
#
Waktu terus berlalu, tahun berganti, Reza masih saja sendiri, menikmati perannya sebagai Ayah bagi Queen. Queen yg beranjak remaja, Queen yg tomboi, terkadang Reza harus rela ke sekolah karna Queen berkelahi, secara akademik Queen pintar, tapi secara emosi dia labil, hampir semua temannya laki-laki, kecuali Faraz, meski satu sekolah, Queen dan Faraz layaknya tom and jerry dalam film animasi.
Queen dan Faraz sekarang sudah duduk di kelas 3 SMP, dan tahun ini mereka satu kelas.
Pernah satu kali Fiona datang menjemput, waktu itu Reza juga tidak bisa menjemput, jadi Fiona bermaksud mengajak Queen pulang bareng, dan yg terjadi ketika Queen dan Faraz melihat Fio, dengan kompak mereka berdua berlari ke arah Fiona dan memanggil Bunda, otomatis menjadi tanda tanya teman-temannya, bagaimana Faraz dan Queen punya bunda yg sama sedangkan ayah yg berbeda?
Sejak itu Queen dan Faraz jadi bahan gosip teman-temannya, berbagai spekulasi cerita semakin memperkeruh suasana, Faraz semakin menjauhi Queen, Faraz mulai membenci Queen. "Fio bundanya Faraz, bukan bundanya Queen, menyebalkan". maki Faraz dalam hati.
#
"Nih minum". Queen menyodorkan sekotak minuman instan ke Faraz yg sedang asyik membaca buku di ujung lapangan basket.
"Mau apa". Ketus Faraz
"Kenapa kamu jauhin aku?".
"Males denger anak-anak ngomongin kita".
"Emangnya kita kenapa". Queen memancing alasan Faraz semakin menjauhinya.
"Kamu ngrebut bunda aku". Jawab Faraz.
"Papa kamu yg ngrebut bunda dari Ayah".
"uhuuuk...uhuuuk". Faraz tersedak minumannya. "Maksud kamu apa?". Lanjut Faraz menyelidik.
"Emang kamu nggak tahu kisah mereka?". Faraz menggeleng.
"Kamu payah, udah gede gini masih anak bunda bannget siih". Ledek Queen beranjak meninggalkan Faraz.
"wwooooiiiy, cerita dulu mereka kenapa". Teriak Faraz.
"Cari tau sendiri". Queen mempercepat langkahnya, melompati pagar pembatas lapangan yg tingginya hampir setinggi dadanya. Jangan ditanya soal seperti itu, memanjat pohon kelapa pun dia bisa.
#
Makan malam dirumah Fio tak seperti biasanya, Faraz yg biasanya banyak cerita tentang sekolahnya memilih diam. Hanya sendoknya yg berdenting ketika harus bergesekan dengan piring.
"Anak bunda tumben diem, tadi kenapa disekolah?" Tanya Fio.
"Jangan-jangan lagi jatuh cinta tuh Bun?" Aska mulai menggoda.
"Papa mulai deh, biar Faraz cerita dulu, jangan diganggu dulu kenapa". Lanjut Fio mencubit suaminya.
Aska terkekeh, melihat putra dan istrinya, 2 orang yg sangat dicintainya.
" Faraz mau tanya boleh?" Faraz melihat kedua orang tuanya secara bergantian.
"Boleh sayaang". Fio menaruh sendoknya, mengusap puncuk kepala Faraz.
"Emangnya dulu Papa, bunda, sama Ayah ada hubungan apa?". Selidik Faraz.
Deg... Fio kembali menyendok makanannya, melirik ke arah Aska, seolah memberi isyarat agar Aska jangan cerita.
"Bunda dulu temennya Ayah Reza, temen dari bayi, nah kalau Papa temen SMAnya Bunda, Papa naksir Bunda gitu, jadi Papa main ke rumah Bunda, nah disana Papa kenal sama Ayah Reza, Kan rumah Bunda sama Ayah hadap-hadapan, jadi tiap ke rumah Bunda, pasti ketemu Ayah Reza". Aska mencoba menjawab dengan aman.
"Tapi Papa nggak ngrebut Bunda dari Ayah kan?".
"Enggak dong, orang Ayah Reza yg nikah duluan sama ibunya Queen".
"Tapi Queen bilang Papa ngrebut Bunda dari Ayah". Faraz sedikit ngotot.
"Itu nggak bener sayaaang". Fio menengahi, "Faraz nggak usah mikir aneh-aneh gitu, semua yg terjadi itu masa lalu, nggak baik diungkit lagi". Lanjut Fio.
"Sudaaah , sekarang kamu belajar sana, nggak usah mikirin yg udah lewat". Aska menepuk pundak Faraz pelan.
"Faraz benci Queen". Faraz membanting sendoknya, berlari ke kamarnya.
Aska melirik Fio, " wanita didepanku ini memang sangat layak diperebutkan". Batin Aska, tersenyum, lalu mencium kening istrinya yg melongo kebingungan dengan tingkah suaminya.
#
Hari ini Faraz menginap di rumah Bu Aini Neneknya, jawaban kedua orang tuanya tak bisa begitu saja menghilangkan rasa ingin tahunya.
