"First"

"First"
part.3



Hari ini, aku sudah mulai masuk sekolah setelah 3 hari berdiam diri di rumah. Suasana yang selalu aku rindukan, Sarah yang bawel tapi super baik, setiap hari ia selalu membagi lauk makan siangnya, sambal lombok ijo dan tempe goreng, pengganjal perut saat istirahat kedua.


Aku dan sarah jarang jajan di kantin, kami lebih suka membawa bekal, dengan alasan sederhana--uang saku kami pas-pasan,uang saku kami pas-pasan. Biasanya usai pelajaran olahraga dan ketika ada kegiatan ekstra kurikuler saja kami berdua menyempatkan jajan di kantin.


”Minumlah!” Aska menyodorkan satu cup jus alpukat ke arahku, tanpa menunggu jawaban dia langsung ke luar kelas.


”What ...?” Sarah tercengang menutup mulut dengan tangan kirinya, ”kenapa tuh orang? Tumben baik banget, kesambet mungkin, ya?” tanya Sarah.


” Hmm, entahlah,” jawabku sambil melihat jus alpukat di depanku.


”Jangan diminum, Fi! Takut ada apa-apanya.”


”Eh, emang kamu pikir jus itu aku kasih racun?” sahut Aska yang tiba-tiba sudah muncul di depan pintu, lalu menghampiriku. ”Sudah benaran sehat?” lanjut Aska menatapku.


”Iya,” jawabku tanpa berani menatap matanya.


"Syukur, deh. Diminum jusnya biar tambah sehat, jangan sakit lagi, nanti aku yang repot.” Aska beranjak pindah ke bangku tempatnya duduk, di pojok belakang.


”Makasih.” Aku menoleh sebentar ke arahnya, tetapi ternyata dia sudah asik dengan komiknya.


Merepotkan? Kata sarkas yang dia ucapkan sebenarnya memang benar. Sekali mengantarku pulang dan membuatnya tertinggal satu pelajaran. Namun, kenapa sekarang malah membelikan aku jus? Bukankah jadi repot dua kali? Wajah dinginnya, tatapan tajam mata itu sungguh membuatku merinding, seberapa kenal aku tentang aska? Entahlah! Aku hanya bisa memperhatikannya diam-diam, dalam diam.


☘️


Senja berjalan sangat lambat, mengiring debat antara dua orang yang pernah memberiku kehidupan. Tanah sepenggal itu telah terjual, dan kini mereka masih harus ribut soal pembagian.


Farel ke masjid sejak sore tadi, ada acara khataman di tempat ia mengaji, dan itu membuatnya tidak perlu mendengar dua orang yang pernah saling mencintai itu kini berebut harta gono-gini yang tak seberapa dibanding dengan rasa kecewa kedua buah hatinya.


Aku memilih keluar rumah, sedikit muak dengan pertengkaran yang tidak pernah ada ujungnya. Langit menyisakan sedikit semburat merah di ufuk barat, mulai membawa gelap di halaman rumahku. Aroma petrikor memberikan terapi untuk perih yang tidak mampu aku hindari.


Aku duduk di bangku panjang di bawah pohon mangga. Tempat aku dan Reza hampir setiap malam membuat perapian hanya untuk sekedar berbagi cerita tentang mimpi. Sesekali membakar ubi kayu yang ia bawa sepulang dari mencari rumput untuk ternaknya.


Namun, hampir tiga malam ini Reza tak menyapaku, mungkin dia tak ingin menggangguku karna dia tahu sakit kepalaku kambuh, tapi biasanya tidak selama itu, atau mungkinkah selama ini aku sudah terlalu tergantung oleh kehadirannya?


”Fi ....” Bapak memanggilku, berjalan menghampiriku, membawa tas jinjing yang sudah bisa kuduga isinya adalah pakaian punya bapak yang kemarin masih sedikit tersisa di lemari.


