
#
Fio berjalan menyusuri jalan setapak itu, Fio ingin memastikan apa yg diucapkan Faraz tentang rumah itu benar.
Rumah yg pernah datang dalam alam bawah sadarnya, rumah yg pernah dikunjunginya dulu, tempat dimana Reza pernah melamarnya, Rumah dimana Fio melihat Reza begitu terpukul atas perjodohanannya dengan Aulia.
Setelah hampir 20 tahun Fio hampir melupakan keberadaan tempat itu.
#
Fio mematung di halaman rumah itu, semua bagian halaman yg pernah Reza impikan benar-benar diwujudkannya, sungguh cantik dan unik. "Ini lebih mirip sebuah taman bunga". Pikir Fio.
Fio lalu duduk di sebuah gazebo di samping kolam ikan, Fio menyandarkan kepalanya di salah satu kayu penyangga, suasana yg begitu tenang, asri, sejuk, Reza sangat pintar merawatnya.
"ceklek". Fio tersentak kaget saat pintu rumah tiba-tiba terbuka.
"Rezaaa". Fio tergagap, dia tidak menyangka Reza ada di dalam rumah itu.
"Sudah lama Fii? Maaf nggak tau kamu di sini". Reza mendekat, duduk di bangku panjang sebelah gazebo.
"Belum lama, hanya jalan-jalan, nyasar sampai sini". Fio mencoba memberi pernyataan.
"Sengaja kesini juga nggak papa kok".
"Beneran nggak sengaja Za". Fio masih mencoba menolak sebuah pengakuan, tapi itu justru yg membuat Reza tertawa.
"Kamu nyebelin". Fio cemberut.
"Kamu kalau ngomong kaya gitu masih kaya ABG Fii". Kali ini Fio tersenyum, benar, mereka yg sekarang, bukan mereka 20 tahun lalu.
"Kamu ngapain kesini Fii?". Reza mulai ingin tahu.
"Faraz bilang pernah kesini". Fio berhenti, menghela nafas panjang.
"Iya, beberapa tahun lalu, aku yg mengajaknya kesini". Sahut Reza.
"Kenapa Zaa?".
"Karna ini rumah bundanya".
"Bukan Zaa..ini rumah kamu".
"Ini mimpiku Fii, tapi ini milikmu, dan aku menjaga milikmu, tahu kenapa?" Fio menggeleng.
"Karna milikmu adalah mimpiku".
Deg...
Mereka terdiam, perasaan Reza saat ini seperti drum yg sedang ditabuh, dadanya membuncah, apa yg dipendamnya lama bisa keluar seketika.
Di tempat ini...
Tempatnya melamar Fio, tempat yg sama yg membuat Fio terluka.
"Jika aku pernah melukaimu aku minta maaf Fii, tapi satu hal yg pasti, perasaanku padamu sejak puluhan tahun yg lalu tidak pernah berubah".
Fio membisu, pikirannya kacau, bayangannya kembali ke masa lalu dimana hanya ada dia dan Reza, tapi hati Fio masih sangat mencintai Aska, almarhum suaminya. Bersama Reza saat ini, baginya seperti sebuah penghianatan kepada Aska. Tapi mengatakan hal itu berarti dia akan kembali melukai Reza.
"Kamu mau lihat kedalam Fii?".
"Nggak usah Za, kapan-kapan saja". Reza mengangguk, dia tahu Fio pasti takut masuk bersamanya, Fio bukan gadis kecilnya dulu, Reza dan Fio pernah sama-sama menikah, akan banyak hal yg orang pikirkan jika mereka didalam rumah yg sepi dan hanya berdua.
"Aku pulang dulu". Fio beranjak dari duduknya.
"Tunggu Fii". Fiona membalikkan badannya menatap Reza.
"Kamar utama di rumah ini masih kosong seperti dulu, kamar itu masih menunggu pemiliknya datang". Reza menghela nafas panjang, menatap tajam retina Fio.
"Aku masih terus menunggumu Fii, bahkan jika Allah tetap tidak mengijinkan aku memilikimu, maka biarlah seperti ini sampai maut menjemputku".
