Yes, Im Single Mom

Yes, Im Single Mom
Bab: 9 Bad Boy



Lily tiba-tiba datang menghampiri Andre, Di ruang makan. Lalu berkata,


"Kenapa kamu tidak ke kantor hari ini, Sayang?" Tanya Lily pada anak semata wayangnya itu. sambil memegang lembut bahu Andre dengan kedua tangannya dan berdiri tepat dibelakang tubuh Andre.


"Eh... Mama, sini duduk kita sarapan bersama. Hari ini Andre sedang tidak semangat bekerja. Andre Ingin bersantai ria di rumah saja, tanpa memikirkan atau mengerjakan semua urusan kantor." Jawab Andre sambil mengunyah makanan yang berada di dalam mulutnya itu.


"Lalu urusan kantor bagaimana? jika kamu meliburkan diri seperti ini." Ucap Lily.


"Tenang Ma, semua tugas kantor sudah Andre serahkan kepada pak Daniel. Orang kepercayaan Andre di kantor. Jadi Mama tidak usah khawatir. Mari sarapan bersama Andre, Ma?" Ucap Andre untuk kedua kalinya menawari Lily untuk sarapan bersamanya.


"Mama sudah sarapan tadi, sayang. sengaja mama menyuruh Tinah membawakan makanannya ke kamar. karena masih ada tugas kantor yang belum mama selesaikan. Okelah kalau memang semua sudah kamu atur, mama sih menurut saja bagaimana baiknya.


"Oh iya Ma? kenapa sih sudah setua ini, Mama masih saja bekerja? sudah saatnya loh mama beristirahat, menghabiskan waktu dengan bersenang-senang, Bukankah masih ada Andre yang mampu menggantikan tugas papa dan mama dalam mengurus kantor." Ucap andre sambil membujuk Mamanya, agar mau berhenti bekerja.


"Mama akan berhenti mengurus kantor, kalau kamu sudah menikah dan memberikan mama cucu. Jadi Mama tidak kesepian lagi dirumah ini, hehehe." Ucap Lily sambil cengengesan seperti anak kecil yang sedang meminta sesuatu kepada ibunya.


"Ah .. Mama ini, ada-ada saja permintaannya dan anehnya, permintaan Mama itu Andre tidak bisa mengabulkannya. coba deh di rubah permintaan Mama. misalnya, pergi berlibur ke Paris, beristirahat di Bali atau shopping ke Singapura. pasti Andre kabulkan permintaan Mama secepatnya." Jawab Andre sambil merayu mamanya, agar tidak meminta sesuatu yang tidak mungkin bisa Andre mengabulkannya.


"Rasanya tidak mungkin mama merubah permintaan itu. karena yang mama butuhkan diumur mama sekarang ini, ya cuma ingin punya menantu dan cucu, hehehehe." Sahut Lily.


"Hem...bisa saja Mama." Ucap Andre sambil mengerutkan dahinya.


"Hehehehe." Lily hanya menjawab dengan senyuman.


Oh iya Ma, Andre mau tanya sesuatu nih?" Ucap Andre pada Lily.


"Tanya apa sayang?" Tanya balik mama kepada Andre.


"Apa benar yang diucapkan Tinah? kalau selama Karin sakit, mama menukar posisi pekerja disini?" Jawab Andre sambil mencari tahu kebenaran ucapan Tinah.


"Iya...memang benar yang diucapkan Tinah. Hanya sementara waktu saja kok, sampai Karin sembuh dari sakitnya. Lagipula tumben sekali kamu menanyakan urusan dirumah ini, biasanya juga kamu cuek saja tuh." Ucap lily.


"Bukan begitu Ma, Andre hanya tidak mau kalau Tinah mengurus keperluan Andre. karena Tinah sudah cocok berada di dapur, memasak untuk kita. Mama kan tahu, kalau Tinah sudah mengerti apa yang Andre suka dan tidak suka dalam hal makanan." Jawab Andre.


"So...Mau kamu apa sayang?" Tanya Lily.


"Maunya Andre, biarkan saja Haruka yang menggantikan tugas Karin untuk sementara waktu. lagipula bukankah dari awal kedatangannya, dia itu bertugas untuk mengurus keperluan Andre-kan Ma?" Jawab Andre mencoba menjelaskan keinginannya saat ini.


