"First"

"First"
part.17



#


Aska memasukkan semua koper ke dalam bagasi mobil.


"selesai, Ayo Fii, kamu siap pulang". Aska berdiri disampingku, aku masih menatap sekeliling apartemen yg selama ini aku dan Aska tempati.


"Atau kamu menetap disini? Setelah menikah kita bisa kembali dan menetap disini". Aska merangkul pundakku, mengusapnya pelan.


"No, Aku cinta Indonesia Ka, aku ingin pulang kesana".


"oke...lets go my princess". Aku mencubit lengannya dan dia hanya terkekeh.


#


Sesampainya di Jakarta, Bapak Arif dan ibu Siska kedua orang tua Aska sudah menunggu di depan pintu kedatangan di bandara, mereka berpelukan bahkan bu Siska sempat meneteskan air mata karna rasa harunya melihat kesembuhan putra semata wayangnya. Mereka adalah keluarga pekerja keras, karna memang diawal pernikahan kedua orang tua Aska, mereka tidak memiliki apa2, mereka terus bekerja sampai dititik mereka mencapai sukses, meski terkadang harus merelakan kehilangan waktu bersama keluarganya, itulah kenapa panggilan Aska ke orang tuanya bukan mama papa, atau semacamnya, yg terlihat dari kelas sosialita. Mereka hanya pejuang dari kota kecil yg kini sukses dan memiliki banyak perusahaan di banyak kota.


Aska mengikuti jejak orang tuanya, awalnya dia hanya memiliki satu minimarket, tapi berkat usaha kerasnya dia sudah memiliki puluhan cabang minimarket yg tersebar di beberapa kota, salah satunya dikota tempat asalku dan Aska.


Sesampainya dirumah kulihat Nenek segera berhambur memeluk cucu kesayangannya, lalu bergantian memelukku.


"Trimakasih Fio sudah menjaga Aska selama ini" Nenek mengusap lenganku, ada perasaan haru yg tak bisa aku tutupi, kehangatan keluarga yg dulu Aska dan Nenek rindukan kini sedang mereka rasakan.


"Trimakasih Fio, trimakasih bertahan buat Aska selama ini". Sekarang bu Siska ganti memelukku.


"Aku dipeluknya kapan Nih?"


Aska merajuk lalu membuat seisi rumah tertawa.


"Ayo makan dulu, Nenek sudah masak makanan enak buat kalian".


Nenek menuntunku ke meja makan diikuti Pak Arif, Bu Siska dan Aska.


"Pak, Bu, Aska mau melamar Fio secara resmi kepada bapaknya Fio, bapak maukan melakukannya buat Aska?".


"Tentu Nak, apalagi calon mantu Bapak adalah Fio, sudah pasti Bapak mau Nak". Pak Arif dan Bu Siska tersenyum kepadaku.


"Mau kapan? mumpung jadwal Bapak tidak terlalu padat".


"Besok Aska antar Fio pulang dulu, biar Aska bicara dulu sama ibuk, setelah itu Aska hubungi Bapak, tapi kemungkinan dalam minggu ini, Aska mau ngejar pekerjaan Aska yg sudah lama Aska tinggalin, kasihan Reno harus mengurus semua sendiri".


"Baiklah, lebih cepat lebih baik, biar kamu juga ada yg urus, biar Nenek nggak terlalu kuatir mikirin kamu, biar Bapak dan ibuk cepet dapat cucu, iya kan buk". Pak Aris mengusap buku jari istrinya.


"Pasti dong Pak". Semua yg duduk disana tertawa, aku hanya tersenyum menahan malu, aku tidak pernah menyangka akan benar-benar menikah dengan Aska, menjadi ibu dari anak-anaknya. Akankah kisah putih abu-abu ini benar-benar akan berakhir sangat manis?


Entahlah. Allah lebih tahu mana yg terbaik untuk hambanya.


#


Kota kecil ini masih sama ketika kutinggalkan beberapa bulan yg lalu, aroma tanahnya yg ramah, udaranya yg segar.


Hari ini masih jam 5 pagi, mobil yg membawaku dan Aska melaju pelan menyesap suasana pagi yg sedikit dingin, sampai tak terasa aku sudah sampai dihalaman rumah, ibu sudah berdiri disana, karna memang kemarin aku memberitahu ibu akan pulang hari ini, ibu langsung memelukku erat, mengusap rambutku lalu mencium kedua pipiku.


"Kamu tambah cantik Nduk".


"Anak siapa dulu dong". Ibu kembali memelukku.


"Nak Aska apa kabar?"


"Alhamdulillah baik buk, trimakasih sudah mengijinkan Fio merawat Aska selama ini".


"iya sama-sama, Ayo ngobrolnya didalam, masih terlalu pagi untuk ngobrol diluar".


Ibu membawa Aska masuk, aku melihat ke halaman seberang, jendela kamarnya terbuka, sejak kapan aku tak menyadarinya, sepasang manik mata yg masih sama itu tersenyum, samar.


Aku segera berbalik menyusul ibu, dia bukan seseorang yg harus kusapa dengan manja, dia bahkan sudah menjadi suami orang.


Aku mengeluarkan oleh-oleh dari dalam koper, membaginya untuk ibuk dan Farel, Farel tampak sangat senang, berkali-kali dia mengucapkan terimakasih pada Aska, sepatu cats bermerk model terbaru, harganya hampir sama dengan gajiku sebulan di resto dulu, sedang ibuk mendapat gelang yg dipenuhi dengan manik putih, cantik sekali.


