
Setelah kepergian Martin, Karin kembali lagi kedalam rumah, untuk melanjutkan pekerjaannya. Selang satu jam Haruka datang dan menghampiri Karin yang sedang berada di dapur.
"Selamat pagi Karin? apa kabarmu hari ini?" sapa Haruka kepada Karin.
Karin tidak menjawab, dia hanya diam saja, bahkan dia tidak menghiraukan keberadaan Haruka disana.
Haruka menjadi bingung akan perubahan Karin kepadanya. Dia sampai berpikir, apakah ada kesalahan yang dia perbuat? Tapi setahu dia, sebelum pergi berlibur tidak ada masalah sedikitpun dengannya. Karena rasa penasarannya terlampau tinggi, Haruka pun bertanya kepada Karin,
"Karin, kenapa sikapmu berubah kepadaku? Apakah ada kesalahan yang tidak aku sengaja terhadapmu?" Ucap Haruka kembali kepadanya.
Namun tetap saja Karin hanya diam membisu dan pergi meninggalkan Haruka.
"Sebenarnya ada apa dengan Karin? Sungguh tidak enak rasanya, jika dia mendiami aku seperti ini. Tapi sudahlah mungkin dia sedang ada masalah. Lebih baik untuk sementara waktu aku tidak mengganggunya dulu. Aku yakin nanti setelah pikirannya tenang dia akan kembali seperti semula." Suara hati Haruka untuk Karin.
Setelah kepergian karin, seperti biasa Haruka memulai pekerjaannya. Dia membersihkan ruang tengah sampai bersih. Tak lupa dia juga membersihkan kamar Andre.
Karena dirasa semuanya sudah selesai dan bersih. Haruka segera ke dapur untuk mengambil makan siangnya. Lalu berjalan menghampiri Karin dan Tinah yang sedang makan.
Sungguh malang nasib Haruka, bukannya mendapat perlakuan baik dari mereka, malah Justru dengan wajah asamnya Karin dan Tinah pergi begitu saja meninggalkannya.
Haruka semakin bingung saja, dengan sikap para sahabatnya itu. Yang lebih membingungkan lagi, kenapa Tinah juga sama dengan Karin. Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba dia mendadak diam dan menjauhi dirinya.
Dengan tidak enak hati, akhirnya Haruka tidak jadi makan. Dia justru memilih pergi ke kamarnya. Setibanya di dalam kamar, dia merebahkan dirinya, sambil menangis tersedu-sedu.
Di ruang belakang dapur, Tinah menegur Karin, setelah melihat Haruka tidak jadi makan.
"Karin..apa perlu sikap kita seperti itu terhadapnya? Aku tahu kamu kecewa dengan kebohongannya. Tapi seharusnya kamu jangan mendengar hanya dari satu pihak saja. Coba kamu pikir kembali, untuk apa pria itu menemui mu, kalau bukan untuk kepentingan dirinya sendiri. apalagi kamu telah mengenal Cherry, sahabatmu itu lama sekali, rasanya tidak mungkin tanpa sebab dia mau membohongimu. Apa kamu juga, tidak melihat ketulusan dari Haruka? Dia begitu sedih ketika tahu kamu sakit dan aku menyaksikan sendiri jika dia mengurus mu dengan baik. Apakah ini balasan mu kepadanya? ingat Karin jangan kamu lupakan seribu kebaikannya, hanya karena satu kesalahannya. Kamu pasti akan larut dalam penyesalan nantinya." Ucap Tinah kepada Karin.
Karin menghentikan makannya sejenak. pikirannya seolah terbang, mengingat kembali masa kebersamaannya dengan Cherry dan Haruka. Masa-masa itu begitu indah dan belum pernah ada pertengkaran diantara mereka. Malah mereka begitu baik selama ini, selalu ada disaat Karin sedang membutuhkan kehangatan keluarga. Dengan bercucuran air mata Karin menjawab Tinah,
"Benar apa yang kamu ucapkan tadi, Tinah. Mereka itu orang baik, Mereka begitu tulus kepadaku, menyayangi aku dan menerima aku sebagai bagian dari keluarganya. Mereka selalu ada buatku, bahkan selalu memberi kehangatan persaudaraan diantara kita. Terima kasih Tinah, Karena kamu telah mengingatkan dan menyadarkan ku akan semua kekhilafan ini. Kalau begitu aku akan menemui Haruka di kamarnya. Sambil membawakan makan siang untuknya." Jawab Karin.
"Nah...Begitu dong. Baru namanya Karin yang aku kenal. Dimana selalu memberikan semangat kepada sahabatnya, dikala sahabatnya sedang lelah dan terluka karena keadaan. Lebih baik sekarang kamu segera kesana. Lihat keadaannya, bisa saja dia sedang menangisi sikap kita yang sudah melewati batas tadi." Ucap Tinah.
Mereka berdua pun terpisah. Karin berjalan menuju meja makan. Untuk membawakan makan siang Haruka ke kamarnya. Sedangkan Tinah melanjutkan makannya yang tadi sempat terhenti.
Tiba di depan kamar Haruka. Karin mengetuk pintu, sambil memanggil namanya. Karin melakukan itu berulangkali, sampai akhirnya dari dalam kamar, Haruka membuka pintu itu, sambil menghapus air mata yang jatuh di pipinya sejak tadi.
