
#
Perjalanan hidup itu kadang tidak seperti yg kita harapkan, ada yg banyak menaruh harapan tapi harus pupus oleh sebuah keadaan. Manusia boleh bermimpi, manusia boleh berharap, tapi Tuhan lebih tahu apa yg paling kita butuhkan.
#
Sejak lamaran hari itu, Reza lebih banyak meluangkan waktunya untukku, meski itu belum lamaran resmi tapi seolah-olah Reza telah berani menunjukkan bahwa aku ini miliknya.
Reza yg tetap manis, Reza yg romantis, banyak yg mengatakan aku terlalu beruntung mendapatkan Reza, meski pendidikannya tidak tinggi tapi dia punya penghasilan diatas rata-rata lelaki seumurannya yg masih sibuk dengan kuliah, kalaupun ada yg sudah bekerja maka mereka hanya akan menghabiskan uangnya untuk kesenangan semata.
Reza bukan penikmat dunia, baginya mimpi untuk bersamaku adalah satu-satunya mimpi yg ia punya, melihatku dari mulai bangun tidur sampai kembali terlelap bersama, pernah sekali dia bilang ingin punya banyak anak, minimal 3, membuat ayunan disamping kolam ikan, membuat perpustakaan kecil dilantai dua rumahnya dengan jendela yg mengarah ke hulu sungai diujung persawahan. Terlalu manis bukan???
#
Setahun berlalu, kursusku selesai hari ini, hari ini juga aku berhenti kerja diresto, dengan bekal itu aku akan sedikit-sedikit membuat kue dirumah, kue yg kubuat aku jual secara online dan sebagian dibawa ibu kepasar.
Awalnya memang susah, usaha tidak serta merta membuahkan hasil, aku melakukan banyak promosi lewat media sosial, terima pesan antar, dan ternyata hasilnya cukup lumayan. Semakin lama peminat kueku semakin banyak, aku mulai kewalahan menerima pesanan, seperti pekerja yg tak kenal waktu siang malam membuat adonan kue. Ada 2 orang yg membantuku, itupun tak membuatku cukup beristirahat.
"Udah makan Fii?" Reza muncul tiba-tiba didapur, membawa sebungkus nasi goreng
"Belum"
"Makan dulu yuk, aku juga belum makan".
"Bentar lagi Za, tanggung".
Reza mengambil sendok dimeja, membuka sebungkus nasi goreng itu lalu memasukkan sesuap nasi kemulutnya, mengambil sesendok lagi lalu menyuapkan ke mulutku.
"Nanti aku makan sendiri aja Za". Aku menerima satu suapan lalu berbalik menghadap oven mengeluarkan kue yg sudah matang.
"Nggak papa sekalian, itung-itung belajar kalau besok-besok kamu sibuk gini kan aku bisa bantunya cuma nyuapin"
"Ngrepotin dong" Sahutku
"Seneng kali, kan sendoknya barengan, jadi ada rasa manis-manisnya gitu"
"Itu sih namanya moduuuus" Reza terkekeh sambil menyendokkan nasi ke mulutku.
"Ehem..ehem...anak ibuk" ibu berdehem sambil menyilangkan kedua tangan berjalan mendekatiku.
"Ibuk mau? Biar Reza suapin sekalian". Ibu tersenyum menggelengkan kepala, Kucubit perut Reza yg mulai berani menggoda ibuk.
"Aaaauuuuw, sakit Fii".
"Rasain".
Ibuk masih terus tersenyum melihat kelakuan kami, duduk di sudut dapur sambil mengeluarkan kue yg sudah matang dari loyang.
Sesekali kami bercanda, ngobrol tentang ini dan itu, sampai tak terasa jam 9 malam. Reza pamitan, menghilang dibalik pintu.
"Sudah selesai Fii, tidur sana, istirahat, dilanjut besok saja".
"Ini sedikit lagi buk, biar besok pagi pas mbak Nur sama mbak Siti datang tinggal masuk-masukin ke plastik". Jawabku pelan
"Kamu sama Reza beneran mau serius?"
"Pengennya Reza gitu buk" sahutku
"Lhaa kalau itu pengennya Reza, pengennya kamu gimana?" Ibu mendekatiku, membetulkan ikat rambutku yg hampir lepas.
"Fio pengen belajar nerima Reza buk, Reza kelewat baik, Fio nggak mungkin ngecewain Reza, dari kecil sampai sekarang Reza nggak pernah berubah, tambah perhatian malah".
"Iya ibuk tahu, ibunya Reza juga sering cerita ke ibuk, tapi kemarin pas arisan, ibunya Reza bilang kalau bapaknya Reza mau menjodohkan Reza sama aulia, kamu tahu kan aulia anaknya pak Seno yg rumahnya di depan mushola?"
Tiba-tiba ada yg berdenyut denyut diujung hatiku, benarkah yg ibu bilang, kenapa Reza tidak bilang ke aku.
Aku segera merapikan dapur, lalu bergegas masuk kamar. Ku ambil ponsel di atas nakas.
"Hallo, kenapa Fii?" Suara dari seberang sana
"Sudah tidur?"
"Belum, kenapa?"
"Kenapa nggak cerita?" Kataku agak ketus
"Cerita apa?"
"Aulia"
"Tuuut....tuuut" sambungan telpon terputus.
"Tok...tok...tok" suara dari jendela kamarku
Aku membukanya pelan, melihat siapa yg datang aku sedikit memasang muka cemberut.
"Kok cemberut gitu?"
"Kenapa malah dateng?"
"Tadi tanya kenapa nggak cerita, sekarang aku mau cerita".
"Udah malem, besok aja". Aku mengayukan daun jendela, Reza menahan dengan sebelah tangannya.
"Itu kemauan bapak Fii, bukan kemauanku".
"Tapi kamu mau?"
"Enggak...aku maunya kamu, aku sedang berusaha meyakinkan bapak, aku nggak mau yg lain Fii, aku maunya kamu dan kamu tahu itu, jangan goyah Fii, bantu aku dengan tetap disisiku, cukup dengan seperti ini" Reza mengusap puncak kepalaku, mengusapnya pelan.
"Sudah tidur sana, nggak akan ada yg berubah Fii, percayalah. Kalau kamu nggak mau tidur aku temeni sampai pagi, tapi aku masuk ya, disini dingin". Ucapnya tersenyum
"Enak aja, pulang sana!" Aku mendorong tangannya, dia melebarkan senyumnya, berlalu melompati jendela kamarnya yg sejak tadi dibiarkannya terbuka.
#
Apakah perasaan ini cinta?? Jika mendengar nama orang lain mencoba memasuki kehidupannya membuat dadaku sesak, apakah ini cemburu?? Jika membayangkannya bersama orang lain membuat hatiku pilu. Reza, adalah sebuah perasaan tanpa nama, yg membuatku takut memilikinya tapi juga takut kehilangnya.
( Bersambung )
Vote :
Reza_Fio
Aska_Fio
Reza_Aulia
Tidak semua
Author bingung
πππ