"First"

"First"
part.22



#


Beberapa bulan kemudian dilain tempat....


Aulia berdiri didepan kaca besar di dalam kamarnya, berkali-kali dia membelai perutnya yg mulai membuncit, kehamilannya sudah memasuki bulan ke enam, berat badannya naik tidak begitu banyak, karna Aulia begitu ketat menjaga pola makannya, dia tidak ingin tampak gendut dan menjadi jelek, bahkan ketika dokter menyuruh untuk menambah porsi makannya, Aulia tidak menggubrisnya, bagi Aulia penampilan mengalahkan segalanya, dia tidak peduli kalau dia sedang mengandung.


Sementara Reza semakin menjadi, Reza semakin jarang pulang, dia menghabiskan malam di cafe hanya untuk kesenangan pribadinya, setidaknya lari dari wanita ular itu, kalaupun pulang Reza akan memilih pulang le rumah mungil itu. Ya, Reza sesekali menempatinya, Fio menolaknya, tapi Reza tidak pernah merubah status kepemilikan, rumah itu tetep milik Fio, Fio boleh memintanya sewaktu-waktu.


Hari ini jadwal Aulia periksa kandungan, Reza sangat ingat tanggalnya karna berkali-kali ibu memperingatkannya untuk rutin mengantar, makin lama ibu lebih mirip ibu kandungnya Aulia, dia selalu membela Aulia dalam segala hal, Reza lebih mirip anak tiri atau anak pungut yg harus menurut semua perintah, kalau tidak menurut maka Reza akan mendapat omelan, makian, bahkan kadang-kadang tamparan dari bapaknya.


Hari ini Reza pulang awal, berniat mengantar wanita itu ke dokter kandungan, tapi sesampainya dirumah dia sudah tidak menemukan wanita itu dirumah, kata ibu Aulia berangkat duluan karna mau mampir ke salon langganan.


Reza berinisiatif menyusulnya, Reza tahu betul dimana salon langganan Aulia, Reza menuju kesana, tapi Aulia sudah pergi beberapa waktu yg lalu. Reza lalu menyusul ke dokter kandungan dan disana dia disuguhi dengan pemandangan yg sungguh membuat emosinya meledak-ledak. Aulia tengah bersandar dibahu seorang pria yg sedang membelai perutnya, siapapun akan menyangka bahwa mereka adalah pasangan suami istri yg sangat bahagia. Reza sudah cukup lama mengalah dengan kelakuan Aulia, tapi kali ini tidak, dia mengambil foto Aulia dengan pria itu lalu berjalan mendekatinya.


"Akhirnya, terlihat siapa kamu sebenarnya" Aulia terkejut melihat Reza muncul di depannya, serta merta dia melepaskan gandengan tangan pria itu, lalu bangkit dari duduknya.


"Mas"


"Buuuggghhh". Reza meninju pria disamping Aulia.


"aaaaauuuuuwwww, hentikan maaaassss". Aulia terus berteriak menyaksikan Reza menghajar pria itu, sampai satpam disana melerai keduanya.


Reza pergi begitu saja. Aulia mengekornya, Aulia ingin mendamaikan suasana saat ini, dia tidak mau Reza mengadu kepada mertuanya. Jika itu terjadi, maka bukan hanya perceraian didepan mata, tapi dia akan kehilangan mesin uangnya.


Sesampainya di rumah.


"Ada apalagi dengan kalian?". ibu Reza menangkap hal yg tidak beres diwajah putranya.


Reza mengeluarkan ponselnya.


"Lihatlah kelakuan menantu kesayangan ibu". Reza menyerahkan ponsel itu, ibu Reza langsung menutup mulutnya terkejut.


Aulia menangis.


"Bisa kamu jelaskan semua ini Aulia?" Ibu duduk didepan Aulia yg mulai memainkan dramanya.


"Dia sepupu Aulia buk, Mas Reza tidak pernah mau mengantar Aulia periksa, jadi Aulia minta tolong Dio mengantar Aulia".


"Dengan adegan mesra seperti ini?". ibu Reza menyodorkan ponsel menunjukan foto itu ke Aulia, dia tampak sedikit gugup, aulia tidak tahu kalau Reza mengambil fotonya saat Dio memperlakukannya dengan sangat romantis.


"Bukan kali ini saja buk aku lihat Aulia dengan pria itu, tapi aku mendiamkannya, dia menjijikan". Reza menatap sinis


"Kamu dan Fio yg lebih menjijikan". Aulia masih sempat membela diri


"Jangan bawa-bawa Fio dalam masalah ini". Bentak Reza.


"Cukuuuuup". Nada ibu tak kalah tinggi, Bapak muncul dari pintu belakang, rupanya dari tadi Bapak mendengarkan semua.


"Duduklah kalian". Bapak berjalan mendekati ibu yg terlihat masih syok dengan kejadian ini.


"Coba kamu jelaskan dengan jujur apa yg terjadi Aulia".


"Dio sepupu Aulia Pak, Mas Reza salah paham". Aulia masih tetap dengan pendiriannya.


