
#
Usaha cake Fio yg selama ini dijalankan ibu ternyata sudah berkembang dengan sangat baik, mereka sudah punya pelanggan tetap dari beberapa perusahaan dan instansi, sudah ada 5 orang yg membantu ibu, tapi ibu masih sering merasa kewalahan melayani pesanan. Fio meminta ijin kepada Aska untuk membantu ibu, bagaimanapun Fio yg mengawali bisnis ini, dia tidak mau begitu saja lepas tangan, kasihan ibu.
Sebenarnya Aska tidak ingin Fio bekerja, dia ingin Fio hanya mengurus dirinya, bahkan Aska bisa memberi jatah bulanan juga ke ibu, tapi usaha kue itu telah dirintis dari Nol oleh Fio, sayang kalau harus berhenti begitu saja, dan ibu juga menolak jatah uang bulanan dari Aska, akhirnya Aska mengijinkan, dengan syarat ibu harus menambah pegawai dan Aska akan merenovasi rumah ibu, bagian depan untuk toko, bagian belakang dan lantai atas untuk tempat tinggal. Fio dan Ibu menyetujuinya.
#
Sepulang dari rumah ibu, Fio sibuk di dapur, Fio membantu bik Inah memasak untuk makan malam, Fio memang pintar memasak, bik Inah bahkan kagum dengan keahlian majikannya, gadis yg masih muda, Nyonya besar yg harusnya duduk di kamar nonton drama korea, belanja, atau pergi ke salon, tapi Nyonya yg satu ini gemar sekali kotor di dapur.
"Beruntung sekali Mas Aska dapat istri kaya Mbak Fio". Bik inah menggumam pelan, tapi berhasil tertangkap telinga Fio.
"Maksud bik Inah apa hayooo?". Fio mulai menggoda bik inah.
"Fio bik yg beruntung dapat Mas Aska, sudah baik, ganteng, kaya lagi". Aku dan bik Inah tertawa.
"iya Mbak, Mbak Fio sama Mas Aska beruntung semua, cocok pokoknya". Aku hanya tersenyum melihat bik Inah yg umurnya mungkin seumuran ibuku, bik inah janda, suaminya meninggal beberapa tahun lalu, bik inah punya 3 anak, yg 2 masih sekolah dan yg satu kerja jadi TKW di Malaysia. Bik inah mulai menginap disini beberapa bulan lalu, sejak Nenek memutuskan pulang dan menetap disini. Bik inah cekatan, rajin dan yg paling kusuka adalah dia nggak banyak tanya ini dan itu, urusannya kerja ya kerja, tidak suka gosip dan semacamnya.
"Sayaaaaang, kamu dimana". Suara Aska sampai ke dapur.
"Tuh mbak dicari Mas Aska, sini biar bik Inah yg selesaikan".
Aku mengangguk, bergegas menuju sumber suara.
"Ya ampun Mas, nggak usah teriak-teriak gitu, kaya anak kecil aja". Aska langsung memelukku, membawaku masuk ke kamar.
"Sayang aku mau ngliatin sesuatu ke kamu". Aska menggeser laptopnya ke pangkuanku, sebuah box bayi berwarna biru laut dengan banyak pernak-pernik yg lucu.
"Cantiiik banget Mas". Seruku.
"Tapi aku masih belum hamil Mas, ini saja baru selesai datang bulan". Lanjutku melihat gelagat Aska yg mulai mencurigakan.
"Justru itu sayang, karna kamu habis datang bulan kan pas subur-suburnya, bikin adek bayi yuk". Aska bergerak cepat merebahkan tubuhku diranjang, aku berusaha menolak, karna memang ini masih sore, bapak dan ibu dirumah, tapi apa daya, Aska jauh lebih kuat dariku.
"Masih jam 5 sore maaas". aku masih berusaha mengingatkan Aska ditengah aksinya
"Emang kenapa? kamu nggak kasihan sama suamimu yg sudah seminggu puasa?". Aska berhenti lalu menatapku.
Aku cuma diam, apa yg Aska ucapkan benar, aku adalah miliknya, aku punya kewajiban yg tidak bisa aku tolak, dia berhak atas diriku sepenuhnya. Tapi seingatnya baru kali ini Aska sedikit memaksa, entahlah, akan kutanyakan nanti.
