
"First"
Bag.15
#
Beberapa hari sepulang dari rumah sakit aku tidak pernah bertemu dengan Reza, aku malas keluar rumah, bahkan mbak Nur yg harus susah payah mengantarkan pesanan kebeberapa pelanggan. Jendela kamar Reza juga selalu tertutup, kemana dia? Biarlah, mungkin dia memang butuh waktu untuk menyendiri.
"Fii...makan dulu nduk, dari tadi pagi kamu belum makan".
"Nanti saja buk, Fio belum lapar". Ibu menghampiriku, duduk disamping ranjangku.
"Kamu sudah tahu kabar Reza Fii?
Aku menggeleng
Ibu menarik nafas panjang lalu ikut berbaring memelukku
"Anak ibuk sudah 23 tahun sekarang, kamu itu baik nduk, ibuk bangga punya anak seperti kamu, ibuk mau cerita, tapi apapun yg terjadi kamu tetep anaknya ibuk yg kuat, anak ibuk yg mandiri". Aku memeluk ibuk, mengusap punggungnya sambil mengangguk mengiyakan.
"Saat kamu dirumah sakit, Reza datang menemui pak seno, Reza bermaksud membatalkan lamaran itu, tapi aulia menolak, dia tetap mau menikah dengan Reza, karna kondisi pak Seno yg memang belum sepenuhnya baik, akhirnya penyakit beliau kambuh dan dilarikan ke rumah sakit, sekarang Pak Seno kritis Fio". Ibu mengusap rambutku, menarik nafas sebentar lalu melanjutkan cerita.
"Ibuk dengar dari ibunya Reza, permintaan terakhir Pak Seno hanya ingin menitipkan aulia kepada Reza, mungkin semua orang tua akan melakukan hal yg sama untuk anaknya, semua orang tahu bagaimana baiknya Reza, meski putus sekolah, dia mampu mandiri dengan usahanya, Reza yg tidak pernah terlibat dengan kenakalan remaja, pergaulan bebas atau semacamnya, bahkan menurut ibuk Reza terlalu baik untuk laki-laki seusianya disini. Mungkin kalau ibuk diposisi pak Seno ibuk juga akan melakukan hal yg sama, memberi yg terbaik untuk anaknya sebelum tutup usia".
"Tapi tidak dengan mengorbankan kebahagian Reza buk, ini namanya nggak adil". Aku terisak, ada yg sakit, meskipun semua yg dikatakan ibuk adalah kebenaran.
"Fii...bapak dan ibumu dulu juga saling mencintai, tapi kamu tahu bagaimana akhirnya?"
" Ini beda buk". Aku masih terus terisak, menyembunyikan wajahku didada ibu.
"Apapun itu, kamu harus bisa menerima akhirnya, seperti ibuk, bahkan kamu lebih kuat dari ibuk. Besok siang, Reza dan Aulia akan mengadakan ijab qobul dirumah sakit, karna memang kondisi Pak Seno yg sudah tidak punya harapan".
Aku semakin terisak, aku akan kehilangan reza yg selama 23 tahun ini menemaniku, aulia mengambilnya bahkan hanya dalam hitungan bulan, tanpa minta ijin baik-baik tapi malah memaki dengan kata-kata yg kasar, bagaimana nantinya Reza, bisakah dia membalikkan perasaannya untuk aulia?.
Malam berjalan sangat panjang, membuatnya mengulang semua sinema yg pernah tercipta selama bersama Reza, senyum manisnya, perhatiannya, petikan gitarnya, impiannya. Rumah mungil 2 lantai itu mungkin akan segera ditempatinya bersama Aulia.
Kuambil 2 tablet pereda nyeri, berharap hari ini segera berlalu ke alam mimpi.
#
Belum tepat pukul 10, rumah Reza sudah tampak ramai didatangi kerabat yg akan menyaksikan acara ijab qobul di rumah sakit, pernikahan ini sebenarnya belum didaftarkan karna memang kondisi Pak Seno yg tidak memungkinkan.
