
#
Mata Fio berkaca-kaca, merasakan sesak yg menghujam dada, masih ditatapnya lelaki yg berbaring tak berdaya ditempat tidur, sebuah infus, selang dihidung, dan ada banyak alat-alat medis yg Fio sendiri tidak tau namanya menempel dibeberapa bagian tubuhnya. Tangannya menyentuh buku jari yg mulai pucat, mengusapnya lembut, berharap sang pemilik tangan segera bangun dan menyadari kehadirannya. Mengucapkan hallo atau hanya sekedar mengerlingkan mata, tapi dia masih terlelap, mungkin terlalu lama menikmati alam bawah sadarnya. Air mata Fio mulai menetes tanpa jeda. Fio terisak.
#
Flashback On
Hari ini Fio mengantarkan sebuah cake coklat strawberry ke Hotel Hexa yg letaknya persis dibelakang sebuah rumah sakit besar dikotaku, mereka berjanji ketemu di lobi hotel tepat jam 4 sore. Jam 4 kurang 5 menit Fio sudah sampai disana, duduk di sebuah big sofa di sisi kanan lobi hotel, belum sempat fio menelpon orang yg memesan, seseorang menepuk pundaknya pelan.
"Nenek?". Fio menutup mulutnya kaget
"Iya Fio sayang". Nenek berangsut memeluk Fio.
"Nenek apa kabar" Fio mengendurkan pelukan Nenek
"Baik sayang".
"Nenek tinggal di hotel ini? Bukannya Nenek jadi ikut ke Jakarta sama Aska ya??"
"Iya sayang, nenek baru seminggu disini, mana kuenya?"
"Jadi yg pesan kue Nenek?" Tanyaku terheran-heran
"Iya sayang, Nenek nemu iklan kue kamu di media sosial, dari awal Nenek sudah curiga kalau itu kamu, dan ternyata benar".
"Nenek tinggal disini sama siapa" Lanjutku menyelidik
"Aska". Sahut Nenek yg seketika membuat lemas semua tulang yg menyangga tubuhku. Kepalaku berdenyut, semua berputar kembali, setelah 2 tahun lebih menghilang tanpa kabar. Sekarang hadir tiba-tiba, saat perasaanku mulai keberikan sepenuhnya untuk Reza.
"Fio mau ketemu Aska?" Tanya Nenek kemudian mngusap pipiku
"Mungkin lain kali Nek, jangan hari ini". Aku menunduk lesu
"Kenapa? Nggak kangen sama Aska ya?" Nenek tersenyum menggoda
"Sudah sekarang saja,kasihan Askanya sudah kelewat kangennya" Nenek menyambar pelan pergelangan tanganku tanpa menunggu jawabanku, membawaku keluar hotel menuju rumah sakit tepat didepan hotel ini.
"Kok kerumah sakit Nek?" Aku mulai menyelidik karna mimik muka Nenek mulai berubah sejak menginjakkan kaki dihalaman rumah sakit.
Sampai di depan ICU nenek mengajakku duduk di kursi panjang sebelah pintu masuk ICU. Mata Nenek mulai berkaca-kaca, aku sangat jelas menangkap kesedihan dibalik tatapnnya, Nenek mengenggam erat tanganku,sangat erat.
"Fii, Nenek mau cerita, tapi sebelum Nenek selesai cerita, tolong kamu tetep pegang tangan Nenek, dan jangan bertanya apapun". Aku hanya mengangguk pelan.