Sampai adzan maghrib aku masih tertidur, lelah yg luar biasa membuatku mengantuk, Aska keluar dari kamar mandi, memakai celana pendek dan kaos merah, rambutnya yg basah semakin menampakkan auranya yg lebih dari rata-rata.
"Sudah adzan maghrib sayang, mandi sana, aku tunggu sholat bareng". Aku beranjak, badanku rasanya remuk, seharian tanpa istirahat, ditambah lagi harus melayani suami yg minta jatah tak kenal waktu, padahal kami sudah menikah 5 bulanan, tapi Aska seolah tak ada bosannya menikmatiku.
#
Makan malam bersama Bapak, Ibu dan Nenek, suasana hangat yg jarang sekali dinikmati, dan sekarangpun kehangatan terakhir dibulan ini. Bapak dan Ibu besok pagi-pagi sekali harus sudah terbang ke Surabaya, menjadi pengusaha yg sukses ternyata tidak seenak yg orang bayangkan, ketika sekarang aku menjadi bagian dari keluarga ini, aku bisa merasakan apa yg Aska rasakan ketika jaman sekolah dulu, kehilangan waktu bersama keluarga, itulah salah satu alasan Aska tidak mengijinkan aku bekerja, karna Aska tidak mau anak-anak nanti kesepian seperti dirinya dulu.
Aska juga menjalankan bisnis minimarket, Aska mempunyai sekitar 34 cabang yg tersebar dibeberapa kota, tapi Aska tak pernah meninggalkanku, sekalinya dia harus keluar kota maka Aska akan mengajakku, itupun tidak sesering bapak dan ibu, Aska menyerahkan semua pada Reno, Reno adalah sahabat Reza ketika kuliah, dia anak yg cerdas, sayang bapaknya harus dipenjara karna kasus korupsi dana desa, ibunya meninggal setelah sebulan bapaknya di penjara, sekarang Reno harus menghidupi 2 adik kembarnya yg masih kuliah. Reno pekerja keras, dan Aska selalu puas dengan hasil kerjanya, maka dari itu Aska tak segan membayarnya dengan gaji yg Fantastis.
"Aska, Fio, besok bapak sama ibu berangkatnya nggak usah bangunin kalian ya". ibu mulai bicara
"Soalnya jam 2 pagi ibu dan bapak sudah harus berangkat". Lanjutnya.
"Ya buk". Jawab Aska singkat.
"Semoga pas pulang nanti ibu sudah dapat kabar kalau Fio hamil, ibu ingin sekali segera menimang cucu". ibu mulai menggodaku, entah kenapa sejak tinggal disini, ibu suka sekali melihat leherku, Aska suka sekali membuatnya disana, dan itu menyebalkan.
"Semoga ya buk". Sahutku pelan.
#
Pagi hari seperti biasa, selesai menyiapkan sarapan aku menyiapkan baju kerja Aska, dia mengejutkanku dengan tiba-tiba memelukku dari belakang, bau sabun dan shampo yg dipakainya sangat tajam menusuk, rambutnya yg basah menetes di bahuku.
"Bantu ngeringin rambut dong". Aska yg manja, mengulurkan handuk kecil ke tanganku, Aska tidak suka memakai hair dryer untuk mengeringkan rambut, dia lebih suka aku yg mengeringkannya, karna dengan begitu, Aska bisa menggodaku, tapi inilah Aska, dengan segala sikapnya yg ternyata kadang kekanak-kanakan, tapi aku menyukainya.
"Mas aku nanti kerumah ibuk ya.."
"Mau apa sayang, kan baru kemarin". jawab Aska menjauhkan handuk dari rambutnya lalu mulai memakai pakaian kerja,
"Mau bantuin ibuk beres-beres, kan besok mau dirovasi, kasihan ibuk pasti capek beres-beres sendiri".
"Kan bisa dibantuin mbak Nur sama mbak Asih".
"Baiklah, tapi diantar supir, nanti pulangnya aku yg jemput sekalian pulang dari kantor".
"Makasiiiih suami tercintaaa". Aku mencium pipi Aska, tapi ternyata dia tidak segera melepaskanku begitu saja, dia mencium bibirku cukup lama.
"Kalau pagi jangan menggodaku sayaang, bisa-bisa aku nggak kerja karna kamu".
