
#
Berada diantara keduanya tanpa komitmen,inilah yg aku jalani sekarang. Reza terlalu baik untuk dikecewakan, dan Aska terlampau tinggi untuk digenggam. Inilah yg terjadi, setahun terlewati tanpa ada satupun dari kami yg dengan berani menyatakan perasaan, melewati tanpa berusaha saling menyakiti,dilema memang,tapi ini bukan sebuah ujung,umur kami masih belasan,terlalu sayang jika harus menyelesaikan satu perasaan dengan rasa kekecewaan.
Hampir setiap malam aku dan Reza masih menjalani rutinitas membakar ubi kayu,atau hanya sekedar memainkan beberapa lagu dari gitar klasiknya,sesekali menarikku untuk ikut menyusun puzzle mimpi yg mulai ia kumpulkan,masih tentang sepetak tanah yg telah sanggup ia beli dengan uang tabungannya,berandai-andai tentang bentuk rumah,jenis ikan yg akan dipelihara,beraneka warna bunga mawar yg akan ia tanam disampingnya,dan tentu saja tentang gembalaannya yg akan menjadi ladang penghasilannya kelak. Mimpi sederhana seorang anak tanpa gelar sarjana,disetiap ia mulai membicarakannya,ada seraut wajah penuh harap kepadaku,bahkan ketika berkali-kali dia memintaku untuk menemaninya kelak. Reza bukan lelaki perfectionis,dia bukan tipe lelaki yg dengan lantang berkata "aku cinta kamu",bukan lelaki yg berani mengejar untuk harus memiliki. Perhatiannya tulus,perasaannya halus.
Sementara Aska adalah seorang lelaki yg gigih mengejar mimpi,ditunjukkannya dengan prestasi,bahkan ketika lulusan kemarin dia berhasil mendapat nilai rata2 tertinggi. Perfect. Ambisius mungkin,tapi jiwanya sepi,hanya dengan Neneknya ia bisa berbagi,kedua orang tuanya adalah pengusaha yg kadang harus tidak pulang karna mengurus bisnisnya di luar kota. Karna itulah,berkali-kali Nenek memintaku menemaninya,mengisi sunyi dirumah mereka,bukan hanya rumah,tapi hati mereka.
Mereka berdua bagai dua sisi mata uang logam,masing-masing punya gambar yg berbeda,tapi memiliki nilai yg sama. Perlahan-lahan mereka bisa mematahkan asumsiku tentang lelaki,jika dulu aku berpikir bahwa semua laki2 itu sama "egois,kasar,frontal" tapi tidak dengan mereka,mereka punya dunia yg menganggapku ada. Mereka tidak egois,ketika mereka tahu aku tidak siap dengan sebuah komitmen,maka mereka hanya diam,membiarkan diri mereka tetap disampingku,dengan cara mereka sendiri-sendiri membawaku serta masuk dalam kehidupannya.
#
Sebagai puncak dari acara kelulusan tahun ini adalah rekreasi,dan bisa ditebak anak seumuranku akan lebih memilih bermain air di pantai daripada harus ke kebun binatang. Pantai parangtritis jadi pilihannya,ombak yg tidak terlalu besar menggiring buih kebibir pantai.
Aku menikmatinya,duduk dihamparan pasir yg basah,melihat semua teman-teman bercengkrama dengan ombak,saling mendorong dan saling menjatuhkan sambil tertawa kegirangan,ini adalah akhir,akhir kisah dimasa putih abu-abu,dan mereka sangat bahagia.
Aska duduk disampingku,tubuhnya basah,nafasnya sedikit terengah,dia lalu merebahkan tubuhnya tepat disampingku..
"Kamu nggak ikut nyebur Fii?"
"Takut hanyut" jawabku asal
Aska menyeringai.
"Boleh pinjem tanganmu?" Katanya kemudian.
"Buat apa?"
"Silau". Jawabnya singkat. Aku tahu maksud dari ucapanya,kuregangkan telapak tanganku menutupi cahaya matahari yg mengusik pandangannya.
"Makanya duduk,jangan rebahan gitu" Ucapku kesal.
"Udah diem,minjemnya sebentar aja kok".
Telunjuk tangan Aska menyentuh telapak tanganku,seperti menuliskan sesuatu dengan ujung jarinya,seketika jantungku terpompa,ada perasaan aneh yg tiba2 datang, untuk pertama kalinya, setelah selama ini, dia berani menyentuh tanganku, ya, karna selama ini kita hanya sebatas ngobrol, tanpa sentuhan fisik, hanya pernah sekali dulu ia mengusap rambutku, mungkin karna cemburu melihat Reza melakukannya, bahkan ketika aku ulang tahunpun dia tidak mau menjabat tanganku.
"Bisa dibaca nggak Fii"
"Apa...nggak bisa" sedikit kaget dengan ucapan Aska yg tak terduga, kukira dia hanya iseng menyentuhnya, tapi ternyata benar-benar menuliskan sesuatu.
