jari Aulia, untuk pertama kalinya.
Air mata Aulia jatuh.
"Maaf buat Fio". Reza mengangguk, ibu berbalik memeluk suaminya karna tak sanggup melihat kondisi Aulia.
"Nitip anakku". Belum sampai Reza mengangguk suara monitor jantung Aulia berbunyi panjang, Ibu semakin terisak, Reza mencium kening Aulia.
"Maafkan aku juga Aulia, maaf". Sudut mata Reza basah, rasa bencinya terbang bersama Aulia yg sudah pergi selama-lamanya.
Dokter dan perawat segera mengurus jenazah Aulia, Reza dan keluarga di persilahkan menunggu di aula sampai jenazah siap untuk dibawa pulang ke rumah.
Reza berjalan menuju ruang bayi, hari ini juga Anak Aulia sudah boleh pulang, bayi yg malang, Reza menggendongnya, membelai rambutnya yg halus.
"kita pulang sayang, ibumu juga pulang hari ini, panggil aku ayah ya sayang". Air mata Reza kembali tumpah mendekap bayi mungil itu pulang beriringan dengan jenazah Aulia.
#
Mendengar kabar meninggalnya Aulia membuat Fio terkejut, dia terus teringat semua kejadian yg menimpa dirinya dengan Aulia, begitu cepat Allah mengambilnya kembali.
"Sayaaang kenapa belum siap?" Aska membuka kamar menemukan Fio masih terpaku di depan meja riasnya.
"Iya, sebentar lagi". Aska menghampiri istrinya, memeluk bahunya.
"kenapa sayaaang? kamu ragu untuk melayat?"
"Enggak Mas...aku cuma keinget Aulia, masih nggak nyangka dia meninggal". Aska mencium pipi kiri Fio.
"Justru itu sayang, kamu harus ucapkan salam perpisahan buat Aulia, pemakamannya sejam lagi lho". Aska menggapit Fio, berjalan keluar. Pak Amin sudah siap dengan mobilnya diluar.
#
Fio Pov
Reza masih menaburkan bunga diatas makam Aulia, aku dan Aska berdiri di belakangnya, sampai Reza selesai dan berdiri menyamai kami berdua.
"Kami ikut berduka cita Za, semoga Aulia tenang disana, kamu yg sabar ya!" Aska menepuk bahu Reza.
"Makasih Ka, Aulia kemarin sempat nitip permintaan maaf buat kamu Fii". Reza mengalihkan pandangan ke aku.
"iya Za, aku udah maafin Aulia". Menyadari mataku berkaca Aska segera mengusap pelan bahuku, dan itu berhasil membuatku tidak menangis.
"Aku boleh menemui anakmu setelah ini Za?".
Reza hanya mengangguk.
Kami berlalu, perpisahan panjang dengan Aulia harus segera diakhiri, biarlah sekarang dia tenang disana, perjuangannya saat melahirkan putri kecilnya semoga bisa menjadi penebus dosa-dosanya selama ini, semoga menjadi jalannya menuju surga.
Usai ganti baju Aku dan Aska kembali menemani Reza, ibu Reza juga sempat meminta maaf padaku atas perlakuan Aulia selama ini, dia membiarkanku menggendong anak Aulia yg cantik, kulitnya putih, pipinya cabi, bibirnya merah dan menggemaskan.
"Namanya siapa Zaa?". Tanyaku membuat Reza menunduk.
"Belum ada". Jawabnya singkat.
"Kok gitu".
"Selama ini bahkan aku tidak pernah memikirkan keberadaannya, apalagi memikirkan namanya". Suaranya berat, seperti ada sedikit sesal disana.
"Sudahlah sayang, biar besok Reza pikirin namanya, sekarang masih sibuk gini". Aska menengahi.
"oke baby, karna ayah kamu belum punya nama buat kamu, tante panggil baby Queen aja yaah". aku bicara sendiri dengan bayi mungil ini.
"Baby Queen? boleh juga, sini, om juga mau gendong!" Aska meminta baby queen dari gendonganku.
"Allloooow Baby Queen, cantiknya ponakan om, sebentar lagi kamu bakalan punya temen, ditungguin launchingnya yaa, soalnya dedek bayinya masih diperut tante Fio". Ocehan Aska berhasil membuat bapak dan ibu Reza sedikit tersenyum.
"Kamu hamil Fio?" ibu Reza melihat perutku yg datar.
"Iya buk, baru 2 bulan". sahutku
"Selamat ya Fio, mudah-mudahan sehat sampai lairan nanti"
"amiin, makasih buk".
#
(Reza part)
"Baby Queen, nama yg bagus tapi nggak usah pake baby, aku akan memanggilnya Queen, trimakasih Fii, kamu sungguh seperti peri yg baik hati, tak ada dendam dihatimu meski berkali-kali Aulia menyakitimu, sungguh beruntungnya Aska, bahkan sekarang kamu sedang mengandung anak Aska, mungkin seperti inilah rasanya menangis tanpa air mata, aku pernah mencintaimu, masih mencintaimu, bahkan mungkin aku akan selalu mencintaimu. Tapi kamu hanyalah mimpi yg tak akan pernah menjadi kenyataan, aku hanya diberi sedikit waktu menjagamu tanpa pernah memilikimu, berbahagialah terus Fii, aku sangat senang melihatmu tersenyum, aku suka melihatmu merajuk dan sesekali mencubit lenganku. Jika mengharapkanmu adalah dosa, maka biarkan ini menjadi dosa yg paling indah dalam hidupku".
( suara hati Reza )
#
( bersambung)
Woooow Reza masih sayang banget ya sama Fio...biar nambah semangat up, tinggalin like dan komennya ya.
πππππ