”Bapak pergi, jaga adikmu! Mungkin Bapak tidak akan kembali ke rumah ini lagi. Nggak usah nyari Bapak, kalau kamu membutuhkan Bapak temui mas Danu. Dia nanti yang akan menghubungi Bapak.” Tanpa menyentuhku atau menunggu jawabanku bapak berlalu.


Segurat wajah lelaki paruh baya itu bahkan tidak mau tahu bagaimana perasaanku, perasaan Farel yang umurnya baru 9 tahun, tepat bulan lalu. Seperti inikah semua harus berakhir? Perceraian yang membuatnya pergi begitu saja.


'Hai, lihatlah! Ini anakmu, darahmu mengalir di setiap ujung nadiku, darah yang membuatku ada di dunia, darah yang dulu kau sanjung-sanjung atas nama cinta.' Hatiku mengatakan hal yang tak pernah mampu kukatakan.


Aku mengusap ujung mata. Harusnya aku tak menangis, apakah semuanya begitu layak untuk aku tangisi? Pergilah! Lanjutkan apa yang ingin kau lanjutkan, lupakan bahwa kami adalah anak-anakmu.


ceklek!


Jendela kamar di depanku terbuka, senyum yang tadi sempat kurindu itu mengembang, mungkinkah dia melihat kejadian tadi?


”Hei, kamu tidak merindukanku?” sapa Reza mendekatiku, ia mengusap atas rambutku lalu mencubit hidungku. ”Tambah jelek kalau nangis,” lanjutnya.


”Biarin!” kuseka sisa air mata, ”kamu mendengarnya?” tanyaku kemudian.


”Apa yang tidak bisa kudengar, apa ada bagian yang terlewat? Bukankah tempatmu duduk sekarang bisa begitu jelas terlihat dari lubang jendela kamarku?” katanya dengan sedikit tersenyum, tapi tak melepaskan tatapannya ke arahku.


Apa yang Reza katakan sangat benar, apa yang tidak Reza ketahui tentang aku? Jarak rumah kami yang dekat dengan halaman yang menyatu dan jendela kamar yang saling berhadapan.


”Hei, aku tanya, kamu tidak merindukanku?” lanjut Reza menggeser tempat duduknya. Kini dia duduk tepat di depanku.


”Kamu jahat!” jawabku singkat.


Dia tersenyum, sangat manis, tatapan nanar yang tempo hari sedikit menakutkan itu tak terlihat lagi, wajah polosnya menghangatkan. Dia kembali seperti beberapa hari lalu, Reza kecilku--bukan--lelaki itu tak sekecil dulu, tangannya mulai terlihat kokoh, rengekan manjanya telah berubah menjadi cerita tentang indahnya hari esok.


”Makasih, Za,” ucapku.


”Untuk tidak bertanya kenapa aku saat ini, untuk tidak membuka sakit hatiku saat ini,” lanjutku sedikit terisak.


”Kamu tahu kenapa aku memilih kamar yang berhadapan dengan jendela kamarmu?” Aku menggeleng, ”karna aku ingin mendengar dan melihat semua dengan mata kepalaku sendiri, apa yang kamu alami, apa yang kamu rasakan, jadi kamu tidak perlu sakit untuk kedua kalinya dengan menceritakan lagi apa yang kamu alami. Aku bahkan bisa lihat beberapa hari lalu kamu pulang sekolah diantar teman lelakimu.” Dia menatapku lagi, garis bibirnya sedikit terangkat dan aku tahu maksudnya.


”Kenapa saat itu tidak menyapaku?” tanyaku kemudian.


”Kamu yakin,aku boleh melakukannya?”


"Kenapa tidak? Kamu temanku.”


”Teman?” tanya Reza singkat lalu diam. Lagi-lagi dia tersenyum, dan itu menyebalkan, aku sungguh akan selalu merindukan senyum itu.


”Jangan tersenyum lagi, sudah cukup untuk sekarang,” lanjutku.


"Kenapa? Terlalu suka, ya?” jawabnya menggodaku. Aku beranjak meninggalkan Reza sambil mendorong tubuhnya ke samping, tapi dia menahanku.


