
#
Fio dengan sangat telaten mengurus Aska, bahkan selama Aska dirawat di rumah sakit Fio tidak pernah sekalipun meninggalkan Aska, semua keperluan diurus oleh asisten pribadi Aska. Rumah sakit yg Aska tempati lebih layak disebut kamar hotel sekelas vvip, 2 buah bed berukuran lumayan besar, satu set sofa yg bisa dibilang mewah, ada mini kitchen, kulkas, lemari besar dan televisi LED yg ukurannya bisa 5x lipat televisi dirumahku.
satu tempat tidur untuk Aska, dan satunya untukku dan Nenek.
Satu minggu pertama tinggal bersama Aska dan Nenek terasa aneh bagiku, dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi semua aktifitas dilakukan dalam satu ruangan. Dokter 2-3 kali rutin memeriksa kondisi Aska dan menurut dokter Aska masih sangat bisa sembuh, semangat Aska salah satunya yg membuat kesehatan dengan cepat bisa membaik.
Hari ini Aska mengikuti sesi terapi berjalan, Ada sebuat tempat pegangan yg panjangnya sekitar 5 meteran terletak dikanan kiri Aska, dokter membantu Aska berdiri, sedang aku diminta berdiri diseberang, seorang perawat menjaga disamping kanan dan kirinya. Aska bisa berdiri, lalu menapakkan kaki satu dua langkah, dia tersenyum, wajahnya terlihat kegirangan, untuk pertama kalinya setelah 2 bulan lebih dikursi roda, kini Aska bisa melangkahkan kakinya, dia mencoba berjalan ke arahku, tapi belum sampai ditempatku dia terjatuh, seorang perawat membantunya berdiri, Aska seperti meringis kesakitan, tapi ketika dokter menyuruhnya berhenti dia tidak mau berhenti, dia berdiri lalu kembali mencoba melangkahkan kakinya dan akhirnya dia sampai didepanku, memelukku dengan sangat erat.
"aku berhasil Fii, dia masih memelukku, aku bahkan bisa merasakan suara detak jantungnya yg berdetak cepat.
"iya, kamu hebat Ka, Kalau Nenek melihatnya, beliau pasti akan menangis karna bahagia".
kami saling bertatap, Aska masih memegang bahuku, matanya berkaca-kaca, pelan dia mengecup keningku.
"Makasih Fii, menemaniku sejauh ini, kamu satu-satunya alasan aku ingin cepat sembuh".
Aku mengangguk, Aska kembali memelukku, sampai seorang perawat membawakan sebuah kursi roda dan meminta Aska untuk kembali ke kamarnya.
#
Dilain tempat...
"Makan dulu mas". Aulia mengetuk pintu kamar Reza yg tertutup, tapi tak ada sahutan dari dalam. Aulia mulai menggerutu, kembali ke ruang tengah menyalakan televisi dengan volume yg cukup keras.
Setelah menikah Reza tinggal dirumah Aulia, apalagi beberapa hari lalu Pak Seno meninggal dunia, Rumah Aulia yg lumayan besar cuma dihuni mereka berdua, ada satu pembantu Rumah tangga yg datang pagi dan pulang sore harinya. Aulia memang anak manja, ibunya meninggal saat Aulia masih kelas 2 SD, dan sejak itu Aulia selalu dirawat oleh bik Narsih pembantunya, Aulia tidak biasa dengan pekerjaan Rumah tangga, bahkan mencuci piringnya setelah makanpun dia tak pernah melakukannya, kesehariannya cuma nonton tv, main ponsel, atau pergi perawatan ke salon, untuk ukuran wajah aulia sedikit lebih cantik dari Fio, wajahnya glowing, kuku-kuku tangannya cantik bersih dan mengkilat, beda dengan Fio yg kadang harus penuh tepung karna seharian mengaduk ulenan kue.
Tapi inilah cinta, fakta bahwa Reza masih sangat mencintai Fio tidak bisa dipungkiri, Aulia dan Reza tidak tidur dalam satu kamar, bahkan belum pernah sekalipun Reza menyentuh Aulia, layaknya suami menyentuh istrinya, tapi Aulia tidak pernah perduli, yg penting Reza sudah jadi suaminya, suatu hari nanti Reza pasti akan meminta sendiri untuk tidur dengannya.