"Yaaaaaahhh" ucapnya kecewa
Aku menarik tanganku, beranjak dari sana, jalan-jalan tampaknya bisa membuat detak jantungku kembali normal.
Aska menarik tanganku lalu menggengamnya, aku berusaha menepis dengan memutar pergelangan tanganku, tapi dia mengenggamnya dengan sangat kuat.
"Apaan sih Ka?"
Kami berjalan disepanjang bibir pantai, sesekali Aska mengayunkan genggaman tangannya. "Jika ini memang akhir,maka biarkan berakhir dengan sangat indah" batinku.
"Besok aku sudah harus berangkat ke jakarta, usaha bapak yg disana sedang butuh pengawasan ekstra, jadi mungkin bapak akan menetap disana untuk waktu yg lama, bapak memintaku ikut membantu sambil melanjutkan kuliah disana, kemungkinan ibu juga akan ikut" Aska masih menggengam tanganku, kutangkap mimik muka sedih dari sorot kedua matanya.
"Trus Nenek..?" Tanyaku pelan
"Itulah Fii,nenek ngotot nggak mau ikut pindah jakarta,dia maunya disini,kamu tahu bagaimana dekatnya aku dengan nenek". Aska melepas tanganku,mengusap kasar wajah dengan kedua tangannya menutupnya cukup lama. Aku tahu apa yg dia rasakan,aku mengusap pelan punggungnya,bahu yg biasanya kokoh itu kini tampak rapuh,mata yg biasanya tajam dan dingin itu tampak sayu.
"Sebenarnya aku juga nggak mau jauh darimu Fii". Aska menatapku lama. Apa yg bisa kujawab jika matanya adalah jawaban yg sama dengan apa yg ingin kusampaikan. Tiba-tiba bulir bening mengalir diujung matanya,ingin rasanya menghapusnya,memeluknya erat,tapi aku yakin, ketika aku melakukan itu, maka aku akan merasa semakin sakit ketika harus melapaskannya pergi. "Aska, hanya sampai disinikah semua? Bahkan untuk sebuah perasaan yg belum sempat kau ucapkan, setengah hatiku telah kau campakkan". Batinku menggumam.
Saat perjalanan pulang, Aska meminta sarah bertukar tempat duduk, Dia duduk disampingku sesekali menepuk nepuk punggung tanganku lalu melirikku, sekelebat kenangan selama 3th bersama terputar, bagaimana Aska yg dulu mengacuhkanku, dingin, kini seakan-akan tidak mau berpisah denganku, lalu bagaimana denganku?
Bus sampai di depan sekolah, tampak Reza sudah menunggu di gerbang sekolah,padahal tadi pagi sebelum berangkat aku sudah bilang tidak usah dijemput. Reza melambaikan tangan ke arahku, aku dan Aska menghampirinya.
"Sudah lama ya nunggunya? Kan sudah kubilang nggak usah jemput".
"Iya Za, kan aku bisa antar Fio sekalian, aku bawa motor tadi". Aska menyahut.
"Nggak papa, lagian belum lama juga kok nunggunya".
"Ya sudah, Aska aku pulang dulu ". Aku mengulurkan tangan ke Aska,dia memegangnya cukup erat,perlahan sebelah tangannya mengusap pucuk kepalaku. Reza menyipitkan mata, menepuk bahuku pelan.
"Titip Fio Za, kalau kamu nyakitin dia, kamu habis ditanganku, dan aku akan benar-benar mengambilnya darimu".
"Sayangnya aku nggak akan biarin kamu ngambil Fio dariku". Nadanya menekan, tapi justru itu membuat Aska tertawa
"Good boy, tunggulah sampai kita tahu siapa yg pantas buat Fio". Nadanya tak kalah menekan
"Pasti... kamu membuatku semakin tertantang". Aku menelan ludah,dua laki2 ini seperti tengah berebut mainan. Aku berbalik meninggalkan mereka, tapi Aska menahan tanganku.
"Jaga diri baik-baik Fii, kalau takdir kita berjodoh, sejauh apapun aku pergi, aku akan kembali untuk mencarimu". Aku tak menjawab, merasakan hangat tangannya akan menjadi saat perpisahan yg paling menyakitkan, aku tak berani berkata-kata, karna aku takut apa yg kukatakan akan menyakiti Reza..
"Selamat tinggal Aska, semoga kamu menemukan yg terbaik dalam hidupmu" batinku pelan.
#
Jalanan mulai lengang, aroma tubuh Reza membawaku pulang, tak senyaman biasanya, ada yg hilang, tapi aku tak tahu itu apa, perlahan air mata memburamkan cahaya. Esok akan menjadi hari yg lain, aku harus memulai membangun sebuah mimpi untuk membuatku berdiri sendiri. Karna satu kakiku telah Aska bawa pergi hari ini.
( Bersambung )
Bantu komen dan like ya
πππ