"Buk, hari ini Aska bermaksud menemui bapaknya Fio, kalau sudah ketemu nanti Bapak ibu akan menyusul kesini untuk melangsungkan lamaran sekaligus pernikahan, karna memang kami dikejar dengan jadwal pekerjaan jadi semuanya harus serba cepat, tapi ibuk nggak usah khawatir, nanti ada orang yg akan bantu mengurus semua".


"Kemarin Fio telpon mas Danu Buk, katanya bapak tinggal didekat rumah bulik Nanik".


Bulik Nanik adalah adik kandung bapak dan Mas Danu adalah anak pertama dari bulik Nanik.


"Ya sudah, ibuk terserah kalian saja, tapi sekarang istirahat dulu, kalian pasti capek, Aska bisa tidur dikamarnya Farel".


Aku dan Aska mengangguk, Farel membawa Aska masuk ke kamarnya, dan aku masuk ke kamarku yg 6 bulan ini kutinggal. Masih sama, aku merindukan tempat ini, kubuka jendela kamar, jendela yg berhadap-hadapan, dia sudah menghilang.


#


Sore harinya aku dan Aska sampai ke rumah bulik Nanik, kebetulan juga beliau ada di rumah, aku menceritakan maksud kedatanganku mencari bapak, bulik Nanikpun terlihat senang lalu mengantarku ke rumah bapak, letaknya 3 rumah dibelakang rumah bulik Nanik.


Seorang perempuan yg belum tampak tua membuka pintu, sorot mukanya sedikit sadis, matanya menatapku tidak suka, perempuan itu, istri bapak. Setelah Bulik Nanik menceritakan maksud kedatanganku, perempuan itu mengajakku masuk, menyuruhku masuk ke dalam kamar disisi dapur, kamar tanpa pintu hanya korden tipis menutup sebagian jalan masuk.


Segurat wajah lelaki itu tampak lebih tua dari umurnya, wajahnya sedikit pucat, tubuhnya lebih kurus dari hari terakhir aku melihatnya beberapa tahun lalu. Dia berusaha duduk saat aku dan Aska berjalan mendekatinya.


Bapak memegang wajahku, lalu menitikkan air mata.


"Apa kabarmu Fii". Bapak menepuk samping tempat tidurnya, matanya mulai berkaca-kaca.


"Fio baik Pak, Bapak sakit?"


"Bapak sudah tua nduk, memang sudah waktunya sakit, Farel adikmu gimana kabarnya?"


"Farel sudah kelas 3 SMP, dia bahkan lebih tinggi dariku, dia tumbuh sangat baik, wajahnya rupawan, bahkan orang tidak akan menyangka kalau dia adikku, karna wajah kami sangat berbeda".


"Maafkan bapak Nduk". Bapak mulai mengusap air mata


"Bapak egois, bapak melewatkan waktu bersama kalian demi kesenangan bapak sendiri".


"Sudahlah pak, semua sudah lewat, bahkan ibuk sekarang sudah sangat bahagia, ibuk sehat dan tidak pernah lagi menangis sedih.


Kenalkan ini Aska pak".


Aku menarik tangan Aska mendekat, Aska menyalami bapak.


"Aska senang bisa bertemu bapak, Aska kesini bermaksud untuk melamar Fio pak, maaf baru bisa menemui bapak hari ini, karna Aska sempat sakit karna kecelakaan dan harus dirawat lama". Aska mulai membuka suara.


"Hmm, Kamu kerja dimana Nak?"


"Saya punya usaha pak, dan saya teman Fio dari SMA,dulu kita satu kelas".


"Kamu sudah yakin mau menikah nduk?". Bapak kembali bertanya padaku.


"Iya Pak, orang tua Aska akan datang kalau bapak sudah siap untuk bertemu mereka, mereka sibuk dan ingin secepatnya melaksanakan pernikahan".


Bapak tersenyum.


"Baiklah kalau kamu mau bapak menikahkanmu, tapi kamu tau sendiri kondisi bapak, bapak cuma bisa merestui kalian, bapak menerima lamaranmu Nak Aska, jaga Fio baik-baik, bahagiakan dia, jangan brengsek seperti bapak". Bapak kembali terisak, perasaan kecewa yg dulu pernah membuatku takut jatuh cinta entah kenapa kini harus kalah dengan melihat bapak yg bahkan sudah tidak bisa berjalan jauh dari ranjang tuanya. Lelaki tua itu yg dulu menyakiti istrinya, hari ini akan melepaskan anaknya untuk menjadi istri orang, mungkin ada sedikit ketakutan atas apa yg pernah ia perbuat di masa lalu akan berdampak pada putrinya.


"Tentu Pak, Fio akan bahagia bersama saya sampai maut yg memisahkan". Bapak masih terisak, lalu memeluk Aska.


"Bapak akan datang dihari pernikahan kalian, Bapak masih terlalu malu untuk bertemu ibumu Nduk, besok kabari bapak hari ijab Qobulnya, telpon saja mas danu, kamu nggak usah repot kesini".


"Saya akan mengirim orang untuk menjemput Bapak nanti, Bapak nggak usah khawatir". Aska menambahkan.


Kami pamit, perempuan yg dari tadi hanya memandang dari dapur mengantarku sampai pintu, bahkan tanpa tersenyum, inikah perempuan yg dinikahi bapak? perempuan yg merebut bapak dari kehidupan kami.


Bahagiakah bapak hidup dengan perempuan ini selama ini?"


Itukah Cinta? atau hanya kesenangan semata, ketika memutuskan meninggalkan keluarga demi seseorang yg mengatasnamakan cinta, namun kini pada akhirnya penyesalan tak henti mendera. Dihari sakitnya tanpa anak-anak, dia hanya bisa merindukannya.


( bersambung )


masih ditunggu like dan komennya ya


trimakasih😘😘😘