Aku hanya mengintip dari lubang jendela kamar, kulihat Reza dengan setelan jas dan peci hitam keluar rumah, dia tampan, meski sembab di matanya tak bisa menutupi rasa sedihnya, tapi hari ini dia terlihat sangat tampan, dia memandang jendela kamarku yg tertutup cukup lama, sungguh membuatku tak sanggup menahan air mata, aku membekap mulutku, agar suara tangisku tak merusak semua, disaat terakhir aku melepasnya, aku hanya bisa melihatnya dari lubang kecil jendela.
"Pergilah untuk bahagia Zaa". Batinku
Mereka berlalu, ibuk memelukku, entah sejak kapan ibuk berdiri disana melihatku...
"Kamu anak ibuk yg hebat Fii.. meraka akan menikah di rumah sakit tempat Aska dirawat, mungkin Aska juga akan segera mengetahuinya, kamu jenguk Askanya besok saja biar nggak ketemu mereka". Aku hanya mengangguk, mengusap air yg tersisa diujung mata.
#
Jika kata orang cinta pertama tidak akan berhasil, mungkin aku sekarang mengalaminya, perasaan yg tak pernah aku tahu apa artinya sekarang baru aku tahu kalau itu cinta, tentu saja setelah aku benar-benar kehilangannya.
#
Sore hari tanpa kuduga Nenek dan Aska sudah ada didepan pintu rumahku, Aska masih duduk dikursi rodanya, Nenek berhambur memelukku.
"Aska sudah menceritakan semua ke nenek fii, bahkan tadi nenek sempat menyaksikan pernikahan siri itu, kamu hebat, kamu sehebat Aska". Nenek masih memelukku.
Aska memutar kursi rodanya masuk kedalam, ibuk dan Nenek ngobrol di dapur.
"Kamu baik Fii?" Tanya Aska
"Kamu kok kesini? Bukannya harus di rumah sakit?"
"Aku sudah sebulan lebih dirawat, bapak dan ibuk minta pulang dan aku akan dibawa berobat ke singapura, disini terlalu lama".
"Benarkah?"
"Hmm, tapi aku nggak mungkin tinggalin kamu sendirian, apalagi Reza sudah tidak bisa menjagamu, kamu mau ikut ke singapura?"
"Haaaa...??" Aku spontan kaget.
"Iya Fii, kamu kan sudah janji temeni aku sampai sembuh, jangan kuatir, nenek nanti ikut bersama kita, kalau bapak sama ibuk kamu tahu sendiri mereka sibuk, mereka cuma mengantar sampai sana, lalu asisten bapak yg akan mengurus semua".
"Tapi bagaimana dengan usahaku disini Ka?"
"Itu Nenek sedang ngobrol sama ibuk didapur, sekalian melamarmu buatku, kalau bapak sama ibuku terserah aku mau menikah dengan siapa, aku mungkin akan cacat jika tidak sembuh, tapi aku akan berusaha membahagiakanmu fii, itupun kalau kamu menerima kekuranganku". Aska tak henti menatapku. Aku tak tahu harus menjawab apa, tentu saja aku sangat tidak siap dengan semua ini.
"Kalau saya terserah Fionya Nek". Ibu mengusap rambutku
"Aska butuh Fio, dan Fio butuh tempat untuk menenangkan diri, kalau kalian tidak mau menikah sekarang, anggaplah ini seperti liburan, dan Nenek pastikan nenek akan menjaga Fio biar Aska nggak berbuat macam-macam". Nenek menncubit pipi Aska, aska tersenyum memeluk bahu Nenek.
"Menurut ibuk ada baiknya Fii, selain Reza, ibuk cuma percaya sama nak Aska, anggap saja ini liburan gratis dari Aska, iyakan Nak Aska?". Aska mengangguk mengiyakan.
"Lalu ibuk gimana?"
"Jangan kuatir, farel sudah besar, sudah bisa jaga ibuk, ibuk akan tetap melanjutkan usahamu, jadi ibuk nggak perlu ke pasar lagi, nanti Nenek aska mau mengirimkan orang untuk membantu ibuk".