"E..hem.... Jangan-jangan anak mama ini, sudah mulai menyukai Haruka, ya? Dari awal- kan Mama sudah bilang. jika Haruka itu wanita yang sopan dan baik hatinya. Namun...kamu selalu saja menyakitinya dengan berkata kasar kepadanya. Sikap arogan mu itu membuat Mama malu dan harus meminta maaf kepadanya, tahu?" Ucap Lily kepada anaknya, Andre.


"Ye... Mama asal aja kalau bicara. siapa yang menyukai Haruka? Enggak ada di dalam kamus Andre harus baik kepada bawahan. karena kalau kita terlalu baik, mereka itu akan naik kepala dan semena-mena terhadap kita. Andre hanya tidak mau kalau Haruka yang memasak untuk kita. Belum tentu juga masakannya enak dan cocok untuk lidah kita, Ma." jawab Andre sambil berusaha menutupi perasaannya terhadap Haruka.


"Yakin, hanya karena itu? Kita tunggu saja tanggal mainnya. Nanti juga terlihat kalau kamu memang menyukai Haruka, Hahahaha." Tertawa Lily sambil berjalan meninggalkan Andre. menuju ruang kerjanya.


"Dasar Mama...kalau bicara tidak pernah di saring terlebih dulu. untung saja Haruka sedang berada dikamar Karin dan Tinah sedang menyapu latar. kalau tidak, mau ditaruh dimana muka ku ini." celetuk Andre dalam hatinya sambil menggelengkan kepalanya. karena heran dengan sikap terbuka Mama nya itu.


Setelah kepergian Lily, Andre melanjutkan kembali sarapannya hingga habis tak tersisa. Lalu beranjak pergi menuju kamarnya.


Baru beberapa langkah saja dia berjalan. Tiba-tiba dia mengurungkan niatnya untuk kembali ke kamarnya. Dia malah berpindah haluan menuju kamar Karin, ketika melihat pintu kamarnya sedikit terbuka.


Dari balik pintu Andre berusaha mengintip dan menguping Haruka dan Karin yang sedang asyik mengobrol.


Terlihat jelas Dimata Andre. kalau Haruka sedang menyuapi Karin dan terlihat sesekali Haruka menyeka mulutnya Karin tanpa jijik sedikitpun, ketika ada makanan yang berantakan di bibirnya. kebaikan Haruka terhadap Karin membuat Andre makin terpana dibuatnya. entah mengapa ada getaran tak biasa di lubuk hatinya.


"Lekas sembuh ya Karin. Aku sedih, jika harus melihatmu terbaring lemah tak berdaya seperti ini. Apa lebih baik kamu dirawat saja dirumah sakit? Aku takut jika terjadi apa-apa denganmu, Karin. wajahmu itu terlihat begitu pucat." Ucap Haruka.


"Ti...tidak perlu Haruka. biar aku istirahat disini saja. lagipula semalam Nyonya Lily sudah memanggil dokter kerumah ini, untuk memeriksaku. kamu tenang saja ya?" jawab Karin sambil menolak ajakan Haruka untuk berobat kerumah sakit.


"Kenapa Karin kamu menolak ajakan ku? apa kamu takut merepotkan Nyonya Lily? kalau Masalah biaya kamu tidak usah khawatir. aku masih ada sedikit tabungan. aku rasa cukup untukmu dirawat di rumah sakit.


"Sungguh mulia hatimu, Haruka dan jiwamu begitu tulus terhadap orang-orang di sekitarmu, padahal aku tahu kamu masih dalam kekurangan, tapi kamu rela berkorban demi orang yang membutuhkan. Oh Tuhan...terima kasih, Karena Engkau sudah mempertemukan aku dengan manusia berhati malaikat. Doaku untukmu sayang, semoga kamu selalu dalam lindungan Tuhan dan dilancarkan rezeki dan urusanmu amin?" Ucap Karin sambil menangis mendoakan Haruka karena kebaikan dan ketulusan hatinya.


Andre sangat terharu melihat kejadian di depan matanya itu. Baru kali ini dia menemukan seorang wanita yang baik dan tulus hatinya terhadap orang lain yang bukan saudara dan keluarganya. Dari sikap Haruka tadi dia belajar bagaimana cara kita bisa berbagi kepada sesama. Tanpa harus pandang bulu dan menakar seberapa harta kita.