Fiona berbalik, menyembunyikan matanya yg mulai basah, Fio segera berlalu, Fio takut akan jatuh dan menduakan Aska, Aska menungguku di sana. Fio mempercepat langkahnya, secepat air mata yg jatuh di pipinya. Ada rasa sakit yg tiba-tiba ikut hadir...
#
"Bundaaaa". Panggil Queen mencegat Fio yg hendak masuk ke dalam rumah.
"Ya Queen...ada apa Nak?". Fio menuntun Queen duduk di teras.
"Faraz kemana Bun?".
"Tadi katanya mau beli paket data ke counter, tapi bunda juga nggak tahu kok Faraz nya belum pulang".
"Yaaaaah...padahal Queen juga mau minta tolong buat dianterin cari buku, ada tugas yg harus selesai soalnya Bun, tapi Queen nggak punya bukunya".
"Atau mau Bunda anterin?". Fio menawarkan diri.
"Kalau sama Bunda nggak seru, apalagi sama Ayah". Queen cemberut.
"Kok nggak seru kenapa coba?".
"Gini lho Bun, sebenernya Queen ngajak Faraz tuh biar nggak di ganggu sama Reyhan, kalau Reyhan liat sama Faraz kan taunya kita pacaran, jadi Reyhan nggak ngejar-ngejar Queen lagi".
"Emang Reyhan rumahnya mana? kok bisa ke toko buku trus ketemu Reyhan".
"Ya ampuuuun Bunda, Reyhan itu anaknya yg punya toko, Reyhan satu sekolah sama Queen, nih tiap malam aja wa kaya gini trus, Queen pusing Bun". Queen menyodorkan ponselnya, Fio membaca whatshap dari Reyhan, Fio tersenyum sedikit lebar.
"Kok Bunda malah ngledek gitu sih?". Queen yg melihat Fio tersenyum malah mengira Fio mengejeknya.
"Bunda nggak ngejek Queen sayang, Bunda seneng, anak perempuannya Bunda ada yg perhatian, sampai segininya lho dia". Fio mengusap rambut Queen.
Fio malah makin cemberut.
"Tapi Queen nggak suka sama Reyhan Bun, Reyhan belum jadi pacar saja udah suka ngatur-ngatur Queen gitu, pokoknya Reyhan nyebelin Bun?". Fio tersenyum.
"Ya sudah, kalau nggak mau dianter Bunda, kamu nunggu Faraz pulang, biar dianter Faraz".
"Ayaaaah". Queen melihat Reza berjalan menuju rumahnya, Reza menoleh, tersenyum ke arah mereka.
"Ayah sini deh". Queen menepuk bangku disebelahnya yg kosong. Sekarang Queen duduk diantara Fio dan Reza.
"Kebetulan pas ketemu Ayah sama Bunda nih, gimana kalau nanti kita makan keluar, biar Queen yg traktir, mau ya Bun?".
"Emang Queen punya uang". Reza menyentil hidung Queen.
"Nggak papa dong buat traktir Bunda". Queen menggelayut manja di tangan Fio.
Faraz memarkirkan mobil di halaman rumah, dia datang di saat yg benar-benar pas.
"Kok bisa barengan disini semua nih?" Faraz mencium pipi Fio, duduk disebelah Bundanya.
"Raz makan malam keluar bareng yuuk, sekalian temenin aku nyari buku buat tugas besok". Queen mengedipkan sebelah matanya ke Faraz, memberi kode untuk segera setuju.
Faraz yg menangkap kode dari Queen langsung mengiyakan.
"Kalian bertiga saja ya, Bunda nggak ikut, kasihan Nenek lagi banyak kerjaan, Bunda mau bantu Nenek". Fio berusaha menolak.
"Yaaah Bunda nggak asik, mumpung pas banget nih Bunda". Queen merengek.
"Iya Bunda, kan Bunda udah lama nggak jalan-jalan, refreshing gitu Bun". Faraz ikut membantu memojokkan Fio.
"Ya udah, Bunda ikut, tapi habis sholat sekalian ya, biar nggak kepikiran di jalan". Fio melirik Reza, yg ternyata juga sedang meliriknya, Reza tersenyum, sangat manis.
"Makasiiih Bundaaaa". Queen mencium pipi Fio, lalu menarik Reza pulang untuk bersiap-siap.
Faraz menepuk bahu Fio, lalu memeluk Bundanya.
