"First"

"First"
part.6



#


Libur tlah tiba,sebulan kedepan mungkin akan menjadi waktu yg sangat panjang,bebas dari rutinitas belajar,bebas dari PR dan ulangan,dan seperti tahun-tahun sebelumnya,setiap libur panjang kenaikan kelas aku memilih membantu ibu jualan di pasar,hampir 15th lamanya ibu menikmati profesinya sebagai penjual aneka kue di pasar tradisional,berangkat sehabis subuh dan pulang selepas ashar,kalau banyak anak perempuan lain mengidolakan super hero perempuan yg memakai topeng atau kostum layaknya di film animasi,maka ketika ditanya,super hero dalam hidupku adalah "ibu". Tangan kasar wanita yg umurnya belum genap 40th itu adalah bukti bahwa kerasnya hidup telah menguliti sebagian paras cantiknya. Tampak lebih tua dari umurnya itu pasti,karna bukan hanya raganya yg menanggung beban hidup untuk keluarga kecilnya,tapi jiwanya yg selalu terkoyak,tersayat perih,begitu sakit,entahlah...aku hanya bisa mengira-ira seberapa sakitnya,karna setiap mendengar isak tangisnya,hatiku pedih,penghianatan yg dia lihat dengan mata kepalanya sendiri membuat hatinya hancur,jiwanya rapuh,meski dia tetap harus terlihat kokoh karna ada aku dan farel yg masih harus dia hidupi.


Wanita yg umurnya belum genap 40th itu ibuku. Aini sulastri,garis wajahnya hampir mirip denganku,tinggi badannya hanya selisih beberapa centi dari tinggiku,senyumnya manis,tapi sudah sangat jarang lagi kunikmati,karna dia lebih senang terdiam dalam lamunan,dalam sujud panjangnya ditengah malam. Hampir tak pernah aku mendengarnya mengeluh,tak pernah berbagi cerita tentang rasa sakitnya atas perlakuan bapakku,dia sungguh wanita teristimewa,gurat wajahnya penuh kasih,meski tak sepenuhnya bisa memberikan waktu untukku dan farel,atau hanya sekedar untuk berbagi cerita tentang apa dan bagaimana aku hari ini. Tapi aku mengerti,aku dan farel bisa melewati semua ini,cukup dia tetap disisi,menatap aku dan farel tumbuh besar,memberikan satu mimpi yg indah untuknya satu hari nanti.


#


Dingin masih menyelimuti sepi,ibu membangunkanku pelan.


"Bangun Fii,ibu sudah mau berangkat,jangan lupa sholat dan tolong pindahkan kantong sampah dibelakang,ibu sudah keburu siang".


"Fio ikut ke pasar buk".


"Nanti kamu nyusul agak siang saja,kasihan adikmu,antar dia ke tempat paman dulu,biar ada temen main disana". Aku hanya mengangguk,melakukan rutinitas pagi seperti hari-hari biasanya.


Hampir semua pekerjaan rumah,aku yg menyelesaikan,aku tak tega membuat ibu bertambah capek karna harus mengurus rumah.


"Sreek...sreeek". Sesekali kubusungkan dada untuk mengurangi pegal punggungku saat menyapu halaman,sebenarnya halaman rumah ini tidak begitu luas,tapi karna banyaknya pohon disekitarnya membuat halaman ini penuh dengan daun2 kering yg gugur.


"Pagiiii". Wajah itu menyembul dari balik jendela kamar yg baru dibukanya sedikit..


"Hei...". Aku membalas senyumnya,pagi yang terasa manis,melihatnya menaruh dagu disudut jendela,menatapku lekat.


"Tumben masih dirumah,biasanya sudah sibuk dikandang". Kataku kemudian.


"Pengen libur kaya kamu". Lagi-lagi dia tersenyum,lesung pipit disebelah kirinya menyembul tipis,sangat manis.


"Oyaa,kalau kamu libur,sapinya lapar dong".


Dia meloncati jendela kamar yg tingginya tidak melebihi tinggi dadanya,berjalan kearahku,duduk dibawah pohon mangga sambil menyangga dagu dengan kedua tangannya.


"Ini anak bisa juga ya nggak sopan gitu,orang pintunya nggak jauh kok ya lompat jendela". Omelku.


"Kelamaan,takut kamu keburu pergi".


"Orang nyapunya juga belum selesai,kalau kamu duduk disitu bukannya malah ganggu ya?". Aku sengaja memasang muka sedikit cemberut.