"Terima kasih Tuhan, sudah menghadirkan dia di dalam rumah ini. semoga dengan kedatangannya di sini bisa memberi warna dalam hidupku, kedepannya nanti." Suara hati Andre terhadap Tuhan.


Ketika sedang asyik mengintip Haruka dan Karin. Datanglah Tinah menghampirinya.


"Tuan..Ada apa berdiri di sini?" Ucap Tinah dengan nada sedikit keras, hingga membuat Andre terkejut setengah mati. Bukan hanya Andre yang terkejut tapi Haruka dan Karin pun sama terkejutnya, sampai Haruka berjalan cepat kearah pintu tersebut.


Andre mulai panik ketika melihat Haruka datang menghampirinya. Akhirnya mau tidak mau dia sengaja mengalihkan perhatian Tinah, dengan sedikit berbohong kepadanya.


"Saya sedang mencari Haruka, ternyata ada dikamar Karin. Baru saja saya mau berteriak memanggilnya. Eh...justru kamu malah mengagetkan saya." Ucap Andre untuk membela dirinya. agar tidak ketahuan jika dia tadi, sedang mengintip dan menguping pembicaraan mereka didalam.


"Oh...kalau begitu saya mohon maaf Tuan. Karena sudah mengagetkan anda." jawab Tinah dengan rasa bersalahnya.


"Ada apa Tinah? kamu berteriak tadi?" Tanya Haruka kepada Tinah, tepat dihadapan Andre.


"Ini Mbak Haruka, Tuan Andre mencari mu." jawab Tinah dengan polosnya. Tanpa tahu kalau Andre sedang membohonginya.


"Memangnya ada apa Tuan? Anda mencari saya?" Ucap Haruka dengan sedikit ketus kepada majikannya itu.


Andre berpura-pura bersikap keras kepada Haruka, untuk menutupi perasaannya yang sudah mulai mencair terhadap Haruka.


"Kamu kemana saja sih? kok belum membersihkan kamar saya. Bagaimana saya mau istirahat? jika melihat kamar itu berantakan." Ucap Andre dengan ketusnya.


Tanpa menjawab lagi ucapan Andre. Haruka segera membalikkan badannya menghadap Karin dan berkata,


"Karin aku tinggal sebentar, ya? kamu istirahat saja. Nanti setelah selesai bekerja aku kembali lagi menemui mu." Ucap Haruka kepada Karin dan Karin menganggukkan kepalanya, sebagai tanda kalau dia setuju dengan apa yang diucapkan Haruka.


Tanpa basa-basi lagi dengan Andre. Haruka berjalan meninggalkan Karin, menuju kamar Andre untuk merapihkannya.


Sambil berjalan dalam hatinya, Haruka menggerutu,


"Huh...dasar Bad Boy, Pria Arogan yang tidak punya hati." Celetuk Haruka hingga lupa jika dia ingin menitipkan Karin kepada Tinah.


Akhirnya baru saja Haruka berjalan beberapa langkah. tiba-tiba dia berhenti sesaat lalu membalikkan badannya dan menegur Tinah.


"Mbak Tinah, tunggu Sebentar!" Teriak Haruka ketika melihat Tinah sedang melangkah ke arah dapur.


"Iya mbak ada apa?" Jawab Tinah sambil berjalan menghampiri Haruka.


"Kalau tidak keberatan, saya mau minta tolong kepada Mbak." Ucap Haruka.


"Tolong apa ya Mbak? Tanya Tinah kembali.


"Tolong suapi Karin ya, tanggung Mbak buburnya tinggal sedikit lagi. setelah itu beri dia obat yang ada di mejanya, agar bisa istirahat dengan nyaman." Ucap Haruka kepada Tinah.


"Baik Mbak, kalau begitu saya kembali lagi deh ke kamar Mbak Karin." Jawab Tinah.


"Terima kasih ya Mbak, sudah mau membantu saya dan Karin." Ucapan terima kasih Haruka atas pertolongan Tinah.


"Iya Mbak sama-sama." Jawab tinah dengan sopan nya. setelah itu merekapun berpencar, Tinah menuju kamar Karin, sedangkan Haruka melanjutkan langkahnya menuju kamar Andre, si Tuan arogan itu.


Dari belakang Haruka, Andre berjalan mengikutinya. Sambil tersenyum-senyum sendiri lantaran merasa senang, karena ada wanita yang begitu baik mendiami rumahnya itu.