
#
Aku membuka tirai kamar yg tingginya hampir sampai ke plafon rumah, Aska menyipitkan mata karna silau sinar matahari, dia merubah posisi tidurnya membelakangi jendela, kebiasaan Aska setiap hari minggu seusai sholah subuh pasti tidur sampai siang, dan sekarang sudah jam 9 dia masih saja meringkuk dibalik selimutnya.
"Bangun Mas, sudah siang, sarapannya keburu dingin". Aku duduk disampingnya, mengusap lembut rambut dan wajahnya.
"eehhhhhmmmm" Aska hanya menggeliat lalu memindahkan posisi kepalanya kepangkuanku.
"Masih ngantuk, 10 menit lagi ya".
Aku membiarkannya tidur dipangkuanku, membelainya seperti bayi yg tidur dipangkuan ibunya, tapi belum sampai 10 manit Aska bangun, mencium kedua pipiku.
"Pagi sayang, trimakasih untuk semalam".
pipiku merona, ada perasaan senang bercampur malu, Aska berkali-kali mengucapkan terimakasih hanya untuk hal itu, bukankah itu kewajibanku?
"Mas lihat deh ada bekas merah dileher, aku malu kalau ketemu ibuk atau Nenek, mereka pasti menggodaku". Aku sedikit cemberut.
"Nggak usah malu, kan itu salah satu bukti kalau aku sedang berusaha memberi mereka cucu".
"Aaaaaa, tapi malu, tadi saja sarapan bik inah yg antar ke kamar, aku malu mau turun".
Aska menarikku, membawaku dalam pelukannya.
"Fio sayaaang, gini deh, aku punya cara biar itu nggak keliatan tapi aku nggak maksa kalau kamu nggak mau".
"Gimana caranya". Jawabku cepat
"Gimana kalau aku tambah merah-merahnya, nah kalau banyak nanti bilang aja habis kerokan gitu". Aska menempelkan wajahnya ke leher Fio.
"Mas Askaaaaaa". Fio spontan mendorong tubuh Aska.
"Sudah sana mandi, baunya sampai keluar tuh".
"Biarin bau, kamunya juga mau kok dipeluk-peluk". Lagi-lagi Aska mencubit pipi Fio
"iiiiihhh dasar". Fio melempar bantal ke arah Aska yg sudah duluan lari ke kamar mandi.
Seperti inikah menikah? Apakah dulu bapak dan ibuku seperti ini? Atau memang hanya diawal saja? Ada rasa takut yg tiba-tiba menyelinap, tidak, Aska bukan bapak, Aku mempercayai suamiku.
"Hari ini jalan-jalan yuk sayang, mumpung libur, atau kamu mau belanja apa gitu biar aku temenin".
"Aku pengen pulang ke rumah ibuk".
"Kan baru sehari disini, nanti dikiranya kita berantem trus kamu minta pulang".
"Ya udah kita jalan-jalan ke supermarket aja yuk, beliin isi kulkas buat bik inah masak, kemarin Fio lihat persediaannya menipis".
"Siap Nyonya Aska, biarkan suamimu yg tampan ini menjadi supir pribadimu hari ini".
"Ya ampuuun, gombalnya kelewatan, nggak pernah nyangka Aska Narendra Putra yg dulu pernah bilang ke aku 'ngrepoti' sekarang dengan suka rela merepotkan diri". Aku melebarkan tawa.
"Itu kan jaman aku jaim-jaim gitu, males sama cewek-cewek yg nggak bisa ngliatin cowok cakep, oya kamu tahu, berapa cewek yg pernah nembak aku dulu pas sekolah?"
Aku menggeleng
"Lebih dari sepuluh". Aska mengatubkan mukaku
"Dan gadis ini yg ternyata bisa menjatuhkan hatiku" sambung Aska mengecup bibirku.
"woow, kaya playboy gitu dong".
"Ya enggaklah, nggak ada satupun yg aku tanggepi orang dari pertama aku sukanya kamu, eeh kamunya malah cuek".
"Salah sendiri dingin kaya es batu, sampai si Sarah tuh suka kesel liat kamu"
"Tapi sekarang cintaaa kan??"
"Sudah dari dulu kali mas cintanya". Jawabku.
"Benarkah, bukannya kamu dulu sama Re...".
"Stop, sudah cukup reuniannya, aku nggak mau membuka luka lama, yuuk ah mas nanti kesiangan panas".
Aska merangkulku turun, Bapak dan ibu masih duduk santai diruang tengah.
"Pak, Buk, Aska sama Fio mau keluar dulu, nanti makan siang ngga usah ditungguin, kita mau makan diluar".
"Cieee ada merah-merahnya, semalam digigit drakula ya?". Spontan bapak dan ibu tertawa, aku menunduk saking malunya, mungkin mukaku saat ini sudah mirip kepiting rebus, tapi mau lari kemana coba, ibu memegang tanganku sambil terus menggodaku.