"Nyapunya nanti lagi Fii,,duduk sini". Dia menepuk bangku panjang disebelahnya.


"Nanti aku bantu". Lanjutnya.


Aku tak bisa menolak,duduk disampingnya menghirup aroma pagi yg disebarkan oleh dedaunan,menawarkan kenyamanan yg sempat menghilang..


"Mbak Fio,Mas Reza,pacarannya kepagian". Farel muncul dari balik pintu,membawa dua gelas teh panas yg kuseduh tadi.


"Apaan sih kamu dek". Jawabku sambil mencubit pelan lengannya.


Reza hanya tersenyum,mengedipkan sebelah mata kearah farel,mereka seperti sekongkol ingin membuatku malu..


"Emang boleh mas Reza jadi pacarnya mbak Fio?".


"Kalau mbak Fio nya mau boleh banget mas,tapi jangan kaya bapak Mas,sudah jahat sama ibuk". Ucapnya kali ini menyentil sudut kecil hatiku,ternyata Farel sudah mulai mengerti.


"Kalau nanti Mas Reza jahatin mbak Fio,kamu boleh menghajar Mas Reza kaya di film batman". Sambung Reza sambil mengusap-usap rambut Farel.


Seperti sebuah kesepakatan,dan mereka tidak meminta persetujuanku,pagi yg mungkin mereka anggap sempurna,tapi tidak dengan perasaanku..entah kenapa??


#


"Berapa semua mbak?". Aku menghitung jumlah belanjaan seorang ibu yg jumlahnya cukup lumayan.


"Semuanya 775.000 Buk". Jawabku sambil menyerahkan nota pembelian,dia lalu menyerahkan uang pembayaran yg jumlahnya pas.


"Owh,ini nanti ibuk dijemput sama cucu didepan sana,tadi motor ibuk bannya kempes,jadi sekarang cucu ibuk baru membawanya ke tukang tambal ban".


"Biar saya antar sampai depan Buk".


"Waduh,ini malah jadi merepotkan".


"Nggak apa2 Buk,saya nggak merasa direpotkan".


"Panggil saya nenek saja,kamu seumuran cucuku".


"Baiklah Nek".


Beberapa menit menunggu yg ditunggu akhirnya datang.


"Itu cucu nenek". Ucap nenek sambil menunjuk kearah motor yg mulai mendekat.


"Fioo...". Serunya..


"Aska..".


"Lhoo kalian saling kenal to,owalah kaya film yg pernah nenek tonton di indosiar itu lhoo..aaah apa judulnya ya nenek lupa". Ucap nenek setengah kaget.


"Kamu kok bisa sama nenek, Fii?".


Belum sempat aku menjawab nenek sudah lebih dulu menyodorkan kardus yg berisi kue yg dibelinya tadi ditempat ibuku.


"Sudah..sudah..nanti nenek cerita dirumah,punggung nenek sudah mulai sakit,ayo lekas pulang,nanti tamu-tamunya keburu datang".


Aska hanya diam,menata kardus di bagian depan tempat duduknya,sesekali melirikku yg juga tak tahu harus berkata apa.


"Makasih ya Fio sudah bantu nenek,kapan-kapan kamu harus main kerumah nenek,nenek pulang dulu".


"Iya Nek,Nenek hati-hati ya,,hati-hati Aska".


"Hmmm". Jawabnya singkat.


"Cuma begitu jawabnya,,huuhf dasar". Gumamku pelan takut dia mendengar.


Nenek dan Aska hilang ditelan riuhnya jalanan,sesampainya dikios ternyata ibu sudah menutup sebagian kiosnya.


"Kita pulang lebih awal Fii,alhamdulillah untuk rejeki hari ini". Ucap ibu perlahan.


"Iya buk,alhamdulillah".


#


Malam kembali datang,banyak bintang serupa kunang-kunang menghiasi pekatnya langit,pertanda hujan tidak akan turun malam ini.


Suara motor berhenti di halaman,bukan suara motor bapak,ku intip melalui lubang jendela kamar..


"Askaaa". Tanganku membekap mulut seketika..jam 7 malam...


Mau apa dia kesini malam-malam????


(Bersambung)


Kira-kira malam ini Aska mau apa ya ke rumah Fiona?dan bagaimana dengan Reza?? Bukankah hampir setiap malam saat tidak hujan mereka membuat perapian didepan rumah?? Seru kali ya kalau mereka dipertemukan???


😍😍😍