"Bagaimana menurutmu Za?"


"Aku ingin bercerai dengan Aulia Pak".


"Tapi Aulia sedang mengandung dan itu anakmu Za". Bapak menambahi


"Tidaaaak, ini anak Mas Reza Pak, buk, Aulia nggak bohong, Aulia nggak mau cerai".


"Baiklah, karna amanah dari bapakmu Aulia, Bapak ambil keputusan, setelah kamu lahiran, kita akan tes DNA, kalau benar itu anak Reza, maka kamu tetap akan menjadi istrinya Reza, tapi kalau ternyata itu bukan anak Reza, maka semua keputusan akhir ada ditangan Reza, dan dengan terpaksa bapak melepaskan tanggung jawab bapak dari amanah bapakmu".


Reza beranjak, meninggalkan ruangan yg membuatnya sesak, melihat drama yg dimainkan aulia sungguh membuatnya muak, dari awal, pernikahan ini bukanlah keinginannya, dia rela meninggalkan semua impiannya demi sebuah amanah, Aulia anak yatim piatu yg harusnya dikasihani, dilindungi, tapi kelakuannya? Siapapun tidak akan sanggup hidup bersama dengannya.


Reza duduk dihalaman rumahnya, diseberang rumah tampak sedikit ramai, Fio disana rupanya, gelak tawa terdengar, suasana yg berbanding terbalik dengan suasana dirumah Reza saat ini.


"Mungkin ini hukuman untukku karna telah menyakitimu Fii". Gumam Reza pelan.


Sampai sebuah mobil hitam berhenti dihalaman rumah itu. Aska keluar dari mobil, melihat Reza duduk sendiri Aska menghampiri, Fio yg keluar rumah untuk menyambut Aska yg datang menjemputnya, hanya terpaku melihat suaminya berjalan mendekati Reza, Fio membalikan badan, kembali masuk kedalam.


Aska duduk disamping Reza.


"Hei Za, apa kabar?"


"Baik Ka, gimana usahamu? Lancar?".


"Alhamdulillah, kamu sendiri gimana? tambah banyakkan ternaknya?"


"Lumayan Ka, tapi tidak semuanya kuurusi, ada beberapa yg kupercayakan orang dengan sistem bagi hasil, lumayanlah bisa untuk makan".


"Kamu terlalu merendah Za, kamu sudah lebih dulu sukses daripada aku, bahkan saat aku masih sekolah kamu sudah bisa menghasilkan banyak uang".


"Tapi sekarang kamu sudah jauh mengungguliku Ka, kamu lebih beruntung dalam banyak hal, aku merindukan saat-saat dulu aku bisa membuatmu cemburu". Reza mulai tersenyum. Aska tertawa.


"Kamu masih ingat saja Za, ingin rasanya memukulmu saat itu, tapi kita sama-sama belum menjadi apa-apanya Fio, kamu cuma beruntung mengenalnya dari bayi". Aska menepuk bahu Reza.


"Tapi sekarang dia milikmu Ka". Reza sedikit menunduk, menghentakkan tumit kakinya untuk menutupi rasa sakitnya kehilangan Fio.


"Semua sudah diatur yg di Atas Za, kamu sudah diberi waktu untuk menemaninya selama 23 tahun, dan Allah memberikan sisa waktunya untukku, aku ingin bersama dengan Fio lebih dari 23 tahun, karna aku selalu tak ingin kalah denganmu Za". sekarang Reza yg tertawa.


Dunia mereka berdua dalam hidup Fiona, mereka semua mengalami pengalaman pertama bersama Fiona.


Pertama jatuh cinta.


Pertama mempunyai mimpi.


Pertama saling melukai.


Melihat mereka berdua tertawa saat ini, siapa sangka dulunya mereka adalah rival untuk mendapatkan hati Fiona. Mungkin Aska sekarang adalah suaminya, tapi Reza adalah malaikat kecil Fiona yg selalu ada dan menyelamatkan Fiona dari kejamnya dunia yg mempermainkan pernikahan kedua orang tuanya. Bahkan Fiona pernah serakah tak ingin kehilangan keduanya.


"Mas Askaaaa, dipanggil ibuk". Panggilan Fio menghentikan gelak tawa mereka.


"Ngliatnya jangan gitu Zaa, dia Nyonya Aska sekarang". Aska tersenyum lebar, menepuk bahu Reza lalu meninggalkan Reza, mengikuti Fio masuk ke dalam rumah.


"Kamu masih saja manis Fii, beruntung Aska mendapatkanmu". batin Reza.


Ada perasaan yg tak pernah bisa Reza pungkiri, Fio tidak akan pernah mati dalam pikirannya, bahkan saat Aska memproklamirkan tentang status Nyonya Aska, hatinya masih terasa sakit.


( bersambung )


like kalian selalu menjadi semangat baru buat saya, jangan jadi silent reader ya..


setidaknya like dan komen kalian adalah sebuah apresiasi buat author


😍😍😍