Minggu pagi, seperti biasa Reza bersiap hendak berangkat ke kandang, tapi langkahnya terhenti oleh Faraz yg memanggilnya dari dalam rumah bu Aini.
"Ayaaah". Faraz berlari mendekati Reza, tinggi tubuh mereka sudah hampir sama, Faraz sudah sebatas telinga Reza.
"Hei anak Ayah nginep sini to rupanya". Faraz mengangguk.
"Sudah ijin Nenek??" Tanya Reza.
"Sudah".
" oke, ayo kita bermain sapi hari ini". Reza tampak semangat sekali, begitupun dengan Faraz.
#
Setelah selesai membersihkan kandang dan memberi makan sapinya, Reza mengajak Faraz duduk dihamparan rumput hijau yg luas, Reza berbaring, disusul Faraz disampingnya, meski matahari mulai tinggi, tapi rimbunnya pepohonan hanya mengijinkan sedikit cahaya matahari menyilaukan mata mereka.
"Faraz boleh tanya sesuatu?". Faraz mencoba memulai.
"Mau tanya apa?". jawab Reza lirih.
"Apa benar dulu Ayah deket sama Bunda?".
Reza menghela nafas panjang, sebelah tangannya mulai menutupi silau matahari.
Apa yg pernah Reza takutkan terjadi, cepat atau lambat, entah itu Queen atau Faraz pasti akan menanyainya tentang luka itu, luka yg terlalu dalam buat Reza. Luka yg membuatnya tidak pernah lagi berani memulai sebuah rasa.
"Kok Ayah diem?". Faraz duduk, mencabut rumput didekatnya, lalu memainkannya.
"Iya, Ayah dan Bunda deket, dari bayi malah, kaya kamu sama Queen". Jawab Reza.
"Cuma kaya aku dan Queen?" Faraz menampakkan wajah tak percayanya.
"Iya".
"Ayah bohong, orang tua sukanya bohong". Faraz cemberut. Jawaban Reza tidak sesuai harapannya, bahkan Reza menjawab lebih singkat dari papanya tempo hari.
"Faraz mau ikut Ayah ke suatu tempat? Nggak jauh kok dari sini". Reza berdiri, disusul Faraz yg masih cemberut.
#
Rumah disudut desa itu berwarna merah bata, banyak pohon buah tumbuh disana, yg Faraz lihat, ada pohon mangga, jambu air, dan beberapa pohon rambutan, sedang di sekelilingnya dihiasi tanaman bunga mawar, hampir semuanya mawar, tapi berbeda warna, cantik sekali. Ada kolam ikan kecil disisi kiri rumah, ayunan, dan sebuah mini gazebo.
Reza mengajak Faraz duduk di gazebo, Faraz masih menjelajahi setiap detil halaman yg menurutnya sangat unik, berbeda dengan rumahnya yg besar dan bergaya modern, disini sangat teduh dan asri.
"Ini rumah Ayah?" Tanya Faraz.
Reza menggeleng.
"Ayah hanya menjaganya". Jawab Reza
"Ayah tiap hari kesini?".
"Iya, sepulang dari kandang Ayah kesini, bersih-bersih, tidur sebentar, baru pulang".
"Memangnya ini rumah siapa Yah?".
Reza tidak menjawab, hanya menatap Faraz yg penasaran.
"Kamu mau masuk?". Tanya Reza kemudian
"Emang boleh?".
"Tentu boleh, kan Ayah yg pegang kuncinya".
Reza mengajak Faraz masuk, semua perabot sudah terisi, kecuali kamar utama yg dibiarkan kosong tanpa satupun perabot. Reza mengajak Faraz naik ke atas.
"Wooow, ada tempat seperti ini diujung desa?" Faraz takjub, ruang atas yg sedikit terbuka melihatkan pemandangan yg sangat indah.
Faraz masih menjelajahi setiap ruangan, perpustakaan yg rapi dan bersih, sofa yg besar dan dekorasinya yg unik, lalu sebuah kamar tidur, ada sebuah 2 buah single bed, kursi malas dan lagi-lagi ayunan. Dalam pikiran Faraz masih saja bertanya " Rumah siapa ini?".
Setelah cukup puas berkeliling, istirahat, bahkan Reza memasak makan siang untuk mereka, Reza mengajak Faraz pulang. Faraz orang pertama yg tahu tempat ini setelah Fio menyerahkan kembali rumah ini ke Reza, tapi Reza tak pernah mau menerimanya kembali, Reza hanya menjaganya untuk Fio.
"Seandainya Faraz tahu bahwa rumah ini adalah milik Bundanya, seandainya Faraz tahu bahwa rumah itu adalah mimpiku untuk hidup bersama bundanya dulu, seandainya Faraz tahu kalau aku masih mencintai bundanya hingga detik ini, seandainya aku bisa menjawab semua pertanyaanmu Faraz". Batin Reza lirih.
#
( bersambung )
semoga masih semangat bacanya ya..
silahkan tinggalkan like dan komennya..
makasiiiihππππππ