"Mau kemana mas?" Aulia melihat Reza keluar kamar, memakai jaket dan mengambil kunci motor dimeja depan televisi.
"Bukan urusanmu". Reza berlalu, Aulia mengerucutkan wajahnya, selalu seperti itu, tidak pernah ada komunikasi yg baik antara mereka, seharusnya mereka menikmati masa bulan madu diawal pernikahan mereka tapi tidak dengan pernikahan mereka.
Reza berhenti disebuah kafe, kalau dikota besar bisa disebut bar karna disini memang menyediakan minuman beralkohol, Setelah menikah Reza senang sekali menghabiskan malam disini, bukan untuk mabuk yg sampai sempoyongan tapi hanya untuk menghilangkan rasa sakit kehilangan semua mimpinya bersama Fio. Dulu waktu bersama Fio dia belum pernah sekalipun menyentuh barang-barang haram itu, tapi entah kenapa sekarang Reza mulai menyukainya. Setelah merasa cukup pusing Reza pulang, tentu saja dengan kondisi yg bau alkohol, dia tidak mempedulikan Aulia yg berkali-kali meneriakinya, dia langsung masuk kamar dan menguncinya, merebahkan tubuhnya lalu menangis sepuasnya.
"Fio...aku merindukanmu".
#
Hari berganti, waktu yg tak pernah kembali, 6 bulan pengobatan Aska di Singapura sudah dinyatakan sembuh total, hari ini Aska berencana mengajak Fio berjalan-jalan mengelilingi singapura.
"Sudah siap Fio?". Aska berdiri di samping tangga apartemennya, Aska mengenakan jeans hitam dan T-shirt putih yg menambah wajahnya tampak lebih tampan, Fio menuruni tangga, dia mengenakan jeans putih dan kaos penjang pink yg lengannya ditarik sedikit naik, jam tangan putih dan sepatu cats putih, sungguh sangat cantik dengan penampilannya yg jauh dari kata elegan.
"Siap kapten". Fio tersenyum mengedipkan sebelah matanya.
"Jangan menggodaku Fio". Aska menyentik ujung hidung Fio, Fio mencubit lengan Aska lalu berjalan mendahului Aska.
sebuah mobil sport hitam sudah menunggu diluar, seorang supir berdiri disamping membungkukkan badannya, Aska mengangguk lalu membukakan pintu untuk Fio.
"Silahkan masuk tuan putri". Fio kembali mencubit lengan Aska.
"Jangan genit gitu, jelek tau". Aska terkekeh.
mobil berjalan pelan.
"Kita mau kemana dulu Fii?"
"Aku pengen liat Merlion Park dari dekat boleh? selama ini cuma liat dari foto, pengen banget kesana". Fio tampak bersemangat
"Tentu Fio, kita kesana, Pak ke merlion dulu ya".
"Baik Tuan".
Sampai di Merlion Park sekitar jam 4 sore, banyak warga lokal yg jogging disana, sedang turis-turis berfoto-foto dengan spot yg sangat indah, sebuah patung ikan dengan kepala singa menyemburkan air menjadi icon dari merlion park, semua seperti mimpi, aku berkali-kali menepuk kedua pipi karna tak percaya bisa datag mengunjungi tempat ini.
Tanpa ku sadari berkali-kali Aska membidikan kamera ke arahku, sesekali dia tersenyum melihat tingkahku yg lari kesana-sini, sampai pada saat dia mendekatiku.
"Suka banget Kaaa, kalau bukan karna kamu aku nggak bakalan sampai ke tempat ini".
"Tapi kalau bukan karna kamu akan nggak akan bisa sembuh secepat ini". Aska memelukku dari belakang, kepalanya bersandar di ceruk leherku.