"Karin, ada apa kesini?" Tanya Haruka dengan menutupi kesedihannya. Namun tetap saja Karin tahu kalau dia habis menangis. karena terlihat dari kedua matanya yang sembab.
"Ini aku mengantarkan makan siangmu. Yang tadi belum sempat kamu makan. Apa boleh aku masuk kedalam?" Tanya balik Karin.
Karin pun masuk kedalam kamar dan disusul oleh Haruka dari belakang. Merekapun duduk di kursi Yang berada di sana, secara berhadapan.
"Haruka, maafkan aku ya? Karena telah menghakimi mu secara sepihak, tanpa mencari tahu kebenaran dan penjelasan terlebih dulu darimu." Ucap Karin dengan tetes air mata kesedihan.
"Apa maksud ucapan mu Karin? Jujur saja aku tidak paham." Jawab Haruka
"Tapi sudahlah aku tidak ingin membuatmu terluka. Jika aku harus mempertanyakan sesuatu darimu. Bagiku yang terpenting adalah kamu, Cherry dan aku tidak ada masalah sama sekali itu saja." Ucap Karin yang membuat Haruka menjadi semakin bingung.
Haruka mengambil kedua tangan Karin, yang begitu terasa dingin. Seolah ada sesuatu yang dia sembunyikan. Tanpa pikir panjang lagi Haruka bertanya kepada Karin.
"Karin sebenarnya apa yang telah terjadi. Aku sangat sedih melihat perubahanmu kepadaku. Jika memang aku punya salah kepadamu, lebih baik kamu bicara saja secara langsung, daripada kamu mendiami aku tanpa kejelasan. justru membuat aku sakit dan sangat sedih." Tanya Haruka meminta penjelasan dari Karin.
"Haruka, bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu? Tolong kamu jawab jujur kepadaku." Ucap Karin.
"Silahkan saja Karin, sebisa mungkin aku akan menjawabnya dengan Jujur." Jawab Haruka dengan sangat tulusnya.
"Apakah benar...kalau Bianca adalah anakmu? Dan kamu ini adalah seorang Single parents?" Tanya Karin.
Haruka sungguh terkejut mendengarnya. Lantaran Karin telah mengetahui jati dirinya.
"Dari mana kamu tahu semua itu Karin?" Tanya balik Haruka.
"Nanti aku beritahu kepadamu? siapa orang yang sudah menceritakan semuanya itu. sekarang aku butuh jawaban darimu. Agar aku tidak salah paham nantinya terhadapmu dan Cherry." Jawab Karin.
"Yes, Im Single Mom, apa yang kamu katakan tadi itu benar dan Sebenarnya aku ini adalah ibu dari Bianca, bukan Cherry. Tapi kamu jangan salah paham kepada kami. karena tidak ada niat kami sedikitpun untuk berbohong kepadamu. Maafkan Cherry dan aku ya, karena ingin memiliki pekerjaan, kami sampai bertindak demikian." Jawab Haruka.
"Tapi Mengapa kamu harus berbohong kepadaku, Haruka? Kamu dan Cherry kan bisa bicara jujur dan memintaku untuk membantu kalian menutupi semua ini dari Nyonya dan Tuan muda. Jujur aku tidak marah setelah tahu akan hal ini. Namun aku sedikit kecewa, mengapa orang yang telah aku anggap saudara, justru tega membohongi aku." Ucap Karin masih dalam keadaan menangis.
"Bukankah waktu itu kamu yang bicara kepada Cherry , kalau ada pekerjaan di sini. Tapi pemiliknya tidak ingin seorang asisten rumah tangga yang sudah menikah? Kamu Tidak tahu kesulitan ku Pada saat itu, Karin. aku sedang butuh pekerjaan. Karena baru selesai persidangan perceraian ku dengan Mantan suamiku. Aku tidak tega melihat Cherry bekerja untuk menghidupi kami. walau aku tahu Cherry ikhlas melakukan itu. Tapi tetap saja, aku tidak ingin menjadi beban hidup baginya. intinya pada saat itu aku tidak mau Cherry susah payah dengan keringatnya, hanya untuk menafkahi aku dan Bianca, selama aku belum mendapat pekerjaan, itu saja." Jawab Haruka dengan menjelaskan semuanya.
Karin memeluk erat tubuh Haruka dan sesekali mengusap punggungnya dengan lembut. Dia teramat kasihan melihat Haruka yang masih terlalu muda, sudah menyandang status janda. Ditambah harus menghidupi anaknya seorang diri. Tanpa campur tangan mantan suaminya itu.
Haruka sungguh lega Karin sudah tidak marah lagi kepadanya. Dia-pun ingin menceritakan semuanya kepada Karin.
"Karin mumpung kita lagi dalam keadaan santai. Aku ingin menceritakan semuanya kepadamu. Agar tidak ada dusta lagi diantara kita." Ucap Haruka.
"Boleh! tapi aku mau kamu makan dulu Haruka. Setelah itu, silahkan saja kamu bercerita. asalkan tidak membuat beban pikiranmu, aku siap menjadi pendengar yang baik." Jawab Karin.
Akhirnya karena Karin memaksa Haruka untuk makan dan dengan lahapnya Haruka pun menghabiskan makannya. Dengan dibantu Karin, yang menyuapinya dengan sabar.