”Iya, iya, minta maaf. Jangan cemberut gitu! jeleknya nambah. Kamu boleh masuk rumah sekarang tapi nggak boleh nangis sendiri, kalau mau nangis aku temani. Jangan sakit Fi! Aku nggak mau kamu sakit.”


"Iya, heran jadi bawel sekarang,” gumamku. Dia ikut berdiri, menatapku sebentar, lalu mengusap atas rambutku.


”Gadis kecilku sudah besar sekarang.” Senyumnya kembali mengembang, berlalu meninggalkanku. ”Fiiii ...!” Teriakan Reza kembali membuatku menoleh. ”Janji jangan sakit, ya!”


”Iya bawel, jangan senyum ke sembarang orang! Bolehnya senyum cuma sama aku,” balasku asal mengancam. Kulihat dia hanya menjetikkan jarinya lalu masuk ke dalam rumah.


Apa yang baru saja kukatakan? Ah, kenapa aku mengatakannya, senyum itu, kenapa hanya kuminta untukku sendiri?


”Makasih, Za. Kamu selalu punya cara membuatku lupa untuk air mata yang selalu saja datang tanpa mau terjeda,” gumamku sangat lirih.


☘️


Ibu masuk ke kamarku, duduk di sudut tempat tidur, mengambil boneka beruang kecil pemberian Reza beberapa waktu lalu.


”Reza baik ya, Fi.” Ibu mulai percakapan.


”Baik banget, Bu.”


”Kamu suka?”


"Ah, Ibu ini kenapa? Kan Ibu tahu Fio temenan sama Reza dari kecil, dari bayi. Ya, pasti Fio sukalah, Bu. Rezanya baik, baik pake banget,” sahutku.


”Suka yg seperti apa, Nduk?” Aku diam, aku tahu arah pembicaraan ibu. ”Umur kamu sebentar lagi 16 tahun, dan kalau tidak salah umur reza 17th. Dulu Ibu menikah dengan Bapakmu umur 18 tahun dan Bapakmu 19 tahun. Menikah muda itu banyak sekali cobaannya, Nduk. Ibu harap kamu bisa belajar dari pernikahan Ibu dan Bapakmu.”


”Bu ....” Aku sengaja menyela, ”Fio sama Reza tidak seperti yang Ibu bayangkan. Fio juga masih ingin sekolah, Bu. kerja bantu Ibu buat farel, semua tidak seperti bayangan Ibu.”


”Syukurlah kalau kamu ngerti, Nduk. Ibu cuma takut Reza berharap lebih dari apa yang kamu pikirkan.” Ibu menghela napas, lalu berdiri mengusap rambut panjangku.


Aku mulai mengerti apa yang ibu takutkan, tetapi aku hanya diam. Aku tak ingin menambah beban pikiran ibu.


”Ya sudah dilanjutkan belajarnya! Bulan depan sudah kenaikan kelas, yang artinya kalau semua lancar, setahun lagi kamu akan lulus, jangan lupa bantu adikmu belajar, ya!” Ibu keluar kamar meninggalkanku dengan banyak pikiran baru.


’Mungkinkah reza mengharapkan aku lebih dari aku mengharapkanya.’


Satu-satu kenangan bersama Reza terputar kembali, segala bentuk kebaikan Reza selama ini, hampir di separuh hidupku, ia selalu berlaku baik, selalu ada. Benarkah ini hanya sebatas persahabatan? Jika aku menanggapnya sahabat, apakah Reza juga berlaku demikian? Ataukah Reza punya perasaan lebih, seperti perkataan ibu tadi?


Entahlah, yang aku percaya, semua jalan yang akan kita lalui adalah skenario Tuhan, dan aku hanya pelaku yang akan terus mengikuti alurnya.


(Bersambung)


Next episode saya coba menulis dari sudut pandang Reza, ya. Terima kasih untuk like dan komennya 🙏🙏