"Kita nikah yuk Fii". Pelan hembusan nafasnya ditelingaku, jantungku melompat-lompat, dentumannya seperti suara bom molotof, bibirku kelu, tubuhku gemetar, mungkin Aska menyadarinya lalu melepaskan pelukannya. Dia mendekati seseorang lalu entah bicara apa orang itu berjalan bersama Aska mendekatiku.
"Ayo Fii kita foto". Aska memeluk bahuku, kepalanya ditempelkan kepalaku lalu tersenyum memberi tahu orang itu kalau kita sudah siap.
"cekrek...cekrek...". Berkali-kali mengambil Foto berdua, aku hanya bisa tersenyum mengikuti kemauan Aska. Setelah mengucapkan terima kasih Aska menunjukkan hasil foto ke aku.
"Ini akan jadi foto prewedd kita". Aska tersenyum senang lalu menarik tanganku meninggalkan tempat itu.
Selanjutnya mobil berhenti disebuah gedung yg sangat unik, megah, tapi sangat cantik.
"yuk masuk".
"Tempat apa ini Ka".
"ini Esplaned, disini kita akan melihat pertunjukan, ada teather, nyanyi, seru pokoknya, yuuk aah"
Aku hanya mengangguk, menikmati pertunjukan demi pertunjukan, padahal banyak bahasa yg tidak aku mengerti, tapi Aska begitu menikmatinya, berkali-kali mengambil gambar dengan kamera yg tergantung dilehernya.
Dari Esplaned, Aska mengajakku ke sebuah restoran yg letaknya di sekitar bugis street, disana menjual berbagai macam cindera mata khas Singapura. kalau di Indonesia semacam Malioboro, penuh dengan turis.
Selesai makan, Aska mengajakku belanja, masuk kedalam sebuah toko cinderamata.
"Belilah buat ibuk dan Farel, buat nenek juga".
"hmm". Aku hanya mengangguk
"Fii, sini deh, bagus nih". Aska menarik tanganku lalu memasangkan sebuah gelang seperti dari emas putih, tapi ditengahnya ada 2 garis hitam, diujung pengaitnya ada mainan berbentuk hati.
"Pas buat kamu". Kata Aska
"Tapi ini mahal Kaa". Aku mengira-ira harga dalam dolar yg tertulis disana jika itu dirupiahkan.
"Nggak ada yg mahal buat kamu".
"Tapi kamunya saja nggak kerja, itu uang bapak kan?"
"Kata siapa aku nggak kerja, bisnis aku tetep jalan meski aku sakit, bahkan sudah tambah berkembang, ini uang aku, bukan uang dari bapakku".
aku tertegun, bagaimana bisnisnya jalan saat dia hanya terbaring disini.
"Sudahlah, besok ketika pulang ke Indonesia aku kenalin orang yg aku percaya jalanin bisnisku".
Aku cuma diam, aku tidak mau rasa ingin tahuku merusak suasana.
Sampai tak terasa hari sudah malam, sudah waktunya beristirahat, Aska belum boleh terlalu lelah.
Didalam mobil disepanjang perjalanan, Aska tak melepaskan genggaman tanganku.
"Lusa kita pulang ke Indonesia, aku ingin segera ketemu bapakmu, dan secepatnya menikahimu, aku tidak mau seperti ini tanpa menghalalkanmu".
Aku dan Aska, 6 bulan hidup di negara orang tanpa status suami istri, ini hanya murni karna aku ingin menemaninya sampai sembuh, pelan-pelan dia menghapus rasa sakitku atas Reza, tapi percayalah, selama 6 bulan itu kami tidak pernah melakukan hubungan diluar batas, Aska menghormatiku, bahkan ketika dia sembuh total dan Nenek sudah pulang ke Indonesia sejak seminggu lalu, Aska tidak pernah macam-macam padaku.
#
Dikamar aku mulai berbenah, memasukkan baju-baju ke dalam koper, meskipun masih lusa tapi aku merasa perlu untuk membereskannya. kubuka laci meja disamping tempat tidurku, amplop coklat itu masih disana, kubuka, kulihat lagi rumah mungil itu.
"Reza, aku akan pulang, ada yg harus kita selesaikan".
( Bersambung )