Aku tertawa, melepaskan pelukannya, lalu turun menemaninya sarapan bersama Nenek.
#
Tepat satu jam setelah Aska berangkat, aku pamit pada Nenek untuk kerumah ibu, Pak Amin supir Aska sudah menunggu didepan.
"Hati-hati ya sayang". Nenek melambaikan tangannya melihat mobil yg mengantarku menghilang.
#
Ibu mulai memindahkan barang-barang yg tidak terpakai ke gudang, mbak Nur dan Mbak Asih membersihkan alat-alat untuk membuat kue, merapikannya agar tidak tercecer kemana-mana.
"Kemarin Aska ketemu Reza knpa Fii?" tanya ibu disela aktifitasnya.
"Cuma ngobrol katanya, mereka baik kok buk, ibuk nggak usah khawatir".
"Ibu nggak khawatir sama mereka Fii, tapi yg khawatirkan Aulia, Aulia sudah hamil besar, 2-3 bulan lagi akan melahirkan, tapiii..." Ibu menghela nafas.
"Tapi kenapa buk?" Tanyaku penasaran.
"ibuk dengar Reza akan menceraikan Aulia setelah melahirkan, ibuk khawatir kamu yg akan disalahkan nantinya Nduk".
"Kok aku yg disalahkan?"
"Karna Aulia tahu, Reza sangat mencintai kamu Fii".
Perceraian karna aku? apa salahku? bahkan saat ini aku sudah sangat mencintai suamiku, Reza hanyalah orang baik dalam masa laluku, orang yg tidak mungkin ku buang dalam kenanganku.
Aku berjalan keluar membawa bungkusan sampah, menaruhnya di tempat sampah, dan saat hendak berbalik aku melihatnya duduk dijendela kamar, dia tersenyum, hanya tersenyum kecil, bukan saat yg tepat jika aku harus bertanya ada apa dan kenapa, aku masih mematung, sampai aku tersadar saat dia menutup jendela kamarnya meninggalkanku. Aku hendak berbalik, tapi tanganku tertahan sesuatu.
"Sudah puas lihat suamiku hehh". Aulia sudah berdiri disampingku.
"Dasar wanita ja...."
"Plaaaaak". Satu tanganku menampar pipinya
"Berhenti mengatakan itu padaku, karna kamu lebih busuk dariku". Entah kekuatan apa yg tiba-tiba menguasaiku. aku menampar seorang wanita yg sedang hamil.
"Hahahaha". Aulia tertawa keras, Reza keluar dari rumahnya, saat hendak menarik Aulia masuk, mobil Aska datang dari arah berlawanan. Aska langsung berlari menghampiriku
"Wooow kebetulan sekali, bukan cuma aku yg menangkap mereka, ternyata suami perempuan ****** ini juga menyaksikannya".
"Plaaaak" Reza menampar Aulia
" Kamu seperti orang gila". kata Reza
"Yaaaa aku gila, gila karna kamu mencintai perempuan ****** ini". Aulia meninggikan suara.
Kali ini Aska mendekati Aulia, mengeluarkan ponsel lalu menyodorkan ke Reza, lalu ke Aulia.
"Siapa yg lebih pantas dipanggil ****** haaah?". Aska membidikkan mata tajamnya ke Aulia. Aulia tercekat melihat foto itu, dia memegang tangan Reza.
"Itu bukan aku Mas, aku difitnah". Tapi Reza tak memperdulikannya.
"Makasih Ka, foto itu akan cukup membantuku nanti, aku juga mengetahui kelakuan wanita ular ini dibelakangku, maaf Ka, aku dan Fio benar-benar tidak ada apa-apa, maafkan aku Fio, selalu melibatkanmu dalam keluargaku". Reza menepuk bahu Aska lalu pergi membawa motornya menjauh meninggalkan wanita gila itu yg terus saja memanggil namanya.
Aska menuntunku masuk, rupanya ibu, mbak Nur dan mbak asih menyaksikan semua, aku tak mampu lagi membendung air mata, apa yg baru saja ibu katakan langsung menjadi kenyataan.
Aska memelukku, mengusap lembut punggungku.
"Aku percaya kamu Sayaaang".
( bersambung )
makasiiih yg sudah ninggal jejak, yg belum masih ditunggu yaππππππ