"Bunda harus bahagia". Faraz mencium Fio, lalu menuntunnya masuk rumah.
#
19.15 Mereka sudah ada di halaman rumah.
"Ayah yang nyetir ya..!". Faraz menyerahkan kunci mobilnya.
Faraz langsung duduk di belakang, Fio yg juga hendak duduk dibelakang di cegah Queen.
"Bunda depan aja ya, Queen mau konsul pelajaran ke Faraz". Fio mengalah, duduk di depan, disamping Reza, Queen dan Faraz saling pandang, mereka tersenyum penuh kemenangan.
Mereka sampai di sebuah restoran, melihat mereka berempat bersama sudah layaknya satu keluarga yg bahagia.
Queen dan Faraz memesan menu makanan, sambil menunggu makanan, Queen dan Faraz tak henti-hentinya ngobrol, bahkan sesekali ribut karna beradu argumen. Sementara Fio dan Reza lebih banyak diam, tentu saja mereka merasa canggung setelah kejadian tadi siang.
Menu masakan selesai di sajikan, saat waitres hendak pergi Queen memanggilnya kembali.
"Mbak minta tolong fotoin kami dong".
Fio tercengang, tapi mana bisa dia menolak permintaan Queen.
"Sini Bun lebih rapat". Queen menarik Fio.
Fio duduk disamping Reza, Faraz berdiri belakang Fio, sedang Queen berdiri di belakang Reza.
"Cekriiik". 3 sampai 4 kali waitres mengambil gambar. lalu menyerahkan ponsel ke Queen, Queen tersenyum cerah sekali.
"Makasih mbak". Queen menerima ponselnya lalu menunjukkan ke Faraz.
"Bunda cantik banget, Ayah juga keren, ya ampun kita beneran kaya keluarga deh". Ucapan Queen sukses membuat pipi Fio menghangat, Reza juga tampak tersipu, menyentil hidung Queen lalu mengacak rambutnya.
Usai makan malam, mereka berempat menuju toko buku yg ingin Queen kunjungi.
"Ayah nunggu di mobil ya, nggak lama kan?". Kata Reza.
"Cuma bentar kok Yah". Sahut Queen
"Ya udah, bunda juga nunggu di sini aja, kamj sama Faraz gih, katanya mau manasin Reyhan". Fio menambahi.
"Aduuuh Bunda, kenapa bilang, Ayah jadi tahu tuh". Queen cemberut. Fio tersenyum.
"Siapa Reyhan?" Reza menatap putrinya.
"Pacarnya Queen Yah". Faraz menambahi.
"Faraz bo'ong Yah". Queen mulai merajuk.
Reza menatap penuh selidik.
"Udah sana masuk, ntar keburu tutup tokonya". Fio menghentikan aksi Queen.
Tinggalah mereka berdua, Reza yg diam mengetuk-ngetuk kemudi dengan ujung jarinya, sementara Fio sibuk dengan HP nya.
"Seneng ya liat mereka". Reza mencoba memecah kecanggungan diantara mereka.
"Iya, aku malah berdoanya mereka jodoh". Mungkin Fio asal bicara.
"Kalau aku nggak, aku pengennya mereka tetep seperti itu, jatuh cinta dengan orang yg terlalu dekat itu menyakitkan".
"Maksud kamu?". Fio menatap Reza.
Reza yg mendapatkan tatapan tajam Fio mendekat.
"Jawab jujur Fio, apa kamu tidak pernah merasa sakit dengan kisah kita?".
Fio mengalihkan pandangannya, tapi kedua tangan Reza memegang bahu Fio.
"Katakan Fii, kalau kamu tidak pernah menyukaiku". Reza menekan nadanya, retina mata tak beralih menatap Fio yg mulai berkaca-kaca.
"Aku..." Fio ragu...
Reza menariknya dalam pelukan, Reza tak peduli Fio menolaknya, kerinduan yg ia pendam selama ini, rasa sakit yg ia nikmati berpuluh tahun lamanya. perempuan ini, saat ini, bukan lagi istri orang. Reza mencintainya.
"Maafkan aku Mas Aska". Batin Fio lirih, air mata mulai membasahi pipinya.
Entah ia harus bagaimana.
#
( bersambung )
Tetep tinggalkan jejak ya
πππ
πππππ