Aku membayangkan semua yg terjadi, begitu cepat, seolah tanpa jeda, rasa sakit yg baru saja aku terima, bahkan makian aulia yg tak juga mereda ditelinga, sampai akhirnya aku mengangguk. Aska mengeluarkan sepasang cincin dari sakunya.
"Aku mencintaimu Fii, aku melamarmu didepan ibuk dan Nenek, aku ingin menghabiskan sisa waktuku dengamu, aku tidak akan membuatmu menangis lagi, maukah kamu menemaniku disisa umurmu?"
Tiba-tiba saja air mataku menetes, entah sedih, entah bahagia aku tak tahu.
"Aska...aku akan mencoba, tapi tidak dengan menikah secepatnya, aku ingin mencoba percaya bahwa kamulah satu-satunya orang yg bisa kupercaya".
Nenek dan ibuk terlihat mengusap air mata, Aska memasangkan cincin ke jariku begitu sebaliknya.
"Ini akan mengikatmu Fii, biar tidak ada lagi yg berani mengambilku darimu, tunggulah sampai aku menemui bapakmu dan memintamu darinya dengan membawa kedua orang tuaku".
Lagi-lagi Nenek dan ibu terisak
"Bawa Fio Nak Aska, bawa dia untuk melupakan setiap rasa sakit yg pernah Fio terima, ibuk menerima lamaranmu, bahagiakan Fio".
"Trimakasih buk, Aska janji".
Kami kembali berpelukan..
"Maaf Za, jika dengan ini kamu bisa hidup bahagia dengan aulia, ijinkan Aska memilikiku sepenuhnya" gumamku sangat lirih.
#
Seminggu berlalu, didepan rumah sebuah mobil merah terparkir, Nenek dan Aska menjemputku, sebelum berangkat banyak pesan yg kusampaikan pada farel untuk menjaga ibu. Ibu menangis memelukku.
"Bahagia ya Nduk, lupakan yg sudah terjadi, cepatlah pulang, kita akan mengadakan pesta pernikahan disini".
"Ibuk jaga diri, jaga kesehatan, nanti Fio akan sering telpon".
Pak supir memasukkan koperku ke bagasi, Aska dan Nenek pamit ke ibu dan farel, lalu seseorang datang menghampiri Aska, memeluknya erat.
"Nitip Fio Ka, jaga dia buatku". Reza menangis
"Tentu Za, dia akan selalu baik bersamaku, jaga istrimu". Aska melepaskan pelukan lalu dibantu masuk ke mobil. Perkataan Aska seperti pukulan buat Reza, aku melihatnya menghampiriku.
"Maaf untuk semua Fii, aku tidak bisa..."
"Cukup Za...jadilah suami yg baik buat aulia, jadilah Reza yg dulu pernah aku kenal".
Reza memberikanku sebuah amplop coklat.
"Bukalah sesampainya di singapura, itu hadiah terakhir untukmu, bahagialah Fii, kamu pantas mendapatkannya".
Mobil melaju perlahan, meninggalkan halaman rumah tempatku mengukir kenangan, ada rasa sakit, ada bahagia. Tempat dimana aku jatuh cinta, tempat dimana aku juga harus kehilangan cinta.
#
Singapura
Amplop coklat itu pelan-pelan kubuka sebuah sertifikat tanah atas namaku dan selembar foto rumah mungil itu.
Kubuka selembar surat diantaranya.
" Bawalah mimpiku bersamamu Fii, karna hanya kamu yg berhak atas mimpiku, bukan orang lain"
Aku terisak, sakit itu kembali menganga, kudekap amplop coklat itu, foto rumah mungil itulah satu-satunya impian Reza..
Sebegitu besarnya perasaan Reza yg terlambat kusadari.
"Maafkan aku Za, kamulah korban sesungguhnya dari semua kejadian ini. Bahagialah Za..meskipun itu tak bersamaku".
#
( bersambung )
masih terus ditunggu like komen ya,,bantu vote boleh bangetππππππ