"Seminggu yg lalu Aska berniat menemuimu, dia berhasil membuka cabang bisnis dikota ini, diam-diam dia terus bekerja keras mengembangkan bisnisnya, berkali-kali bapaknya mengingatkan Aska tidak mungkin berhasil membukanya dikota kecil seperti ini,tapi berkat kerja kerasnya dia berhasil Fii, bahkan disela-sela kuliahnya dia terus memantau perkembangan bisnisnya disini. Aska berkali-kali cerita ke Nenek ingin secepatnya kembali, tapi dia tidak mau kembali dengan Aska yg masih seperti dulu, Aska ingin kamu tahu dia sangat bekerja keras untukmu. Hingga akhir pekan kemarin Aska ingin pulang kesini, melihat secara langsung bisnisnya, menemuimu dan menunjukkan kesungguhannya padamu. Tapi nasib buruk menimpa Aska Fii, dalam perjalanan kemari, mobil Aska mengalami rem blong, mobilnya menabrak sebuah truk bermuatan yg berhenti ditepi jalan, kondisi mobilnya remuk, beruntung Aska masih bisa diselamatkan, tapi kondisinya kritis Fii". Nenek menyeka air mata yg terus saja mengalir dipipinya, tangannya bergetar, aku sangat tahu jiwanya terguncang, akupun ikut terisak, rasanya tulang-tulangku ikut remuk, aku masih tak bisa percaya apa yg terjadi.
Nenek menuntunku ke ruang perawat, setelah memakai baju khusus masuk ruang ICU aku diantarkan ke ruang dimana Aska dirawat. Apa yg kulihat sungguh nyata. Aska...
Flashback off
#
"Bangunlah Ka, bukannya kamu ingin menemuiku? Kamu jahat, kenapa justru kamu membuatku menemuimu, sudah dong tidurnya, kamu tega ninggalin nenek sendiri, nangis sendiri, atau kamu memang nggak tahu nenek menyusulmu kemari?"
Aku terus saja bicara sendiri, seakan-akan ingin mengurangi rasa sedihku melihat Aska saat ini, sampai tak tersadar seorang perawat menepukku pelan.
"Maaf mbak, pasien harus observasi dokter, mbak bisa kesini lagi besok, sebentar lagi jam kunjung habis".
Aku mengangguk, meninggalkan Aska dengan perawat dan dokter yg sedang memeriksa keadaanya.
Nenek masih duduk dikursi depan, berjalan menghampiriku, membelai bahuku pelan.
"Kamu pulang dulu Fii, sebentar lagi ibunya Aska datang, dia nanti yg akan berjaga disini malam ini".
Aku kembali hanya bisa mengangguk, bibirku rasanya kelu meskipun hanya untuk mengucapkan kata "iya". Kupeluk Nenek, mencium punggung tangannya.
"Titip Aska ya Nek" aku berlalu, air mata itu kembali hadir mengalir, tidak sederas hujan yg basah dalam hatiku.
#
"Kok baru pulang Fii, bukannya cuma nganter satu tempat ya?" Tanya ibu
Aku serentak memeluk erat ibu, terisak pelan, tapi tak juga sanggup berkata.
"Kenapa nduk?" Ibu mengusap rambutku pelan
"Aska buuuk...."
"Askaaaa?" Suara dua orang yg hampir bersamaan membuatku melepaskan pelukan ibu. Reza sudah didepan pintu, menyamarkan pandangan kearahku, mungkin dia mengikutiku sejak kedatanganku tadi.
Ibu menuntunku duduk, mempersilahkan Reza juga duduk disampingku.
"Kenapa Nduk? Cerita, kalau soal Aska, berarti Reza juga harus tahu"
Aku bergantian memandang ibu dan Reza.
"Aska kecelakaan seminggu yg lalu saat dalam perjalanan dari Jakarta kemari, dia kritis". Tiba-tiba aku terisak, ibu serta merta memelukku, nafas halusnya terasa menyentuh atas rambutku.
Semetara Reza berkali-kali mengusap kasar wajahnya, tampak wajahnya sedikit gusar, wajah yg tak bisa diartikan, keraguan, kecemburuan, atau rasa kasihan. Tidak ada yg tahu apa yg Reza rasakan, matanya nanar, tangannya sedikit bergetar.
"Tuhan, kenapa ujian ini terus saja datang" Reza bergumam sangat pelan.
( Bersambung )
Enaknya Aska dibuat sembuh atau gimana niiiih????
Bantu komen ya
πππ