"Ibuk ini seperti belum pernah jadi pengantin saja, itu Aska lagi usaha buatin cucu buat ibu". Aku mencubit perut Aska yg malah ikut menggoda.
"Sudah..sudah sana pergi, kasihan Fionya sudah kaya jus jambu gitu". Lanjut ibu
"Fio pamit dulu Pak, Buk".
"Iya sayang, jangan lupa beri ibuk cucu yg banyak". Kata-kata Bu Siska lagi-lagi membuat bapak terbahak.
"Siap bu, Aska akan beri cucu yg banyak buat kalian". Aska yg menjawab lalu menggandengku keluar rumah.
#
Supermarket hari ini cukup ramai pengunjung, mungkin memang karna hari minggu dan tanggal muda. Aku memilih beberapa sayuran, camilan, dan perlengkapan mandi, sementara Aska berhenti didepan sebuah rak mainan.
"Kok mainan?" Tanyaku
"Buat anak-anak".
"Ya ampun maaaas, orang hamil saja belum kok sudah milih mainan". Aska tertawa, mendorong kembali troli yg sudah hampir penuh dengan belanjaan. Sampai di lorong yg menyediakan aneka jenis susu Aska berhenti.
"Kenapa Mas?"
"Sayang, coba lihat deh, bukannya itu Aulia ya".
Aku melihat arah yg ditunjuk Aska, dan benar, aku melihat Aulia menggandeng laki-laki tapi itu bukan Reza. Aulia sedang memilih susu ibu hamil.
"Apa Aulia hamil ya?" gumamku
Aska menarik tanganku menjauh dari tempat itu.
"Biarkan sayang, itu bukan urusan kita, dan aku tidak mau dia menyakiti kamu lagi seperti waktu itu".
Aku memilih mengikuti Aska. Apakah Reza tahu Aulia pergi dengan lelaki lain? Apakah pernikahan mereka baik-baik saja selama ini? Apakah Aulia hamil? Terlalu banyak pertanyaan yg menggantung diotakku, tapi aku tidak mau Aska tahu, Reza adalah masa laluku, tapi dia orang baik yg pernah ada dalam hidupku, haruskah aku diam saja melihat penghianatan istrinya?
Selesai membayar dikasir, Aska mengajakku makan disebuah warung nasi goreng, makanan kesukaanku, warungnya berada tepat didepan supermarket. Aska seperti menangkap resah diwajahku, satu tangannya mengusap buku jariku, sedang tangan yg satunya mengusap puncuk rambutku.
"Kamu masih kepikiran Aulia sayang?"
"Sedikit, aku cuma takut kalau Aulia benar-benar menghianati Reza".
"Tapi itu urusan rumah tangga mereka sayang, kita tidak boleh terlalu masuk di dalamnya, apalagi melihat sikap aulia kepadamu tempo hari membuatku naik pitam".
"Kasihan Reza Mas...."
"Boleh aku cemburu, kamu terlalu perhatian ke Reza".
"Bukan itu maksudku Mas, aku dan Reza teman sejak kecil, Mas Aska tahu? kemarin ibuk sempet cerita kalau Reza sekarang suka sekali mabuk-mabukan, padahal Reza yg dulu tidak seperti itu".
"Apa mungkin itu karna kamu".
"kok karna aku?". jawabku penasaran
"Aku tahu Reza sangat terluka ketika harus menikahi Aulia, dia terlalu mencintai kamu sayang, aku dan Reza sama-sama lelaki, aku tahu yg Reza hadapi tidaklah mudah, kamu juga tahu bahkan aku pernah rela mengiklhaskan kamu buat Reza, karna aku tahu Reza anak yg sangat baik, tapi perjodohan itu telah menghancurkannya, apalagi sikap aulia yg seperti itu, bukan hanya Reza yg akan jadi korban, tapi kamu juga sayang".
Aku menghela nafas panjang, apa yg Aska katakan hampir semuanya benar, aku andil dalam masalah ini.
Tak lama kemudian pesanan nasi goreng datang, aromanya membuat perutku menari-nari. Ditengah kami menikmati makan siang, lagi-lagi Aulia menjadi pemandangan, Aulia yg menggelayut manja di bahu lelaki itu.
"cekrek" Aska mengambil gambarnya
"Buat apa Mas?"
"Suatu saat kamu pasti membutuhkannya". Aska menaruh ponselnya lalu melanjutkan makan siangnya.
"Reza kecilku yg malang, apa kabarmu hari ini Za???" Pikiranku kembali melayang saat Reza menampar Aulia dihari pernikahanku. "Semoga kamu baik-baik disana".
#
( bersambung )
yuuk aah bisa vote, like atau komen, makasih masih stay untuk "First"
πππ