
#
( Reza Part)
Aku melihatnya lagi setelah 6 bulan dia pergi, dia semakin cantik, pantas saja dia membuatku gila selama ini, aku bahkan sudah mencintainya sejak dia masih memakai seragam merah putih. Haaaaah Takdir mempermainkanku dengan cara yg tidak adil, 23 tahun dia harus pergi dari sisiku, mirisnya, aku seperti pecundang yg tidak mampu memperjuangkan perasaanku yg sudah hidup selama itu. Kalau mati adalah jalan terbaik aku akan melakukannya sudah dari kemarin, tapi Tuhan akan lebih mengutukku jika aku melakukannya.
Apakah kamu tahu Fii, aku bahkan belum pernah menyentuh wanita brengsek itu, kamu ingin aku bahagia dengannya, bagaimana mungkin jika perasaanku kamu bawa pergi, dan Aulia sama sekali tidak bisa membawa perasaanku kembali. Aku muak melihatnya menghambur-hamburkan uang, pergi ke salon, belanja, dan kamu tahu? mulutnya seperti ular, semua ucapannya bisa melukai siapapun, aku bukan seperti suami baginya, aku hanya seperti robot yg meneruskan usaha bapaknya, aku hanya mesin uang yg bisa diambilnya sewaktu-waktu, bahkan aku pernah melihatnya keluar dari sebuah pusat perbelanjaan dengan lelaki yg ia gandeng dengan mesra, ingin rasanya lari dari semua ini, tapi aku harus kemana? jika tujuan terakhirku telah pergi jauh meninggalkanku.
Dan sekarang aku melihatmu, duduk bersanding dengan lelaki lain, harusnya aku yang disana Fii, bukan dia. Tapi melihatmu tersenyum, melihat rona pipimu yg memerah sungguh membuatku bahagia, kamu cantik, sangat cantik, sayangnya aku tak bisa lagi menyentuhmu, atau hanya untuk mengusap rambutmu yg lembut, karna kamu bukan lagi gadis kecilku. Kamu seorang wanita yg kini tak lagi membutuhkanku.
kenapa hadiah kecilku kamu kembalikan Fii? Bertahun-tahun aku berusaha mewujudkannya untuk kita, bukan untuk Aulia. Kamu tahu? Perpustakaan kecil dilantai dua itu sekarang sudah jadi, aku membeli banyak buku dan menatanya disana, bukankah kamu sangat suka membaca?
Aku hanya ingin kamu menempatinya, dengan anak-anakmu, dengan suamimu. Sekarang aku menyimpannya, itu akan tetap menjadi milikmu meski Aska bisa memberikan lebih dari semua itu.
Menghampirimu disaat hari bahagiamu, mengucapkan selamat kepada suamimu adalah hal yg paling menyakitkan saat ini Fii, tapi aku harus melakukannya, aku tidak mau lagi menjadi pecundang yg hanya mengintipmu dari balik jendela, melihat Aska mencium keningmu membuat dadaku sesak, kamu seperti membunuhku seketika, kamu mencabik-cabik luka yg selama ini bahkan belum sembuh. Ingin rasanya menghancurkan semua yg ada dihalaman rumahku,halaman rumahmu,halaman rumah kita yg kini kamu jadikan singgasana pernikahanmu dengan Aska, bukan denganku, tapi aku pernah melakukan hal yg sama terhadapmu Fii, aku yg lebih dulu melukaimu.
Belum sempat aku mengucapkan selamat padamu, wanita itu lebih dulu datang, dengan kata-katanya yg tajam seperti sebilah pedang dia menusukmu, sama seperti beberapa waktu lalu. Jangan menangis Fii, aku tidak mau kamu menangis di hari bahagiamu.
Aku menampar wanita itu, dia seperti bukan manusia lagi, aku akan segera menceraikannya, aku akan membuatnya pergi jauh darimu Fii.
#
Aulia pucat, duduk di sofa ruang tengah, ibu mendekatinya.
"Ada apa dengan kalian? selalu saja bertengkar". ibu menatapku tajam
"Reza menamparku buk". Aulia memegang pipinya, sesekali terisak, memainkan drama seperti aktris pemenang piala citra.
"kenapa kamu menampar Aulia Za?".
"Tanya saja menantu kesayangan ibuk".
"plaaaaak". Bapak tiba-tiba muncul dari dalam kamar dan menamparku.
"Cukup Zaaa, aku membesarkanmu bukan untuk menjadi seperti ini, Bapak melihat semuanya, Aulia istrimu, apa selama ini kamu sudah memperlakukan Aulia layaknya seorang istri heeh?" Bapak sedikit membentak, tapi ibu segera menenangkannya karna diluar acara pernikahan Fio masih berlangsung.
"huek...huek..huek" Aulia seperti mau muntah, dia berlari ke kamar mandi, ibu mengikutinya.
Tak lama mereka kembali, wajah Aulia bertambah pucat, ibu mengoleskan minyak angin ke leher dan memijat tengkuknya pelan.
"Kamu sakit Aul?" Tanya ibu
"Sebenarnya aulia hamil buk, aulia sudah telat hampir 2 minggu, kemarin Aulia tes hasilnya positif". Aulia mengusap perutnya sambil melirikku.
"Alhamdulillah, liat Za, bahkan sebentar lagi kamu akan menjadi ayah". ibu ikut mengusap perut Aulia. Aku melihat senyum kemenangan diwajah Aulia.
Ayah? bagaimana aku bisa menjadi ayah jika selama ini aku belum pernah menyentuhnya? apalagi ini ya Tuhan.
"Ayah, memangnya itu anakku". Kataku kemudian.
"plaaaaak" lagi-lagi ayah menamparku, Aulia kembali terisak, ibu memeluknya.
"Dasar brengsek, dia istrimu Zaa". Kali ini Bapak benar-benar marah.
Aku tak mau orang-orang diluar mendengar keributan kami, akhirnya aku pergi, pergi membawa sekeping hatiku yg lagi-lagi terluka.
Dihalaman rumah mungil ini, pohon jambu dan mangga yg kutanam sudah mulai tinggi, aku menaruh sebuah kursi panjang dibawahnya, berbaring disana setidaknya membuat hatiku sedikit tenang.
Aulia mengandung? Kembali pertanyaan itu datang. Demi Tuhan aku belum pernah menidurinya, bahkan ketika aku pulang setelah minum alkohol aku masih sangat sadar untuk tidak menyentuhnya. Anak siapa itu? Apakah lelaki yg pernah bersamanya ketika keluar dari pusat perbelanjaan waktu itu? Aku ingin tidak memikirkannya, tapi bayangan Aulia mengandung akan membuatku semakin tidak bisa lepas darinya. Bapak dan ibu akan semakin menyayanginya meskipun anak yg Aulia kandung bukan cucunya. Apa yg harus aku lakukan?
Aku menyangga kepala dengan kedua tanganku, udara sore yg berhembus menguliti sisa keresahanku, sampai aku terlelap, hanyut dalam mimpi yg datang, seperti mendengar suara gelak tawa anak-anak kecil berlarian mengelilingiku, memanggilku ayah, tersenyum, lalu berlari lagi, mereka lalu menaiki ayunan dibawah pohon mangga sambil terus tertawa riang. "ayaaaaah" sekali lagi aku mendengar mereka memanggilku, sungguhkah mereka anak-anakku?
#
( bersambung )
Jangan lupa klik vote ya....trimakasiiih๐๐๐๐๐๐